
Citt...
Reza mendadak mengerem sepedanya.
"Untung tidak nyium pavling, bos! Hidung anti badai Glen bisa pesek nanti," Glen mengelus dadanya.
"Bawel. Lihat tuh, mami papi di depan!" seru Reza.
Di hadapan mereka Edgar dan Zela berdiri di tengah jalan menghadang Reza.
"Sedang apa kamu, Za?" seru Edgar.
"Mencari Silvi lah, pi!"
"Berboncengan berdua seperti ini? Kalau tahu seperti ini papi dulu nikahkan kamu dengan dia saja!" seru Edgar.
Zela tertawa.
"Amit-amit jabang baby...." Reza mendorong Glen agar menjauh.
"Aduh, bos kok kasar sih!" keluh Glen.
Glen hampir terjerembab ke aspal. Wajahnya cemberut karena sikap bosnya.
"Kau membuatku ternodai, Glen!" seru Reza.
Edgar dan Zela tertawa.
"Lebih baik kau cepat carikan pacar untuk dia, sebelum dia menyimpang dan memendam perasaan untukmu!" seloroh Edgar.
Lagi dan lagi Zela tertawa.
"Nanti mami bantu deh cariin pacar, mami tanyain ke temen arisan mami." ucapnya kemudian.
Glen menggaruk leher belakangnya. Ia jadi merasa malu. Memang selama ini ia tidak pernah dekat dengan wanita. Bagaimana mau dekat, kalau setiap menit bosnya selalu memberikan tugas. Waktunya banyak ia habiskan bersama Reza. Mungkin saja ia sudah menyimpang? Karena lebih sering berinteraksi dengan Reza...Oppss! Semoga tidak ya!
Sekarang mereka mulai mencari Silvi. Sepertinya mereka berpencar agar lebih mudah menemukan bumil itu.
"Mami ke utara ya sama Glen!" seru Edgar.
"Kok mami sama Glen sih!" Zela protes.
"Kenapa Glen nggak sama bos aja, tuan?" Glen ikut-ikutan protes.
"Agar kalian tidak terlibat cinta terlarang!" Edgar menatap Glen.
Glen cemberut.
"Reza nggak akan seperti itu juga, pi! Reza masih normal! Istri Reza cantik, baik, pemberani, rajin menabung, mulus no minus!" ucap Reza lantang.
"Iya, papi percaya sama kamu! Papi itu nggak percaya sama sekretarismu ini! Dia tidak pernah mengenal wanita, selalu ngekor kamu terus!"
"Saya aslinya cuma nyari bonus, tuan!" Glen tersenyum malu.
Edgar tertawa.
"Kuy, tos dulu!" Edgar bersiap tos.
"Pi?" Zela menatap suaminya.
"Agar kita semangat mencari Silvi!"
Reza, Glen, dan Zela mendekat. Melakukan tos seperti yang dilakukan Edgar.
"Silvi pasti ketemu!" seru Edgar saat tos.
"Semangat semangat!" imbuh Zela.
Glen tersenyum sedikit, ini yang membuatnya betah bekerja dengan mereka. Mereka keluarga sempurna. Zela dan Glen berjalan ke utara. Edgar dan Reza berjalan ke arah barat. Mereka akan bertemu di taman nanti.
Pencarian Silvi pagi ini berjalan dengan dramatis. Baru berjalan sebentar saja Glen dan Zela sudah sama-sama loyo.
__ADS_1
"Aku capek, Glen!" ucap Zela.
"Sama, nyonya! Saya nggak biasa jalan jauh!"
"Apalagi aku, Glen! Mana pake high heels, salah kostum ini!"
Zela berhenti sebentar menatap high heels yang ia pakai.
"Apa kita istirahat dulu saja, nyonya?" tanya Glen.
"Silvi belum ketemu. Mana bisa istirahat!" seru Zela.
"Terus saya harus apa?"
Zela tersenyum licik.
"Aku ada ide cemerlang!" ucapnya dengan semangat.
"Apa nyonya?" sahut Glen.
"Kita tukeran sepatu!"
"Apa???" Glen melongo.
"Iya, tukeran sepatu! Mau ya? Please..." Zela memaksa.
"Ya sudah apa boleh buat,"
Glen melepaskan sepatunya dengan pasrah. Ia serahkan sepatu hitamnya itu pada Zela. Lantas Zela juga melepas sepatu hak tingginya. Glen menatap nanar sepatu setinggi 10 cm itu.
"Pakai!" Zela mendesak.
"Tapi nyonya..."
"Terserah sih kalau kaki kamu anti panas cekeran aja," Zela berjalan duluan.
Glen baru tersadar, lama-kelamaan telapak kakinya terasa panas. Ia sampai berjinjit. Meskipun masih pagi tapi bulan ini musim panas, sinar matahari bulan ini full. Masih pagi saja aspal terasa panas. Terpaksa Glen memakai high heels itu.
Glen berjalan dengan terseok-seok. Satu langkah pertama kakinya gemetaran. Dua langkah ia hampir terjerembab ke aspal. Dan langkah ketiga ia hampir masuk ke saluran air yang tutupnya terbuka. Untung saja tangannya sempat berpegangan di pagar sampingnya.
"Ayo cepat, Glen!" teriak Zela dari jarak 10 meter.
"Ini susah, nyonya! Baru tiga langkah saya hampir masuk saluran air, mungkin di langkah ke sepuluh saya bisa masuk rumah sakit!" Glen mengomel.
Zela tertawa.
"Nanti aku kasih bonus," ucapnya kemudian.
"Semangattt!!!" Glen mulai berjalan kembali.
Entah dapat wangsit dari mana Glen mulai bisa berjalan seimbang. Mungkin itu keajaiban dari bonus.
Sementara itu,
Edgar dan Reza sudah berjalan jauh, mereka berdua hampir sampai taman. Mereka tidak pernah luput memandangi semua arah. Tapi Silvi tidak kunjung ditemukan.
"Silviiii.... Dimana kamu?" teriak Reza.
"Lagian kok bisa sih, Silvi hilang?" sahut Edgar.
"Nggak tau, pi! Biasanya Reza bangun tidur itu Silvi ada di meja makan siapin sarapan Reza gitu. Kalau berjalan-jalan pagi, dia pulangnya sebelum Reza bangun." wajah Reza terlihat panik, bahkan terlihat hampir menangis.
"Kita cari lagi, jangan nangis di sini!" Edgar menarik tangan Reza.
Mereka berdua lanjut jalan. Setibanya di taman, di sana lumayan ramai. Ada anak-anak yang bermain. Orang tua mereka menunggu sambil berolahraga. Kedua mata Reza melihat ke semua penjuru tapi lagi lagi tidak ada Silvi di sana.
"Tuh nggak ada...Silvi dimana, pi?" Reza mulai sewot.
"Papi juga nggak tau." jawab Edgar.
"Kita lapor polisi, pi!"
__ADS_1
"Papi suruh anak buah papi aja, ya!" Edgar merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
Edgar menjauh beberapa langkah dari Reza. Ia menelpon anak buahnya untuk membantu. Reza tidak bisa tinggal diam. Ia mendatangi satu per satu gerombolan orang di taman itu. Edgar hanya mengekor di belakang Reza. Ia paham Reza sangat panik sekarang.
Selang beberapa menit, nampak Zela juga tiba di taman itu. Zela terlihat capek dan ngos-ngosan. Ia menghampiri suami dan putranya.
"Mami tidak menemukan Silvi," ia melapor.
"Sama!" jawab Edgar dan Reza.
"Glen mana?" tanya Reza kemudian.
"Papi curiga juga sama kamu, kenapa nanya-nanya Glen ada dimana, kamu nggak menyimpang kan, Za?" Edgar menatap Reza dengan tajam.
"Cuma nanya, pi!" Reza sewot.
Zela tertawa.
"Dia masih ketinggalan jauh di belakang, lelet jalannya!" ucapnya.
Reza dan Edgar mengangguk.
"Nah itu anak buah papi datang," Edgar menunjuk beberapa orang datang bergerombol.
"Kalian tunggu di sini dulu," Edgar menghampiri anak buahnya.
"Kalian cari menantuku sampai ketemu! Setiap pagi biasanya ia hanya jalan pagi!" Edgar memerintah.
"Siap!" jawab mereka.
Orang-orang sekitar menatap mereka.
"Kita tunggu di sini saja, istirahat! Biar mereka bekerja!" ucap Edgar pada istri dan putranya.
"Iya," jawab Zela.
Reza hanya mengangguk pelan. Ia juga lelah jalan mengelilingi komplek. Mereka di sana cukup lama. Ada sekitar 20 menitan. Hingga salah satu anak buah Edgar mengabari. Edgar terlihat lesu setelah mendengar laporan anak buahnya.
"Bagaimana, pi?" Reza tidak sabaran.
"Tidak ketemu," jawab Edgar.
Wajah Reza langsung berubah. Ia semakin cemas.
"Kita pulang saja dulu, kita cari solusinya..." Zela menenangkan Reza.
"Baik, mi!" Reza menurut.
Mereka bertiga pulang ke rumah Reza. Mungkin tepat saat mereka bertiga baru keluar dari taman, dari pintu akses taman yang lain Glen datang terseok-seok.
"Akhirnya sampai taman," Glen sampai berpegangan pada pagar taman.
Di taman banyak pepohonan. Glen bisa melepas sepatu high heels yang ia terpaksa pakai tadi.
"Kakiku merdeka!" ucapnya lega.
Ia duduk di bangku taman, celingukan melihat sekeliling. Tidak ada Edgar, Zela, ataupun bosnya. Kemana mereka? Glen tidak bisa bersantai, ia memutuskan bertanya pada seseorang di sana. Kebetulan ia kenal Edgar.
"Saya lihat Tuan Edgar, istrinya, dan putranya belum lama keluar taman," jawab orang itu.
Lutut Glen langsung terasa lemas. Ia terduduk di tanah.
"Kenapa hidupku semenderita ini, author!" Glen bersimpuh.
Susah payah Glen berjalan ke taman. Sekarang Glen harus kembali ke rumah Reza. Itu artinya ia menggunakan high heels lagi.
"Semoga ada pangeran tampan menawarkan tumpangan," Glen berjalan keluar taman dengan pasrah.
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1