Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
PARA ISTRI BERAKSI


__ADS_3

Brakk...


Angel iseng menggebrak meja Mei.


"Anj*** breng*** mmmmhmm mhhmmm," pekik Mei tertahan Aryn membungkam mulutnya.


"Ada Davin sama Kelyn kalau kaget diatur dong omongannya!" Aryn sewot.


Silvi menepuk dahinya sendiri.


"Kalau kaget mana bisa diatur, kak!" ucapnya.


"Tau nih Nyonya Dave, awas pedes tangannya! Aku lagi makan ramen pedes level iblis," Mei kembali menyantap makanannya.


"Isshh.." Aryn segera mengelap tangannya dengan tissu.


"Sengaja banget ngagetin princess lagi makan," Mei masih menggerutu, ia menatap Angel kesal.


"Iseng aja, Mei! Meja kamu penuh makanan gini," Angel menatap satu per satu makanan di hadapannya.


"Mumpung gratis, menu Asia ada, lagi pengen juga yaudah aku pesen semua ini wkwkw," Mei terkikik.


"Kamu nggak lagi ngidam kan, Mei?" Naina menyelidik.


"Baru dibikin empat hari yang lalu, Mommy Naina! Dikira bikin mie instant, yang diseduh langsung jadi?" Mei mengomel.


Mereka tertawa.


"Ish, ya aku cuma penasaran. Yang biasanya banyak maunya terus banyak makan kan orang ngidam." Naina membela diri.


"Kalau Mei, mau ngidam atau enggak emang makannnya porsi kuli say!" seloroh Angel.


Restoran menjadi riuh karena kehadiran para istri rumpi itu.


"Abis makan kita karaoke, Mei!" Angel menepuk bahu Mei.


"Karaoke? Okay say! Kita isi perut dulu, biar tenaga full untuk goyang!" Mei terkikik.


"Ayo Davin sama Kelyn duduk di sini, mommy pesankan makanan untuk kalian, ya!" Aryn menuntun Davin dan Kelyn duduk di salah satu bangku.


Angel memanggil pelayan, ia pesankan jus dan roti selai untuk kedua bocah menggemaskan itu. Mereka akan memakan roti sembari menunggu masakan Asia yang dipesankan Aryn. Aryn tidak hanya memesan makanan Asia untuk Davin dan Kelyn, ia juga memesankan menu yang sama untuk Angel, Silvi dan Naina juga. Agar sahabatnya itu mencicip masakan Asia, khususnya dari tanah airnya.


Sembari menunggu pesanan, Silvi jalan-jalan ke dapur restoran. Ia berjalan perlahan, agar Reza tidak tahu ia datang. Reza sedang mencuci piring di wastafel.


"Piringku sekalian ya bang!" Silvi berdiri tepat di belakang Reza.


Reza balik badan,


"Sayang...." rengeknya.


"Suamiku rajin banget kerjanya," Silvi mencubit pipi Reza.


"Besok aku mau pindah posisi, tanganku pegal, Yang! Entah sudah berapa puluh piring yang sudah kucuci," keluh Reza.


"Jangan banyak mengeluh sayang, temanmu yang lain juga bekerja keras. Setidaknya dengan pekerjaan ini kamu merasakan bagaimana menjadi pekerja biasa juga,"


"Istriku mendadak jadi bijak," Reza mengecup bibir Silvi sekilas.


"Efek bergaul sama emak-emak," Silvi menyengir.


"Ya sudah, kamu jangan lama-lama di sini. Banyak ciptratan air di lantai, licin!"

__ADS_1


Reza menuntun Silvi keluar dari area tempat cuci piring.


"Semangat cuci piringnya ya, sayang! Gosok piringnya biar shine bright like a diamond! "


Reza tertawa.


Silvi kembali bergabung bersama yang lain. Tidak menunggu lama, pesanan mereka datang. Pelayan resto yang wajahnya tidak asing bagi mereka, hilir mudik membawakan pesanan.


"Terima kasih," ucap Aryn setelah semua pesanan dibawakan.


"Wow, terlihat enak mommy!" kedua mata Davin berbinar.


"Ini apa, Ryn?" tanya Angel, ia menatap hidangan di depannya bingung.


"Itu namanya tumis kangkung, di sini memang tidak ada sayuran seperti itu, tapi enak kok!" jawab Aryn.


"Kalau ini sate ayam dengan saus kacang, ini telor balado, gulai ayam, pepes ikan, dan yang berwarna putih ini nasi. Semua dimakan menggunakan nasi," dengan senang hati Aryn menjelaskan satu per satu masakan itu.


Jujur Aryn takjub, semua masakan lokal ini ada dihadapannya sekarang. Kemarin Dave mengatakan koki resto ini dari Asia dan pernah membuat masakan daerah asal Aryn juga.


"Apin mau nasi dan ayam, mom!" seru Davin antusias.


"Kelyn juga mau sama seperti Apin," seru Kelyn.


Aryn dan Angel melayani buah hati mereka. Mengambilkan nasi dan lauk yang diinginkan. Mereka semua juga makan. Mereka tampak menikmati makanan lokal itu dengan lahap. Aryn bahkan mengajari Angel, Silvi, dan Naina makan menggunakan tangan.


Kalau Mei, ia sudah kekenyangan dengan semua makanan yang telah dia pesan lebih dulu. Tangannya hanya mencomot sedikit dari piring Aryn.


"Kelyn jusnya mau tambah?" tanya Angel.


"Kalau Apin tambah, aku juga mom! Aku akan memilih yang sama dengan Apin," jawab Kelyn dengan nada centil dan kedipan matanya untuk Davin.


"Terapin-apin," seloroh Mei.


Mereka semua tertawa.


"Anak kamu gantengnya kebangetan sih, Ryn. Nggak salah kalau Kelyn jatuh cinta sejak dini. Kalau anak keduaku nanti cewek, aku suruh ngejar cinta Apin juga," seru Naina.


"Belum buat aja sudah rencana!" Silvi mengejek.


"Yang penting booking dulu dari calon besan," Naina menjawab.


"Kita saingan berarti ya!" Angel terkikik.


Lagi dan lagi mereka tertawa. Makan siang mereka dipenuhi candaan dan diselingi gosipan emak-emak muda itu. Setelah selesai makan, Dave mendatangi meja mereka.


"Permisi Nyonya-nyonya, saya membawa tagihannya!" ucapnya dengan wajah sok serius.


"Ngutang dulu, tuan!" sahut Mei asal.


"Sebagai jaminannya, kami akan menyerahkan sahabat kami ini!" Silvi dan Angel merangkul Aryn.


Mereka terbahak, kecuali Aryn.


"Jangan marah sayang, aku hanya bercanda!" justru Dave yang merusak kejahilannya sendiri.


"Yeah, istri sendiri disuruh bayar," cicit Aryn.


"Sayang sayang, maaf...." Dave tersenyum merayu.


"Kalau udah cinta, emang susah ya say!" seloroh Mei.

__ADS_1


"Hmm, aku mau karaoke sama yang lain." seru Aryn.


"Iya, sayangku. Nikmatilah waktu kalian, jarang-jarang kan kalian mempunyai waktu untuk diri sendiri selain mengurus keluarga. Biar anak buahku yang mengawasi Davin dan Kelyn nanti, jangan khawatir!" jawab Dave.


"Terima kasih, sayang!" Aryn mengecup pipi Dave, ia tidak jadi marah.


"Ehem ehem, di sini banyak orang!" Silvi mengganggu momen mereka.


"Suamiku lagi dinas di kebun jangan bikin pengen!" Angel menyahut.


Aryn tersenyum kikuk, tapi Dave biasa saja. Biasalah, Dave tidak peduli dengan omongan orang.


"Ayo girls, kita cus!" Mei berjalan lebih dulu.


"Cusss!!" sahut yang lainnya.


Mereka masuk ke salah satu ruangan khusus karaoke. Ada sebuah sofa panjang empuk, televisi berukuran jumbo, dan lampu disko di dalamnya. Ruangannya tidak remang-remang kurang pencahayaan seperti karaoke lainnya, ruangan itu terang. Karena di salah satu sisi ruangan terbuat dari kaca. Kebetulan kacanya menghadap kolam renang. Sudah terbayang sensasi karaoke di dekat kolam.


Lagu pertama yang memilih Angel. Mereka semua memegang mic. Masih kalem, mereka hanya bernyanyi sambil duduk di sofa. Selesai lagu pertama, lagu kedua dan ketiga dipilih oleh Naina. Hingga giliran Aryn yang memilih. Ia mengenalkan lagu tak biasa pada para sahabatnya. Untung ia membawa ponsel, jadi ia hubungkan ponselnya ke layar. Lagu pilihannya tidak ada di sana.


"Lagu apa sih ini, Ryn?" Naina masih duduk memperhatikan.


"Namanya dangdut, moms! Yuk digoyanggg...." Aryn mulai bernyanyi.


Silvi dan lainnya hanya diam melihat. Satu detik, dua detik, tapi lama kelamaan badan mereka ikut bergoyang mengikuti alunan musik.


"Digoyanggg!" Angel mengikuti ucapan dan goyangan Aryn.


Kedua jempolnya ia gerakkan sembari menggoyangkan pinggulnya. Silvi menyalakan lampu disko agar lebih syahdu.


"Serr serrr serrr...Tarik mang!" seru Mei dibimbing Aryn.


Meski suara Aryn tidak enak didengar tapi mereka tetap bergoyang mengikuti lagu. Apalagi Mei dan Aryn, keduanya adu goyang gergaji.


"Mereka lupa anak," Glen sejak tadi melihat tingkah emak-emak itu dari kolam renang.


"Jangan dilihat ya, boy! Kamu masih kecil!" Ken menutup mata Arthur.


Ruangan karaoke yang dipakai Aryn the geng bisa dilihat dari kolam renang. Ken geleng-geleng melihat Naina yang juga bergoyang heboh. Ia memanggil para suami untuk menyaksikan itu juga.


"Demi garpu! Mereka seperti cacing kepanasan!" pekik Zack.


Yang paling heboh adalah Mei, dia sampai berdiri di atas sofa.


"Ini pasti racun dari Aryn, aku pernah melihat dia goyang jempol sendirian di kamar mandi," lirih Dave.


"Istriku, bundar-bundar bergoyang!" Reza melongo menatap Silvi dari kejauhan.


Mereka terkikik.


"Lihat istri sendiri-sendiri ya! Awas kalau kalian lihat Angel!" seru Samuel.


"Kalau begitu saya merem, ya?" sahut Glen.


"Jomblo cerdas!" Zack menepuk bahu Glen.


"Sssttr....Biar nanti aku tunjukkan pada Davin dan Kelyn," Dave tersenyum jahat, ia merekam aksi istri mereka dengan ponselnya.


.............


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2