
"Siapa yang sakit?" Paman Kevin masuk ke kamar Silvi.
Tidak ada yang menjawab. Dave langsung mundur menjauh, ia memberikan ruang agar Paman Kevin bisa mendapat ruang untuk memeriksa Reza. Paman Kevin pun mendekat ke ranjang. Di ranjang ada Reza dan Silvi.
"Silahkan, paman! Periksa suamiku, dia muntah terus!" Silvi bergegas turun dari ranjang.
Paman Kevin tersenyum, ia mengeluarkan seperangkat alat dari tasnya. Tekanan darah Reza diukur.
"Apa yang kamu makan tadi?" tanya Paman Kevin.
"Hanya buah-buahan saja..Umm, jeruk. Lalu aku tadi muntah karena mencium aroma susu coklat yang dibuat Silvi, paman!" jawab Reza.
"Susu coklat? Setahuku kau tidak ada riwayat alergi susu, kau bahkan salah satu penggemar susu kan, Reza?"
"Kak Reza memang tidak punya alergi susu, paman! Dia muntah bukan karena susu saja, tapi semua makanan selain durian dan buah yang asam-asam!" Silvi yang menjawab.
Paman Kevin tampak terdiam. Dahinya berkerut. Reza dan Silvi saling menatap, wajah mereka terlihat panik melihat ekspresi dokter itu. Selain mereka berdua, Dave dan Aryn juga tampak serius. Mereka menanti jawaban dari dokter mereka.
"Aku tahu sekarang. Yang harus diperiksa itu istrimu... Silvi kemari!" seru Paman Kevin.
"Aku baik-baik saja, paman!" Silvi bingung, tapi ia tetap mengikuti arahan dokter itu.
"Yang sakit itu aku loh, paman!" rengek Reza.
Dave dan Aryn sama terkejutnya. Kenapa Paman Kevin terlihat semakin serius? Dan sekarang Silvi yang diperiksa.
"Diamlah!" seru Paman Kevin.
Reza langsung terdiam. Malang benar nasibnya, sudah sakit malah dibentak dokternya.
"Kapan terakhir kali kamu menstruasi, Silvi?" tanya Paman Kevin.
"Hmm...Waktu aku menikah dengan Kak Reza, itu paginya baru selesai kayaknya..." Silvi berusaha mengingat dengan keras.
"Artinya bulan ini kamu belum dapat?"
"Iya, harusnya dua minggu lalu," jawab Silvi.
Paman Kevin mengecek tekanan darah, dan tanda-tanda vital lainnya. Ia juga meletakkan ujung stetoskopnya di perut Silvi. Seketika, ia tersenyum setelah melakukan pemeriksaan singkat itu.
"Sebenarnya ada apa ini, paman?" Dave tidak sabaran.
"Mereka kenapa?" imbuh Aryn.
"Mereka akan segera menjadi orangtua," Paman Kevin tersenyum.
"APAA???" pekik mereka semua karena terkejut.
Reza langsung memeluk istrinya itu. Ia merasa sangat senang, Silvi cepat hamil. Ia mengelus perut Silvi. Bibirnya tidak berhenti mengucapkan cinta pada Silvi. Silvi memegangi perutnya, tak terasa air matanya menetes deras. Ia tidak menyangka ada kehidupan di perut kecilnya.
"Terima kasih, sayang!" air mata Reza mengalir sampai membasahi pipinya.
__ADS_1
"Kak Reza akan jadi papa, dan aku jadi mama..." ucap Silvi di sela tangisan bahagianya.
"Iya sayang," Reza memeluk erat Silvi.
Air mata Reza yang selama ini tidak pernah diperlihatkannya, hari ini keluar membanjiri wajahnya. Mungkin karena pengaruh kehamilan simpatik yang dialaminya. Reza menjadi tambah sensitif.
Dave dan Aryn mendekati pasangan itu. Dave mengecup pucuk kepala adiknya, ia merasa senang. Sementara Aryn, ia turut memeluk Silvi. Padahal baru kemarin rasanya Silvi memakai seragam sekolah menengah. Sekarang adik kecilnya itu akan menjadi seorang ibu.
"Yang hamil benaran Silvi kan, paman?" seru Reza.
"Iyalah!" Paman Kevin menoyor kepala Reza.
"Terus kenapa yang muntah-muntah aku?" tanya Reza.
"Hal ini sering terjadi, namanya kehamilan simpatik. Yang merasakan gejala-gejala kehamilannya kau," Paman Kevin terkekeh.
"Gejala yang aku alami bisa dihilangkan kan, paman?" tanya Reza.
Paman Kevin tertawa,
"Kalau untuk masalah itu, sebaiknya kalian berdua ke rumah sakit besok pagi. Dokter spesialis kandungan akan memeriksa Silvi dan calon anak kalian secara menyeluruh. Dokter juga akan menjelaskan mengenai gejala yang kau alami," ucap Paman Kevin.
"Baiklah, paman! Terima kasih," sahut Reza.
"Aku ucapkan selamat untuk kalian! Aku pulang dulu," Paman Kevin meninggalkan kamar Silvi.
Paman Kevin diantar oleh anak buah Dave. Erick, Katy, dan Uti berbondong-bondong ke kamar Silvi setelah melihat Paman Kevin tadi. Mereka semua panik, apalagi Paman Kevin terlanjur pergi jadi mereka tidak bisa bertanya apa yang terjadi.
"Siapa yang sakit?" seru Erick.
"Apakah tidak ada yang mau menjawab?" sahut Uti yang kelihatan cemas juga.
"Silvi hamil, pa!" Reza berucap sambil mengelap ingusnya.
"Anak mama akan jadi ibu, selamat sayang!" Katy langsung memeluk Silvi.
"Kecebongmu lincah juga, ya?" Erick memeluk Reza.
Reza langsung tertawa,
Mereka semua tidak hentinya mengucapkan selamat pada Reza dan Silvi. Katy dan Aryn, mereka menceritakan semua hal tentang kehamilan. Tapi obrolan mereka tidak bertahan lama, Silvi butuh istirahat.
"Istirahat ya, mommy! Besok aku akan membawa kalian ke rumah sakit," Reza mengecup kening Silvi lalu mengecup perut Silvi yang masih rata itu
"Siap, daddy!" Silvi memejamkan kedua matanya.
ย -----------------------
"Sial, bisa-bisanya cowok brengsek itu selingkuh!"
Di dalam sebuah mobil, seorang gadis tengah mengomel tidak karuan. Rambutnya panjang tapi diikat ke atas seluruhnya. Gadis itu malah terlihat seperti pria karena ia menggunakan kemeja pria dan celana jeans.
__ADS_1
"Ah ****!"
Ia membanting ponselnya ke jok sebelahnya. Baru saja pria yang membuatnya kesal mengirim pesan padanya. Isinya mengatakan jika hubungan mereka selesai.
Mobil yang tadinya sunyi berubah sedikit bising. Ia memutar musik rock kesukaannya. Lantas ia menari-nari sambil mengemudi. Untung saja jalanan tidak ramai. Sekarang sudah tengah malam, pukul 3 pagi.
Kalau ia pulang, kepalanya akan semakin sakit dimarahi oleh mamanya. Batas jam mainnya hanya sampai jam 11, ia tadi terlalu lama menghabiskan waktu membuntuti pacarnya. Lebih baik pulang besok pagi sekalian. Sekarang ia akan bersenang-senang dulu. Mobilnya berhenti di depan bar langganannya.
"Let's rock, baby!" gadis itu bersiap turun dari mobil, wajahnya tampak girang.
Tapi baru saja ia keluar dari mobil, ia masuk lagi. Ponselnya ketinggalan di dalam. Gadis itu sedikit menunduk untuk mengambil ponsel, karena ternyata ponselnya sudah jatuh ke kolong. Secara tidak sengaja ia melihat ke jok belakang. Seperti ada seseorang yang berbaring di sana.
Gadis itu melepas sepatunya sebelah. Ia bergerak perlahan membuka pintu baris kedua. Sepatunya ia gunakan sebagai senjata, mana tau orang itu orang jahat. Atau mungkin begal.
"Hey!" tangannya menepuk pelan bahu orang itu.
Orang itu hanya menggeliat. Mulutnya seperti berucap sesuatu, mungkin mengigau. Ia bisa mencium aroma alkohol. Berarti orang itu mabuk. Gadis itu menjadi semakin waspada.
"Hey bangun lo!" suaranya lebih keras meneriaki orang itu.
Masih tidak bereaksi,
"WOY BANGUN!" teriaknya.
Plok plok,
Gadis itu menambah teriakkannya dengan tamparan maut sepatunya. Pria itu bereaksi.
"Siap, bos! Glen ada di sini!" pria itu terduduk dengan mata yang masih merem melek.
"Jadi nama lo, Glen! Keluar dari mobil gua!" seru gadis itu.
"Bos kita lagi di pesawat, mana bisa keluar sekarang!" sahut Glen.
"Lo ada di dalam mobil gua, dasar! Kenapa lo bisa tidur di sini?" gadis itu mulai marah.
"Bos ngeyel ih!" Glen masih meracau.
Gadis itu menepuk dahinya sendiri,
"Mabuk berat nih orang! Menyusahkan saja!" gadis itu tampak kesal.
"Siapa yang mabuk?" sahut Glen.
"Semua pria bisanya hanya menyusahkan saja! Aku tinggal saja!" gadis itu meninggalkan mobil.
Mobil milik gadis itu lumayan mewah. Gadis itu menghidupkan salah satu fitur dalam mobil itu. Agar pria bernama Glen itu tetap bisa tidur di dalam mobil. Walaupun dia kesal, tapi ia masih mempunyai rasa kasihan. Mobil itu ditinggalkannya, monitor kecil di samping stir menampilkan sebuah tulisan, 'My owner will be back soon, don't worry the heater is on and It's 76ยฐF'.
Karena gadis itu ingin bersenang-senang di dalam bar. Dengan fitur ini, ia bisa meninggalkan pria itu di mobilnya. Fitur itu bernama 'Dog mode screen' ๐๐๐
__ADS_1
..................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!