Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
DIA LAGI


__ADS_3

Meskipun berat, Silvi memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di negaranya. Ia tidak ingin membuat orang tuanya bersedih, terutama mamanya. Sejak Silvi lulus bulan kemarin, ia sudah berusaha membujuk mama dan papanya. Tapi keputusan mereka sudah bulat, ditambah lagi Dave mengompori setiap hari.


Silvi masuk ke kampus yang sama dengan kampus kakak iparnya. Silvi masuk tahun pertama sementara Aryn dan Mei akan masuk tahun terakhir. Hari ini menjadi hari pertama Silvi masuk ke kampus. Sesuai informasi yang diperoleh, hari ini akan diadakan acara orientasi untuk mahasiswa dan mahasiswi baru. Silvi berangkat bersama Aryn dan Mei.


"Cemberut aja, dek?" Mei menyapa Silvi saat dalam mobil.


"Dek?" sahut Aryn.


"Silvi adik tingkat kita, wajarlah aku panggil dek..." jawab Mei.


"Fokus ke depan aja, mau aku cemberut itu bukan urusanmu kak!" seru Silvi.


"Dih sewot! Ingat loh aku seniormu!" Mei menyombongkan diri.


"Semua sama di mata tuhan, kak!" jawab Silvi.


"Okay okay..." Mei terkekeh.


Seperti biasa Mei menyetel lagu favoritnya dengan keras. Aryn sudah terbiasa dengan kebiasaan Mei itu. Bahkan Aryn ketularan suka menyanyi di mobil. Jadilah karaoke rutin di mobil, Aryn dan Mei bernyanyi mengikuti musik.


Silvi menghela napas kasar, ia ingin sekali tutup telinga. Tapi ia merasa tidak enak dengan Aryn. Suara Mei dan kakak iparnya itu lebih parah dari yang Silvi bayangkan. Mereka berdua malah cenderung teriak daripada disebut bernyanyi.


"Kau tidak suka bernyanyi?" Mei tiba-tiba bertanya pada Silvi.


"Aku sadar diri dengan suaraku saja sih," jawaban Silvi terdengar menyindir.


"Ohh..." Mei mengangguk.


Lantas Mei kembali menyanyikan lagu yang ia putar. Setiap orang memang berbeda sikap, dan wataknya. Tidak heran jika Mei masih meneruskan untuk bernyanyi padahal sudah disindir oleh Silvi. Silvi yakin jika Mei sebenarnya tahu jika suaranya tidak enak didengar, hanya saja kepercayaan dirinya yang berlebih.


Di tengah perjalanan, mendadak Mei menurunkan kaca mobilnya. Lagu yang disetel diturunkan volumenya, dan juga dia menyuruh Aryn untuk berhenti bernyanyi. Silvi yang penasaran ikut menengok ke luar jendela. Ia bisa melihat sebuah motor sport melaju sejajar dengan mobil mereka.


"Pak Dosenn!" Mei berteriak.


Tin tin,


Motor sport itu menjawab dengan membunyikan klakson motornya. Pengendara motor itu membuka kaca helmnya. Silvi mengerinyitkan dahinya, ia pernah melihat wajah pria itu. Ah iya, dia adalah kakak Zack yang dulu membantu mereka menyelamatkan Davin dari tangan Myra.


"Dia kakaknya Bang Zack, kan?" seru Silvi.


"Iya, benar! Selain itu dia dosen di kampus kita! Dosen tertampan!" jawab Mei sedikit berteriak.


"Harap maklum ya, Mei kalau udah lihat yang bening dikit emang gini," Aryn terkekeh.


"Iya kak," jawab Silvi.


Mobil mereka melaju tepat di belakang motor Zain. Mei tidak akan menyalip, selalu mengikuti dari belakang. Sesampainya di parkiran kampus pun, Mei langsung turun dari mobil menghampiri Zain. Aryn dan Silvi mengekor di belakang.


"Pagi Pak Dosen," sapa Mei dengan sedikit menambahkan gaya centil.


"Pagi.." jawab Zain singkat.

__ADS_1


"Nanti siang saya ada kelas Pak Dosen loh," ucap Mei.


"Iya, saya tahu!" jawab Zain.


"Mampus dijudesin!" gumam Silvi.


"Heh, Silvi! Kedengeran loh sampai sini," Mei menatap Silvi.


"Silvi lebih baik kita duluan aja," Aryn menggandeng Silvi mengajaknya masuk duluan.


Sementara Mei ia masih menunggui Zain yang sedang melepas jaket dan kaos tangannya. Pemandangan seperti ini tidak boleh terlewatkan. Lepas helm saja tampan apalagi lepas jaket hehehe.


"Kenapa kau tidak datang dengan Zack kemarin malam?" tiba-tiba Zain menanyakan tentang Zack.


"Hah, datang untuk apa pak?" Mei terkejut.


"Papa mengundang kalian untuk makan malam kemarin, merayakan hari jadi pernikahan papa dan mama." jawab Zain.


"Zack tidak mengatakan apapun. Kalaupun dia mengajak saya kemarin, saya juga tidak akan mau. Dia tidak mau membayar!" Mei terlihat kesal.


"Kau mau menjadi pacar bohongannya hanya karena dibayar? Tidak ada alasan lain?" tanya Zain.


"Iy...Iyalah pak!" Mei sedikit gugup.


"Maaf Pak Dosen saya masuk duluan," Mei bergegas pergi dari parkiran.


Zain terkekeh, tidak biasanya Mei masuk duluan. Biasanya gadis itu menungguinya sampai selesai dan masuk bersama. Paling tidak dari percakapan tadi Zain tahu ada yang Mei sembunyikan. Tidak mungkin gadis itu mau menjadi pacar bohongan dalam waktu lama hanya karena bayaran. Kalau dilihat Mei berasal dari keluarga yang berkecukupan, uang adalah hal yang mudah baginya. Biarlah waktu yang menjawab.


Sembari menunggu panitia datang, Silvi memainkan ponselnya. Tidak disangka, seseorang menepuk bahunya dengan cukup keras. Reflek Silvi langsung menoleh ke belakang. Saat ia melihat siapa pelakunya tadi, ia menghela napas berat, dia lagi dia lagi.


"Good morning!" orang itu menunjukkan senyum termanisnya.


"Kenapa kau di sini, Mike?" seru Silvi kesal.


Mike tersenyum tipis. Sesuai janjinya pada dirinya sendiri, ia benar-benar mengikuti Silvi. Di hari ia tahu Silvi mendaftar masuk kampus ini, di hari itu juga Mike mendaftar.


"Kuliah, dong!" jawab Mike.


"Kenapa kuliah di sini? Sengaja mau membututiku?" Silvi menatap Mike dengan tajam.


"Dulu aku sudah pernah mengatakannya, kan? Aku akan selalu menjadi sahabatmu dan berada di dekatmu." Mike tersenyum.


"Ah terserah kau sajalah!" Silvi menjauh dari Mike.


Mike geleng-geleng, ia diam-diam mengikuti Silvi dan berdiri di belakangnya. Cuaca pagi menjelang siang hari ini cukup terik. Dahi Silvi mulai mengeluarkan peluh karena panas. Panitia sedang memberikan sedikit pengenalan tentang acara hari ini. Mike maju selangkah lebih dekat dengan Silvi. Ia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya. Mike menjadikan kertas itu payung untuk melindungi Silvi dari sinar matahari.


"Bucin ada dimana-mana, woy!" salah satu mahasiswa meledek.


Silvi menatap tajam orang itu. Beberapa mahasiwa lain ternyata juga memperhatikan Silvi sambil tersenyum aneh. Silvi melihat ke tubuhnya sendiri, apakah pakaiannya aneh atau ada yang robek. Tapi pakaiannya terlihat biasa saja, wajahnya juga. Tidak ada bedak luntur karena Silvi tidak memoles wajahnya. Lalu apa yang terjadi kenapa mereka mengolok Silvi.


Silvi memperhatikan sekeliling, ia tidak sadar jika wajahnya terasa teduh seperti di payungi. Ia melihat ke atas kepalanya. Ada sebuah kertas yang melindunginya dari sinar matahari yang terik. Silvi menghela napas kasar. Cepat-cepat Silvi menoleh ke belakang. Benar dugaannya, Mike lah pelakunya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" Silvi menampik tangan Mike agar menjauh dari kepalanya.


"Sinar matahari sangat terik, aku tidak tega kamu kepanasan!" jawab Mike dengan enteng.


"Kau tidak perlu melakukannya, aku sudah biasa!" Silvi kesal.


"Tapi aku mau melakukannya," Mike membela diri.


"Kau tidak lihat mereka meledek kita? Jangan buat kesan buruk di hari pertama," ucap Silvi.


"Biarkan saja mereka meledek. Kita kuliah tidak dengan uang mereka," Mike terkekeh.


"Sudah jangan membantah lagi, jaga jarak denganku!" Silvi menjauh dari Mike.


Mike justru mendekati Silvi lagi. Selangkah Silvi menjauh selangkah Mike mendekati Silvi.


"Mike, stop!" ucap Silvi.


"Kamu yang stop, selangkah kamu menjauh aku akan semakin mendekat!" Mike terkekeh.


Karena tidak ingin menimbulkan keributan di barisan, Silvi menyerah. Setelah dibubarkan nanti, Silvi akan langsung menjauh. Saat Silvi sudah mengalah, Mike malah mengulangi kesalahannya lagi. Mike menggunakan kertasnya lagi untuk memayungi Silvi.


"Mikee.." Silvi mulai geram.


"Apa?" jawab Mike dengan santai.


"Jauhkan tanganmu dari atas kepalaku!" seru Silvi.


"Kalau kamu tidak mau aku payungi ya diam saja! Karena aku mau melakukan ini, kamu mau melarang ribuan kali aku akan tetap melakukan apa yang aku mau!" Mike terkekeh.


Silvi menghela napas berat. Masalah apa lagi ini? Awalnya ia gagal pergi ke Paris. Susah payah ia menerima untuk melanjutkan pendidikan di sini. Sekarang ia sudah menerima tapi muncul masalah baru yaitu Mike. Tingkah Mike semakin menjadi, sampai pusing Silvi memikirkan bagaimana menjauhi Mike.


Aksi Mike tidak berhenti di halaman tadi saja. Begitu barisan mahasiswa baru dibubarkan tadi, mereka diberi waktu untuk berkeliling melihat-lihat kampus. Di saat berkeliling Mike benar-benar menjadi bayangan Silvi. Kemanapun Silvi pergi Mike ada di sana untuk mengikuti.


Waktu istirahatpun sama. Mike mengikuti Silvi sampai ke kantin. Silvi mencoba mengerjai Mike dengan cara memintanya memesankan makanan dan minuman. Tapi saat Mike sudah membelinya, Silvi minta ganti makanan. Silvi melakukan itu berulang kali. Herannya, Mike tidak menyerah.


"Kau tidak marah?" tanya Silvi.


"Marah untuk?" Mike balik bertanya.


"Aku menyuruhmu bolak-balik memesan makanan," jawab Silvi.


"Aku tidak marah. Karena aku tahu kamu sedang berusaha membuatku kesal kepadamu agar aku menjauhimu, kan?" Mike tersenyum penuh arti.


"Kau..." Silvi terkejut.


"Lakukan sesukamu, aku tidak akan kesal ataupun menjauh! Tidak akan pernah. Ingat itu!" Mike duduk di kursi berhadapan dengan Silvi.


...............


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2