
Di waktu yang sama,
Zack baru saja selesai membereskan tempat dimana Reza diserang tadi dengan dibantu Dave. Sekarang ia mengemudikan mobilnya menuju apartemen. Dave juga pulang ke rumahnya.
Situasi di dalam mobil terasa sedikit canggung untuk Zack. Bahkan untuk memulai percakapan saja rasanya serba sungkan. Masalah mereka kemarin menguras emosi.
"Hari ini cuacanya panas, ya?" Zack menggibas-gibaskan tangannya seperti orang kegerahan.
"Mobil ini full AC, langit juga mendung." jawab Mei polos.
Sial, Zack baru menyadari kebodohannya.
"Ah iya, mungkin karena aku membereskan mayat tadi!" Zack menjawab asal.
Selesai, percakapan berakhir sampai di situ. Mei tidak menjawab dan hanya tersenyum. Mei lebih banyak menikmati perjalanan dnegan melihat ke jendela yang berada di sampingnya.
Zack memikirkan cara lain untuk memulai percakapan.
"Mei..." Zack memberanikan diri memanggil Mei.
"Iya?" sahut Mei.
"Emm...Apakah kamu senang kemarin tinggal di rumah mama?"
Akhirnya Zack menemukan topik pembicaraan yang pas. Baru sekarang ia memikirkan hal itu.
"Senang lah. Mama dan papa menganggapku seperti anak perempuan mereka. Aku diajak belanja sama mama. Belanja sepuasnya, mama yang bayar. Ada temen nonton kdrama, temen belajar masak. Pernah waktu itu aku sama mama bikin roti. Gagal total, dilempar ke pot bunga yang pecah pot bunganya hahaha...." Mei bercerita.
Zack tertawa.
"Berarti kalian cocok ya, sama-sama tidak bisa memasak hahaha..." seru Zack.
"Ya begitulah, ada satu hal lagi yang membuat kami cocok." sahut Mei.
"Apa?" tanya Zack.
"Kami memang sama-sama tidak bisa masak, tapi kami juga sama-sama suka makan," seloroh Mei.
Zack tertawa.
"Selain itu, mama juga super sabar. Asal kamu tahu, waktu aku sedang sedih aku menangis berhari-hari. Mama tidak pernah meninggalkanku padahal aku tahu telinganya pasti sudah sakit mendengar tangisanku. Dia malah duduk di kamarku, mengambilkan tisu untukku," lanjut Mei.
Kali ini Zack terdiam. Perasaan bersalah memenuhi rongga dadanya.
"Maaf," ucapnya lirih.
Mei menyadari ucapannya tadi.
"Aku tidak menerima maaf secara cuma-cuma, aku hampir jadi janda kembang, air mata berhargaku mengalir seember karenamu." seloroh Mei sambil cengengesan.
"Aku akan membayar semua air matamu yang jatuh, Mei." Zack menunjukkan wajah serius.
Mei yang tadi tertawa mendadak diam. Suasana menjadi serius seketika.
"Caranya?" tanya Mei.
"Mari mulai hubungan ini bersama!" ucap Zack dengan sungguh-sungguh.
"Kita berdua harus berusaha bersama. Hubungan ini hubungan suci yang kita buat dihadapan pencipta, aku ingin memulai semuanya dari awal. Tapi usahaku tidak akan berhasil jika kamu juga tidak membuka hatimu," lanjut Zack.
Mei malah diam seribu bahasa.
"Mei?" seru Zack.
Mei masih diam.
"Mei, jawab!" Zack menoyor pelan bahu Mei.
"Eh...Iya aku mau, ini yang selalu aku nantikan huhuhu..." Mei malah menangis.
"Kok nangis?" Zack kebingungan.
"Ini tangis bahagia, stupid!" protes Mei.
"Okay okay, kalau tangis bahagia berarti aku tidak perlu menggantinya kan?" Zack terkekeh.
__ADS_1
"Ihhh..." Mei mencubit perut Zack.
"Aawww awww..." Zack jadi tidak fokus menyetir.
Mei masih mencubit perut Zack. Zack sampai tertawa, pasalnya cubitan Mei malah terasa semakin geli bukan sakit. Di menit yang sama, ada sebuah mobil yang melaju kencang dari arah yang berlawanan.
Piipp piipp,
Mobil itu membunyikan klaksonnya karena mobil Zack malah berada di jalurnya. Zack melihat ke depan, jarak mobilnya dengan mobil itu sudah dekat.
"Awaaaassssss!" Mei berteriak kencang, ia tidak berani membuka matanya.
Ciittt...
"Hah hah hah..." Zack ngos-ngosan.
Untung saja Zack gerak cepat, ia mengarahkan mobilnya kembali ke jalur. Terlambat sedikit saja mobil mereka akan bertabrakan. Sekarang mobil Zack keluar dari aspal karena Zack panik dan banting stir secara tiba-tiba. Hanya bagian depan mobil Zack masuk ke semak-semak.
"Mei, kamu baik-baik saja?" yang dilakukan Zack pertama kali adalah mengecek keadaan Mei.
"Iya," jawab Mei lirih.
Zack masih belum percaya, ia mengeceknya sendiri. Bahkan Zack meraba kepala Mei kalau ada benturan tadi.
"Aku baik-baik saja, Zack!" teriak Mei kesal.
Zack tertawa.
"Hanya memastikan," jawabnya.
"Justru kamu yang terluka, lihat dahimu lebam!"
Mei meraba dahi Zack. Zack meringis kesakitan. Mei juga mengecek kepala Zack, siapa tahu ada luka lain.
"Mei cukup, aku pusing! Kamu memutar kepalaku ke kanan ke kiri, pusing!" keluh Zack.
"Maaf maaf," Mei terkekeh.
"Makanya kalau nyetir lihat depan, kita mau pulang ke apartemen bukan ke akhirat!" lanjut Mei.
"Lah kamu yang nyubit perutku duluan." sahut Zack.
"Hati-hati," ucap Mei saat Zack menjalankan lagi mobilnya.
Bagian depan mobil Zack tidak rusak hanya lecet tipis karena masuk ke semak. Kali ini Zack melajukan mobilnya dengan pelan. Tapi entah kenapa ada sebuah mobil yang sengaja melaju melawan arah.
"Sepertinya pengemudi mobil itu mabuk," ucap Mei takut.
"Monica..." teriak Zack.
"Siapa lagi Monica?" seru Mei.
"Itu Monica, aku tahu siapa yang menaiki Monica!"
"Ngomong apa sih?" Mei kesal.
Citt...
Zack menghentikan mobilnya karena mobil di depannya juga berhenti menghadang. Zack bergegas turun dari mobilnya diikuti oleh Mei.
"Monicaa...Apa kabar, sayang?" Zack berlari menuju mobil.
"Zack, tunggu!" teriak Mei.
"Mei!" seseorang memanggil Mei.
Ternyata orang yang keluar dari mobil itu yang memanggil Mei.
"Zain..." gumam Mei.
Ya, pengemudi mobil itu adalah Zain. Mei celingukan mencari Zack, Zack malah memeluki mobil yang dikendarai Zain. Dasar aneh! Mei merasa canggung saat Zain berjalan ke arahnya.
"Mei, aku...." ucap Zain.
"Ada apa lagi? seharusnya kakak sudah pergi dari negara ini,"
__ADS_1
"Iya, karena itu aku disini. Sebelum aku pergi jauh aku ingin menemuimu...." Zain menatap Mei dengan sendu.
"Sekarang sudah ketemu, kan? Jadi kakak bisa pergi!" ucap Mei.
Zain diam, sepersekian detik kemudian Zain berlari ke arah Mei dan memeluk erat Mei.
"Biarkan seperti ini, Mei! Sebentar saja, aku mohon!" ucapnya.
Mei pasrah dipeluk oleh kakak iparnya.
Sementara itu,
Zack baru selesai melepas rindu dengan Monica, mobil yang dipakai Zain. Tangannya mengepal karena melihat kakaknya memeluk istrinya. Zack berjalan cepat menghampiri mereka berdua.
"Kau!" tangan Zack mengepal kuat.
Zain buru-buru melepaskan pelukannya.
"Masih saja mengganggu istriku!" seru Zack.
"Tidak akan lagi, aku akan pergi!" jawab Zain.
"Cih..." Zack acuh.
"Aku hanya ingin menemui Mei untuk yang terakhir kali. Kau mau membenciku? Silahkan! Aku pergi..." Zain berjalan kembali ke mobilnya.
Zack memandangi kakaknya itu dari kejauhan. Zain benar-benar pergi, bahkan tanpa menoleh. Zack tidak bisa berbohong dia memang membenci kakaknya sekarang tapi kakak tetaplah kakak. Semoga kakaknya bisa bertemu dengan cintanya suatu hari nanti.
"Ayo pulang!" Mei menarik tangan Zack.
Mei dan Zack masuk ke dalam mobil. Mobil Zack melaju dengan perlahan menuju apartemen mereka.
+++++++++
Di kediaman Reza,
Ting tong.....
Bel rumah berbunyi nyaring.
Ting tong.....
Karena tak kunjung dibukakan oleh pemilik rumah, bel itu berbunyi lagi.
"Hmmm...." Silvi mengerjapkan matanya.
Ia menoleh ke samping, Reza tertidur lelap di sana. Tadi suaminya itu menemaninya tidur siang, tapi malah dia yang tidur duluan. Silvi.Satu tertidur sekitar 30 menit lalu. Dan sekarang sudah dibangunkan paksa oleh suara bel rumah.
Perlahan tapi pasti Silvi turun dari ranjangnya. Ia masih bermalas-malasan.
"Sebentar!" ucap Silvi saat bel rumah dibunyikan lagi.
Ceklek,
Silvi membuka pintu depan.
"Lah nggak ada orang?" ucapnya.
Tidal ada siapaun di depan pintu rumahnya. Silvi mengecek di jalan juga sampai ke luar gerbang tidak ada siapaun. Pasti anak tetangga yang iseng mengerjai. Atau bisa juga Davin. Silvi memutuskan kembali masuk.
Bug,
Kakinya malah menendang sesuatu.
"Apa itu?" gumam Silvi.
Silvi mengambil kotak itu, ia bawa masuk ke dalam rumah.
"Masih zaman ya meninggalkan kotak di depan rumah orang?" Silvi berbicara sendiri.
Tangannya dengan cepat membuka kotak yang ia temukan. Kotak itu berwarna putih, dililit dengan sebuah pita berwarna biru muda. Silvi penasaran apa isi kotak cantik itu. Satu kali tarikan pita biru muda itu terlepas dari kotaknya. Silvi semakin tidak sabar membuka kotak itu.
Dan...
"Aaaa...Kak...Kak Reza!" Silvi berteriak setelah melihat isi kotak itu.
__ADS_1
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!