Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
PENGUNGKAPAN


__ADS_3

"Turunkan senjata kalian!" teriak Reza.


Pria yang sejak tadi menggunakan masker melangkah maju. Gelagatnya menantang Reza. Tatapan mereka berdua bertemu, Reza tahu dialamatkan dibalik masker ini.


"Lo mau bernasib sama seperti sahabat lo itu?" pria itu menempelkan senjatanya tepat di depan dahi Reza.


Reza tidak gentar sedikitpun, tidak ada rasa takut dalam dirinya. Sekarang ini Reza justru tertawa dengan keras.


"Tutup mulutmu!" bentak pria itu.


"Babang Sam!" Reza memanggil Samuel.


Tak tak tak....


Derap langkah Samuel terdengar. Dari suara langkahnya saja sudah ketahuan Samuel tidak sendiri. Pria yang tadi menodongkan senjata perlahan menurunkan senjatanya setelah tahu siapa yang datang.


"Papa..." lirih pria itu.


Samuel datang dengan menyeret seorang pria tua dengan perut buncit. Tangan Samuel menggaet leher pria tua itu agar tidak berusaha melarikan diri.


"Kenapa tidak jadi menembakku? Tembaklah!" Reza meraih tangan pria itu, ia mengarahkan senjata pria itu ke dahinya sendiri.


Pria itu tetap diam.


"Kenapa diam? Ayo tembaklah! Dengan begitu Samuel juga akan menembak papamu. Tidak masalah aku mati asalkan pria tua kejam ini juga mati," ucap Reza bengis.


Samuel tadi masuk diikuti oleh anggota Red Blood yang tiba-tiba menghilang. Samuel menemukan mereka disekap di kandang anjing halaman belakang. Sejatinya Samuel tidak tahu akan melakukan rencana sebesar ini jika Reza tidak memberitahukan padanya.


"Brengs*k lo!" umpat pria itu.


"Ya, aku memang brengs*k!" teriak Reza.


"Tangkap mereka!" teriak Reza menyuruh anggota Red Blood.


11 musuh yang tersisa tadi perlahan menurunkan senjata dan angkat tangan. Karena Red Blood mengepung mereka dengan senjata laras panjang. Tapi pria bermasker tetap menodongkan senjata ke depan. Dia hendak melawan.


"Jaga ucapan lo! Lo belum tau dengan siapa lo bicara!" teriak pria itu.


"Apa? Aku tau betul siapa kau! Mau apa kau ha? Mau menembak? Ayo tembak saja!" Reza maju menantang pria itu.


Pria itu melirik ke arah papanya. Keadaan semakin membuatnya terpojok, Samuel menodongkan pistol ke pelipis papanya. Tanpa diduga pria bermasker tadi menurunkan senjatanya lalu mengangkat tangan ke belakang telinga.


"Ikat mereka!" seru Reza memerintah.


Saat itu juga semua orang bergerak mengikat satu persatu musuh beserta pria bermasker dan papanya. Mereka diikat menjadi satu di tengah-tengah ruang tamu.


Reza menyapukan pandangannya. Dilihatnya kondisi Zack, kedua lengan Zack tampak berdarah. Darahnya sampai mengalir ke telapak tangan bahkan menetes ke lantai.


"Zack!!!" Reza menghampiri Zack.


"Untung lo dateng, gua hampir mati!" lirih Zack.


"Jangan banyak bergerak," Reza mendudukkan Zack.


"Hey kalian! Bawa Zack ke rumah sakit sekarang!" teriak Reza.


Dua orang suruhan Reza membantu Zack, mereka akan mengantarkan ke rumah sakit secepat mungkin.


"Dave juga harus ke rumah sakit, Za!" ucap Zack sebelum masuk ke mobil.

__ADS_1


Dimana Dave? Reza langsung berlari mencari sosok kakak iparnya itu. Pandangannya terhenti kala melihat lantai dekat sofa berwarna merah. Dave tergeletak di sana, kepala Dave kelihatan.


"Davee..."


Reza menepuk-nepuk pipi kakak iparnya. Darah Dave banyak sekali yang keluar.


"Ayo cepat bawa Dave juga!" teriak Reza.


Reza turut mengangkat Dave yang sudah tidak sadarkan diri. Tidak bisa ditutupi, Reza sangat cemas dengan kondisi Dave. Lukanya parah.


"Ken dan Naina ada di kamar mereka, keluarkan mereka jika keadaan sudah aman nanti," Zack berkata lirih saat Reza memasukkan Dave ke mobil.


Reza mengangguk, ia berdiri di sana sampai mobil yang membawa kedua sahabatnya menghilang di tengah kegelapan hutan. Kedua tangannya mengepal, ia berlari masuk ke dalam markas lagi. Kedua matanya menatap nyalang musuh-musuhnya.


"Siapa pria yang pakai masker itu, Za?" tanya Samuel.


Pertanyaan itu akhirnya ditanyakan oleh Samuel. Ia tidak mengenal mereka berdua. Kenapa ayah dan anak ini menyerang Red Blood dan semua anggotanya?


"Lo mau lihat? Sebentar...Aku tunjukkan saja, nanti kau juga ingat!" jawab Reza.


Reza berjalan mendekat pria yang memakai masker. Tangannya merogoh saku celananya.


"Jangan bergerak atau dagingmu ikut terbuka nanti!" Reza mengeluarkan sebuah pisau kecil yang terlihat tajam.


Pria itu hanya menatap Reza dengan penuh amarah. Kedua matanya merah, apalagi saat Reza mulai memotong tali maskernya.


"Dia adalah...."


Srett...


Masker pria itu terbuka sekarang.


"Mike? Dia Mike, kan?" pekik Samuel.


"Lo bilang dia juga yang mengusik rumah tangga Zack dan meneror lo? Wah, anak tengil ini!" Samuel menunjuk-nunjuk dahi Mike.


"Singkirkan jarimu itu!" teriak Mike.


"Eh eh, jangan banyak teriak! Emang bener kan, kau yang berbuat biar selama ini. Termasuk kejadian yang menimpa Ken tempo hari," Reza tersenyum menatap Mike.


"Kau kenapa diam saja pak tua?" Reza beralih menatap papa Mike


Papa dari Mike itu hanya melengos memalingkan wajah.


"Kenapa nggak langsung dihabisi saja sih, Za? Tanganku gatal melihat wajah sok kuasa mereka!" protes Samuel.


"Sabar dulu, gua mau cerita-cerita dulu ini!" sahut Reza.


Cuihh...


Mike meludah hingga mengenai sepatu Reza.


"Heh, anak tengil! Beraninya kau!" Samuel mencekik leher Mike.


"Tenang dulu, Sam! Jangan terburu-buru!" Reza menarik Samuel agar Mike dilepaskan.


Samuel nampak kesal.


"Anak tengil ini pasti masih ingin mendapatkan Silvi," ucapnya.

__ADS_1


"Bukan hanya itu saja, dia diperalat papanya untuk membalaskan dendam!" Reza duduk di sofa.


"Apa maksudnya?" Samuel penasaran.


Reza mengeluarkan pisau kesayangannya. Ia lap pisau kecil nan tajam itu dengan tisu di atas meja. Tisu itu sedikit berantakan, akibat dari baku tembak yang terjadi tadi.


"Glen berhasil mendapatkan informasi mengenai siapa ayah Mike itu. Namanya Andreas. Ternyata dia si pria bangkotan yang juga mengusik perusahaanku. Bertahun-tahun lalu dia menyuruh orang untuk menggelapkan uang perusahaanku. Saat aku menemukannya, dia membunuh tetangganya sendiri yang bernama Bryan beserta anak istrinya dengan sadis. Lalu dia kabur, menghilang lagi. Oh iya, dia punya usaha perdagangan wanita muda. Dia memperalat Mike, putranya sendiri untuk membalaskan dendamnya. Andrew musuh bebuyutan Red Blood adalah adiknya. Dia datang untuk menuntut kematian Andrew dan Dion keponakannya, benar kan pak tua?" Reza menyunggingkan senyuman menakutkan.


Samuel melongo, ada banyak hal yang tidak diketahuinya.


"Kalian akan aku kirim ke neraka!!" Andreas melotot.


"Kau yang lebih tua, harusnya kau yang duluan!" Reza terkekeh.


Samuel tertawa.


"Diam kalian!!!" Mike berteriak meronta.


"Kau yang diam. Kau orang terbodoh yang aku kenal. Kau mau saja diperalat dan dijerumuskan pria tua bangka ini ke dalam kejahatan. Apa kau tahu kenapa kami membunuh paman dan sepupumu?" Reza menatap Mike tajam.


"Persetan dengan semuanya!" Mike menatap balik Reza.


"Kau harus dengar kebenaran ini. Andrew menjebak kami, dia berkhianat. Sementara sepupumu Dion itu, dia yang membuat seorang gadis bunuh diri. Dion juga memperalat adik tiri Aryn untuk menghancurkan keluarga Dave, dia menculik Davin. Hampir membunuhnya. Jika aku ceritakan detail, akan menghabiskan semalaman penuh untuk menceritakan semua kejahatan kedua iblis itu!"


Reza berjalan mengitari para musuh itu.


"Gila!" teriak Mike.


"Kalian yang gila!" sahut Samuel.


Reza memerintah anggota Red Blood menyingkirkan kesebelas orang Mike. Kini hanya ada Mike, Andreas, Samuel, dan Reza saja. Namun, ketenangan berubah menjadi ketegangan saat Mike diam-diam melepaskan ikatan di tangannya dengan pisau dari saku celananya.


"Hiaaa!!!" Mike melompat dengan pisau di tangannya.


"Awas, Za!" pekik Samuel.


Reza hanya tersenyum, ia sudah tau pergerakan Mike. Ia menangkap tangan Mike yang membawa pisau. Tangannya dipelintir ke belakang.


"Aarrghhh!" pekik Mike.


"Berani sekali kau!" Reza semakin memelintir tangan Mike.


"Heh lepaskan putraku!" teriak Andreas.


"Oh, kenapa pak tua? Kau kasihan? Iya? Hahahahaha...." Reza tertawa.


Samuel geleng-geleng melihat kebengisan Reza. Kalau sudah banyak tertawa begini, Reza kambuh penyakitnya.


"Kau sendiri menjerumuskan putranya ini ke dunia gelap, memperalatnya untuk menghancurkan orang lain! Aku tidak percaya jika kau menyayanginya," ucap Reza.


"****!" Andreas mengumpat.


Bug,


Reza mendorong Mike sampai pria itu terjengkang ke lantai. Reza berbalik hendak menghampiri Samuel. Sesuatu yang tak terduga kembali terjadi. Mike masih belum menyerah, ia jatuh tepat di samping mayat anak buahnya, tangan mayat itu memegang pistol. Mike ambil pistol itu.


"Pergilah ke neraka, Reza Albert!" teriak Mike.


Dor dor....

__ADS_1


....................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2