Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
HUKUMAN ZACK


__ADS_3

"Tuan..."


Seorang pegawai bar mengguncang bahu milik Zack. Zack terlelap di meja bar. Entah sudah berapa banyak gelas ia minum. Sampai-sampai dirinya tertidur di bar itu.


"Tuan ini sudah pagi, saya harus membersihkan bar sebelum buka lagi nanti," ucap pegawai itu.


Zack mengerjapkan kedua matanya. Kepalanya terasa pusing sekali. Seperti habis dihantam batu besar. Kedua matanya menyapu seluruh bar. Ia mencari seseorang.


"Jal*ng itu sudah pergi rupanya," gumam Zack.


Perlahan ia bangkit dari kursi, berjalan sempoyongan keluar bar. Untung di dalam mobilnya selalu ada air mineral. Zack gunakan air itu untuk menyiram kepalanya. Baru kemudian ia menuju kantor.


Kemarin, setelah berdebat dengan Mei ia mendapatkan pesan dari seseorang yang mengajaknya bertemu di bar itu. Yang membuat Zack kesal, pesan itu disertai ancaman. Mau tidak mau Zack datang. Eh justru ia kebablasan minum dan ketiduran.


Seorang satpam langsung berdiri menyambut saat mobil Zack berhenti di depan lobby. Zack langsung masuk ke dalam kantor. Zack tidak pulang semalam, ia berganti pakaian di ruangannya. Ada beberapa baju yang sengaja disiapkan di saat seperti ini. Ia merasa lapar, lantas ia berniat meminta dibelikan sarapan oleh Mei.


Bip bip,


Tidak ada yang menjawab telepon Zack. Lantas Zack keluar ruangan. Nampak meja kerja Mei yang hanya berbatasan pintu kaca dengan ruangannya itu kosong. Tidak ada Mei di sana.


Zack mencoba untuk menghubungi nomor ponsel Mei beberapa kali tapi tidak diangkat. Bahkan di kali terakhir Zack menelpon, nomor Mei jadi tidak aktif.


"Kemana dia?"


Zack memijit pelipisnya.


"Apakah tindakanku kemarin keterlaluan?...Arrgghh...Apakah Aku harus memberitahu Mei tentang masalahku?" Zack bergumam.


Zack mengambil kunci mobilnya. Ia memacu mobilnya membelah jalanan kota. Pertama, ia harus menemui Mei dulu. Agar hubungan mereka tidak menjadi semakin rumit gara-gara kejadian kemarin.


Ternyata Mei tidak ada di apartemennya. Lantas kemana Mei pergi? Zack belum mengajaknya ke apartemen baru yang akan ditempati mereka berdua. Jadi sudah pasti Mei tidak ada di sana. Zack menelpon Aryn, satu-satunya sahabat Mei. Tapi Aryn mengatakan Mei tidak ada di sana juga.


"Dasar merepotkan!" Zack menggaruk kepalanya karena kesal.


Apakah mungkin Mei menemui orang tuanya? Orang tua Mei berada di rumah orang tua Zack sekarang. Tapi mereka seharusnya kembali ke negaranya semalam. Ah pastinya Mei ingin mengantar orang tuanya semalam. Zack bergegas mengemudikan mobilnya menuju rumah papanya.


Drrt ..drrtt....


Ponsel Zack berdering. Zack hanya melihat siapa yang menelepon.


"Jal*ng!" umpat Zack.


Zack menolak panggilan itu, ia bahkan langsung mematikan ponselnya. Agar tidak ditelpon lagi. Karena sekarang mobil Zack sudah masuk ke gerbang rumah papanya. Setahun terakhir ia juga sering tinggal di sini.


"Maaf tuan, anda tidak boleh masuk!" seorang penjaga menghadang Zack.


"What? Apa maksudmu? Ini rumah papa saya!"


"Maaf tuan, Tuan Cavero dan Nyonya Emmy sendiri yang memerintahkan saya untuk melarang anda masuk," penjaga itu terlihat takut.


"Ada apa ini?" Zack nampak kesal.


"Paaa...Maaaa...." teriak Zack kemudian.


Nampak Cavero dan Emmy keluar dari rumah mereka. Di belakang mereka ada sosok yang dicari Zack sejak tadi.


"Kau di sini rupanya? Pusing aku mencarimu!" keluh Zack.


Zack hendak masuk ke rumah, tapi Cavero sendiri yang menghadang putranya itu.


"Diam di situ Zack!" seru Cavero.


"Hah? Ada apa ini, pa?"

__ADS_1


"Kau tidak boleh masuk!"


"Tapi kenapa?"


"Kamu masih tanya alasannya?" seru Emmy.


"Iya, karena aku tidak tahu kenapa aku dilarang masuk ke rumah papaku sendiri,"


"Kau ini sudah resmi menjadi seorang suami. Tidak benar jika kau mempermalukan istrimu di tempat umum apalagi di depan karyawanmu sendiri. Hal itu juga membuat karyawanmu memndangmu rendah. Istri saja tidak dihargai." Cavero menatap tajam Zack.


"Dan lagi, jangan salah paham dengan kakakmu. Dia bertemu dengan Mei hanya karena kebetulan. Mereka tidak pernah membuat janji atau rencana untuk ketemuan. Berkomunikasi pun mereka tidak pernah. Jika ada masalah selesaikan baik-baik, jangan samakin memperumit masalah dengan emosi sesaat." imbuh Emmy.


Mei tersenyum, kedua mertuanya membelanya. Kedua mertuanya itu memarahi Zack. Sebelumnya Mei mengira jika mereka akan membela Zack karena Zack putra kandung mereka.


"Kau dengar itu, Zack?" Zain tiba-tiba muncul dari belakang Cavero.


Lantas Zack menatap tajam kakaknya. Kakaknya pasti besar kepala karena sudah dibela papa dan mama.


"Zackk?" Cavero melihat Zack menatap kakaknya penuh dendam.


"Iya, pa! Iya iya...Aku yang salah." Zack merasa kesal.


"Okay. Sekarang pulang," Emmy memerintah.


"Aku tidak boleh masuk?"


"Kau tidak lihat itu?"


Emmy menunjuk sebuah papan tulisan di depan pintu rumah mereka.


'Zack dilarang masuk!'


"Apa-apaan ini, ma?" Zack merengek.


"Itu hukuman untuk anak nakal!"


Emmy berkacak pinggang.


Zain tertawa.


"Rasakan, dasar anak nakal!" ucapnya kemudian.


"Kalau gitu, ayo pulang Mei!" seru Zack.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu membuat Mei menangis lagi! Biarkan Mei di sini sampai masa hukummu habis! Lagipula sudah lama mama ingin punya anak perempuan,"


"Mama..." rengek Zack.


"Pulang, Zack!" seru Cavero.


"Bye bye, Zack!"


Zain melambaikan tangannya pada Zack.


"Cih," Zack menatap Zain sinis.


Zack meninggalkan rumah papanya dengan kesal. Hukuman macam apa ini? Apalagi di rumah papanya ada Zain. Berapa lama hukuman ini akan berlangsung?


---------------------------


Di hari yang sama, waktu yang sama, tapi tempat yang berbeda. Glen mengantri untuk mendapatkan makanan yang dipesan bosnya di salah satu restoran kerusakan bosnya. Restoran itu ramai, tentu karena terkenal masakannya yang lezat. Apalagi beef steaknya.


Alhasil Glen menghabiskan waktunya untuk membuka ponsel. Lumayan bisa scroll video wanita cantik dan seksih di sosial media.

__ADS_1


Sampai tidak terasa makanannya sudah selesai dikemas. Seorang pelayan mengantarkan makanan itu padanya.


"Tuan..." panggil pelayan itu.


Tapi tiba-tiba ada seorang gadis menghadang pelayan itu.


"Ini!"


Gadis itu menyerahkan beberapa lembar uang dan langsung mengambil steak yang dipesan Glen. Karena sudah dibayar, pelayan tadi kembali ke dapur.


"Heh, nona! Steak itu pesanan saya!" seru Glen.


Gadis itu terdiam sejenak saat melihat wajah Glen. Ia kenal Glen. Bahkan sangat kenal. Biarkan saja steak ini ia ambil sudah ia bayar juga kok.


"Udah gua bayar!"


"Tapi saya yang pesan tadi!"


"Gua nggak tau dan nggak mau tau!" seru gadis itu kemudian.


Glen merebut bungkusan makanan itu.


"Ini pesanan bos saya!" ucapnya kemudian.


Gadis itu kembali merebut.


"Udah gua bayar!"


"Mana bisa!" rasanya Glen ingin menjepret masker yang dipakai wanita itu.


"Salah sendiri pelayannya lo cuekin, gua ambil lah!"


"Terus gimana ini urusannya?"


"Pesan lagi, lah! Gua dalam keadaan urgent, mama gua yang pengen steak ini! Rumah gua jauh, harus buru-buru!"


"Dikira nona saja? Bos saya juga nunggu ini!" sahut Glen.


Gadis itu membuka maskernya.


"Bodo amat!" lalu gadis itu melegang pergi.


"Hah? Elie?" pekik Glen.


Glen lalu berlari menyusul Elie. Rupanya gadis yang merebut pesanannya tadi Elie. Dasar gadis menyebalkan!


"Elie! Kembalikan pesananku!" teriak Glen.


Ngeenggg,


"Hahahaha...." nampak Elie tertawa di dalam mobilnya.


Telat, mobil Elie baru saja meninggalkan restoran. Glen menendang batu sembarangan. Ia merasa sangat kesal. Sikap Elie sangatlah menyebalkan.


Guk guk guk,


Malangnya batu tadi tepat mengenai kepala seekor anjing yang kebetulan lewat di dekat restoran.


"Ampun..." Glen berlari tunggang langgang menuju mobilnya.


....................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2