Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
RENCANA


__ADS_3

"KALIAN BODOH SEMUA!!!!" Dave berteriak.


Bug bug bug


Arrgghhh...


Para penjaga mengerang kesakitan saat Dave memberikan bogem mentah kepada mereka sama rata dan sama sakitnya. Kedua mata Dave terlihat memerah.


Bug


Arrgghhh


Glen tidak luput dari sasaran Dave. Kalau Glen tidak membiarkan Myra dan Davin bermain ke halaman belakang, mungkin tidak akan sefatal ini.


"Jangan pukuli mereka lagi, Dave!" teriak seseorang dari ambang pintu lift.


Kedua mata Dave berubah menjadi tatapan sayu dan damai. Ia langsung berlari menghampirinya. Siapa lagi yang bisa menjinakkan harimau terluka kecuali istrinya sendiri, Aryn.


"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Dave memeriksa seluruh tubuh Aryn.


"Aku tidak apa-apa. Kamu jangan pukuli mereka, semua ini salahku. Aku yang terlalu percaya pada Myra dan mengajaknya kemari!" Aryn menangis di pelukan Dave.


"Sudah, sudah....Tidak ada gunanya menyesal. Sekarang kamu tahu bukan kita tidak boleh percaya begitu saja pada seseorang? Penampilan seseorang tidak sepenuhnya menunjukkan jati dirinya yang sesungguhnya." Dave mengelus kepala Aryn.


Aryn memang salah, tapi tidak ada gunanya jika Dave memarahi istrinya. Biarlah Aryn menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran agar tidak mudah percaya pada orang lagi. Sekarang yang terpenting adalah menemukan Davin.


"Uti, tolong bawa Aryn ke kamarnya," ucap Dave pada Uti.


"Aku ingin ikut mencari Davinku..." protes Aryn.


"Sebaiknya para wanita tetap di rumah. Percaya padaku, aku akan membawa Davin kita kembali," Dave menangkup wajah Aryn.


"Baiklah..." jawab Aryn lirih.


Aryn dibawa Uti kembali ke kamarnya. Mei dan Katy mengekor di belakang mereka. Silvi awalnya tinggal, tapi kemudian Reza memaksa mereka agar kembali ke kamar. Mau tidak mau Silvi kembali ke kamarnya, dengan wajah yang cemberut.


Para pria masih diam di tempatnya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Sembari menunggu Joe yang sedang membuka semua rekaman CCTV rahasia. Selang beberapa menit, sebuah mobil sport berhenti di halaman depan.


"Aku datang!" seru Samuel.


"Ssstttt!" Reza dan Zack kompak menyuruh Samuel agar tidak berisik.


"Okay okay," lirih Samuel.


Akhirnya Joe datang dengan laptop di tangannya. Mereka semua langsung berdiri mengelilingi Joe, ingin melihat rekaman juga. Joe memutar satu per satu rekamannya. Wajah semua orang berubah menjadi kesal, Joe sudah menduganya. Myra tahu semua titik buta CCTV, tidak ada CCTV yang menangkap gerak- geriknya. Hanya ada dua rekaman yang menangkap gambar Myra dan Davin. Yaitu, yang pertama saat mereka bermain di halaman belakang dan yang kedua saat Myra membawa Davin masuk ke sebuah mobil.


Itu artinya hanya ada sedikit petunjuk, atau mungkin satu-satunya petunjuk yaitu mobil yang menjemput mereka. Untung saja plat nomornya kelihatan, Zack buru-buru mencatat nomor plat itu. Tanpa diminta, Zack langsung menelpon temannya yang bekerja di kepolisian untuk mencari informasi mobil itu. Tidak membutuhkan waktu lama, temannya langsung menjawab. Tapi raut wajah Zack berubah.


"Platnya palsu?" Reza langsung menebak.


"Iya," jawab Zack.


"Sudah kuduga, wanita ini licik!" umpat Reza.

__ADS_1


Dave menatap tajam Reza, ia menghampiri Reza.


"Apa lo sudah tahu siapa dia? Kenapa kau membiarkan Davin dibawa olehnya?" teriak Dave penuh amarah.


"Gua terlambat!" sahut Reza.


Dave memiringkan kepalanya, mencari kebenaran dari ucapan Reza. Reza menarik napas dalam, ia akhirnya menceritakan tentang apa yang ia ketahui tentang Myra.


Flashback on,


Beberapa hari lalu di Bar Destiny,


15 menit berlalu, Reza celingukan mencari anak buahnya. Reza bingung, terkejut sekaligus takut, anak buahnya tidak ada di mana-mana. Apakah anak buahnya tertangkap?


Ting,


Huft...Panjang umur! Anak buahnya mengirimkan pesan, mengatakan ia sudah ada di dalam mobilnya. Sial! Gara-gara memikirkan Sisi sang waria Reza jadi tidak fokus. Tiba-tiba anak buahnya sudah keluar bar, berhasil atau tidaknya Reza tidak tahu. Reza bergegas keluar sebelum ketahuan.


Blam,


Reza masuk ke mobil anak buahnya dan langsung menutupnya kembali. Terlihat jelas wajah anak buahnya pucat dan penuh keringat.


"Gagal?" tanya Reza.


"Saya berhasil mendapatkan ini," anak buahnya menunjukkan beberapa foto.


"****!" umpat Reza.


Ternyata pemilik bar itu seorang wanita yang masih muda. Anak buahnya berhasil memotret wanita itu melalui pantulan cermin. Anak buahnya cerdas juga rupanya. Musuh yang dihadapinya memang seorang wanita, tapi pergerakannya tidak bisa diremehkan. Menyerang Reza dan Zack, sampai memasukkan ratusan ular ke mansion.


"Ada kartu mahasiswa di atas mejanya, tapi saya tidak sempat memfoto..." lirihnya.


"Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup untuk mencarinya." Reza


Anak buahnya itu mengangguk. Ia paham apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Reza kembali ke mansion.


Hari berikutnya, anak buahnya sudah memberikan laporan. Dia mengatakan wanita itu kuliah di kampus yang sama dengan Aryn. Reza terkejut, rencana wanita itu tidak bisa diduga. Setelah mengantarkan Silvi, Reza bergegas ke kampus Aryn. Memantau dari jauh.


Ternyata benar wajah wanita yang ada di bar sama dengan wanita yang bersama dengan Aryn dan Mei. Sayangnya saat ia menerima telepon dari anak buahnya, Aryn sudah pulang. Dan yang membuat Reza lebih terkejut adalah wanita itu ikut pulang bersama Aryn dan Mei. Saat Reza sampai di mansion pun, ia sudah terlambat. Davin sudah dibawa pergi oleh wanita itu.


Flashback off,


"Itu artinya sekarang juga kita ke bar itu! Akan aku ratakan bar itu dengan tanah, Davin pasti dibawa ke sana!" seru Dave.


"Menurut gua, kita jangan terburu-buru menyergap!"


"Gila lo, ya! Davin loh yang dibawa, dia masih kecil!" Dave mencekik leher Reza.


"Dave, tenanglah!" Erick menahan Dave.


"Reza pasti punya rencana yang bagus," sahut Samuel.


"Harus diakui Reza selangkah lebih cepat dari kita, dia bisa mencari tahu pelaku penyerangan kemarin. Jadi percaya sama dia, dia pasti tahu bagaimana menyelamatkan Davin dan menyingkirkan wanita itu.." imbuh Zack.

__ADS_1


Dave menoleh dengan acuh. Demi keselamatan putranya, ia harus melupakan gengsinya yang tinggi.


"Katakan, sekarang bagaimana!" seru Dave pada Reza.


Reza memperhatikan sekeliling, ternyata Glen sudah melakukan tugasnya. Hanya tersisa Joe, Erick, Zack, Dave, dan Samuel saja di sini. Kini giliran Joe melakukan tugasnya.


Klik,


Joe menekan tombol di laptopnya, saat itu juga semua CCTV eror. Reza tersenyum pada Joe. Semua orang saling menatap, tidak tahu apa yang direncanakan Reza.


"Kita hanya perlu beraktifitas seperti biasa untuk hari ini." Reza tersenyum.


"Maksud lo? Bagaimana dengan Davin? Di sana bisa saja dia disakiti, dan gua harus tenang di sini, gitu? Sudah nggak waras lo!" seru Dave.


"Percaya sama gua!" sahut Reza.


"Untuk rencana besok, aku akan kasih tahu nanti malam! Yang terpenting bersikap normal seperti tidak terjadi apa-apa!" lanjut Reza.


"Hmm," jawab Dave seadanya.


"Dan ingat, jangan bicarakan apapun tentang kejadian ini!" seru Reza.


"Kita percaya sama lo, Za!" Samuel dan Zack menepuk bahu Reza.


Lantas mereka semua bubar, dan kembali ke kegiatan masing-masing. Dave, Erick, dan Zack kembali ke kantor. Samuel kembali lagi ke rumahnya. Reza memberitahu Silvi untuk menenangkan Aryn, Uti, Mei, dan Katy. Setelah itu, Joe kembali mengaktifkan CCTV. Sama seperti yang lainnya Reza pulang ke apartemennya. Benar-benar seperti tidak terjadi apapun di sana.


-----------------------


"Aauuww...atit aunty!" pekik Davin.


Myra memaksa Davin masuk ke sebuah kamar. Myra menatap Davin penuh dendam, lantas ia bergegas pergi dari kamar itu. Di depan kamar sudah ada beberapa pegawainya menunggu. Myra meminta salah satu dari mereka untuk menjaga Davin.


"Jaga dia!" perintah Myra.


"Baik, bos!"


Seorang wanita cantik dan seksi masuk ke kamar itu. Davin tersenyum saat wanita itu masuk.


"Halo ganteng," sapa wanita itu.


"Halo...Aunty Apin mau pulang..." rengek Davin.


"Pulang kemana? Di sini saja, nih aunty bawakan mainan!" Wanita itu memberikan sebuah mobil mainan.


Melihat Davin sudah tenang dan mau diatur, Myra menutup pintu kamar itu dan pergi. Wanita itu menghela napas lega saat Myra pergi.


"Aunty...Apin lapal..." rengek Davin.


"Kamu mau makan apa? Nanti aunty ambilkan dari dapur. Kue coklat mau?" sahut wanita itu.


"Wah..mau mau...Aunty baik deh! Tidak sepelti aunty tadi. Aunty namanya siapa?" tanya Davin.


"Nama aunty adalah Aunty Sisi..." wanita itu mencubit pipi gembul Davin.

__ADS_1


..........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2