
Derap kaki Dave menggema di ruang belakang. Yang ia cari sekarang adalah Reza.
"Za Reza...." Dave berlarian menghampiri Reza yang tengah mencuci piring.
Reza menoleh.
"Apa?" jawabnya.
"Itu di depan ada gebetannya Glen," seru Dave.
Reza terkikik.
"Gebetan siapa? Aneh-aneh aja, Dave! Glen mana punya gebetan. Cicilan aja belum lunas, mana punya modal dia!" ucapnya.
"Iya juga sih. Apalagi wanita tadi cantik dan modis. Wanita cantik pasti juga butuh perawatan dan penunjang penampilan modisnya!" sahut Dave.
"Nah...Kalau benar dia gebetannya Glen, mana kuat Glen membuang uang untuk modal perawatan gebetannya." Reza dan Dave jadi menggosipkan Glen.
"Iya sih, gua baru kepikiran!"
"Hmm," Reza memutar bola matanya malas.
"Tapi gua serius, Glen sendiri yang ngode. Kalau dibilangin kakak ipar, lo harusnya percaya lah!" Dave sewot.
"Buktinya mana dulu?" sahut Reza.
Dave mengambil alih piring yang sedang dicuci Reza dan meletakkannya di tempatnya. Lantas ia tarik tangan Reza. Reza harus melihat sendiri atau dia tidak akan percaya. Dave membawa Reza ke meja kasirnya.
"Lihatlah!" Dave menunjuk ke arah Glen yang masih asyik mengobrol dengan dua wanita cantik tadi.
"Waktu gua tanya tadi Glen memberi kode gitu," lanjut Dave.
Reza mengkerutkan alisnya, ia mengenal salah satu dari dua wanita cantik itu.
"Gua kenal, namanya Elie." jawab Reza sambil menunjuk Elie.
Dave menatap Reza.
"Bukan yang itu, tapi yang satunya!" ucapnya.
Reza melihat ke arah wanita yang duduk di sebelah Elie. Ia bisa melihat bagian samping wanita itu. Tapi Reza tidak kenal wanita itu.
"Gua nggak kenal. Lumayan juga sih, dia kenal darimana ya?" Reza menatap Dave.
"Entah, temannya Elie mungkin. Jadi dikenalin gitu!" jawab Dave.
"Bisa jadi sih, sepertinya juga seumuran dengan Elie, mungkin hanya beda 2 atau 3 tahun."
"Iya kayaknya," Dave menggut-manggut.
"Harusnya kalau Glen punya gebetan dia kasih tau gua dulu," lirih Reza.
"Lah lo siapanya? Istri pertamanya?" Dave terkikik.
"Heh, sembarangan!" Reza kesal.
Ingin rasanya Reza pukul kepala Dave dengan tutup panci. Mulut kakak iparnya itu semakin lama semakin lebar seperti panci kredit mingguan.
__ADS_1
"Samperin aja yuk!" ucap Reza.
"Jangan! Kita tonton dulu dari sini, asyik liat orang pelit merayu wanita," Dave terkikik.
"Okay deh. Boleh juga ide lo!" Reza ikut tertawa.
Dave dan Reza benar-benar tetap di sana melihat Glen yang duduk mengobrol sambil bercanda gurau dan dua wanita cantik itu. Lumayan lama mereka berdua menunggu. Hingga Ken datang ke sana. Dari raut wajahnya sepertinya Ken marah.
"Wah wah ada apa ini?" Dave menyambut Ken.
"Glen tadi kesini tidak?" tanya Ken.
"Iya, dia kesini. Mengambil cemilan dan minuman dingin untuk kalian," jawab Reza.
Dave mengangguk, membenarkan ucapan Reza.
"Lalu kemana dia? Kering tenggorokan ini menunggu dia, awas aja kalau ketemu nanti!" Ken kesal.
"Itu tuh!" Dave melirikkan matanya ke arah bangku Glen.
Ken menoleh, kedua matanya melotot.
"Glen mengobrol dengan wanita!" Ken menutup mulutnya, seketika amarahnya hilang begitu saja.
Ia melihat lagi ke arah Glen. Ken tadi tidak melihatnya, karena bangku Glen memang di sudut bagian resto. Lagipula Ken datang dengan marah-marah tadi. Orang yang emosi terkadang menjadi buta dengan sekitarnya.
"Dia benar Glen, kan? Sekretaris pelit lo, Za?" Ken menatap Reza.
Reza tertawa.
"Iya," jawabnya.
"Sudah sini!" Dave menarik Ken, membawanya ke balik meja kasir.
"Mana wanita itu cantik-cantik," seloroh Ken.
"Dijaga matanya daddy! Nanti gua aduin Mommy Naina loh!" seloroh Reza.
"Diam lo!" Ken cemberut.
Reza tertawa.
"Glen boleh juga, baru pertama mengobrol dengan wanita langsung jago gitu," ucap Dave.
"Siapa dulu bosnya," Reza menepuk dadanya sombong.
Dave memutar bola matanya malas. Mereka baru berhenti membicarakan Glen saat kedua wanita yang tadi bersama Glen pergi dari resto. Mereka bertiga lantas menghampiri Glen. Glen tengah senyum-senyum sendiri di depan resto sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati ya!!" seru Glen.
"Ehem," Ken menyenggol bahu Glen.
"Eh, aduh maaf cemilannya lupa!" pekik Glen.
"Tidak masalah. Lo lagi sibuk mengobrol dengan wanita-wanita cantik tadi, gua tahu..." jawab Ken.
Glen tersenyum malu.
__ADS_1
"Iya," jawabnya malu-malu.
"Lumayan cantik," sahut Reza.
"Bukan lumayan lagi, tapi emang cantik bos! Dulu saya nggak percaya sama bidadari, setelah ketemu dia jadi yakin kalau bidadari ada. Cuma bidadarinya nggak bersayap," Glen cekikikan.
"Tapi berpaha, iya kan?" sahut Ken.
Mereka tertawa.
"Saya serius," seru Glen.
"Sorry sorry," Ken masih tertawa.
"Ambil dua-duanya aja, Glen!" seru Dave.
"Nggak bisa, masa saya ambil ibu dan anak!" pekik Glen.
"APAA?????" Dave, Reza, dan Ken melotot ke arah Glen.
Nyali Glen menciut, harusnya ia tidak mengatakannya.
"Jadi dia mamanya Elie?" seru Reza.
Reza pernah sekali mendengar cerita Glen mengenai mamanya Elie. Tapi ia belum pernah juga melihat bagaimana wajah mamanya Elie. Tentu saja ia terkejut, tadi Ia mengira wanita yang bersama Elie tadi adalah temannya Elie bukan mamanya. Tapi by the way, mamanya Elie awet muda juga.
"Iya, bos! Yang saya ceritakan waktu itu," jawab Glen.
Reza geleng-geleng kepala, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa nggak suka sama Elie aja sih? Elie nggak kalah cantik sama mamanya," seru Ken.
"Iya tuh, jangan aneh-aneh deh Glen! Walaupun masih kelihatan muda dan cantik, tapi dia tetap tua. Lo itu masih muda dan polos seperti kertas HVS, cari yang muda juga lah!" Dave menimpali.
"Jujur saya juga suka dengan Elie, orangnya ceria dan apa adanya Tapi saya lebih suka dengan Rose. Nggak cuma cantik, sikapnya juga lemah lembut, tidak kasar seperti Elie," jawab Glen.
Reza menepuk dahinya sendiri. Jadi Glen benar tertarik dengan mamanya Elie yang usianya yang terpaut belasan tahun dengannya.
"Pokoknya jangan aneh-aneh deh, Glen! Kalau dilihat-lihat, Elie kayaknya suka sama lo. Ribet nanti urusannya kalau lo sukanya sama mamanya," ucap Reza.
"Nah itu, bener loh! Apa perlu gua ajarin cara mencari wanita yang benar dan tepat?" seloroh Dave.
"Tapi saya....Saya nggak pernah merasa setertarik ini dengan wanita, ini seperti love in first sight, senyum Rose selalu terbayang..." Glen menunduk.
Mereka bertiga hampir muntah mendengar ucapan Glen barusan.
"Gini aja deh, lo coba nyatain perasaan lo ke mamanya Elie itu!" Ken memberi ide.
"Loh, kok lo malah dukung dia sih?" Reza menatap Ken.
"Bukannya dukung, gua pikir mamanya Elie tidak tertarik dengan Glen. Jadi biar Glen mencoba mengejar first love-nya itu dan tahu bagaimana perasaan mamanya Elie." jawab Ken.
"Gua setuju. Tapi kalau lo ditolak, lo harus lupain wanita itu dan cari wanita muda ya, Glen!" sahut Dave menimpali, membuat Glen mengangguk.
Reza tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Tapi ucapan kedua sahabatnya ada benarnya juga. Biarkan Glen mencoba. Dia berhak memperjuangkan dan mengejar cintanya.
................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!