Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MENGGAGALKAN


__ADS_3

Mei berjinjit di depan pintu kaca pembatas ruangan Zack dengan meja kerjanya. Sayangnya kaca pintu itu buram di bagian bawahnya. Dan bagian yang jernih adalah yang atas. Postur tubuh Mei yang mungil tidak mungkin bisa mencapai bagian itu. Meskipun memakai sepatu hak tinggi sekalipun.


Bagaimana caranya aku bisa mengintip?, batin Mei.


Rasanya penasaran sekali apa yang terjadi di dalam sana. Mei tidak hilang akal. Ia mengambil kursinya, ia gunakan untuk pijakan. Usahanya tidak sia-sia. Mei akhirnya bisa melihat ruangan Zack. Ia tempelkan telinganya di pintu, semoga saja terdengar.


"Hello, babe!" ucap Clara dengan centil.


Clara berjalan dengan melenggak-lenggokkan tubuhnya menghampiri Zack. Semua pria normal pasti terpesona dengan kecantikan Clara. Apalagi tubuhnya yang seperti gitar spanyol.


"Hai!" Zack tersenyum.


Clara menghampiri Zack, ia duduk dengan manja di pangkuan Zack. Zack diam saja, ia malah melingkarkan tangannya di pinggang ramping Clara.


"Sibuk ya? Kenapa tidak mampir ke apartemenku beberapa hari ini?" tanya Clara.


"Iya, aku sibuk!" jawab Zack.


Clara memainkan jari tangannya di dada bidang Zack. Zack terlihat biasa saja, ia masih terus berkerja dengan laptopnya.


"Aku rindu," bisik Clara di dekat telinga Zack.


Di luar ruangan itu, Mei masih mengintip. Ia merasa geli dengan kelakuan Clara pada Zack. Wanita itu bergelayutan di tubuh Zack yang sempurna itu.


"Pake pangku-pangkuan segala," gumam Mei.


Clara terus saja menggoda Zack. Tangannya mengelus lembut leher belakang Zack. Zack menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menutup kedua matanya. Sentuhan Clara berhasil mengganggu konsentrasinya.


"Apa kamu tidak rindu denganku?" bisik Clara.


"Hmm," jawab Zack singkat tapi tak bermakna.


Clara mendekatkan wajahnya pada wajah Zack. Zack hanya pria biasa, ia mulai tergoda. Clara semakin mendekati wajah Zack, hingga napasnya menyapu wajah Zack. Ia menggigit bibir bawahnya. Hal itu diperhatikan oleh Zack. Zack memajukan wajahnya.


Mei jadi panik sendiri melihat dua orang lawan jenis itu saling berdekatan. Apalagi saat Mei melihat bibir Zack terbuka sedikit. Senyuman di wajah Clara membuat Mei yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Entah kenapa Mei tidak ingin hal itu terjadi. Mei turun dari kursinya. Ia harus melakukan sesuatu.


"Bisa gawat ini kalau tidak dihentikan...Wanita itu sangat pandai menggoda..." Mei mondar-mandir di depan meja kerjanya.


Sepertinya keberuntungan tengah berpihak pada Mei. Seorang office boy masuk ke ruangan. Office boy itu membawakan minuman untuknya dan Zack.


"Yang bawa masuk saya saja, tinggalkan di disitu!" ucap Mei.


Office boy itu mengangguk dan meninggalkan nampan berserta minuman Zack di meja Mei. Mei tersenyum lebar, dengan alasan ini ia bisa masuk ke ruangan Zack. Karena menurut peraturan, Mei hanya bisa masuk jika ada kepentingan. Mei merapihkan pakaiannya, mengatur napasnya. Baru kemudian masuk.


"Permisi, Pak Bos! Ini minumannya," ucap Mei saat masuk ke ruangan Zack.


"Hah!" pekik Clara dan Zack.


"Ooppss!" Mei juga terkejut.


"Kau!" seru Zack sambil menutupi tubuh bagian atasnya.


"Tidak sengaja bos, lagipula ini kantor bukan hotel!" jawab Mei.


Mei menundukkan wajahnya. Mulutnya komat-kamit pelan. Di hadapannya saat ini telah terjadi kejadian yang tidak senonoh.


"Sekretarismu ini lancang sekali!" seru Clara.


Saat Mei masuk tadi, kedua manusia itu tengah diselimuti *****. Pakaian bagian atas Clara berceceran di lantai. Roknya yang pendek sudah naik sampai pinggang. Dan Zack, hanya memakai boxer seperti bayi besar.


Sekarang Zack dan Clara pontang-panting memunguti baju lalu memakainya kembali. Mei tetap menunduk sambil menahan tawa. Ia merasa senang kedua orang gagal melakukan hal-hal yang diinginkan.


Rasakan....Enak aja mau mesum di kantor!, batin Mei.

__ADS_1


Clara menatap Mei dengan sengit. Wanita itu merasa malu, dipergoki dalam keadaan hampir telanjang. Clara mengambil tasnya.


"Aku tunggu kamu di apartemen malam ini, dan satu hal lagi! Pecat sekretarismu itu!" Clara pergi meninggalkan ruang kerja Zack dnegan wajah marah dan malu.


"Hahahahaha...." Mei tertawa dengan kencang setelah kepergian Clara.


Mei sampai memegangi perutnya. Ia sangat menikmati pertunjukan hari ini. Sampai tidak sadar Zack tengah memandangnya dengan tajam.


"Kau senang?" seru Zack dingin.


"Eh...Maaf bos!" Mei berhenti tertawa.


"Gara-gara kau, aku gagal bersenang-senang!"


"Ini kantor bos, tempat mencari nafkah.." ucap Mei sok menggurui.


"Tidak usah ceramah, cepat keluar dari ruanganku!" Zack menunjuk pintu keluar.


"Tapi saya tidak dipecat kan?" tanya Mei.


"Tidak, asalkan kau temani aku ke apartemen Clara nanti malam!" jawab Zack.


"Apaaa??" pekik Mei.


"Tidak ada bantahan!" Zack mendorong Mei keluar dari ruangannya.


Mei mematung di depan meja kerjanya. Astaga, kenapa rencananya membuatnya semakin kesulitan?


----------------------------------- 


Di mansion Dave,


Semua orang turut berpartisipasi menyiapkan acara pernikahan Reza dan Silvi. Sejak lamaran hari itu, persiapan gencar dilakukan. Dan sore ini, Reza dan Silvi memilih desain undangan. Katy dan Zela memilih souvenir. Sementara Aryn dan Uti memilih catering yang akan menyajikan makanan di pesta.


Sekarang, malah ketiga pria beristri itu diserahi tugas untuk menjaga Davin dan Desmon. Davin dan Desmon berlarian bermain kejar-kejaran di ruang tengah itu.


"Apin sayang, jangan lari-larian di sini! Nanti bisa terbentur meja, nak!" Aryn memperingatkan putranya.


"Betul itu...Emon mending ajak main Apin di halaman belakang saja! Kalian bebas bermain di sana, kalau jatuh juga tidak akan sakit karena banyak rumput di sana..." sahut Katy.


"Okay, mommy!" seru Davin dan Desmon pada mamanya masing-masing.


"Ajak daddy kalian tuh! Sama Opa Edgar sekalian..." imbuh Zela.


"Huft..." Erick, Edgar, dan Dave saling menatap.


"Ayo daddy!" Davin dan Desmon menarik tangan papa mereka masing-masing.


"Aduh, Emon! Pinggang daddy saja masih sakit," keluh Erick.


"Usia memang tidak bisa bohong, pa!" Dave mengejek papanya.


"Kau ini!" Erick menoyor kepala Dave.


"Ayo kau ikut, itung-itung latihan jaga cucu nanti!" Erick mengajak Edgar.


"Benar juga, besan! Ayo!" Edgar pergi bersama Erick dan Dave.


"Ken, cek berkas yang aku bawa dari kantor tadi. Ada di ruang kerja!" Dave memerintah Ken sebelum pergi.


"Siap, bos!" jawab Ken.


Tidak jauh dari tempat Reza duduk, nampak Glen mengelus dadanya setelah Dave dan Erick membawa Davin dan Desmon ke halaman belakang.

__ADS_1


"Aman...Hari ini tidak dikerjai Apin dan Emon," gumam Glen.


Senyum Glen merekah lebar. Senang rasanya tidak mengasuh Davin dan Desmon.


"Uncleee!" teriak Davin.


Glen langsung diam mematung. Glen menatap Reza yang kini juga menatapnya. Reza paham maksud Glen, dia pasti mencari perlindungan.


"Ada apa Apin?" tanya Reza menghentikan Davin yang berlarian.


"Uncle Glen ketinggalan," seru Davin.


"Bos..." Glen memegang ujung baju Reza.


"Ya sudah ini ambil saja!" Reza memberikan tangan Reza pada Davin agar dibawa pergi.


"Asikkk!!! Ayo uncle, Emon sudah menunggu!" Davin menarik tangan Glen.


"Nona..." karena tidak ditolong Reza, Glen memohon pada Silvi.


"Apin cepat bawa Uncle Glen, kasihan Emon menunggu lama loh!" Silvi justru menyuruh Davin segera membawa Glen pergi.


"Iya, aunty! Ini juga sedang Apin bawa Uncle Glennya..." jawab Davin.


Glen tersenyum kecut, kebahagiaannya sirna seketika. Sekarang ia harus bermain dengan Davin. Dulu, bermain dengan Davin saja sudah membuat badan remuk. Dan sekarang ditambah Desmon yang sama-sama banyak tingkah.


Sesampainya di halaman belakang, Desmon sudah menunggu di tengah halaman. Dave, Edgar, dan Erick malah mengobrol di kursi pinggir halaman.


"Glen mereka ingin bermain denganmu, jaga mereka!" seru Dave.


Glen menghela napas. Glen tahu apa yang akan Davin dan Desmon mainkan sekarang.


"Uncle kita main sumo-sumonan!" seru Davin.


Davin dan Desmon berdiri berhadapan dengan Glen. Jarak mereka sekitar 5 meter. Davin dan Desmon memasang kuda-kuda layaknya pemain profesional di acara televisi yang mereka tonton.


"Ciiaattt!" seru Desmon.


Davin dan Desmon maju bersamaan menerjang Glen. Glen hanya pasrah. Tubuhnya didorong berkali-kali oleh Davin dan Desmon.


Gedubrak,


"Suara apa itu?" pekik Edgar terkejut.


Dave dan Erick langsung berdiri dari duduknya menatap ke tengah halaman. Rupanya Glen jatuh ke tanah dengan Davin dan Desmon menimpanya.


"Cuma suara Glen jatuh!" ucap Dave.


Erick dan Dave kembali duduk ke kursinya, melanjutkan topik pembicaraan mereka tadi.


"Dia tidak apa-apa?" Edgar masih melihat ke arah Glen yang dikerubuti Davin dan Desmon.


"Tidak apa-apa, sudah biasa!" jawab Erick.


"Ohh..." Edgar kembali duduk dan bergabung mengobrol.


Glen pasrah di tempatnya, ia menepukkan tangannya ke lantai. Persis seperti di pertandingan sungguhan yang menyatakan jika ia mengalah. Baru Davin dan Desmon menyingkir dari atas tubuhnya.


"Semoga anak Bos Reza dan Nona Silvi kelak tidak menyusahkanku," gumam Glen.


.............


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2