
"Lihatlah, Sam!"
Samuel mengarahkan teropong itu ke arah yang ditunjuk temannya. Ia fokus melihatnya.
"Bagaimana bisa ada orang yang bisa sampai ke sini?" pekik Samuel.
"Apa maksudmu?" seru Ken terkejut.
"Lihatlah, ada mobil yang baru saja melintas di depan gerbang!" Samuel menyerahkan teropongnya.
Jarak gerbang dengan teras cukup jauh, karena bagian depan markas itu lahan hijau yang luas. Mereka menggunakan teropong agar lebih jelas melihat mobilnya. Mungkin juga pengemudi serta nomor polisi mobil itu.
"Tadi ada pria yang keluar dari mobil itu, entah apa yang dilakukan dia langsung kabur setelah menyadari ada aku yang mengamati dia dari kejauhan," ucap seorang pria yang juga anggota Red Blood.
"Dia bukan tersesat atau tidak sengaja lewat. Tidak semua orang bisa masuk ke hutan sampai markas kita ini. Orang itu pasti punya tujuan tertentu," Ken menatap Samuel.
"Cepat periksa gerbang depan dan sekitarnya! Kerahkan anjing pelacak!" seru Samuel.
"Siap!" sahut beberapa anggota lain.
+++++++++
Sementara itu,
Glen mengantri di sebuah restoran dekat kantor. Ia memilih untuk take away, ia tidak suka makan di tempat di seorang diri. Untungnya restoran tidak terlalu ramai siang ini.
Sehingga dalam 15 menit makanan yang ia pesan sudah siap. Sekarang tinggal kembali ke kantor. Ia jalan kaki, kalau menggunakan mobil hanya akan membuang waktu untuk parkir dan putar arah.
"Lumayan uang kembaliannya," Glen memasukkan uangnya ke dalam saku.
Ia berjalan santai sambil menenteng makanan. Siang ini matahari tertutup awan yang tebal. Udara terasa lebih lembab, tidak masalah jika jalan kaki. Tapi,
Bug,
Glen ditabrak sesama pejalan kaki. Ia jatuh terjengkang.
"Makananku!" tangan Glen tetap terangkat agar makanannya tidak tumpah.
Yang penting bagi Glen adalah makanannya. Ia bergegas berdiri, sakit di pantatnya ia abaikan. Yang ia lakukan adalah mengecek makanannya.
"Kalau jalan lihat ke depan dong!" seru Glen pada wanita yang menabraknya.
Wanita itu berjongkok memunguti belanjaannya yang tercecer.
"Kau yang tidak lihat ke depan," sahut wanita itu.
Kini wanita itu menatap ke arah Glen dengan tatapan tajam.
"Elie? Kau lagi? Tidak bisakah jika bertemu denganku kau tidak menabrak?" pekik Glen.
"Bagus gua ketemu lo di sini," sahut Elie.
"Untung makananku baik-baik saja, masih utuh!" Glen sewot.
"Okay, sorry gua ngalah gua yang salah! Sorry...." ucap Elie.
Glen bingung mendadak Elie tidak mengajaknya bertengkar seperti biasanya.
"Lo ingat perjanjian kita, kan?" tanya Elie.
"Iyaa...Terus?" tanya Glen.
Perjanjian yang dimaksud Elie pastilah perjanjian gang mereka buat tiga bulan laku saat Elie menolong Glen.
"So, bulan depan gua tagih janji lo! Untuk tanggal dan waktunya nanti gua kasih tau," jawab Elie.
"Hmm...Aku tidak bisa langsung memutuskan, itu semua tergantung." Glen tampak berpikir-pikir dulu.
__ADS_1
"Tergantung apa?" tanya Elie.
"Ada uangnya enggak?" Glen menyengir.
"Ish...Dasar mata duitan!" seru Elie.
"Mau tidak? Kalau tidak ya sudah, bye!" Glen melangkah pergi.
"Eh tunggu tunggu!" Elie mengejar.
Sudah ditolong Glen malah songong. Minta bayaran lagi, memang tidak tau balas budi. Karena kepepet Elie sepertinya terpaksa setuju.
"Lo bilang aja mau berapa," ucap Elie.
"Okay, deal!" Glen menjabat tangan Elie.
"Sudah, kan?" tanya Glen.
"Nomor lo? Yang waktu itu hilang," Elie menyodorkan ponselnya.
Glen menyimpan nomornya di ponsel Elie dengan senang hati. Ia juga memberikan nama kontaknya dengan nama istimewa dan khusus. Lalu mengembalikan ponselnya pada si pemilik.
"Glen tampan?" Elie mengerenyitkan dahinya.
"Emang saya tampan," Glen menyengir dan berjalan menjauh.
Elie tidak mau ambil pusing. Ia juga pergi dari tempat itu.
Glen berjalan sambil senyum-senyum. Ia merasa senang. Bukan karena bertemu Elie tadi, tapi karena ia akan mendapat uang dari gadis itu. Jujur Elie cantik sih, tapi Glen tidak tertarik.
Drrttt drrttt...
Saat sudah masuk ke dalam area kantor, ponsel Glen bergetar.
"Halo, Elie!" ucap Glen.
"Elie siapa ha? Ini aku Samuel,"
"Maaf maaf, soalnya tidak ada namanya," ucap Glen.
"Heh jadi kau tidak menyimpan nomorku ya! Aku kick dari grub baru tau rasa kau!"
Glen menutup telinganya lagi.
"Maaf maaf..." Glen berkata dengan takut-takut.
"Berikan ponselnya pada Reza, aku mau bicara sama dia!"
"Bos Reza tidak sama saya, saya baru beli makanan tadi. Telpon langsung saja, Tuan!" jawab Glen.
"Kok Reza tidak bersama kau? Biasanya kalian tidak akan terpisahkan sampai maut menjemput, ada Reza pasti ada kau!"
Glen malah senyum-senyum sendiri.
"Tuh kau pasti sedang senyum sendiri...Cepat berikan ponselnya sama Reza!"
Glen terkejut, ia langsung celingukan. Samuel tau saja kalau dia dengan senyum-senyum. Jangan-jangan ada orang yang mengawasinya.
Ia bergegas masuk ke dalam lift menuju lantai dimana ruangan Reza berada. Reza dan Zack sampai terkejut karena Glen masuk secara tiba-tiba.
"Ada apa?" tanya Reza.
"Ada telepon dari Tuan Sam,"
"Oh, ponselku mati pantas saja dia menelponmu," Reza mengecek ponselnya sendiri.
"Kayaknya penting," sahut Zack.
__ADS_1
Glen memberikan ponselnya pada Reza. Reza menerimanya dan menyalakan speakernya agar mereka semua bisa mendengar.
"Halo," ucap Reza.
"Halo, Za! Ada orang yang masuk ke kawasan markas."
Reza, Glen, dan Zack sama-sama terkejut.
"Suruh yang lain memeriksa sekitar markas!" seru Zack.
"Tapi jangan sampai markas kosong, harus ada yang berjaga siapa tau ini taktik musuh," imbuh Reza.
"Udah ada yang memerika sekitar markas, anjing pelacak juga dikeluarkan. Ken bersama mereka. Gua yang di markas sekarang, sama 2 anggota kita,"
"Gua kesana sekarang!" sahut Zack.
"No, jangan dulu! Pokoknya kalian jangan ke sini, Dave juga udah gua kasih tau. Bisa jadi ini cuma taktik musuh, kan? Biar kita yang urus dulu,"
"Okay, kabarin aja perkembangannya, pokoknya periksa semua sisi kalau perlu sampai ke luar hutan!" seru Reza.
"*Okay,"
Tut*,
Suasana jadi tegang. Reza dan Zack saling menatap. Glen hanya bisa diam, ia tidak terlalu paham masalah mereka.
"Glen, selesaikan tugas yang aku suruh tadi secepatnya! Kalau bisa suruh orangmu menyelesaikannya hari ini juga! Aku tunggu!" Reza memerintah Glen.
Glen mengangguk, ia keluar ruangan Reza. Ia akan segera menghubungi orangnya.
"Gua akan kirim orang agar menjaga rumah Samuel dan Ken, untuk berjaga-jaga!" ucap Reza.
"Gua hubungi anggota lain, biar mereka juga berjaga-jaga di sekitar markas," Zack menimpali.
"Kita pulang ke rumah masing-masing sekarang," seru Reza.
Mereka sudah berkeluarga. Di saat seperti ini, apapun bisa terjadi.
"Ayo!" sahut Zack.
Zack mengendarai mobilnya. Reza satu mobil dengan Glen karena mereka memang berangkat bersama tadi. Zack melakukan mobilnya di belakang Reza, terakhir Mei mengirimkan pesan kalau dia ada di rumah Aryn jadi Zack pergi ke arah yang sama dengan Reza.
Ciittt....
Mobil Zack berhenti di depan rumah Dave. Mobil Reza sudah masuk ke garasi rumahnya sendiri. Tadi tujuan mereka sama, masuk ke rumah Dave. Karena istri mereka ada di sana, sekalian mereka akan berbicara dengan Dave mengenai masalah ini.
"Loh udah pulang, kak?" Silvi terkejut melihat Reza.
"Kamu juga, kok udah pulang?" Mei menatap Zack.
Dari belakang Silvi dan Mei, Dave memberikan isyarat. Mereka berdua paham isyarat dari sahabat mereka itu.
"Tidak apa-apa, kok!" jawab Zack dan Reza serempak.
"Oh..." jawab Silvi dan Mei serempak juga.
"Wah, ayo kalian bertiga sekalian ikut minum jus saja! Aku baru selesai membuat jus semangka spesial bersama Silvi dan Mei tadi," Aryn muncul dari arah dapur.
"Wah, kalau saya sih pasti mau nona!" Glen maju paling depan.
Aryn tertawa.
"Ayo!" Aryn mengajak semua orang.
Dave memberikan isyarat lagi kepada Zack dan Reza.
"I-iya" jawab Zack dan Reza serempak lagi.
__ADS_1
.....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!