
Perut Mei semakin besar. Hari yang dinanti akhirnya tiba juga. Zack dan Mei sebelumnya telah memutuskan hari ini sebagai hari kelahiran anak-anak mereka. Oh iya, bulan lalu mereka menggelar acara gender reveals di rumah mereka. Dan di pesta itu telah diumumkan bahwa ketiga anak mereka berjenis kelamin laki-laki.
Jadi hari ini kamar untuk anak-anak mereka telah disiapkan dan dihias dengan warna serba biru dan putih. Semua perlengkapan juga sudah lengkap. Mereka tidak membeli semuanya, beberapa dari perlengkapan dihadiahkan oleh sahabat mereka.
Dan sampai hari ini mereka berdua mendapat lagi hadiah, kali ini dari Samuel dan Angel. Rumah Zack ramai, semua kerabat dan sahabat berkumpul sejak pagi tadi. Karena hari ini Mei akan dibawa ke rumah sakit untuk melakukan operasi cesar.
"Semangat ya, Mei sayang!" Mama Emmy sejak kemarin tidak meninggalkan Mei, ia selalu memberikan support untuk menantunya itu.
Mama dan Papa Mei, Xiao Tan dan Fang Yin juga ada di sana, mereka tiba semalam. Bahkan orangtua Dave dan Reza juga hadir. Aryn dan Naina sibuk membantu menatakan perlengkapan Mei dan bayinya nanti di rumah sakit. Sementara Angel dan Silvi menyiapkan makanan untuk semua orang yang ada di sana. Sebenarnya hanya tinggal menata di piring saja, karena semua di beli secara online.
"Kamu kenapa?" tanya Mei pada Zack yang sejak jadi menggenggam tangannya.
"Aku cemas," jawab Zack.
Mei terkikik.
"Kita masih belum berangkat ke rumah sakit, Zack! Kamu sudah cemas sendiri," serunya.
"Maklum dia cemas, nak! Papa dulu juga begitu saat menantikan kelahiran Zain dan suamimu," sahut Cavero.
"Kami para pria, meskipun tidak merasakan sakitnya tapi kami sebenarnya justru lebih menderita menyaksikan istri kami berjuang melahirkan..." Papa Xiao menimpali.
Mei mengangguk paham. Orang tua Mei menggunakan bahasa inggris jika mengobrol dengan semua orang (Karena author nggak ahli bahasa inggris ya jadi selama ini pakai bahasa indonesia wkwkwk).
"Yang terpenting, lo pingsan nggak nanti, Zack?" tanya Dave.
"Oh iya, lo takut darah kan ya!" seloroh Ken.
"Kalau gua dulu, tiba-tiba semua gelap pas bangun anak gua udah digendong Angel!" Samuel terkikik mengingat kelahiran Kelyn dulu, secara dirinya juga takut akan darah.
"Itu namanya lo pingsan, Samson!" seru Reza.
Mereka tertawa.
"Gua takut si Zack pingsannya 3 kali," cicit Dave.
"Gua nggak akan pingsan, demi anak-anak gua!" sahut Zack dengan cepat.
"Iya iya calon bapak anak 3!" sahut Ken.
Mereka tertawa lagi.
"Glen kapan mau nyusul?" tanya Cavero.
"Jangan ditanya dia, dia belum laku!" Edgar terkekeh.
__ADS_1
Glen tersenyum kikuk,
"Doain saya cepat dapet jodoh saja, tuan!" ucapnya malu-malu.
Glen juga hadir di sana. Bagi dia sahabat bosnya sayang sahabat dia juga. Sekarang, Glen sudah kembali ceria lagi walaupun tidak seceria dulu tapi Glen sudah tidak galau. Bahkan ia tidak menolak jika dibuatkan janji oleh Reza untuk sekedar makan siang atau makan malam dengan gadis kenalan Reza.
Hanya soal waktu, Glen belum ada yang cocok. Dan selama ini selalu ada masalah dengan gadis yang berkenalan dengan Glen. Ada yang mengaku gadis padahal sudah beranak satu, ada yang matrealistis, ada yang sudah mengekang padahal baru kenalan. Yang terpenting Glen sudah mau mencoba untuk buka hati. Suatu hari nanti ia pasti bertemu dengan jodohnya.
Pukul 10.30 pagi, Mei akan segera dibawa ke rumah sakit. Karena sesuai janji dengan dokter pukul 11 Mei harus sudah ada di rumah sakit. Semua perlengkapan dimasukkan ke mobil. Yang akan ikut ke rumah sakit hanya Zack, Mama Emmy dan mamanya Mei saja. Takutnya kalau semua ikut malah terlalu ramai dan Mei tidak nyaman. Yang lain akan datang saat Mei dan bayinya dipindahkan ke ruang perawatan.
Zack melajukan mobilnya perlahan, Mei melambaikan tangan dari kaca mobil pada semua orang yang mengantar sampai pagar rumah. Mobil Zack melaju dengan kecepatan rendah. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istri dan anak-anaknya jika terlalu banyak diguncang di jalan. Pelan yang penting selamat, toh rumah sakitnya hanya dekat.
"Pelan-pelan, Zack!" seru Mama Emmy saat Zack menggendong Mei ke kursi roda.
"Iya, ma!" jawab Zack.
Mereka tiba di rumah sakit keluarga Winata. Perawat yang berjaga langsung mengarahkan mereka ke lantai 5 rumah sakit ini, lantai dimana ruang perawatan VVIP berada. Biasanya hanya digunakan untuk Keluarga Winata, karena Zack sahabatnya Dave ya jadi dia bisa menggunakannya.
"Mei sudah nyaman?" tanya Mama Fang.
"Sudah, ma!" jawab Mei, posisi berbaringnya sudah nyaman.
"Kalau mau ke kamar mandi bilang ya, sayang! Biar kami bantu!" sahut Mama Emmy.
Zack tidak lepas menggenggam tangan Mei. Sampai saat dokter dan perawat datang untuk menyiapkan Mei pun, Zack tetap menggenggam tangan Mei.
"Semangat ya, sayang!" Mama Fang mengecup kening Mei.
Mei sekarang akan dibawa ke ruang operasi. Mama Emmy juga mengecup kening Mei. Zack mengantar Mei sampai benar-benar pintu operasi dibuka. Lalu Zack ditahan perawat.
"Tuan tidak diperbolehkan masuk sekarang, nanti jika sudah waktunya anda akan kami panggil, maaf!" ucap perawat.
"Baik," Zack menurut.
Sebelum ia berpisah sementara dengan Mei, Zack mengecup seluruh wajah Mei dan berakhir lama di bibir Mei.
"Kamu pasti bisa, sayang! Aku selalu bersamamu, menunggumu di sini!" lirih Zack.
Mei mengangguk. Zack melepaskan genggaman tangannya. Dan pintu operasi tertutup sempurna. Zack menunggu di luar bersama dengan Mama Fang dan Mama Emmy.
"Kenapa lama sekali?" Zack mulai mondar-mandir.
Pluk,
"Baru 10 menit yang lalu Mei masuk ke ruang operasi!" Mama Emmy menoyor kepala Zack.
__ADS_1
Mama Fang tertawa.
"Cemas ma, aku cemas.... " Zack berdalih.
Zack mondar-mandir di depan ruang operasi. Lalu setiap 10 menit ia akan mengeluh kenapa lama sekali. Seperti itu seterusnya, hingga seorang perawat keluar dari ruang operasi.
"Tuan Zack silahkan masuk!" ucapnya.
Zack antusias, dia hendak masuk. Namun tangannya dicekal Mama Emmy dan Mama Fang.
"Kenapa malah ditahan sekarang?" protes Zack.
"Kamu yakin akan kuat di dalam?" tanya Mama Fang.
Zack mengangguk.
"Jangan pingsan di dalam, Zack! Kamu hanya akan merepotkan dan membuat malu di dalam sana. Kalau tidak kuat cepat lambaikan tangan ke jendela ya, mama akan menyeretmu!" sahut Mama Emmy.
Zack cemberut.
"Aku kuat, ma! Aku akan menemani Mei! Sudah ya, aku mau masuk!" ucap Zack dengan yakin.
Akhirnya Zack dilepaskan, dan dibiarkan masuk. Mama Emmy dan mama Fang hanya bisa berdoa sekarang agar Zack tidak pingsan. Zack mengikuti perawat yang memanggilnya tadi. Zack dibantu menggunakan baju steril, penutup kepala, dan juga masker.
Begitu masuk, Zack langsung menghambur ke arah Mei. Ia sengaja tidak melihat bagian perut yang dibatasi kain hijau. Zack hanya fokus dengan wajah Mei saja.
"Aku mencintaimu, sayang! Kamu pasti bisa..." Zack berjongkok dan menciumi wajah Mei.
Oweee oweeee
"Selamat Tuan dan Nona, putra pertama kalian telah lahir!" dokter menggendong bayi mungil yang masih berlumuran darah itu.
"Bayi kita, sayang! Kamu dengar itu, bayi pertama kita sudah lahir! Aku mencintaimu..." ucap Zack senang.
"Dia pasti lucu," lirih Mei.
Kondisi Mei bisa bicara, menggerakkan tangan. Hanya bagian perut ke bawah yang mati rasa. Karena antusias Zack berdiri tegak dan mendongak melihat putranya yang sedang dibersihkan. Secara langsung, Zack melihat tubuh bayinya yang masih berlumuran darah dan bagian perut Mei yang sedang dibedah.
"Sayang...." lirih Zack.
Gedebuk,
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1