
Perjalanan lintas benua memakan waktu yang lama. Hampir 20 jam lamanya mereka melakukan perjalanan. Dengan 2 kali transit, di Newark airport dan Portugal. Akhirnya sekarang mereka tiba di Paris. Reza berpisah dengan orang tuanya di bandara, karena orangtuanya akan pulang ke mansion. Sementara Reza ke rumah barunya.
"Lusa mami akan ke rumahmu sayang, hati-hati ya!" Zela mencium pipi kanan dan kiri Silvi.
Silvi melambaikan tangan pada mobil mertuanya yang meninggalkan bandara. Baru kemudian ia dan Reza masuk ke mobil mereka. Diikuti Glen yang membawakan barang-barang mereka.
Silvi sangat antusias sekali melihat rumah barunya. Sepanjang perjalanan dari bandara, ia melihat ke luar jendela. Ia sangat tidak sabar. Pemandangan di sepanjang jalannya juga sangat indah. Hingga sampailah mereka di rumah yang baru dibeli Reza bulan lalu. Kedua mata Silvi berbinar.
Silvi lansung turun dari mobil, Reza mengikutinya. Di hadapan mereka sekarang adalah sebuah rumah berlantai dua berdinding kayu yang terkesan klasik namun mewah. Di sekelilingnya ditumbuhi pepohonan, rumah ini jadi seperti menyatu dengan alam.
"Bagus sekali rumahnya, kak!" ucap Silvi.
"Saya yang memilihnya loh Bu Bos," seloroh Glen.
"Tapi tetap yang beli aku!" seru Reza.
"Ada kolam renangnya?" tanya Silvi antusias.
"Ada dong, di belakang!" sahut Glen mendahului Reza.
"Kenapa kau menyerobot!" Reza menoyor bahu Glen.
"Maaf maaf, bos!" Glen menyengir.
"Lebih baik sekarang kau bereskan barang lalu kau cepat-cepat pulang ke apartemenmu!" seru Reza.
"Baik, bos!" jawab Glen.
Reza mencoba meraih tangan Silvi. Ia akan menggandengnya masuk ke dalam rumah mereka bersama. Tapi sebelahnya kosong, tidak ada Silvi.
"Loh Silvi mana?" pekik Reza.
"Sudah masuk duluan, bos!" Glen menunjuk Silvi yang sudah membuka pintu.
"Hmm," Reza hanya bisa tertawa.
Silvi melihat setiap ruang di rumah itu dengan takjub. Semuanya benar-benar elegan tapi keren. Dari dapurnya, hingga ruang makan dan mini bar.
Semua furniturnya juga ditata dengan simple tapi elegan. Lantainya bercorak artistik. Silvi sangat menyukai rumah ini. Apalagi ada meja khusus yang di letakkan di balkon. Di dekat balkon ada pohon yang hanya disekat kaca. Sungguh akan sangat menyenangkan jika minum kopi di bangku itu.
"Apakah kamu sangat menyukai rumah ini sampai tega meninggalkan suamimu di luar?" Reza memeluk Silvi dari belakang.
"Kamu mengagetkan saja, kak!" seru Silvi.
"Kamu masih saja memanggilku kakak, gantilah panggilan itu!" Reza mengendus leher Silvi.
Silvi bergelinjang, napas hangat Reza di lehernya membuatnya geli.
"Honey?" tanya Silvi.
"Terlalu alay," jawab Reza.
"Sweetheart?" tanya Silvi.
"Makin alay!" Reza terkekeh.
"Hubby?" tanya Silvi.
"Masih alay," jawab Reza.
"Baby?" tanya Silvi.
__ADS_1
"Kayak anak ABG, dong!" protes Reza.
"Terus apa, sayang?" seru Silvi.
"Nah itu, sayang saja!" Reza dan Silvi tertawa bersama.
Dunia serasa milik mereka berdua. Padahal di rumah itu ada manusia lain bernama Glen. Ia tengah membuka semua koper milik bosnya.
"Ingat bos, ada saya di sini! Kalau mau adegan ehem-ehem silahkan pindah!" seloroh Glen.
Silvi dan Reza yang hampir berciuman menoleh sebentar. Sepertinya mereka berdua tidak peduli. Mereka melanjutkan acara berciuman mereka.
"Sabar sabar...." keluh Glen.
Glen memilih mengalah, ia akan membereskan lantai bawah dulu. Nasib seorang bawahan, ia harus menerima bagaimanapun bosnya.
"Kelak saat cicilan rumahku sudah lunas, aku akan berjalan-jalan ke dekat Menara Eifel. Aku akan cari pacar!" keluh Glen.
----------------------------------
Lain tempat lain kejadian,
Di kantor Zack, Mei sedang sibuk dengan semua berkas yang ada di mejanya. Mejanya sampai tidak berwujud karena saking banyaknya berkas yang berserakan.
Banyak sekali berkas yang harus Mei sisihkan untuk dimintakan tanda tangan pada Zack. Sampai tiba waktunya makan siangpun, Mei tidak bisa pergi keluar kantor. Ia meminta tolong pada OB untuk membelikannya makanan.
"Permisi, nona! Ini pesanan nona," seorang OB menyerahkan makan siang pesanan Mei.
"Terima kasih," Mei menerimanya dengan ramah.
"Kembaliannya kamu ambil saja, ya!" lanjut Mei.
"Maaf, uang nona kan pas," OB itu tersenyum trenyuh lantas meninggalkan meja Mei.
"Oh iya iya," Mei menggaruk tengkuknya.
"Kelihatannya enak banget!" gumam Mei.
Mei bersiap menyantap sepotong paha ayam yang digoreng krispi. Bubuk cabai yang kelihatan di kulit renyah keemasan itu membuat Mei semakin ngiler.
"Wah, makan siang nih! Gabung ya!" Zack dengan cepat menarik kursi di dekat Mei dan duduk di hadapan Mei.
Zack lebih dulu mencuil makanan Mei dan mencicipinya. Mei melongo, memperhatikan Zack mengunyah makanan dalam mulutnya.
"Ini makananku!" protes Mei.
"Berbagi itu indah loh!" seru Zack.
"Huh..." Mei melengos.
Mei biarkan saja Zack ikut makan makanannya. Yang penting sekarang Mei juga makan. Jadi mereka berdua makan di dalam kotak yang sama, di meja yang sama, dan duduk berhadapan.
"Pedas juga, ya!" wajah Zack terlihat merah.
Zack mengambil minuman Mei dan langsung menyeruputnya dengan sedotan yang sama dengan Mei. Mei memperingatkan sedotan itu bekasnya, tapi Zack cuek. Ya sudah Mei juga ikutan acuh. Mereka terus melanjutkan makan.
Saat ada sepotong kulit ayam terselip di pojok box, keduanya langsung saling menatap.
"Kali ini aku tidak mau ngalah!" seru Mei.
"Ingat, aku bosmu!" seru Zack tidak mau kalah.
"Kamu tidak malu berebut kulit ayam dengan pegawaimu?" Mei meledek.
"Tidak," jawab Zack ketus.
"Ayolah, bos! Pokoknya kulit ini milikku!" seru Mei.
__ADS_1
"Milikku!" Zack tersenyum smrik.
"Ya sudah, ayo main sportif saja!" Mei menyerah.
"Maksudnya?" tanya Zack.
"Dalam hitungan ke tiga, siapa yang cepat maka dia yang dapat!" Mei memberikan jalan tengah pada bosnya itu.
"Okay, aku yang hitung!" seru Zack.
"Tidak tidak, nanti kau curang!" protes Mei.
Beberapa OB yang lewat hanya bisa saling menatap. Mereka menyaksikan bos mereka bertengkar dengan sekretarisnya hanya karena kulit ayam. Astaga! Lebih baik merek menyingkir dari sana. Atau terlibat masalah.
"Aku saja yang hitung!" seru Zack, masih ngotot.
"Kita main batu, gunting, kertas dulu! Yang menang boleh hitung!" Mei memberikan ide brilian lagi.
"Okay!" Zack setuju.
"Mulai, ya! Batu gunting kertas!" seru Mei.
Zack mengepalkan tangannya layaknya batu. Sementara Mei mengeluarkan dua jari layaknya gunting. Itu artinya Zack yang menang.
"Yep! Aku menang!" Zack bersorak.
"Sekarang aku mulai hitung ya! Bersiap!" lanjut Zack.
"Eh eh, tunggu dulu! Kan tiga kali!" Mei mencari jalan lain.
"Jangan membodohiku!" Zack menggebrak meja.
"Ini beneran, aturan main batu gunting kertas itu tiga kali main," Mei ngotot.
"Okay," Zack mengalah.
"Okay. Siap-siap! Batu kertas gunting!" seru Mei.
Zack mengeluarkan telapak tangannya layaknya kertas. Sementara Mei mengeluarkan kepalan tangan seperti batu. Itu artinya Mei kalah lagi.
"Lihat lihat! Aku menang lagi!" Zack sampai menggebrak meja.
"Iya," jawab Mei lemas.
"Tidak usah main satu kali lagi sudah jelas kan aku yang menang, sekarang langsung aku hitung saja. Jadi bersiaplah!" seru Zack senang.
Mei melengos, ia bersiap di kursinya. Kedua matanya menatap kulit ayam yang menggoda itu. Zack yang akan menghitung jadi Mei harus siap dan menang.
"Tiga!" Zack langsung mencomot kulit ayam itu.
"Bos kau curang!" Mei berdiri dari kursinya.
"Aku menang! Nyammm...." Zack mengunyah kulit ayam itu di hadapan Mei sambil menggoda.
"Kau sungguh tega, bos!" Mei memilih untuk ke kamar mandi untuk cuci tangan.
"Hahahaha..." Zack tertawa dengan puas.
Ketika tangannya sudah bersih, Mei kembali duduk di meja kerjanya. Wajahnya lemah dan lesu karena kehilangan kulit ayam. Zack tertawa cekikikan, ia duduk di meja Mei.
"Enaknya kulit ayam...." Zack memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
"Aaaaa....." Mei mendorong-dorong Zack agar henyah dari hadapannya.
.....................................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1