Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
JANGAN ANEH-ANEH, GELN!


__ADS_3

"Sini!" Glen melambai.


Elie masuk bersama dengan wanita yang dimaksud Glen.


"Kenapa lo ada dimana-mana sih? Ngintilin gua ya?" seru Elie.


"Aku punya kerjaan, Elie!" bantah Glen.


"Sudah pulang dari Dubai, ya?" tanya wanita cantik yang duduk di sebelah Elie.


Duh, masih inget aja masalah Dubai, batin Glen.


"Iya, kak!" jawab Glen tersipu malu.


Elie tertawa terbahak.


"Coba ulangi lagi!" serunya.


"Iya, kak!"


"Glen Glen...." Elie masih tertawa.


Elie baru berhenti tertawa setelah dicubit wanita yang datang bersamanya. Menurut Elie, sangat menggelikan mendengar Glen mengucapkan "Kak".


"Lo harusnya panggil dia tante...Emmm Tante Rose!" seru Elie.


"Tante?" Glen menatap wanita cantik yang ternyata bernama Rose itu.


Rose tersenyum manis pada Glen.


"Bukannya dia kakakmu?"


Elie dan Rose tertawa.


"Memangnya saya terlihat semuda itu, ya?" Rose geleng-geleng kepala.


"Dia nyokap gua, Glen! Kocak deh lo!" Elie masih tertawa.


"Mama kamu?"


Glen menatap Rose dengan seksama. Menurutnya Rose hanya terlihat 2 atau 3 tahun lebih tua dari Elie. Bagaimana bisa Rose itu mamanya Elie? Kulitnya saja belum ada yang keriput sedikitpun, tubuhnya juga langsung seperti abege.


"Iya, benar itu! Saya mamanya Elie," ucap Rose.


"Mustahil," Glen masih tidak percaya.


"Tunjukin ID card mama!" seru Elie.


Rose mengeluarkan ID cardnya dan memamerkannya pada Glen. Tertulis dengan jelas tahun kelahiran Rose di sana. Mulut Glen menganga lebar.


"40 tahun," lirih Glen.


"Baru percaya, kan? Dia itu nyokap gua, kelihatan cuma beda 2 tahun ya? Padahal aslinya 2 kali dari usia gua," Elie terkikik.


Rose tertawa.

__ADS_1


"Kukira gadis," gumam Glen, beruntung tidak di dengar mereka.


Pelayan restoran membuat mereka diam sejenak. Pelayan datang menghantarkan menu makanan yang dipesan Glen. Ada dimsum, ifumi, sapo seafood, fuyunghai, peking duck, dan tofu mapo. Kepulan asap beraroma lezat membumbung tinggi dan masuk ke hidung.


"Wuih ada acara apa ini, Glen?" Elie ngiler melihat makanan Glen.


"Lagi pengen makan makanan Chinese aja, aku pesan banyak tadi jadi aku panggil kamu sama mamamu untuk bergabung,"


"Memang sudah saatnya lo giliran traktir gua," jawab Elie.


Glen tertawa.


"Sebenarnya aku memanggil kamu dan mamamu biar bisa iuran bill sih," serunya.


"Pelit banget lo, Glen!" pekik Elie.


"Pelit pangkal kaya, Elie!" Glen terkikik.


Rose menatap Glen dengan tatapan sinis.


"Saya hanya bercanda, silahkan dimakan tante! Ayo kamu juga makan, Elie!" ucap Glen kemudian.


"Nah gitu dong!" Elie mengambil sendok dan garpu.


Mereka makan dnegan diselingi candaan garing dari Glen. Tak jarang pula Glen bertengkar dengan Elie karena berebut makanan. Hanya Rose yang makan dengan kalem dan tenang. Setelah selesai makan, untuk pertama kalinya Glen mengeluarkan uangnya untuk membayar makanan sebanyak itu.


Sebenarnya juga bukan menggunakan uang pribadinya, tadi Reza yang memberinya uang makan. Tidak apalah agar terlihat gentleman di hadapan Mamanya Elie. Mereka berpisah di depan restoran. Karena Glen harus kembali ke kantor.


"Lo masih berhutang traktiran sama gua, Glen! Baru berkurang satu hari ini," seru Elie sebelum mereka berpisah.


"Iya iya," jawab Glen judes.


"Tante juga..." senyum Glen langsung merekah.


Glen masuk ke dalam taksi online pesanannya yang sudah datang. Ia akan segera kembali ke kantor. Untuk selanjutnya, senyum Glen terus menghias wajahnya. Glen terlihat sangat bahagia. Entahlah, wajah Mamanya Elie saat melambaikan tangan padanya tadi selalu terbayang.


Sesampainya di kantor, Glen terlihat lebih bersemangat untuk melanjutkan pekerjaan. Bahkan gelas kopinya pun ia sapa sebelum ia tengguk kopinya. Saat akan memberikan berkas ke ruangan Reza, pintu ruangan bosnya juga mendapat jatah sapaan ramah dan senyuman super manis Glen. Tak terkecuali Reza, ia sampai heran melihat Glen versi yang aneh ini.


"Good afternoon, Bos Reza yang paling tampan. Ini berkas yang harus bos cek siang menjelang sore ini. Jika sudah selesai panggil saja nama saya tiga kali, saya akan datang....."


"Oh iya, apakah bos butuh kopi, air mineral, atau jus mungkin? Bagaimana makan siang bersama Bu Bos tadi? Apakah Bu Bos menginginkan saya untuk melakukan atau membuat sesuatu lagi? Saya akan melakukannya bos, karena berkat bos hari ini saya bertemu Tante Rose...Maksud saya Elie dan mamanya." Glen mengoceh panjang kali lebar kali tinggi di hadapan Reza.


Reza mengerenyitkan dahinya.


"Jadi sikap anehmu ini gara-gara bertemu gadis itu, Elie kan ya?"


"Lebih tepatnya, karena saya bertemu mamanya, bos!" Glen menggaruk tengkuknya.


"What?" pekik Reza.


Glen menyengir.


"Bos tidak tahu mamanya Elie itu hanya terlihat 2 tahun lebih tua dari Elie, cantik dan kalem bos tidak seperti anaknya Elie yang petakilan itu. Namanya saja Tante Rose, indah bukan namanya?" ucapnya.


"Apakah kamu tidak waras? Dia MAMANYA ELIE," Reza memperjelas setiap perkataannya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa, bos?"


Reza memijit pelipisnya, " Jangan aneh-aneh ya, Glen! Kamu pasti hanya kagum saja dengan Rose itu, hal ini lumrah terjadi di pertemuan pertama. Jangan sampai suka tante-tante! Usiamu saja lebih muda dariku, jadi cari cewek yang cocok untukmu saja!"


"Apa benar begitu, bos? Jadi saya enggak falling love, hanya kagum saja begitu?" tanya Glen.


"Iya, lagipula kamu kan juga hampir tidak pernah berhubungan dengan cewek, kan? Apalagi makan bersama. Jadi wajar saja,"


"Tapi waktu pertama kali makan bersama Elie, dan sampai menemaninya ke pesta sebagai kekasih pura-pura, saya tidak merasa sebahagia ini, bos?"


"Ya karena Rose usianya lebih tua, kan? Di pikiranmu orang tua pasti berkulit keriput dan jelek, jadi saat kamu bertemu Rose, pertemuan itu berkesan untukmu."


Glen manggut-manggut.


"Ohhh...."


"Ingat, jangan aneh-aneh Glen! Kalau mau cari cewek, cari yang cocok usianya denganmu!" Reza menatap Glen tajam.


"Bos kok jadi protektif gitu, sih?" Glen mencolek dagu Reza dan tersipu malu.


"Gleeennnnn!!!!" Reza marah.


"Kaburrr!!!" Glen berlari keluar dari ruangan Reza sambil tertawa cekikikan.


Memang paling asyik menggoda bos. Glen merebahkan bokongnya di kursi kerjanya. Ia kepikiran ucapan bosnya. Jadi rasa bahagia di hatinya hanya karena kagum melihat Rose yang masih cantik di usia senja.


"Hmm, okay! Mari Glen mulai bekerja dan kumpulkan uangmu...." Glen berbicara pada dirinya sendiri.


Hari ini Glen sudah lupa tentang dirinya yang merasa bahagia karena bertemu Rose di restoran. Pekerjaannya banyak, yang dipikirannya sekarang hanya pekerjaan. Hingga pesan singkat masuk ke ponselnya. Glen beristirahat sejenak, ternyata dari Elie. Ia tersenyum saat membaca pesan itu.


Elie: Minggu depan temani gua lagi, ya? Please...Soal hutang traktiran tadi lupakan saja, gua anggap lunas kalau lo mau nemenin gua. Mantan gua ngundang gua ke acara 4 bulanan istrinya.


Glen: Gimana ya....


Elie: Glen pleaseee...Hutang traktiran lo lunas, nanti gua bayar deh!


Glen: Okay, deal!


Elie: Dih, mata duitan!


Glen: Bebas


Elie: Hm


Glen: Btw, baru minggu lalu nikah udah 4 bulanan aja🤭


Elie: Apa gua bilang, dia udah hamil duluan


Glen: Beruntung kamu diselingkuhin waktu itu, kalau enggak mungkin kamu yang 4 bulanan wkwkwk


Elie: Damn! Diselingkuhin ada hikmahnya juga ya


Glen: 🤣🤣🤣🤣


Chat mereka berlanjut sampai jam kantor Glen selesai. Ini yang membuat Glen nyaman ngobrol dengan Elie. Selain nyambung, mereka sama-sama bawel.

__ADS_1


...........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2