
Samuel tidak meninggalkan komputer di depannya barang semenit. Di layar komputer itu terpampang rekaman CCTV dari beberapa bagian markas, khususnya yang menjadi akses keluar masuk orang. Secangkir kopi juga sudah disiapkan di mejanya, Samuel tidak mau kalau sampai kecolongan lagi.
"Mau menginap di sini? Angel tidak marah?" Ken datang menghampiri.
"Dia sudah mengerti," jawab Samuel.
Ken mengangguk.
"Perasaanku nggak enak," lirih Samuel.
"Maksudnya?" Ken bingung.
"Entahlah," Samuel juga bingung, "Naina nggak apa-apa kau tinggal?" tanyanya.
"Aku sudah menelponnya tadi, dia tidak apa-apa. Istriku itu wanita mandiri. Lagipula Reza mengabariku, dia menyuruh orang menjaga istri kita," jawab Ken.
"Okay," Samuel mengangguk.
Mereka berdua terjaga sambil bercerita. Ken juga bermalam di sana, ia sudah memberitahu Dave jadi besok dia bisa datang terlambat ke kantor. Maklum harus izin, Ken masih tetap menjadi sekretaris sekaligus asisten Dave.
Sampai pagi menjelang, kedua pria tampan itu masih terjaga. Mereka berolahraga sedikit, membersihkan badan, lalu mandi. Markas Red Blood lebih seperti rumah kedua bagi mereka. Di dalamnya terdapat fasilitas lengkap layaknya rumah. Ada kamar tidur, kamar tamu, ruang TV, kamar mandi, dapur, ruang makan, bahkan garasi.
Hanya saja ada fasilitas ekstra yang membedakannya dengan kebanyakan rumah. Sepeti lapangan luas untuk berkuda ataupun main golf, arena panah dan menembak, kolam renang luas, hingga ruang olahraga.
"Buatkan sekalian untukku!" ucap Samuel yang baru selesai mandi.
Ken sudah berkutat di dapur mengolah bahan mentah yang ada agar menjadi makanan yang lezat.
"Kesempatan nih, di rumah disuruh-suruh makanya sekarang pengen nyuruh-nyuruh," Ken menyindir.
"Nggak tiap hari juga," Samuel terkekeh.
Tidak hanya mereka yang menginap, ada beberapa teman mereka juga yang menginap. Sekitar empat orang. Pagi ini Ken menjadi juru masak. Ia membuat sarapan untuk enam orang termasuk dirinya sendiri.
Selesai sarapan, mereka duduk-duduk santai di tempat yang mereka sukai. Kalau Samuel dan Ken mereka memilih bersantai di ruang TV. Sejak semalam tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jadi mereka ingin menghibur diri sebentar dengan bermain PS.
Guk guk guk.....
Tiba-tiba anjing pelacak menggonggong bersahutan. Menggonggong adalah hal yang wajar untuk anjing. Tapi gonggongan mereka tidak berhenti bahkan semakin keras terus-menerus.
"Kenapa mereka tidak berhenti menggonggong?" Samuel terusik.
"Apakah ada orang di dekat kandang mereka?" sahut Ken.
"Biar aku suruh orang untuk mengecek mereka,"
"Kau lupa? Mereka tadi kau suruh tidur?" tanya Ken.
Samuel menepuk dahinya, ia lupa. Baru saja beberapa menit yang lalu Samuel menyuruh anggota lain yang ada di sana untuk beristirahat di kamar.
"Biar aku saja yang mengecek," Ken beranjak dari duduknya, stik PS nya ia berikan pada Samuel.
"Aku ikut?" seru Samuel.
"Tidak usah, paling mereka melihat hewan lain? Kandang mereka dekat dengan pepohonan di hutan!" jawab Ken.
__ADS_1
"Ya sudah, berhati-hatilah!"
Ken mengangguk. Ia pergi ke kandang anjing pelacak mereka lewat halaman samping. Kandang anjing itu terletak di bagian belakang markas. Tepatnya di sudut lapangan yang biasa digunakan untuk berkuda.
Lebih dari sepuluh menit Ken pergi ke sana, tapi tak kunjung kembali. Anjingnya juga masih menggonggong tidak karuan. Perasaan Samuel jadi tidak enak, ia merasa cemas.
"Aku susul saja," Samuel beranjak dari sofa.
Samuel berlari tergesa-gesa.
"Kenn!!!" Samuel memanggil nama sahabatnya itu.
Sejauh mata Samuel memandang, ia tidak melihat Ken. Di kandang anjing pun tidak ada. Kedua matanya memicing ke sekitar kandang anjing.
"Gara-gara dia rupanya!" Samuel melihat seekor tupai tengah memakan kacang di dekat kandang anjing. Karena itulah anjing menggonggong terus.
Saat Samuel dekati tupai itu pergi, anjing-anjingnya pun bisa diam. Lalu sekarang dimana Ken?
"Kennn!" Samuel menatap sekitar sambil terus meneriaki nama Ken.
Samuel sampai mengintip dari pagar belakang, dan memanggil nama sahabatnya berkali-kali. Tetap saja tidak ada yang menyahutnya.
"Kennn!!!! Kau dimanaaaa....Istrimu sedang hamil besar loh!!! Kennn...."
Tidak menyerah sampai di situ, Samuel menelpon anggota lain. Biarkan istirahat mereka terganggu, yang penting Ken ditemukan. Ia juga berkeliling ke seluruh penjuru tanah lapang belakang markas. Karena Ken tadi jelas pergi ke sana.
"Kennn..." teriak Samuel.
"Sam...." sayup-sayup Samuel mendengar seseorang memanggil namanya.
"Sam...Aku di sini..." terdengar lagi suara menyahut Samuel.
Suara itu dari dalam hutan. Samuel kalang kabut. Kalau lewat gerbang samping akan memakan waktu yang lama. Langsung saja Samuel ambil ancang-ancang dan melompat untuk meraih bagian atas pagar. Kakinya terampil memanjat pagar setinggi 2 meter itu.
Hutan yang tadi sunyi menjadi riuh karena suara daun dan dahan kering yang patah diinjak kaki Samuel.
"Kau kan takut ular, kenapa ke hutan sih!" gerutu Samuel.
"Kennn!!!" Samuel berteriak lagi.
"Di sini..." terdengar suara Ken menyahut.
Lari Samuel semakin kencang, kedua matanya menatap sekeliling dengan tajam. Kalau ia bertemu Ken nanti ia akan jitak kepalanya, sudah lama Samuel tidak kelayapan ke dalam hutan. Banyak serangga dan nyamuk di sekitarnya. Entah apa yang dilakukan Ken di dalam hutan ini.
"Samm..."
Napas Samuel ngos-ngosan, ia berhenti sebentar. Suara Ken semakin jelas terdengar di telinganya.
"Samm..." kali ini suara Ken malah semakin pelan.
"Keraskan suaramu, Ken! Kau ini sedang apa? Dimana? Muncullah, jangan bercanda!" Samuel mulai kesal.
Dari kejauhan Samuel melihat sebuah tangan yang melambai dari balik pohon besar. Ia menjadi panik sekarang. Kemudian, ia berlari menuju pohon itu.
"Kenn!" pekik Samuel.
__ADS_1
"Syukurlah kau menemukanku," lirih Ken.
"Apa yang terjadi???" seru Samuel.
Samuel menghampiri Ken, Ken tergeletak di bawah pohon itu. Tubuhnya terlihat lemas, wajahnya pucat. Samuel sampai menepuk-nepuk pipi Ken agar sahabatnya itu tetap terjaga.
Tangannya dengan cekatan meneliti tubuh Ken, mencari bagaian mana yang terluka. Sahabatnya itu terlihat lemah sekali.
"Apa yang terjadi, Ken!" Samuel panik.
"A-aku ti-ti-dak kuat kalau menceritakan semuanya sekarang," lirih Ken.
Samuel semakin cemas, saat meraba bagian perut, ada sesuatu di sana. Rasanya basah. Dengan cepat ia menyingkap jaket jeans yang dipakai Ken.
"Astaga, darah!!!!" pekik Samuel.
Ken hanya menampilkan senyum simpul.
"Diam kau! Sudah lemas masih saja cengar-cengir! Istri lo hamil besar tuh! Masa kau mau aku menikahi istrimu?" hardik Samuel.
"Ma-maaf..." ucap Ken terbata.
"Banyak sekali," Samuel melihat darah yang merembes di kaos Ken. Tadi tidak terlihat karena tertutup jaket yang digunakan Ken.
Seketika Samuel merasa pusing melihat darah itu. Darah adalah ketakutan terbesarnya.
"Sa-sam...Jangan pingsan dulu! A-aku be-belum mau matii," lirih Ken.
Buk,
Samuel terduduk di tanah dengan mata yang terpejam. Ia mengontrol dirinya. Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Aku tidak boleh pingsan," Samuel bicara sendiri.
"Ja-jangan lama-lama, Sam! A-ku bi-bisa beneran mati!" Ken menepuk bahu Samuel.
"Oh iya!" seru Samuel.
Tangannya meraba saku celana dan saku bajunya. Ponselnya tidak ada! Pasti terjatuh saat memanjat pagar tadi. Sekarang bagaimana? Tadi ia berniat menelpon untuk mencari bantuan. Pergi ke dekat pagar dan mencari ponselnya akan memakan waktu lama.
"Mau tidak mau," ucap Samuel pada dirinya sendiri.
Samuel mendekat pada Ken. Berjongkok di depannya, lalu menggendongnya di punggung. Ia memang lemas, tapi tidak mungkin dia melihat sahabatnya menderita. Darah yang keluar banyak, sahabatnya bisa meregang nyawa.
Punggungnya terasa basah, tapi Samuel berusaha untuk tidak memikirkan tentang darah. Ia harus kuat sampai di markas, jalan yang diambil memutar ke gerbang samping. Mustahil Samuel mengajak Ken memanjat pagar. Ken harus segera mendapat pertolongan.
"Yang kuat, Sam!" Ken menyemangati Samuel.
"Kau diamlah! Kondisimu sangat parah sekarang!" Samuel membentak Ken.
Ken diam dan merangkul leher Sam agar tidak jatuh. Kalau dia sampai jatuh itu akan semakin menyusahkan Samuel.
...++++++++...
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1