
Malam harinya,
Reza dan Silvi tidak pergi tidur setelah makan malam. Sepulang dari sekolah tadi Reza mengatakan semuanya. Mereka berdua telah memutuskan akan memulai malam ini. Kenapa malam hari? Karena semua orang tahu di saat malam hari penjaga mansion justru hanya sedikit dan hanya orang kepercayaan yang berjaga. Setelah memastikan semua orang masuk ke kamar masing-masing, Reza dan Silvi pergi ke kandang Mira.
"Tos dulu, kak!" Silvi mengangkat tangan kanannya.
"Biar apa?" Reza mengerutkan alisnya.
"Biar kelihatan kompak!" jawab Silvi.
"Ashiaapp!!" Reza terkekeh.
Silvi memasang tali rantai di leher Mira. Saat malam Mira sedikit agresif, jika dipasang rantai begini Mira akan lebih mudah diarahkan.
"Bawa Mira kemari!" Reza mengajak Silvi dan Mira masuk ke gudang.
Reza membawa Mira untuk mengendus di sekitar lubang ventilasi. Reza sengaja melibatkan Mira, seekor anjing memiliki indra penciuman tajam. Reza dan Silvi menunggui Mira sampai anjing itu tiba-tiba berlari keluar gudang sambil menggonggong.
Keduanya mengikuti Mira dengan santai. Rupanya Mira berlari ke kebun belakang. Mira mengendus di dekat tanaman hias sekitar kebun, lantas berlari lagi sampai gerbang belakang mansion. Mira terus menggonggong karena gerbang itu tertutup rapat.
"Buka gerbangnya, kak!" seru Silvi.
Sebelumnya Reza sudah meminjam semua kunci dari Joe untuk mengakses seluruh mansion. Reza dengan cepat membuka pagar besi tinggi itu. Tepat setelah pintu itu terbuka, Mira langsung berlari. Lonceng yang berada di leher Mira berbunyi dengan nyaring.
Mira berhenti di sebuah tong sampah besar. Di belakang mansion memang di ikhususkan untuk menyimpan tong sampah yang dipisah berdasarkan jenisnya. Akan ada truk yang mengambilnya dalam kurun waktu tertentu. Mira masuk ke dalam salah satu tong, hingga tong itu terguling. Tong itu berisikan sampah kertas. Mira menggigit satu persatu kardus yang sudah dilipat, anjing pintar itu memberikan kardus-kardus itu kepada Silvi dan Reza.
"Hmm...Lihatlah!" ucap Reza.
Reza mengolak-alik kardus itu. Masih ada sisa sedikit jerami, di salah satu kardus juga ada tikus kecil yang hancur.
"Arrgghh...Kak!" pekik Silvi.
"Ada apa?" Reza langsung meraih tangan Silvi, memastikan apakah Silvi terluka.
"Aduh, jangan mulai deh, kak! Bukan saatnya romantis-romantisan!" Silvi menggibaskan tangannya.
"Aku kira kamu terluka, biasalah aku panik tadi!" Reza terkekeh.
"Moduss!" seloroh Silvi.
"Tapi kamu senang, kan?" goda Reza.
"Iya sih hehehe..." Silvi terkekeh.
"Kak lihat nih!" Silvi memegang ujung ekor ular kecil yang mati.
"Jadi benar, kardus-kardus ini digunakan untuk tempat menyimpan ular-ular yang tempo hari!" ucap Reza kesal.
"Ayo kita tangkap orangnya, kak! Kak Reza ingat wajah pelayan yang memindahkan kardus itu ke gudang, kan?" seru Silvi menggebu-gebu.
"Besoklah, Silvi! Mereka pasti tidur sekarang, biarkan mereka mimpi indah dulu." Reza tersenyum devil.
"Ish...Gara-gara mereka kita hampir tidur dengan ular, kak! Enak banget mereka tidur nyenyak setelah melakukan kejahatan itu!" sahut Silvi.
"Jangan membantah! Besok saat mereka mulai berakting bekerja di sini, Mira akan menangkap mereka! Bobok yuk!" Reza menggandeng tangan Silvi.
Pertama-tama mereka mengantarkan Mira ke kandang. Tugas Mira malam ini cukup sampai di sini. Besok Mira akan bertugas lagi untuk menangkap penyusup. Reza membawa Silvi menuju kamarnya. Sekarang mereka sudah sampai di depan pintu kamar Silvi.
"Kita bobok beneran, kak?" tanya Silvi.
"Iyalah...Buat apa bobok bohongan?" jawab Reza.
__ADS_1
"Bobok bareng?" tanya Silvi polos.
Pletak,
"Mulai ngeres otaknya, ya?" Reza memarahi Silvi.
"Kak Reza yang ngajak tadi," Silvi mengelak.
"Aku hanya mengajak untuk bobok bukan bobok bareng! Anak kecil pikirannya udah kotor!" sahut Reza.
"Terus ngapain mau masuk ke kamar aku?" Silvi bertanya lagi.
"Aku hanya mengantarmu sampai tujuan," Reza terkekeh.
"Moduss..." seloroh Silvi.
"Sudah sana bobok, mimpi indah!" Reza tiba-tiba mengecup pucuk kepala Silvi.
Cup,
"Aaaa...Meleleh aku, kak!"
Cup cup,
Reza mengecup lagi pucuk kepala Silvi. Silvi semakin klepek-klepek seperti ikan yang kehabisan air.
"Jangan menatapku seperti itu! Jangan buat aku tidak bisa menahannya, bobok sana! " Reza mendorong Silvi agar masuk ke kamarnya.
"Love you, kak!" seru Silvi sebelum menutup pintu.
Blam,
Reza tidak kembali ke kamarnya. Ia pergi sebentar ke ruang keamanan. Mengamati kejadian hari ini, setelah puas ia baru ke kamarnya. Besok, orang-orang itu harus tertangkap.
--------------------------
Di sudut kolam renang yang sepi, Frans menoleh ke kanan dan kiri. Tadi sore Sonya mengatakan akan menunggunya di sana. Tapi tidak ada siapapun. Frans menurunkan kerudung hoodie yang dikenakannya. Ia duduk di pinggiran kolam. Menunggu Sonya, mungkin ia terlambat. Atau masih harus menjaga Davin.
Hampir 30 menit Frans menunggu, gadis pujaannya belum muncul juga. Sebenarnya malam ini akan menjadi pertemuan pertama mereka setelah Frans kembali dari kampungnya. Di mansion ini, semua orang sudah tahu kisah cinta mereka. Tapi mereka berdua saja yang malu-malu dan lebih memilih berduaan di pojok. Sudah lama Frans menyukai sosok Sonya yang pemberani dan ramah. Rencananya Frans akan menembak Sonya agar menjadi kekasihnya malam ini. Ia sudah membawa coklat kesukaan Sonya.
Frans melihat ada bayangan yang melintas di dekatnya, itu artinya ada orang di sana. Ia segera menoleh, tidak ada siapapun. Frans mencoba membuka ponsel dan mengirim pesan untuk Sonya. Agar rasa takutnya sedikit berkurang. Siapa sangka ada bayangan lagi, ia langsung menoleh. Benar-benar aneh, tidak ada orang.
"Selama ini aku tidak pernah melihat apapun, paling cuma daun aja!" ucap Frans menenangkan dirinya sendiri.
Krek krek,
Terdengar suara ranting pohon kering yang sengaja dipatahkan. Frans mengelus lehernya, bulu kuduknya berdiri.
"Hihihi..."
"Mamaaa..." Frans langsung berdiri dari duduknya, berlari ke ujung kolam yang ada lampunya.
Terlihat sosok wanita di pojok dekat pohon, rambutnya semuanya menutupi wajahnya. Perempuan itu tertawa tapi tawanya menakutkan.
"Aduh mama...ada Mbak Kuntil..." pekik Frans.
"Hihihihi....."
"Mbak Kuntil ngapain di sini? Pergi sana, nanti ditangkap petugas migrasi nggak punya pasport! Huss... Pait pait pait!" Frans meracau.
"Hahahaha..."
__ADS_1
"Malah ketawa, Kenapa bisa sampai sini sih? Naik apa coba..." Frans semakin histeris.
Perempuan mengerikan itu malah semakin mendekat. Dengkul Frans lemas, tidak bisa digerakkan.
"Mbak Kuntil pergi! Huss hus... Nanti dicariin Mas Ocong loh! Aduh...Mamaaaa...." teriak Frans.
"Hahahaha... Frans Frans... Lucu banget kamu kalau lagi takut!"
Frans membuka matanya. Astaga! Perempuan itu seketika berubah menjadi bidadari surga.
"Sonya!" pekik Frans.
"Peace! Maafin aku hehehe...Kamu takut banget ya? Sampai ngomel pakai bahasamu? Dan kamu panggil aku apa tadi? Kutil?" Sonya memasang senyum manisnya agar dimaafkan.
"Hahaha bukan Kutil tapi Kuntil, lengkapnya Kuntilanak. Wujudnya seperti kamu tadi." jawab Frans.
"Ohh..." Sonya mengangguk.
Keduanya duduk bersama di pinggir kolam. Membicarakan semua hal untuk mengobati rindu. Frans pandai sekali membuat Sonya tertawa dengan candaannya, sampai Sonya memukulnya berkali-kali
Bug bug,
"Awww!" Frans memegang dadanya.
"Aduh maaf ya,reflek itu tadi!" Sonya cemas.
Frans masih memegang dadanya, sekarang malah menelusupkan tangannya ke dalam hoodienya. Dan,
"Taraaaa!" tangan Frans mengeluarkan sebatang coklat dari dalam hoodienya.
"Aaaa... Coklat!" pekik Sonya senang.
"Eitt...Sabar dong!" Frans menarik lagi tangannya, Sonya cemberut.
"Ehem...Sonya, aku memang belum punya apa-apa. Tapi dengan sebatang coklat ini aku ingin menyatakan perasaanku, aku menyayangimu. Maukah kamu jadi kekasihku?" ucap Frans.
"Mau mau...Aku mau!" jawab Sonya dengan cepat.
"Yessss!" Frans langsung memeluk Sonya.
"Ciieeeeee!" sorak Aryn dan Dave, membuat Frans dan Sonya langsung melepaskan pelukan mereka.
Aryn dan Dave sejak tadi mengintip dari jendela kamar mereka yang ada di lantai tiga. Mereka bahagia karena pasangan yang sok malu itu akhirnya resmi jadi sepasang kekasih juga.
"Ciieeeee! Pacalan!!!" Davin ikut-ikutan bersorak. Tubuh kecilnya nyempil di tengah Dave dan Aryn. Tangan kecilnya bertepuk tangan.
------------------------------
Di sisi lain,
Seseorang menatap tajam ke arah layar laptopnya. Memperbesar foto yang ditampilkan layar laptop itu. Tatapan matanya penuh kebencian.
"Permainan akan terus berlanjut! Kalian dengar itu? Permainan akan berlanjut hahahahaha!" teriaknya.
Pyarr...
Laptopnya menghantam dinding dengan sangat keras. Selanjutnya hanya kesunyian yang menghiasi ruangan itu. Entah apa yang tengah dilakukan oleh empunya.
.........................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Love you all!
__ADS_1