
Di tempat yang berbeda,
Zack termenung di meja kerjanya. Kantor rasanya sangat sepi hari ini. Tidak ada Mei, tidak ada yang bisa ia jahili. Tidak ada Mei, tidak ada yang bisa ia suruh. Kenapa juga ada acara hukuman segala? Zack kan galau jadinya. Ia sudah punya masalah rumit sekarang harus ditambah lagi.
"Ah iya, ponsel...." pekik Zack.
Ia baru ingat jika sejak tadi ponselnya sengaja dimatikan. Setelah ia nyalakan ada beberapa missed calls. Tapi sayangnya bukan dari Mei. Zack meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja. Kalau sudah begini ia jadi tidak fokus.
Drrtt...drrrttt....
Ponsel Zack berdering.
"Siapa lagi?"
Zack melihat ke layar, ternyata dari jal*ng. Kepalanya seketika jadi berat. Zack putuskan untuk menolak panggilan itu. Ia hanya mengirimkan pesan singkat untuk menanyakan kenapa dia terus menelponnya.
Kedua mata Zack seketika melotot saat melihat balasan dari orang itu. Wajahnya memerah, terlihat jelas ia sedang menahan amarah. Tanpa pikir panjang, Zack mengambil kunci mobilnya. Hari ini tidak ada pekerjaan yang penting-penting banget, ia serahkan kendali kepada karyawannya.
Dalam perjalanan Zack tidak bisa membendung kekesalannya. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, seperti itulah ia menyalurkan kekesalannya. Sampai tidak sedikit pengendara lain mengumpat pada Zack. Zack tidal peduli.
Dua puluh menit kemudian, ia tiba di lokasi tujuannya. Sebuah gedung apartemen. Entah siapa yang akan ia temui. Yang pasti orang itulah yang terus menelpon dan mengirim pesan pada Zack.
Brak brak brak,
Zack tidak lagi mengetuk pintu dengan baik-baik. Zack menggebrak pintu di hadapannya.
"Buka pintunya!" teriaknya.
Masih tidak ada jawaban.
"Buka atau aku bakar apartemen ini!" teriak Zack lebih keras.
Ceklek,
"Sabar dong, honey!"
Nampak seorang wanita dengan usia yang sepantaran dengan Zack. Tubuhnya tinggi langsing, kakinya juga jenjang. Dia langsung menyambar Zack. Kedua tangannya merangkul leher Zack. Tubuhnya sengaja ia tempelkan dengan Zack.
"Lepas!"
Zack melepaskan tangan wanita itu dengan paksa.
"Masih pagi jangan marah-marah!"
"Maumu itu sebenarnya apa sih?"
Wanita itu menarik tangan Zack agar masuk ke dalam apartemen. Lantas pintu tu ditutup rapat dari dalam.
"Jangan buang waktuku!" seru Zack.
"Kenapa? Aku butuh waktu dan perhatian dari kamu, honey!" wanita itu bergelayutan dengan manja di lengan Zack.
Zack menatap wanita yang berdiri di hadapannya itu.
Clara Drainela namanya. Seorang model yang berada di bawah agensi milik papa Zack. Wanita itu pernah menjadi salah satu dari kekasih Zack. Sedikit berbeda dari kekasih Zack yang lainnya, Clara adalah satu-satunya kekasih Zack yang bertahan lama. Mereka masih sering bertemu dulu, sebelum Zack menikah tentunya.Bukan Zack namanya jika serius dengan satu wanita. Seperti dengan kekasihnya yang sudah-sudah, ia hanya datang pada Clara jika ingin hiburan atau sedang jenuh dengan urusan kantor.
__ADS_1
Awal mula ia bertengkar dengan Mei itu karena Clara penyebabnya. Waktu malam hari setelah resepsi pernikahannya dengan Mei, Clara menelponnya dan memberitahukan kehamilannya. Karena itu Zack jadi tidak tenang, gelisah, dan juga kesal. Kekesalannya berimbas pada Mei. Ia jadi tidak memperhatikan keberadaan Mei yang sekarang sudah jadi istrinya. Ia tidak bisa mengatakan masalah ini pada siapapun termasuk Mei.
"Asal kau tahu, aku tidak sedikitpun percaya dengan apa yang kau katakan waktu itu!" Zack menunjuk Clara dengan penuh amarah.
"Kurang bukti apa lagi?"
Clara mengeluarkan banyak sekali tespack kehamilan dari dalam kantong celana jeansnya. Semuanya menyatakan jika Clara hamil saat ini. Clara sama sekali tidak terlihat sedih hamil diluar nikah. Itu karena ia tergila-gila pada Zack.
"Apakah aku bodoh sampai tidak bisa tahu kau bukanlah seorang wanita baik-baik yang hanya berhubungan dengan satu pria?" suara Zack meninggi.
Clara tersenyum smrik.
"Aku tahu betul siapa daddy dari bayi yang ada di dalam perutku ini," ucapnya kemudian.
Zack tertawa.
"Kau sama seperti semua mantan kekasihku, fasilitas umum! Kau hanya langsung memutuskan bayi itu adalah milikku karena kau sendiri bingung siapa ayahnya,"
Clara mengepalkan kedua tangannya.
"Kau bisa tertawa, lihat saja aku akan datang ke rumah orang tuamu. Papamu tahu kau pernah ada hubungan denganku, kau pasti bisa menebak bagaimana reaksinya, kan?"
Zack terdiam, wanita ini sangat licik. Jika dia sampai datang ke rumah, orang rumah akan menjadi semakin marah. Dan, memang bayi itu belum pasti miliknya. Tapi jika dihitung dari hari saat ia menghabiskan malam dengan Clara di bar saat ada masalah di kantor, bisa jadi itu bayinya. Kalaupun ia akan melakukan tes DNA, tidak bisa dilakukan sekarang juga. Masih harus menunggu lama, paling tidak saat kehamilan memasuki usia 10-18 minggu.
"Takut?" Clara mengejek.
"Diam kau!" Zack menghardik.
"Sekarang masih mau menantangku?" Clara terkekeh.
Lebih baik Zack ikuti dulu permainan wanita licik ini. Jangan sampai wanita ini datang ke rumah dan mengabarkan kehamilannya.
"Mudah, kok! Aku ingin dimanja seperti pada umumnya,"
Zack menghela napas berat.
"Baiklah," jawabnya kemudian.
Seharian itu Zack mengorbankan waktunya untuk memenuhi keinginan Clara. Zack benar-benar menurut. Dari menonton film bersama, menyuapi wanita itu, sampai menemaninya tidur. Mau bagaimana lagi hal itu ia lakukan juga karena terpaksa. Ia harus cepat-cepat mencari jalan keluar.
+++++++++++
Di rumah Cavero,
Tinggal di rumah mertuanya tidak membuat Mei canggung seperti menantu pada umumnya. Tidak butuh waktu lama, ia sudah sangat akrab dengan orang tua Zack. Apalagi dengan Mama Emmy. Mereka seperti botol yang bertemu dengan tutupnya, gorengan bertemu dengan cabenya, pokoknya klop banget.
Sekarang ini, mereka berdua tengah berada di dapur. Mereka mengacaukan dapur bersama-sama. Mereka sama-sama bisa memasak walau ala kadarnya tapi ya begitulah, dapur selalu kacau jika dijamah mereka.
"Akhirnya jadi juga," ucap Emmy dengan bangga.
Setelah lantai dapur penuh dengan tepung, kue coklat yang mereka buat jadi juga. Resepnya mereka berdua dapat dari youtube. Dua orang pelayan hanya saling menatap melihat kekacauan itu. Emmy tidak mengizinkan pelayan ikut campur dalam masakannya.
"Ini bisa dimakan enggak ya, ma?" tanya Mei.
"Mama juga nggak tau, biar dicoba papa sama Zain aja!"
__ADS_1
Emmy membawa kue coklat ala-ala itu ke ruang tengah. Mei mengekor di belakang mertuanya. Zain tengah membicarakan perkembangan hotel mereka dengan Cavero di sana.
"Papa....Zain..." seru Emmy.
"Wah wah, kalian berdua memasak atau mandi tepung?" Cavero terkekeh melihat penampilan Emmy dan Mei.
"Salah semua, kita abis luluran kan, ma?" celetuk Mei.
Cavero dan Zain tertawa.
"Mama dan Mei sudah membuat kue coklat istimewa!"
Emmy meletakkan piring berukuran lumayan besar dengan kue coklat berbentuk kotak di atasnya.
"Ini kue coklat perdana, loh!" seloroh Mei dengan bangga.
"Betul itu," Emmy merangkul bahu menantunya.
Zain cukup takjub melihat kedekatan Mei dan Emmy. Ia tidak menyangka Mei akan secepat itu akrab dengan mamanya. Padahal mamanya itu termasuk orang yang rewel dan bawel. Susah diimbangi.
"Ini bisa dimakan, ma?" tanya Cavero.
"Bisa dong, pa! Itu bukan kue plastik!" seloroh Mei.
Cavero dan Zain tertawa.
"Cepat dicoba!" Emmy mendesak Cavero dan Zain.
Cavero dan Zain mengambil garpu masing-masing. Keduanya saling menatap sejenak, semoga saja kue ini layak dimakan. Di saat garpu mereka sudah mendarat di atas kuenya. Mereka berdua saling menatap lagi. Lantas Zain memukulkan garpunya pada kue itu.
Taaanngg taaanngg taaanngg,
"Ini lebih parah dari kue plastik," ucap Zain.
Cavero tertawa.
"Kok bisa?" Emmy terkejut.
"Kalian pakai tepung atau semen?" Cavero tidak bisa berhenti tertawa.
"Tepung kok!" jawab Emmy.
Mei mengamati kue yang ia buat dengan mertuanya tadi. Lantas Mei mengangkat kue itu dengan tangan kosong. Mei melemparkan kue itu ke luar jendela yang ada di samping ruang tengah.
Pyaaarrr,
Pot yang ada di luar jendela pecah karena dihantam kue maut itu. Sementara kue yang dilempar masih utuh tanpa terkikis sedikitpun.
"Bayangkan jika tadi kue itu dilempar ke kucing. Pasti kucingnya langsung koma." ucap Zain.
Cavero tertawa sampai lututnya lemas.
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1