Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
PENGAKUAN ZACK DAN MEI


__ADS_3

Mereka semua kini duduk di ruang tengah. Zack dan Mei didudukkan di tengah-tengah. Sepertinya akan diadakan sidang antara Zack dan Mei. Semua orang menatap mereka berdua dengan tatapan tajam.


"Merinding," gumam Mei yang masih bisa didengar Zack.


"Sama," sahut Zack.


Aryn berjalan mendekati mereka berdua. Dalam masalah ini, sebagai sahabat Mei, Aryn merasa ragu dengan pernikahan mereka yang akan diadakan mendadak.


"Apakah kalian yakin akan menikah besok?" Aryn menatap tajam Mei dan Zack.


Mei dan Zack senggol-senggolan. Keduanya bingung harus jawab apa.


"Ya yakin kok!" seru Mei, senyumnya terlihat dipaksakan.


"Iya yakin," imbuh Zack.


"Kenapa mendadak sekali?" Samuel ikut buka suara.


"Tidak mendadak, sudah satu bulan kok rencananya! Mama dan papaku juga sudah datang," jawab Mei.


"Satu bulan itu waktu yang singkat, Markonah! Apalagi untuk kalian, emangnya kalian saling cinta gitu?" sahut Reza.


Zack dan Mei saling menatap. Mereka berdua harus mengatakan alasan yang sebenarnya. Lagipula mereka semua adalah keluarga. Jadi wajar saja jika mereka semua terkejut dengan berita pernikahan Zack dan Mei yang mendadak.


"Sebenarnya kami melakukan pernikahan karena..." Mei melirik Zack.


"Kami melakukan hal yang seharusnya tidak kami lakukan!" Zack menambahi.


"APAAA??" pekik semua orang.


"BAGAIMANA BISA???" Dave mencengkeram krah kemeja Zack.


Mei adalah sahabat baik Aryn. Mei sudah seperti keluarga di mansion ini. Yeah, walaupun terkadang Dave sebal dengan Mei. Tapi Dave tetap peduli pada sahabat istrinya itu.


"Kami mabuk, Dave!" Mei melepaskan tangan Dave yang mencengkeram krah Zack.


"Kalian berdua mabuk? Kok bisa?" sahut Samuel.


"Aku ada acara pertemuan malam itu, biasa minum-minum! Aku mengajak Mei ke acara pertemuan itu," Zack menunduk.


"Terus?" Reza juga penasaran.


Flashback


Sinar matahari menyusup melalui celah gorden. Mei menggosok kedua matanya. Badannya terasa pegal-pegal, rasanya semalam ia habis berlari maraton. Ia menggeliat pelan. Tapi ada sebuah benda berat menindih perutnya.


"Tangan siapa ini?" gumam Mei.


Ceklek,


Tiba-tiba kamar itu dibuka dari luar. Mei dan Zack reflek langsung terduduk di ranjang. Mereka menatap ke arah pintu. Nampak papa dan mama Zack berdiri di ambang pintu.


"Apa-apaan ini, Zack?" teriak Cavero.


"Dasar anak nakal!" Emmy berkacak pinggang.


"Zack?" gumam Mei.


Mei menoleh ke sampingnya. Tangan Zack masih melingkar di perutnya. Dress yang dipakai Mei sudah tidak karuan wujudnya.


"Aaaaaaa!" teriak Mei saat melihat tubuhnya lalu melihat Zack.


"Aaaaaaa!" Zack ikut berteriak.


Zack sendiri saat ini bertelanjang dada, hanya celana boxer mininya yang melekat. Sontak saja Zack langsung menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal itu.


"Kau apakan aku?" tanya Zack.


Zack menyilangkan tangannya di depan dada. Sikapnya seolah dia gadis perawan yang sudah dinodai.


"Harusnya aku yang bertanya, kau apakan aku? Yang gadis di sini aku!" protes Mei.

__ADS_1


"Memangnya yang bisa memperkosa hanya pria? Justru para gadis seperti kau ini yang berbahaya!" Zack tidak mau kalah.


"Kau ini!" Mei menatap Zack dengan sengit.


"Apa? Karena aku mabuk kau pasti sudah menikmati tubuh seksih milikku, kan?" Zack menunjuk dahi Mei.


"Cih...Aku juga mabuk semalam!" Mei menepis tangan Zack.


"SUDAH CUKUP!!!!!" seru Cavero dan Emmy.


Zack dan Mei langsung diam seketika. Mereka menunduk tidak berani menatap Cavero dan Emmy.


"Kamu sudah menodai seorang gadis, Zack! Kamu harus tanggung jawab!" ucap Cavero penuh penekanan di setiap katanya.


"Zack mau tanya dulu, pa! Bagaimana bisa kalian berdua tahu keberadaan kami?" Zack menggosok kedua matanya yang masih mengantuk.


"Lihatlah!" Cavero menunjukkan ponselnya.


Cavero mendapat info dari salah satu tamu di acara pertemuan semalam. Tamu itu adalah rekan kerjanya. Kebetulan orang itu melihat saat Zack dan Mei dibawa oleh Peter. Cavero langsung meluncur ke hotel ini.


"Tapi, pa...Aku saja tidak tahu apa yang terjadi," Zack menolak.


"Betul itu, om! Aku juga tidak tahu apa yang terjadi," Mei menambahi.


"Mei...Kami memergoki kalian dalam keadaan begini di kamar hotel. Semalam kalian juga mabuk, orang bodoh pun tahu apa yang terjadi semalam," Emmy mendekati Mei.


"Tante pastikan Zack tanggung jawab, sayang! Kamu itu gadis baik-baik," lanjut Emmy.


"Papa dan mama seperti tidak pernah melihatku tidur dengan wanita saja," Zack turun dari ranjang, memungut kaosnya yang bertumpuk di sofa.


"Jaga mulutmu, Zack! Papa tahu Mei itu berbeda dengan wanita yang kau tiduri selama ini! Dia anak baik-baik dan kau sudah merusak kehormatannya! Jadilah pria bertanggung jawab!" Cavero mencengkeram lengan Zack.


Zack menghela napas, ia terduduk lemas di sofa. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri. Semua perkataan mama dan papanya melayang di pikirannya. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Benar apa kata kedua orangtuanya, ia sudah merusak kehormatan gadis baik-baik seperti Mei.


"Zack akan bertanggung jawab," lirih Zack.


Cavero menyuruh Zack dan Mei untuk membersihkan diri. Zack dan Mei mengikuti orang tua Zack kembali ke mansion. Di sana Cavero menelpon orangtua Mei dan menjelaskan segalanya melalui panggilan video call. Untung saja orangtua Mei memahami situasi saat itu.


Semua orang mengangguk paham setelah mendengar penjelasan Zack dan Mei. Tapi sepertinya masih ada keraguan dalam diri mereka. Pernikahan bukan permainan yang bisa dimulai dan diakhiri sesuka hati. Zack dan Mei sudah seperti keluarga bagi mereka.


"Apakah kalian tidak ingat sama sekali apa yang terjadi malam itu?" tanya Reza.


"Tidak," jawab Zack dan Mei serempak.


"Termasuk saat melakukan itu?" sahut Samuel.


"Iya," jawab Zack dan Mei.


"Mungkin kalau dicoba lagi akan ingat kalau pernah melakukannya," ucap Samuel.


"Dasar!" Reza menoyor Samuel.


Diam-diam Silvi seperti memberikan kode pada Aryn. Aryn mendekati adik iparnya itu. Mereka berdua berbisik-bisik, entah membicarakan apa. Tapi kemudian Silvi dan Aryn menghampiri Mei.


"Apakah itumu perih hari itu?" bisik Aryn.


"Itu apa?" Mei malah bertanya balik.


"Ish, Kak Mei! Ituloh!" Silvi menunjuk celana Mei.


"Oh, ini!" Mei mengangguk.


"Perih nggak di hari itu?" tanya Aryn.


Mei tampak berpikir sejenak. Ia melihat ke langit-langit mansion. Pikirannya menerawang jauh untuk mengingat.


"Kalau kepalaku masih sakit pagi itu, Aryn! Tapi kalau bagian ini, aku lupa! Kayaknya masih ada pengaruh minuman yang aku minum, deh!" lirih Mei.


Aryn menepuk dahinya sendiri. Benar juga, Mei mabuk malam itu. Maklum saja kalau paginya ia masih terpengaruh minuman alkohol yang diminum. Rasanya percuma menanyai apa yang dia rasakan pagi itu.


"Spreinya warna apa di kamar itu? Putih bukan, kak?" tanya Silvi.

__ADS_1


"Kok kamu tahu?" Mei menepuk bahu Silvi.


Silvi melengos, ia hanya menebak tadi. Mei malah menanggapinya dengan candaan.


"Di sprei itu ada bercak merah tidak, kak?" tanya Silvi lagi.


"Bercak merah? Darah?" Mei balik tanya.


"Iya," jawab Silvi dan Aryn serempak.


Mei menatap ke langit-langit lagi, ia mencoba mengingatnya. Sementara itu, para pria sepertinya penasaran. Dave dan Reza berjalan mendekat. Mereka bermaksud menguping.


"Jangan nguping!" seru Silvi dan Aryn serempak.


"Tidak kok!" Dave dan Reza menjauh dengan kompak.


Samuel, Zack, dan Ken tertawa.


"Oh darah, ya?" pekik Mei tiba-tiba.


"Kamu ingat?" sahut Aryn dengan cepat.


"Tidak," Mei menggeleng.


Aryn dan Silvi saling menatap.


"Jangankan melihat ke sprei, warna boxer Zack saja aku tidak sempat melihatnya!" lanjut Mei.


Silvi langsung tertawa,


"Ya sudah. Itu artinya memang benar kalian harus menikah." Aryn terkekeh.


"Aaaaa...Tolong!"


Tiba-tiba terdengar teriakan Glen. Sepersekian detik kemudian Glen berlari dari arah belakang.


"Tolong saya!" teriak Glen.


Glen berlari ke belakang Reza. Ia bersembunyi di balik tubuh bosnya itu. Reza sampai kebingungan.


"Kau ini kenapa?" keluh Reza.


"Saya dikejar Momon, bos!" teriak Reza.


Dave tertawa,


"Momon itu siapa?" tanya Reza.


"Momon itu peliharaan Desmon dan Davin!" sahut Aryn.


"Wah, mereka punya peliharaan juga ya? Hewan apa?" Silvi antusias.


Nguk nguk nguk,


Terdengar suara khas singa laut mendekat. Desmon dan Davin riuh mengikuti Momon yang berselancur di lantai hingga sampai di ruang tengah.


"Wow, singa laut!" Silvi terkejut.


Nguk nguk nguk,


Momon langsung mendekati Glen. Sepertinya Momon terobsesi pada Glen.


Nguk nguk nguk,


Momon terus mengejar Glen. Bibir Momom terlihat manyun seperti ingin mencium Glen.


"Toloongggg!!" Glen berlari keluar.


Semua orang tertawa,


........................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2