Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MENENTUKAN HARI BAIK


__ADS_3

"Cheers untuk Reza dan Silvi!" seru Erick.


"Cheers!" sahut semua orang.


Semua orang berkumpul di halaman belakang. Mereka duduk melingkar. Ada banyak botol wine di meja. Para pria benar-benar akan berpesta malam ini. Malam ini khusus merayakan lamaran Reza dan Silvi. Edgar dan Zela ternyata juga datang, mereka berdua langsung menuju mansion Dave.


Yang aneh adalah para wanita terlihat tidak keberatan suami mereka minum wine. Padahal biasanya para wanita itu akan menyiapkan panci jika suami mereka minum. Semoga saja ini bukan pertanda buruk untuk para suami.


"Cih, apa ini?" kening Samuel berkerut setelah meneguk minumannya.


"Ini seperti sirup frambos bukan wine," sahut Zack.


"Kau suguhkan sirup untuk pesta malam ini, Erick? Apakah tidak mampu beli wine lagi?" Edgar menyindir.


"Dave kau bagaimana? Bikin malu saja," bisik Erick pada Dave.


"Aku sudah benar mengambilnya, pa!" sahut Dave.


"Enak sirupnya?" seloroh Katy.


"Enak dong rasa frambos," imbuh Zela.


"Mau ditambah es?" Aryn ikut menambahi.


Para pria saling menatap, pasti ini kerjaan para wanita itu.


Hahahahaha....


Para wanita tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi suami mereka.


"Bagus kan ideku," seloroh Mei.


Mei yang tadi mengusulkan untuk mengganti semua isi botol wine dengan sirup. Tak disangka idenya bagus juga.


"Iya, bagus! Tumben Kak Mei," jawab Silvi.


Para pria menatap botol-botol wine yang berbaris di meja dengan tatapan nanar. Semangat mereka lenyap seketika. Botolnya memang botol wine, tapi isinya sudah jadi sirup frambos.


"Saya bisa request yang isi jus jeruk enggak? Kebetulan saya tidak suka frambos," seru Glen.


Pluk,


Reza mendaratkan tangannya dengan keras di dahi Glen. Agar sekretarisnya itu menjadi manusia normal. Mereka sedih karena gagal minum wine, sekretarisnya ini malah request jus jeruk.


"Reza sayang, khusus untuk kamu! Isinya susu coklat!" Zela memberikan sebuah botol.


"Wah spesial," Samuel dan Zack meledek.


Reza menatap botol itu, kenapa isinya semakin parah. Susu coklat.....Ia ingin wine saat ini. Sudah sangat lama ia tidak mencecap minuman beralkohol.


"Bos mau tidak? Kalau tidak mau buat saya aja!" Glen mengambil botol itu.


"Ambil aja," jawab Reza.


Mami Zela tersenyum simpul. Ia melihat kekecewaan di wajah putranya yang tidak jadi mendapat wine. Biarlah susunya diminum Glen jika dia mau.


"Kalau kalian ada yang mau susu coklat di sini masih ada," seru Zela.


"Siap mami!" jawab Samuel, Ken, dan Zack.


Malam itu berlalu penuh dengan kehangatan dan kebersamaan. Kebahagiaan memenuhi mansion Dave.

__ADS_1


"Oh iya, calon besan! Kapan kita nikahkan mereka, menurut saya lebih cepat lebih baik!" Katy mencolek lengan Zela.


"Kalau saya ngikut maunya Reza saja. Tapi tetap saya juga pengen secepatnya, nggak sabar punya anak cewek!" Zela tersenyum menatap Silvi.


Kedua pipi Silvi bersemu merah, ia tersenyum malu-malu. Sekarang status wanita dihadapannya adalah calon mertua.


"Bagaimana, Za?" seru Edgar.


"Reza sih maunya besok, pi!" jawab Reza.


"Silvi setuju," imbuh Silvi.


Semua orang tertawa, kecuali Dave pastinya. Dia hanya tersenyum simpul.


"Sabar dong, sayang-sayangku! Persiapannya harus disiapkan dengan matang. Apalagi teman arisan mami yang di sini itu banyak, mami mau mereka semua diundang agar mami bisa pamer mantu mami." ucap Zela.


"Kalau menurut papi tahun depan adalah waktu yang pas," sahut Edgar.


Reza dan Silvi langsung menatap Edgar. Mereka berdua terkejut. Tahun depan? Itu lama sekali.


"Jangan bercanda, pi!" seru Reza.


"Papi serius, mami kamu teman arisannya banyak loh! Acaranya berarti harus besar, 7 hari 7 malam mungkin," Edgar terkekeh.


"Papi," Zela mencubit pelan perut Edgar.


"Begini saja, tiga bulan saya rasa cukup untuk mempersiapkan acara yang besar." seru Erick.


"Iya benar itu pi, jangan tahun depan dong!" Reza merengek.


"Mami setuju, tiga bulan!" ucap Zela.


"Baiklah..." Edgar juga setuju.


Keesokan harinya,


Alarm berdering dengan nyaring hingga menggetarkan meja nakas kecil di samping tempat tidur Mei. Tangannya berusaha mencapai alarm itu.


Klik,


Huft, akhirnya alarm itu bisa diam juga. Mei bergegas beranjak dari zona ternyamannya. Mengawali rutinitas paginya dengan masuk ke kamar mandi. Sebenarnya ia masih mengantuk karena semalam ia pulang dari mansion Dave larut malam. Ada banyak makanan enak di pesta lamaran Reza dan Silvi semalam. Sayang kalau dilewatkan.


Lima belas menit lamanya Mei baru menyelesaikan ritual mandi dan bersiap-siap. Ia berjalan santai menuju dapurnya. Beginilah susahnya hidup sendiri jauh dari orang tua. Mei memasak untuk sarapannya. Kalau ia akan ke mansion Dave pasti ia tidak pernah sarapan dulu. Ia baru akan sarapan di sana. Tapi pagi ini agendanya tidak ke mansion Dave. Mei bertekad akan pergi ke kantor yang ia lamar pagi ini. Ia sudah mencari info lowongan kerja kemarin. Kebetulan saat ia mengirimkan CV-nya ia langsung dihubungi untuk datang ke kantor.


Mei menyantap sarapannya dengan lahap. Tidak lupa ia membuat segelas susu coklat untuk menambah stamina. Begitu selesai Mei langsung turun ke basement. Mobilnya melaju membaur dengan mobil lain di jalanan kota. Perusahaan yang ia lamar adalah semacam perusahaan multinasional. Bergerak di banyak bidang seperti agensi dan properti.


Mei cukup terkejut dengan gedung kantor di hadapannya. Bangunannya lebih besar dan mewah dari yang ia lihat di profil. Mei sedikit ragu apakah nanti ia akan diterima.


"Selamat pagi, saya Mei Da Xia. Saya mengirimkan CV kemarin dan pagi ini saya diminta datang ke kantor ini," ucap Mei pada penjaga meja informasi.


"Silahkan di tunggu," wanita itu menunjuk ke arah sofa.


Mei tersenyum dan mengangguk. Ia duduk di sofa. Jantungnya berdetak kencang. Ini memang bukan yang pertama kali Mei datang untuk interview ataupun melamar pekerjaan. Tapi tetap saja Mei merasa akan gagal lagi.


"Nona Mei?" seorang karyawan memanggilnya.


"Iya, saya?" jawab Mei.


"Silahkan ikut saya, interview akan dilakukan oleh bos sendiri!" ucap orang itu.


Mei mengekor di belakang karyawan itu. Mereka memasuki Lift, menuju lantai 10, lantai paling atas. Karyawan itu membawa Mei masuk ke ruangan bertuliskan ruang presiden direktur. Mei baru ingat lowongan yang tersedia adalah sekretaris wajar saja jika bosnya langsung yang akan menginterview dirinya.

__ADS_1


"Silahkan," orang yang membawa Mei kemari tadi membukakan pintu.


Begitu Mei masuk, orang itu pergi. Mei berjalan perlahan di dalam ruangan yang sangat besar itu. Di meja hadapannya terdapat papan kecil bertuliskan presiden direktur. Seseorang duduk di belakang meja itu rapi posisinya membelakangi Mei saat ini. Yang jelas dia seorang pria.


"Selamat pagi," sapa Mei.


"Selamat pagi, Mei Da Xia..." pria itu berbalik.


Mata kedua pria itu bertatapan dengan Mei. Mei terdiam seketika. Apakah ini yang namanya takdir? Di sisi lain Zack juga cukup terkejut. Ia tidak sempat melihat foto yang ada di CV, CV Mei diseleksi oleh bagaian perekrutan karyawan. Ia mengira ini Mei yang lain.


"Zack!" pekik Mei.


"Hai!" Zack menunjukkan deretan gigi rapihnya.


"Kau presiden direktur? Bagaimana bisa?" Mei masih terkejut.


"Emangnya kenapa?" tanya Zack sewot.


"Bukannya kau kuli di kantor Dave," jawab Mei.


"Kuli kau bilang? Sembarangan! Sudah lama aku keluar dari perusahaan Dave," protes Zack.


Mei mengangguk, jujur semenjak Mei menyelesaikan kuliahnya ia jarang bertemu dengan Zack. Paling hanya beberapa kali itupun di mansion Dave. Dan Mei sejak saat itu juga tidak mau menjadi pacar bohongan Zack lagi.


"Sorry hehehe...Ternyata kau juga sultan. Kalau kau jadi presdir di sini, lalu Zain?" Mei malah bertanya tentang Zain.


Mimik wajah Zack terlihat berubah, Mei malah menanyakan kakaknya. Mungkin benar, Mei tertarik pada kakaknya itu.


"Zain memilih mengelola semua hotel dan resort milik papaku, tidak mau jadi presdir dan duduk di kantor!" jawab Zack.


"Ohh..." Mei mengangguk.


"Papamu sudah tidak menuntut kau menikah?" lanjut Mei.


"Masih, aku sewa wanita tiap bulan ganti!" jawab Zack terkekeh.


Satu tahun yang lalu, Zack secara resmi diberikan tanggung jawab oleh papanya. Begitu juga dengan Zain. Hanya saja Zain lebih memilih mengelola bisnis papanya yang lain. Mengelola hotel dan resort tidak monoton seperti duduk di kantor katanya. Karena hotel dan resort papanya tersebar ke penjuru dunia. Dia bisa berkeliling dunia sambil bekerja.


"Okay, sekarang jangan panggil aku Zack lagi. Panggil aku pak, karena aku bos di sini! Kita mulai interviewnya!" Zack berubah menjadi mode serius.


"Baik, pak!" Mei serius.


Tadi saat Mei tahu ternyata calon bosnya adalah Zack, ia sempat ragu untuk melanjutkan. Tapi ia tidak mau menganggur lagi. Lagipula ia sudah tidak ada rasa apapun untuk Zack. Kalau ia mengundurkan diri, Aryn akan memaksanya masuk perusahaan Dave. Ia sudah susah payah mengirimkan CV ke perusahaan ini dan Cv- nya diterima. Itu artinya ia memang layak.


Mei menjawab setiap pertanyaan yang diajukan Zack. Zack tersenyum simpul, Mei tidak sebodoh yang ia kira.


"Selamat bergabung, kau akan mulai bekerja besok! Gunakan tablet ini, semua jadwalku ada di sini!" Zack memberikan sebuah tablet.


"Terima kasih, pak! Jadi kapan saya mulai bekerja?" jawab Mei antusias.


"Terlalu lama menganggur membuatmu semangat bekerja, ya?" Zack terkekeh.


"Pak Bos, saya serius!" seru Mei.


"Okay, besok kau bisa mulai bekerja!" jawab Zack.


"Mejamu ada tepat di depan pintu kaca ini tapi masih di dalam ruang yang sama. Tugasmu sama seperti sekretaris pada umumnya," lanjut Zack.


"Siap, Pak Bos!" Mei bersemangat.


..............

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2