Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
TIDAK BOLEH MASUK


__ADS_3

"Kak Reza dimana ya?" gumam Silvi.


Karena khawatir, Silvi mengirimkan pesan singkat pada Reza. 5 menit ia menunggu tapi pesan itu tidak kunjung dibalas. Mungkin Reza ada urusan lain, pikirnya. Silvi pergi kembali ke kamar mama dan papanya. Semoga saja mama dan papanya sudah bangun.


"Silvi..." tepat saat Silvi membuka kamar kedua orang tuanya, namanya disebut dengan lirih.


"Mama.." Silvi langsung mendekat.


"Aduh, kepala mama pusing!" Katy hendak bangun.


"Karena dalam jus tadi ada obat tidurnya, ma!" Silvi membantu Katy.


"Oh...Desmon mana?" Katy mencari-cari Desmon.


"Tidur di kamarnya dengan Davin, Sonya sudah ada di sana menjaga mereka!" jawab Silvi.


Katy bernapas lega, putranya tidak apa-apa. Ia melirik ke samping. Nampak suaminya masih tertidur pulas.


"Pa...papa!" Katy mengguncang tubuh suaminya agar bangun.


"5 menit lagi, sayang!" sahut Erick.


Katy dan Silvi saling menatap, lantas memukul dahi mereka sendiri. Sepertinya Erick menikmati obat tidur tadi.


"Papaaa!" Katy berteriak di telinga Erick.


"Iya iya..." Erick menggosok kedua matanya, akhirnya ia bangun juga.


"Aduh, pusing kepala papa!" Erick memegangi kepalanya saat hendak duduk.


"Sama mama juga, kata Silvi dalam jus kita tadi ada obat tidurnya!" sahut Katy.


"Hah? Benarkah?" Erick menatap Silvi.


"Iya, pa! Ada empat orang pelayan palsu yang memasukkan obat tidur dalam jus pagi tadi! Empat pelayan itu juga yang membawa ular masuk ke mansion waktu itu..." Silvi menjelaskan.


"Astaga! Lalu apa yang terjadi saat kami semua tidur, sayang? Tapi kenapa kamu tidak tertidur juga? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Erick, wajahnya terlihat panik.


"Silvi tadi tidak minum jus, pa! Dan Kak Reza juga tidak terkena obat itu. Keempat pelayan itu menyerang, untungnya kami bisa melawan. Ada Kak Joe dan Kak Sonya juga yang membantu." jawab Silvi.


"Huft...Syukurlah! Reza memang bisa diandalkan," Erick bernapas lega.


"Iya, pa! Kak Reza tadi melindungi kalian semua, dia menggotong kalian satu persatu ke tempat yang terlindung dari serangan." sahut Silvi.


"Menantu idaman! Mama sama papa auto kasih restu. Jika kalian mau segera menikah, menikahlah!" seru Katy menggebu-gebu.


"Iihh mama, jangan gitu! Jadi malu kan akunya..." pipi Silvi tersipu malu.


"Ah sudahlah...Malu malu tapi juga mau, kan?" Erick menyenggol bahu Silvi.


"Hehehe...Iya lah, pa! Hanya wanita yang buta, tuli, dan bisu yang menolak Kak Reza..." jawab Silvi.


"Tapi kenapa Dave masih terlihat biasa-biasa saja ya, padahal Reza itu bisa mengungkap sedikit dari masalah ini," seru Erick.


"Coba tanya saja, wajah Dave dari lahir kan memang begitu!" celetuk Katy.


Erick dan Silvi hanya terkekeh mendengar perkataan Katy itu.

__ADS_1


-----------------------------------


Mei keluar dari lift dengan memegangi kepalanya. Kepalanya terasa pusing sekali. Mansion sepi, padahal tadi pagi ramai bahkan ada sidang pula sampai mengumpulkan semua pelayan di sini.


"Kemana semua orang?" gumam Mei.


Mei merasa aneh, biasanya ada penjaga di samping lift. Kali ini tidak ada, apakah semua penjaga dipecat waktu dikumpulkan tadi? Ia tidak tahu, ia lupa. Mei hanya ingat sedikit, ia bahkan lupa bagaimana ia bisa tidur tadi.


Dari kejauhan Mei melihat Glen duduk sendirian di lantai sudut ruang tengah. Mei penasaran, ia menghampirinya. Pria itu menunduk dengan kepala yang di sembunyikan di antara kakinya.


"Kau kenapa?" tegur Mei.


"Nona...Tuan Reza marah sama saya..." Glen mengangkat wajahnya, pria itu menangis.


"Eww...Kau menangis di pojokan seperti ini?" Mei menatap Glen dengan sinis.


"Karena Bos, Nona Silvi, dan juga Joe marah sama saya..." Glen seperti mengadu dengan kakaknya.


"Kenapa mereka marah? Coba deh cerita..." ucap Mei.


"Tadi semua orang yang minum jus waktu sarapan tertidur semua ken ada obat tidur dalam jus itu. Keempat pelayan gadungan yang merencanakannya. Secara tidak sengaja saya melihat ada pistol di balik baju salah satu dari mereka. Karena takut, saya pura-pura tidur seperti kalian semua yang terkena obat tidur. Seperti dugaan saya, keempat penjahat itu menyerang, Bos Reza, Nona Silvi dan yang lainnya adu tembak. Setelah Bos menang saya ketahuan pura-pura, terus mereka marah... Tolong saya nona, bantu saya menjelaskan sama bos, saya melakukannya karena takut. kalaupun saya tadi tidak pura-pura tidur, saya juga tidak bisa melakukan apapun.." Glen menceritakan kejadian tadi.


"Oh jadi begitu ceritanya," Mei beranjak dari duduknya.


"Tolong bantuannya, nona!" ucap Glen.


"Kalau untuk itu....Aku tidak peduli hahaha..." Mei tertawa jahat dan meninggalkan Glen sendirian.


"Astaga...Padahal sudah cerita panjang × lebar × tinggi..." Glen meratapi nasibnya.


Mei masih tertawa hingga ia sampai di dapur, kelakuan Glen memang unik. Mei pergi ke dapur karena merasa lapar. Ia terkejut, sudah ada yang mendahuluinya. Orang itu tengah menyantap makanan dengan posisi memunggunginya.


"Hee..." pria itu terlonjak kaget dan langsung balik badan.


Tadaaa...Mei terkejut, dari sekian banyak orang di mansion ini. Kenapa harus dia? Pria itu adalah Zack. Semakin ia tidak ingin bertatapan langsung dengannya kenapa malah lebih sering bertatapan begini.


"Maluku saja belum sembuh.." gumam Mei.


"Jangan lupa kedip! Kering tuh mata..." seru Zack.


"Tau.." jawab Mei sewot.


"Mau makan?" tanya Zack.


"Iya," jawab Mei.


"Yaudah sini gabung!" seru Zack.


"Ogah..." Mei melengos.


"Pasti deg-degan ya?" Zack terkekeh.


"Enggak, kok! Hanya..." protes Mei.


"Hanya grogi?" Zack tertawa.


"Iihh apaan sih!" Mei balik badan, pergi dari dapur.

__ADS_1


"Awas, Mei!" seru Zack.


Mei langsung berhenti, menatap ke sekeliling. Aman, kok! Tidak ada apa-apa, kenapa Zack berteriak. Mei menoleh ke arah Zack dnegan malas.


"Awas nanti jatuh cinta!" Zack mengedipkan sebelah matanya.


Tenggorokan Mei tercekat, tidak bisa mengatakan apapun. Lututnya terasa lemas. Jantungnya berdegup sangat kencang. Ada apa ini? Mei buru-buru balik badan, menarik napas dalam. Lantas meninggalkan dapur tanpa menggubris Zack.


"Semakin unik," gumam Zack.


Mei berjalan cepat menjauh dari dapur. Ia berhenti saat sampai di dekat lift. Ia membenturkan kepalanya ke dinding. Satu kali, dua kali..Wajahnya merah semua.


"Aaaaa...Aku malu!" maki Mei pada dirinya sendiri.


-----------------------------


Di sisi lain,


Reza menghentikan mobilnya, memarkirkannya di pinggir jalan. Ia melihat mobil anak buahnya parkir agak jauh dari mobilnya. Sepersekian detik kemudian, anak buahnya menghampiri dan masuk ke mobilnya.


"Bagus juga kerjamu, cepat cekatan!" ucap Reza.


"Sudah jadi kewajiban saya, Bos! Ini masih kemungkinan, tapi menurut petunjuk ini memang barnya" jawab pria itu.


Di depan mereka adalah sebuah bar, sebuah plakat nama bertuliskan Destiny digantung di depan bangunan lumayan mewah itu. Lokasinya memang benar ada di pesisir sekitar 1 kilometer dari pantai. Bar ini sesuai dengan petunjuk Julia, kini Reza perlu memastikan dan menyelidiki. Kalau Reza beruntung mungkin akan langsung bisa meringkus musuhnya.


"Kau sudah masuk?" tanya Reza.


"30 menit yang lalu. Di dalam sepi, seperti bar yang lainnya bar ini akan ramai menjelang malam nanti.."


"Penjagaan?" Reza menatap lurus ke arah bar itu.


"Tidak ada penjagaan, bos! Bar ini seperti bar biasa, hanya ada seorang petugas keamanan."


"Berarti harus lebih hati-hati!" ucap Reza.


Belajar dari pengalaman sebelumnya, musuh selalu mempunyai strategi masing-masing. Yang terlihat biasa saja atau mungkin lemah, justru malah biasanya menyembunyikan kekuatannya. Seperti pelayan gadungan tadi pagi, mereka memang wanita. Tapi ternyata mereka agen terlatih dan ahli bertarung. Sekarang, bisa jadi bar ini terlihat biasa dari luar. Tapi bisa saja bar ini adalah bar yang dimaksud Julia. Dan ternyata bar ini tempat musuh berkumpul. Bisa saja, kan? Tidak ada yang tahu.


"Baik, bos! Bar ini bisa saja tempat mereka berkumpul, atau mungkin malah sarang mereka..."


Mereka tetap diam di dalam mobil. Sampai matahari condong ke barat mereka baru mulai bersiap. Reza sengaja pergi sendiri dan hanya melibatkan satu anak buah saja. Ia tidak ingin terlihat mencolok, karena bar ini belum tentu bar yang dimaksud Julia. Reza harus berhati-hati dalam bertindak.


Reza memakai masker, kacamata, dan juga topi. Ia hanya berjaga-jaga jika nanti di dalam ada yang mengenalnya. Di dalam sana pasti juga ada kamera pengintai. Kalau anak buahnya, dia tidak perlu menyamar. Keduanya menyelipkan beberapa pisau dan pistol dalam celana dan kaos kaki mereka.


"Let's go!" Reza turun dari mobil, diikuti oleh anak buahnya.


Keduanya membaur bersama pengunjung bar lain yang berdatangan. Seorang petugas keamanan berdiri di samping pintu memperhatikan pengunjung yang datang. Tiba saat Reza sampai di depan pintu masuk bar, petugas keamanan itu menghalangi Reza. Padahal anak buah Reza sudah masuk duluan.


"Stopp!!" seru petugas keamanan itu.


"Ada apa, pak?" tanya Reza dengan santai.


"Kau tidak boleh masuk!"


...............


Ada apa lagi sih!!!

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2