Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MENGKHAWATIRKAN GLEN


__ADS_3

Ciittt...


Mobil Elie tiba di garasi rumahnya. Ia dan sepupunya turun dari mobil. Elie masih penasaran, Glen tadi dari rumahnya tapi kenapa dia pergi tanpa menemui dirinya.


"Aunty aku datang!" sepupu Elie berteriak memanggil Rose.


Rose datang dari arah dapur dengan celemek yang masih menempel.


"Dara sayang!" Rose memeluk keponakannya.


"Aku rindu aunty,"


"Aunty juga rindu."


Mereka berpelukan.


"Aunty sudah menyiapkan kamar untukmu. Ayo kamu mandi dulu, setelah itu kita sarapan. Baru kamu istirahat, pasti kamu sangat lelah..." Rose mengelus kepala Dara.


"Siap, aunty!" Dara berlarian naik tangga.


Elie masih di sana.


"Elie?" panggilan Rose mengejutkan Elie.


"Eh, iya ma?" jawab Elie.


"Kamu kenapa?"


Elie menggeleng.


"Aku tadi berpapasan dengan Glen di jalan, dia tadi datang ke sini?" tanyanya.


Rose tampak bingung mau menjawab apa.


"Iy-iya, dia kesini tadi," jawabnya.


"Kenapa dia kesini? Apakah dia mencariku, ma?"


"Ah iya tadi, mama jawab saja kamu menjemput Dara di bandara," jawab Rose sekenanya.


Elie mengangguk. Rose kembali ke dapur, ia akan menyelesaikan makanan untuk sarapan. Elie duduk di sofa, ia meregangkan punggungnya. Ia tadi baru bangun tidur langsung berangkat ke bandara.


Pandangan Elie fokus ke atas meja di hadapannya. Ada sebuah bingkisan di sana. Ia ambil dan buka.


"Parfum... Punya siapa?" lirih Elie.


Ia bawa bingkisan itu ke dapur.


"Ini punya mama?" Elie menunjukkan bingkisan itu.


Rose terdiam, ternyata bingkisan dari Glen tadi tidak dibawa pulang. Ia harus jawab apa sekarang.


"Em...Iya Itu punya mama, tadi baru dianter kurir. Mama coba beli online,"


"Kurir? Ada kurir sepagi ini, ma?" tanya Elie.


Rose diam lagi.


"Ada....Soalnya harusnya paketnya dateng kemarin. Kurirnya bilang jadi dikirim pagi-pagi sebagai permintaan maaf karena terlambat..." jawab Rose sekenanya.


"Ya sudah. Aku taruh di sini ya, ma! Aku mau mandi dulu,"


Elie menaruh bingkisan itu di meja makan. Ia bergegas ke kamarnya. Setelah Elie meninggalkan dapur, Rose langsung duduk di kursi dekat meja makan. Ia mengelus dadanya, ia tidak pernah merahasiakan hal seperti ini dari Elie.


Rose mengambil bingkisan parfum tadi. Ia buang ke tempat sampah dapur. Ia tidak ingin menyimpan barang dari Glen, pria muda yang aneh itu.


...***********...


Di rumah Zack,


Mei berdiri berkacak pinggang di depan cermin. Sudah 5 menit dia berdiri di sana.


"Masuk 5 bulan kan, sayang?" tiba-tiba Zack memeluk Mei dari belakang.


Mei mengelus dadanya, Zack selalu saja mengejutkannya. Entah yang tiba-tiba memeluk saat ia memasak di dapur, atau saat ia sedang mandi sekalipun.

__ADS_1


"Belum berangkat ngantor?" tanya Mei.


"Sebentar lagi, masih pagi ini," sahut Zack.


Zack mengelus perut Mei dengan lembut.


"Mereka berkembang dengan baik," ucapnya.


"Iya, mereka cepat sekali besarnya. Lihatlah aku seperti membawa semangka di balik bajuku," cicit Mei.


Zack tertawa.


"Iya, kamu membawa sebuah semangka dan dua buah melon kemana-mana!" seloroh Zack.


"Hih!" Mei mencubit tangan Zack.


"Auw auw..." Zack merintih kesakitan tapi masih tertawa.


"Aku serius, Zack! Bukankah aku terlihat jumbo banget?" Mei memperhatikan bayangan tubuhnya di cermin.


Lagi dan lagi Zack tertawa.


"Kenapa tertawa terus sih?" keluh Mei.


"Ya karena kata-katamu lucu, Mei! Jumbo hahaha...." seloroh Zack.


"Terus apa kalau bukan jumbo?"


Zack berhenti tertawa, ia melihat Mei di bayangan cermin.


"Kamu sempurna, sayang! Kamu mengandung 3 buah cinta kita, semakin hari malah kamu terlihat semakin seksih di mataku," ucap Zack.


Mei tersipu malu. Zack terkekeh melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan itu.


Drrt...drrttt ....


Kemesraan mereka terjeda sementara karena ponsel Zack berdering. Ternyata telepon dari kantor Reza. Aneh, kenapa kantor Reza menelponnya? Zack geser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo?"


"Halo, selamat pagi Tuan Zack! Maaf mengganggu waktu tuan, saya menelpon dari bagian resepsionis. Begini tuan, baru saja ada klien yang datang dan mengatakan mempunyai janji bertemu dengan Tuan Glen sebagai perwakilan Bos Reza. Tapi masalahnya sampai sekarang Tuan Glen belum datang ke kantor nomor ponselnya tidak aktif dan Bos Reza juga tidak bisa saya hubungi. Dan berkas yang dibutuhkan dibawa oleh Tuan Glen saat ini,"


"Baik, begini saja kamu sampaikan pada klien itu untuk menunggu 30 menit. Saya akan ke rumah Reza."


"Terima kasih, tuan!"


Tut,


"Siapa?" tanya Mei.


"Orang kantor Reza, bener-bener deh dia ngurus perusahaan seperti ngurus toko kelontong." Zack kesal.


Zack hendak keluar kamar.


"Maksudnya gimana?" Mei menahan.


"Di kantor sekarang ada klien yang menunggu dan sudah ada janji. Glen yang bertanggung jawab malah menghilang, terus Rezanya juga nggak bisa dihubungi."


"Wah, bau-baunya Glen dipecat abis ini," cicit Mei.


"Entahlah, tumben banget itu sekretaris rajin ngilang tanpa kabar. Aku ke rumah Reza dulu ya, sayang!" pamit Zack.


"Okay!" jawab Mei.


Zack bergegas ke rumah Reza. Rumah Reza masih terlihat sepi. Zack memencet bel rumahnya beberapa kali. Baru ada suara dari dalam yang menyahut, terdengar seperti suara Reza.


Ceklek,


"Eh lo," pekik Reza.


"Lo bisa ngurus perusahaan nggak sih, Za?" Zack to the point.


"Bisalah," jawab Reza sedikit sewot, Zack datang-datang sudah marah tidak jelas.


"HP lo mana? Kenapa nggak bisa dihubungi? Di kantor lo ada klien nunggu noh! Sekretaris lo yang pelit itu ngilang nggak tau kemana juga, berkasnya ada di dia loh! Orang kantor lo sampai nelpon gua," seru Zack.

__ADS_1


"****!" umpat Reza.


Reza masuk ke dalam. Ia mencari ponselnya. Zack juga masuk ke rumah Reza. Ternyata ponselnya masih di charge di dekat sofa ruang tengah. Ketika sudah ia nyalakan ada begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk.


"Wait wait.... Glen ada kirim pesan nih!" pekik Reza.


Zack mendekat.


Bos, meeting hari ini saya digantikan Celo ya. Berkasnya sudah saya kirimkan dengan jasa kurir ke kantor.


"Glen udah ada pengganti, orang kepercayaan gua juga!" ucap Reza lega.


Kemudian ponsel Reza bergetar, ada panggilan dari kantor. Reza angkat telpon itu.


"Halo, bagaimana? Glen mengirim pesan kepada saya tadi, dia bilang sudah ada gantinya di meeting hari ini,"


".................."


"Baiklah,"


Tut,


Zack menatap Reza, penasaran ada telpon apa lagi.


"Pengganti Glen sudah datang baru saja, berkasnya juga ada. Meetingnya juga akan dimulai." ucap Reza.


"Bagus deh! Lain kali HP jangan sampai mati!" cicit Zack.


"Gua lupa,"


Silvi datang menghampiri mereka.


"Oh, Bang Zack yang dateng, kirain siapa!" seloroh Silvi.


Silvi berpakaian biasa tapi kepalanya masih menggunakan handuk untuk menggulung rambutnya yang basah. Zack gagal fokus menatap ke leher Silvi.


"Pantes nggak bisa dihubungin, rumah sepi..." seloroh Zack.


Zack berkata demikian saat Silvi menjauh dari mereka berdua dan menuju dapur.


"Yeah lo tau sendiri... Mumpung Arion tidur, bro!" Reza menyengir.


Zack tertawa.


"By the way, tumben banget sekretaris lo nggak ngantor?" tanya Zack.


"Nggak tau juga, padahal tadi udah dateng pagi-pagi banget ke sini, matahari aja belum terbit!"


"Dia ada masalah?" tanya Zack.


"Lo inget kan, kemarin Dave ceritain ke lo kalau Glen naksir cewek? Nah pagi tadi itu abis ngambil berkas di sini, dia pergi ke rumah cewek itu. Ceritanya mau menyatakan perasaan." jawab Reza.


"Gawat, Za! Jangan-jangan dia ditolak!" pekik Zack.


Reza diam sejenak.


"Bener juga, nggak biasanya Glen begini dalam urusan kantor."


"Secara ini kan first love-nya dia. Pasti patah hati tuh," seru Zack.


"Dia kemana ya?" Reza khawatir.


"Gua takutnya dia lompat ke sungai,"


"Jangan ngomong aneh-aneh lo!" protes Reza.


"Siapa tau aja, dia baru pertama kali suka cewek, Za! Dia juga cuma kirim pesan itu terus nomornya nggak aktif, kan? Pasti sengaja biar nggak ada yang menelpon dia!"


"Harus dicari nih!"


"Bener, lo cari dia! Setelah gua check kondisi kantor nanti, gua langsung bantu!" sahut Zack.


"Okay, thanks!" jawab Reza.


Zack kembali ke rumahnya dan bersiap ke kantor. Sementara Reza, dia mengambil jaket dan kunci mobil. Ia juga berpamitan pada Silvi, Glen harus dicari.

__ADS_1


.................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2