Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
SIAGA


__ADS_3

Reza dan Zack tampak kikuk di meja makan. Mulut mereka memang mengunyah makanan ringan yang tersedia, tapi pikiran mereka tidak tenang. Justru Dave terlihat santai di kursi seberang.


"Ehem," Zack berdehem agar Dave menatapnya.


Dave peka, ia langsung menatap Zack, " Kalau seret minum dulu," ucapnya.


Zack mengambil gelas di samping tangannya. Jus semangka buatan para istri dalam gelas itu diteguknya sampai habis tak tersisa. Kedua matanya menatap Dave, Dave juga menatap Zack. Bahkan karena kesalnya, Zack sampai beberapa kali menendang kaki Dave.


Kita harus bicara Dave ketenangan kita diusik, batin Zack.


Tidak sekarang bodoh! Jangan biarkan istri-istri kita khawatir, batin Dave.


Kalau tidak sekarang lalu kapan? Lo mau bertindak saat musuh sudah sampai di depan mata lo, batin Zack.


Nanti ada waktunya juga, sekarang senangkan dulu hati istri kita tercinta, batin Dave.


Lo terlalu santai Dave, batin Zack.


"Kalian bisa diam tidak?" Reza tiba-tiba bersuara, semua orang sampai dibuat kaget olehnya.


Dave dan Zack menatap Reza bersamaan.


"Apa liat-liat?" Reza menggertak, "Masih sempat-sempatnya berdebat!"


Zack melongo, bisa-bisanya Reza tau dia sedang berdebat dengan Dave. Padahal mereka berdebatnya sudah lewat jalur telepati. Masih saja Reza bisa meretasnya.


"Kamu kenapa, kak?" Silvi mengelus lembut bahu suaminya itu.


"A-aku tidak apa-apa kok," Reza memaksa tersenyum.


Reza mengusap wajahnya dengan kasar. Feelingnya mungkin terlalu kuat dengan para sahabatnya. Dari tatapan mereka saja Reza bisa tau apa yang ada dalam pikiran mereka.


Semua orang lanjut menikmati makanan ringan dan jus semangkanya. Terutama Glen, mau ada hujan badai petir halilintar pun ia tidak akan peduli. Kepalanya terus tertunduk menikmati sejenis keripik kentang di hadapannya.


Tapi, Zack dan Dave masih diam. Lalu mereka saling menatap lagi.


*Reza sahabat kita banget, batin Zack.


Lo aja gua enggak, batin Dave*.


Zack melengos, Dave tidak asik. Suasana meja makan jadi khusyuk. Masing-masing dari mereka menikmati jus serta camilan. Baru sesaat setelah meja makan kosong, mereka mulai berbincang.


Di saat yang bersamaan ponsel Dave, Zack, Reza, dan Glen berdering. Mereka sama-sama mendapatkan pesan singkat. Tentunya dari Samuel yang mengirimkan pesan langsung ke grub chat mereka.


"Kawasan sekitar markas bersih, Ken mengatakan semua orang dan anjing pelacak tidak menemukan apapun. Kawasan luar hutan juga bersih. Orang tadi sudah pergi tanpa jejak."


Wajah keempat pria itu tegang seketika, masalahnya para istri mereka masih duduk bersama mereka di meja makan sekarang. Sepertinya mereka harus melakukan sesuatu.


"Davin kemana sayang? Apakah dia sudah makan siang tadi, coba kamu cek dulu!" seru Dave.


"Kamu lupa anak sendiri atau bagaimana? Pria kecil ingusan yang mirip denganmu itu sejak tadi duduk di sebelah Glen, di di seberang mejamu itu!" sahut Aryn dengan nada menohok.


"Hello, son!" Dave menyapa Davin, " Aku mabok jus semangka sampai tidak memperhatikan,"


"Daddy daddy..." Davin geleng-geleng melihat kelakuan daddynya.


Glen tertawa.


Sekarang giliran Zack, "Mei...Bukankah film yang kamu tonton bersama Silvi dan Aryn kemarin belum selesai? Kalian tidak mau menontonnya lagi?" tanyanya pada Mei.


Mei menoleh, ia kemudian menatap Silvi dan Aryn. Mendadak wajah mereka bertiga jadi masam.


"Enggak ah, males!" ucap Mei.


"Udah bisa ketebak endingnya," imbuh Aryn.


"Si cowoknya jatuh miskin terus ngemis-ngemis minta balikan, udah basi!" Silvi ikut menyahut.

__ADS_1


"Nonton yang kamu tonton kemarin malam di rumah saja, sayang!" Reza memberikan usul.


"Yang itu? Hadeh, udah nonton separuh. Aku juga udah spoiler ke mereka, film itu sama-sama membosankan, ujung-ujungnya yang musuhan jadi pacaran," jawab Silvi.


"Kami bertiga lagi males nonton film," Aryn menegaskan.


Glen menahan tawa.


Usaha mereka gagal terus, biar aku tunjukkan kehebatan Glen Tampan, batin Glen.


"Ehem ehem," Glen berdehem untuk menarik perhatian ketiga wanita cantik itu.


"Bagaimana kalau kalian menonton film ini saja, baru rilis hari ini loh," Glen menunjukkan ponselnya, di sana ada iklan kdrama baru di salah satu aplikasi berbayar.


"Hmmm," Silvi mendekat untuk melihat.


Mei dan Aryn melakukan hal yang sama.


"Waahhhh! Ternyata rilisnya hari ini ya?" Mei berteriak histeris.


"Sudah lama aku menanti suami keduaku!" Aryn turut histeris.


"Ayo girls, cus kita tonton suami kita!" seru Silvi tak kalah histeris.


"Suami?" lirih Dave, Reza, dan Zack serempak. Mereka saling menatap satu sama lain.


Glen terbahak.


Istri mereka berlarian ke ruang tengah, mereka sampai berebut remote TV. Saat sudah diputar kdrama itu, teriakan mereka terdengar bersahut-sahutan.


Para suami sampai melongo dibuatnya. Istri mereka tidak pernah seantusias itu ketika akan melihat wajah mereka. Glen tidak kuasa menahan tawanya. Sudah bisa ditebak ketiga wanita cantik itu masih menjadi penggila kdrama. Apalagi aktor tampan yang terkenal itu, mana mungkin mereka bisa melewatkannya?


"Bagaimana jurus saya?" tanya Glen sombong.


"Bagus!" jawab ketiganya serempak.


"Glen gitu loh!" Glen menepuk-nepuk dadanya.


"Aku juga penasaran, selama menikah Mei tidak seantusias itu jika melihatku," lirih Zack.


"Aku pun penasaran, hanya karena melihat aktor itu Silvi sampai berlarian seperti lupa kalau sedang hamil," Reza termenung.


Glen menepuk dahinya sendiri.


"Wahai para suami bucin! Galaunya nanti saja, yang jelas aktor itu sangat tampan!" seru Glen.


Plak plak plak,


Tiga tamparan mendarat di pipi Glen, sampai pipi Glen memerah.


"Okay okay, maaf!" Glen menangkupkan kedua tangannya.


"Bos, tuan...Jadi sekarang bagaimana?" lanjut Glen, ia fokus pada pesan yang dikirim Samuel tadi.


"Markas bersih, mereka hanya ingin memata-matai," jawab Dave.


Dave menatap lurus ke depan. Setelah sekian lama mereka vakum dari dunia mafia, hal seperti ini terjadi lagi. Red Blood hanya kumpulan biasa sekarang, masih ada saja yang memata-matai.


"Mungkin mereka berpikir kita masih beroperasi," ucap Dave.


"Jelas-jelas kita meninggalkan bisnis itu, kurasa para pesaing telah mengetahui informasinya." sahut Zack.


"Masalahnya, walaupun Red Blood sudah meninggalkan bisnis gelap itu, Red Blood tidak bubar. Maksudku kita masih tetap menjadi satu, berkumpul bersama. Mereka berpikir keberadaan kita menjadi ancaman untuk mereka. Atau bisa saja mereka berpikir kita hanya mengarang skenario ini, jadi mereka merasa terancam. Isi kepala setiap orang pasti berbeda, kan?" Reza mengatakan pemikirannya.


"Saya sependapat dengan bos!" ucap Glen.


"Red Blood bukan hanya kumpulan, Red Blood keluarga. Apa masalahnya jika bisnis kita tinggalkan tapi kita masih bersama, kita keluarga!" Zack memijat pelipisnya.

__ADS_1


"Kembali lagi, isi kepala setiap manusia berbeda bro!" Reza menepuk bahu Zack.


"Saya sependapat dengan bos," sahut Glen.


Dave mengangguk-angguk, kali ini ia tidak bisa membantah, ia juga setuju dengan pendapat Reza.


"Jadi sekarang kita harus apa?" tanya Zack.


"Biarkan mereka mencari tau apa yang mereka ingin tau, saat mereka tau kebenarannya nanti pasti juga bosan sendiri," jawab Dave.


"Tapi tidak ada salahnya kita tetap siaga, kan? Mereka yang memata-matai Red Blood sampai sekarang bisa juga mempunyai masalah dengan Red Blood, dendam di masa lalu mungkin. Apapun bisa menjadi alasan mereka, sampai kita tau tujuan mereka nanti kita tidak boleh lengah," sahut Reza.


"Yeah, lo tidak bodoh ternyata!" Dave sinis.


"Baru tau? Lo harusnya bangga punya adik ipar secerdas gua!" Reza sewot.


"Hmm," Dave memutar bola matanya malas.


"Saya juga sependapat dengan Bos Reza!" jawab Glen.


Dave, Zack, dan Reza menatap Glen.


"Saya salah apa sekarang?" tanya Glen.


"Ikut-ikutan mulu," keluh Reza.


"Ya karena ucapan bos kan benar," sahut Glen.


Reza memutar bola matanya malas.


"Kita perlu ke markas?" seru Zack.


"Tidak perlu, jika ada banyak orang di markas, mungkin hal buruk akan terjadi," jawab Dave.


"Jadi..." Zack menatap Dave dan Reza.


"Kita gabung aja sama istri kita sekarang, aku penasaran setampan apa aktor itu!" seru Dave.


"Setuju!" Zack mengikuti Dave.


"Suami bucin," Glen terkekeh.


Berbeda dengan Reza, Reza masih tidak berpindah dari kursinya. Entah apa yang dia pikirkan.


"Bos tidak penasaran setampan apa dia?" Glen mengejutkan Reza.


Reza menatap Glen malas, "Tidak," jawabnya.


"Saya tau bos sedang memikirkan hal lain," Glen sok tau.


Reza memutar bola matanya malas. Reza sekarang memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Ia jadi ingat sesuatu.


"Bagaimana tugas yang aku berikan tadi? Sudah ada perkembangan?" tanya Reza.


"Yang tadi siang?" Glen balik bertanya.


"Iyalah!" Reza sewot.


"Saya bukan Spiderman, bos!" jawab Glen.


"Hah?" Reza bingung.


"Tidak mungkin siang bergerak, sorenya langsung mendapat hasil, bos! Tidak semudah itu melakukannya, dia bukan orang sembarangan, besok pagi mungkin baru dikirim hasilnya bos!" Glen menjelaskan.


"Jadi apa hubungannya dengan Spiderman, Gentong!" Reza kesal.


Glen menyengir kuda.

__ADS_1


.........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2