Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
SIAGA 1


__ADS_3

Kedua mata Samuel mengerjap, awalnya masih buram. Hingga akhirnya ia bisa melihat langit-langit kamar yang tidak asing baginya. Ia terduduk, melihat sekeliling.


"Syukurlah Ken selamat," lirihnya saat melihat Ken berbaring di sebelahnya, sahabatnya itu masih terpejam.


Pandangan matanya beralih ke sofa dekat ranjang. Ada Dave, Reza, dan Zack tertidur di sana. Hati Samuel tersentuh melihat ketiga sahabatnya menunggui dirinya dan Ken di kamar itu.


Di sebelah Ken, ada Naina yang duduk di sebuah kursi. Bumil itu tidur terlelap dengan bersandar di lengan suaminya.Samuel turun dari ranjang, ia mendekat ke sofa. Ditatapnya wajah sahabatnya satu per satu.


"Aaaaa...." pekik Zack.


Samuel sampai melonjak ke belakang, saat ia menatap Zack tiba-tiba saja dia bangun.


"Lo ngapain sih deket-deket wajah gua, Sam?" Zack sewot.


"Liat aja," jawab Samuel.


Dave dan Reza berdecak kesal, tidur mereka terganggu oleh keributan Zack.


"Kalian memang sahabat terbaik, bela-belain nunggu gua sama Ken sampai tertidur di sofa begini," ucap Samuel.


"Kita nungguin Ken bukan lo, Samson!" seloroh Reza.


Samuel mencebikkan bibirnya.


"Ken dari tadi belum sadar ya?" tanyanya.


"Sudah. Sudah mesra-mesraan sama Naina malahan, lo yang pingsannya kelewat lama!" sahut Reza.


Benar yang diucapkan Reza. Samuel tidak sadarkan diri lama sekali. Ken yang sakit saja sudah sadar tadi, dan dibantu oleh Naina untuk minum jus. Samuel hanya menyengir kuda menyadari apa yang terjadi padanya.


"Kalian tau sendiri gua paling takut sama darah, mana tadi gendong Ken dari hutan. Ken itu nggak seenteng yang kalian kira. Kecil-kecil begitu berat banget, lutut gua lemes...." keluh Samuel.


"Sebenarnya kenapa Ken bisa terluka?" Zack memotong ucapan Samuel.


"Tadinya gua sama Ken main PS di ruang TV itu. Ken cuma mau ngecek anjing di belakang yang nggonggong terus. Karena dia lama banget, gua susul ke belakang. Taunya di belakang nggak ada orang, malah gua denger suara Ken manggil gua. Waktu gua sampe ke sana, Ken sudah lemas lesu di bawah pohon." jawab Samuel.


"Nggak ada orang sama sekali di sana? Sudah lo cek beneran?" Dave menatap Samuel.


"Iya, cuma ada tupai makan kacang di deket kandang anjing. Apalagi di hutan. Ken tadi sudah sadar, kan? Cuma Ken yang tau kejadiannya," jawab Samuel.


"Ken tadi bilang waktu dia sampai di kandang anjing, ada orang yang memanjat pagar, orang itu lari ke hutan. Ken ke hutan gara-gara ngikutin orang itu. Tiba-tiba aja dari balik pohon ada orang lain yang menusuk perutnya." sahut Zack.


Sambil mendengar percakapan sahabatnya, Reza membuka lagi laptop yang ada di sebelahnya. Tadi ia sempat melihat rekaman CCTV terakhir. Memang ada seorang pria di dalam rekaman itu. Pria itu hanya berjalan mondar-mandir di dekat kandang anjing dan berlari saat Ken sampai di sana.


"Orang itu sengaja agar salah satu dari kalian ke sana. Memang seperti itu rencana mereka," ucap Reza menarik perhatian para sahabatnya.


Langsung saja mereka semua turut menonton rekaman itu.


"Benar, Za!" Samuel setuju.


"Siapa sebenarnya yang mempermainkan Red Blood?" Zack tampak geram.


"Siapapun itu kita harus siaga mulai dari sekarang," sahut Dave.


Mereka semua mengangguk. Ricky masuk ke ruangan itu membawakan makanan untuk mereka semua. Sebenarnya semua anggota sedang makan bersama di ruang makan. Tapi keempat pria tampan itu memilih untuk tetap di ruangan itu saja menjaga Ken.


Naina juga ikut makan, tapi dia tidak banyak bicara. Wajar saja pastilah dia masih shock atas kejadian malang yang menimpa suaminya. Ia tetap duduk di samping Ken.


...+++++++++++...


"Glennnn......." terdengar suara nyaring Aryn memanggil Glen.


Di saat itu juga Glen datang menghampiri Aryn yang sedang menonton film. Di ruang TV juga ada Silvi dan Mei. Ketiga wanita cantik itu sepertinya akan menghabiskan waktunya dengan menonton beberapa film sambil bercengkerama.


"Glen tampan hadir!" ucapnya.


"Balikin ke kulkas ya!" Aryn memberikan botol jus yang lumayan besar.


"Siap, nona!" jawab Glen.


Glen dengan senang hati melakukan apa yang diminta Aryn. Ia mampir sebentar minum soda kemasan yang ia ambil dari dalam kulkas. Rasanya segar sekali, pertama kalinya ia bebas dari tugas kantor. Kalau di kantor di jam segini, biasanya mejanya penuh berkas yang berserakan.


Belum lagi dimarahi bosnya, dan juga mengatur jadwal meeting. Ia tidak jadi menyesal karena ditinggal bosnya. Ia duduk bersantai di bangku pinggir kolam renang, senyumnya merekah. Kakinya ia silangkan ke atas. Kedua tangannya ia gunakan sebagai bantalan.


"Akhirnya bisa santai...." Glen memejamkan matanya.


Semilir angin sejuk menerpa kulitnya. Anginpun mendukung Glen hari ini. Perlahan tapi pasti Glen mulai tertidur. Tiba-tiba saja angin sejuk gang Glen rasakan berubah jadi hangat. Terutama di sekitar wajahnya.

__ADS_1


"Kok jadi anget begini," gumam Glen.


Glen membuka kedua kelopak matanya.


"Hai Uncle Glen!!!" Davin menyengir lebar, dia berada tepat di depan wajah Glen.


Glen menghela napas panjang, baru saja mau bersantai. Kalau Davin sudah cengar-cengir seperti itu kepadanya, artinya Glen tidak akan bisa santai setelah ini.


"Sudah lama nggak main sama uncle...Uncle kemana aja?" tanya Davin lolos.


Mungkin Davin lupa, terakhir kali Glen ke rumahnya dirinya mengerjai Glen menggunakan manggot miliknya. Hal itu yang membuat Glen sempat tidak ingin ke rumah Davin.


"Uncle sibuk hehehe..." Glen berbohong.


"Umm...Apin tau uncle pasti masih takut karena hari itu. Tenang saja uncle, manggotnya sudah nggak ada," Davin menunduk.


"Loh, manggotnya mati?" Glen terkejut.


Davin menggeleng. Tidak, manggot miliknya tidak mati.


"Lalu?" Glen malah penasaran.


"Manggotnya dimakan burung pas Apin ajak berjemur di dekat kolam," jawab Davin.


Hahahaha....


Glen terbahak.


"Uncle....." Davin kesal.


"Eh eh..Maaf maaf...Emm, uncle turut berduka cita," Glen menghentikan tawanya.


"Terima kasih, uncle!" Davin tersenyum.


Entah Glen harus bersedih atau bahagia atas lenyapnya manggot milik Davin.


"Uncle, main yuk!" ajak Davin.


"Okay, uncle mau main! Tapi Apin sekarang kan sudah besar, sudah 6 tahun. Jangan main sumo-sumonan ya!" jawab Glen.


"Balap mobil? Mobil sungguhan? Aduh, siapa yang ngajarin Apin balapan sih, jangan ya! Nggak boleh, bahaya tau! emangnya kaki Apin nyampe ke pedal gasnya?" Glen sewot.


"Astaga, Uncle Glen cerewet banget kayak mommy!" Davin menutup kedua telinganya.


"Balapan mobil yang itu tuh!" Davin menujuk ke mainan mobil balap remotnya.


"Oh...." Glen menghela napas lega.


Kalau hanya diajak balapan mobil remot, Glen dengan senang hati menurutinya. Mereka berdua menggunakan daerah pinggir kolam sebagai lintasan balap mereka.


Balapan mereka berlangsung sengit. Davin sangat mahir menggunakan romote kontrol mobil balapnya. Glen kalah jauh, bahkan mobilnya beberapa kali hampir tercebur ke kolam renang.


"Gleeennnnn!!!!" suara nyaring Silvi terdengar.


Byurr ..


"Oh Gosh!" pekik Glen.


"Uncle kalah!" sorak Davin.


Mobil Glen tercebur ke kolam. Glen mencebikkan bibirnya. Ia kalah dari anak kecil.


"Glen cepat kemariiii!!!" terdengar lagi suara Silvi memanggilnya.


"Sebentar ya, uncle ke sana dulu!" Glen meninggalkan Davin.


Davin sendirian di kolam. Glen berlarian menuju ruang TV sebelum Bu Bosnya marah.


"Glen tampan hadir!" seru Glen begitu ia tiba.


"Buatkan salad buah sekarang!" ucap Silvi.


"Siap, Bu Bos!" mau tidak mau Glen harus mematuhinya.


Glen pergi ke dapur. Tangannya bergerak cepat layaknya juru masak profesional. Satu persatu buah-buahan yang ia siapkan ia potong kecil-kecil. Tidak sampai 10 menit, salad buah ala Glen siap disajikan kepada Bu Bosnya.


"This is it....Salad buah ala Glen tampan!" Glen bergaya di depan Silvi.

__ADS_1


Di ruang TV kini hanya ada Silvi, mungkin Aryn dan Mei beristirahat di kamar.


"Wah wah..." Silvi terlihat antusias.


"Tugas saya sudah selesai kan, Bu Bos? Saya balik ke kolam dulu ya, Apin menunggu!" ucap Glen.


"Iya iya, sana!"


Glen berlarian ke kolam lagi. Lanjut balapan babak dua dengan Davin. Tapi....


"Gleeennnnn!!!" kali ini suara Aryn yang terdengar nyaring memanggil Glen.


"Sebentar ya!" Glen meninggalkan Davin lagi.


Ia berlari, suara Aryn terdengar dari lantai dua. Aryn memanggil Glen dari kamarnya.


"Glen tampan hadir, nona!"


"Bersihkan bagian atas almari itu dengan alat penyedot debu ini!" Aryn menujuk ke arah almari.


"Baiklah nona," Glen melakukan apa yang diminta Aryn.


Aryn mengawasinya sampai Glen selesai. Membersihkan almari lumayan melelahkan juga. Keringat Glen mengalir di dahinya.


"Terima kasih, Glen!" ucap Aryn.


"Sama-sama, nona!" jawab Glen.


Glen meninggalkan kamar Aryn. Ia memutuskan kembali lagi ke kolam renang. Davin menunggunya di sana. Tapi sepertinya tugasnya belum selesai...


"Glennnn!!!" sekarang giliran Mei yang memanggilnya.


Mendengar namanya dipanggil Glen berlari naik ke lantai dua lagi. Mei memanggil dari kamar tamu yang ia gunakan kalau tidur di rumah Aryn.


"Glen tampan hadir di sini!" begitulah yang Glen katakan saat tiba di hadapan Mei.


"Pengen makan spageti nih, Glen!" ucap Mei.


"Sama," jawab Glen.


"Nggak nanya!" Mei sewot.


"Terus saya harus apa, nona?" tanya Glen.


"Buatkan dong, Glen! Sebenernya aku nggak mau juga ngerepotin, tapi kau tau sendiri kan, aku takut nanti peralatan masak Aryn gosong semua," Mei menyengir.


"Baiklah!"


Glen kembali lagi ke lantai bawah, lebih tepatnya ke dapur. Lebih cepat tugasnya selesai makan lebih baik juga. Glen merebus air di dalam panci. Sembari menunggu airnya mendidih Glen menyiapkan sausnya.


Pasta yang masih kaku dan panjang segera ia masukkan ke panci saat airnya sudah mendidih. Kedua tangannya berkerja. Yang satu mengaduk sausnya agar tidak gosong dan yang satunya lagi sesekali mengecek panci.


"Gleeennnnnn!" lagi-lagi namanya dipanggil, Glen tau itu suara Silvi.


"Sebentar, Bu Bos!" sahut Glen.


"Gleennnn!!!!" Aryn juga memanggil Glen.


"Sebentar nona!" Glen menjawab dengan kata-kata yang sama.


Hari bersantai yang ia bayangkan lenyap seketika.


"Gleennnn mana makananku???" kali ini Mei yang memanggilnya.


"Sebentar nona, belum jadi!" jawab Glen dengan berteriak kencang.


Glen mematikan kedua kompornya. Ia tiriskan pasta yang ia rebus tadi. Ia meletakkan di atas piring yang sudah ia siapkan. Lalu ia tuangkan saus buatannya ke atas pasta tadi. Huft...Melelahkan...


"Uncleeee! Ayo balapan belum selesai, kan!" seru Davin.


Glen menatap Davin sekilas, bukannya menjawab Glen malah mengangkat kedua tangannya dan menegadahkannya ke arah atas.


"Bunuh saja aku, Bos! Tugas yang bos berikan hari ini membuatku sengsara..." Glen meratapi nasibnya.


....................


Dukung author dengan like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian!

__ADS_1


__ADS_2