
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, konflik diantara Zack dan Mei belum mereda. Hari ini adalah penentu kehidupan pernikahan mereka. Sekarang pukul 10 pagi, semua anggota keluarga Cavero berkumpul di rumah sakit.
Dave, Samuel, dan Reza turut hadir bersama istri mereka. 14 hari yang lalu dokter sudah mengambil sampel yang diperlukan dalam tes DNA. Ya, hasilnya baru bisa diketahui hari ini. Dokter sendiri yang akan membacakan langsung. Selama 14 hari itu, Cavero melakukan penjagaan ketat pada rumah sakit agar tidak ada pemalsuan hasil.
"Kalau benar itu bukan anakmu, seharusnya kau tidak cemas brother!" Zain menepuk bahu Zack.
Zack tersenyum simpul.
"Singkirkan tangan kotormu dari jaket mahalku," ucapnya.
"Masih bisa tengil di keadaan seperti ini, ya?" Zain tersenyum smrik.
"Bisa tidak kau berhenti menggangguku!" nada ucapan Zack mulai meninggi.
"Tidak..." sahut Zain.
Zack tidak bisa mengontrol emosinya. Ia menarik krah baju yang digunakan Zain. Zain justru tersenyum tengil. Ini yang dia mau, melihat Zack kacau.
"Kau suka sekali mencampuri kehidupanku." ucap Zack.
"Aku tahu kau masih ingat alasanku. Asal kau tahu Zack aku akan memperjuangkan apa yang aku mau," bisik Zain di telinga Zack.
Rahang Zack mengatup rapat, wajahnya memerah karena emosi.
"Berhenti atau papa usir kalian keluar?" Cavero berdiri di tengah-tengah kakak beradik itu.
Zain dan Zack hanya diam dan beringsut menjauh. Zack berdiri di sebelah Reza. Reza menepuk bahu sahabatnya itu. Tatapan mata Reza mengisyaratkan untuk tenang.
Cavero melangkah perlahan mendekati kedua putranya. Kedua tangannya mengepal. Di keadaan seperti ini mereka berdua masih saja bertengkar. Ia sampai lupa kapan terakhir mereka berpelukan.
"Dokter datang!" seru Emmy.
Cavero berbalik dan langsung menghadap dokter. Semua orang melakukan hal yang sama. Di antara semua orang wajah Clara yang paling tegang. Ia tahu betul siapa ayah dari anaknya. Sandiwaranya akan berakhir hari ini. Tapi Zain yang mempunyai ide dari sandiwara ini malah terlihat tenang.
"Akan saya bacakan hasilnya....." Dokter membuka kertas laporan hasil tes DNA.
Semua orang tegang.
"DNA janin dalam kandungan Nona Clara Drainela......Cocok dengan Tuan Zack Johansson." ucap Dokter itu.
Waktu seakan berhenti.
Bruk,
Zack terduduk di lantai marmer yang dingin.
Plak plak plak,
Cavero menampar pipi Zack dengan keras berkali-kali. Cavero melupakan semua rasa amarah dan kekecewaannya. Anak laki-laki yang ia banggakan menjatuhkan harga diri dan kehormatannya.
Emmy memeluk Mei dengan erat. Ia tahu bagaimana kacaunya perasaan Mei sekarang. Mei sendiri hanya diam mematung. Mei tidak menangis, atau mengucapkan apapun. Emmy semakin khawatir.
"Katakan sesuatu pada mama, sayang! Mama tahu kamu kecewa, marah...Menangislah sayang tidak apa..." Emmy menatap menantunya.
Mei tetap diam.
"Mei, jangan diam seperti ini..." Emmy menggoyangkan bahu Mei.
Mei masih saja tetap diam. Lantas Aryn mendekat, ia memeluk sahabatnya dengan erat. Air mata Mei menetes. Baru kemudian Aryn merasakan Mei membalas pelukannya. Pundaknya juga basah oleh air mata Mei.
Samuel dan Dave hanya saling menatap. Mereka tidak menyangka Zack akan berbuat sejauh ini. Tidak ada yang memperhatikan Clara, tidak ada yang sadar wanita itu terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa?" gumamnya.
__ADS_1
Clara menatap Zain. Zain hanya tersenyum simpul ke arahnya. Ada apa ini?
"Kau sebut apa dirimu itu, bro!" Zain berjongkok dihadapan Zack.
Zack menatap Zain dengan tajam.
"Diam kau..." rahang Zack mengeras.
"Sekarang kau harus meninggalkan Mei, dan bertanggung jawab pada Clara, bukan?"
"Tutup mulutmu, Zain!!!" Zack mencekik leher Zain.
"Kenapa? Memang itu kenyataan yang akan terjadi, Zack!" Zain justru tertawa.
Cavero kali ini tidal berniat melerai, ia duduk lemas di kursi tunggu. Ia menenangkan istrinya. Zack semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di leher Zain. Zack menyeret kakaknya itu keluar rumah sakit. Meskipun marah ia sadar tidak boleh ada keributan di dalam rumah sakit. Semua orang ikut keluar.
"Zack..." seru Samuel.
Samuel hendak melerai keduanya. Dave juga sama.
"Jangan!" tiba-tiba Reza menghalangi Samuel dan Dave.
"Minggir, Zack bisa kalap!" seru Dave.
"Sabar dulu," lirih Reza.
Dave dan Samuel saling menatap. Mereka memperhatikan Reza. Kenapa Zain dan Zack tidak boleh dilerai?
Reza maju mendekati Zain dan Zack. Hal itu membuat Dave maupun Samuel semakin bingung. Mereka berdua dilarang mendekati kenapa Reza mendekat?
"Zain....Seorang mantan dosen yang berpendidikan tinggi dan terhormat...." ucap Reza.
Semua mata memandang Reza sekarang.
"Kau terlihat bahagia sekali hari ini. Apakah kau baru mendapat lotre satu juta dollar? Dan kau Clara...Kenapa kau terlihat begitu terkejut? Apa yang mengejutkanmu?" lanjut Reza.
"Lepaskan dia, Zack!" Reza meraih tangan Zack.
Untungnya Zack menurut. Zack melepaskan cengkeramannya. Cengkeramannya tadi kuat, sampai leher Zain kemerahan sekarang. Kakak dari Zack itu sekarang mengusap lehernya pelan.
"Sekarang ayo cerita padaku, Zain! Apa yang membuatmu bahagia seperti ini?" Reza beralih menatap Zain.
"Apa yang kau katakan, jangan banyak omong kosong!"
"Bukan omong kosong. Hmm...Lupakan masalah itu, kita bicarakan saja foto ini, bagaimana?"
Reza mengeluarkan ponselnya. Di layar ponsel Reza, ada foto Clara dan Zain mengobrol di cafe. Zain ingat kejadian yang terjadi di foto itu. Semua orang juga melihat foto itu.
"Ada hubungan apa kamu dengan Clara, Zain?" seru Cavero.
Zain kelabakan.
"Katakan!!!" Emmy menatap tajam putranya.
"Mungkin kau baru akan menjelaskan setelah aku perlihatkan video punyaku, Zain?" seru Reza.
"Kami hanya mengobrol biasa di cafe itu, kebetulan bertemu!" jawab Zain.
"Clara," Reza menatap Clara.
Clara menjadi sedikit gugup.
"Iya, hari itu kami secara tidak sengaja bertemu!" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Hmm, baiklah kalau kalian memilih menjawab begitu." sahut Reza.
"Jangan membuat keadaan semakin buruk!"
"Siapa?" Reza malah bertanya.
"Kau!"
"Justru kaulah yang membuat keadaan semakin buruk!" jawab Reza.
"Lebih baik kau pulang, urus urusanmu sendiri di rumah!"
"Kenapa?" Reza menantang.
Reza memutar video yang ada di ponselnya dengan volume keras. Rencana licik Zain dan Clara terbongkar. Semua orang terkejut, sangat terkejut.
Plak,
"Shhh..." Zain meringis kesakitan.
Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Bukan Zack yang menampar tapi papanya. Zack masih bisa menahan diri. Zack hanya diam, ia kecewa kakaknya merencanakan hal yang keji untuknya.
Di samping itu, ia juga tidak menyangka. Reza membantunya menyelesaikan masalah ini di saat Zack tidak bisa. Sebenarnya Zack juga sudah berusaha tapi ia tidak mendapatkan petunjuk apapun.
"Kau dapat dari mana kelicikan ini ha? Dia itu adikmu sendiri....." seru Cavero.
Zain masih memegangi pipinya. Bekas tamparan papanya masih menyisakan rasa panas dan perih di kulitnya.
"Video itu hanya rekayasa. Kalian lihat kan video itu diambil dari jarak yang lumayan jauh, isinya pasti sudah dimanipulasi." Clara membela diri.
"Kau sahabatnya, kau pasti melakukan ini untuk dia kan?" imbuh Zain, ia tatapannya tidak lepas dari Reza.
"Untuk apa memanipulasi, inilah kenyataannya." jawab Reza santai.
"Baiklah...Sekarang jika video itu kenyataan, kenapa hasil DNA mereka cocok? Bayi dalam kandungan Clara terbukti milik Zack, kan?"
Ucapan Zain barusan berhasil membuat semua orang cemas lagi. Lupakan masalah video, hasil tesnya saja cocok.
"Karena kau yang memanipulasinya!" Reza menunjuk Zain.
Suasana menjadi semakin tegang.
"Za?" Zack menatap Reza, dari tatapan matanya ada banyak pertanyaan.
Reza hanya mengangguk pelan. Mengisyaratkan semua akan baik-baik saja dan berjalan dengan benar.
"Bukankah papaku menjaga ketat rumah sakit ini?" seru Zain.
"Orang seperti kau akan melakukan apapun," jawab Reza.
"Kau punya bukti?" Zain menantang.
"Rupanya kau menantang Reza Albert," lirih Reza.
"Buktikan saja...."
"Gentonggg!!!!" Reza mendadak berteriak memanggil sekretaris kesayangannya.
"Hadirrr!" terdengar sahutan dari Glen.
Semua orang melihat ke sumber suara. Sepersekian detik kemudian mereka terkejut. Glen menggandeng seseorang. Tapi Zain lah yang paling terkejut.
"Kenapa kau masih di sini, sialan!" Zain marah pada pria itu.
__ADS_1
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!