Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
BUKTIKAN !


__ADS_3

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!


.............


Ily bersandar di dinding dapur. Napasnya tidak teratur. Pelayan lain mendekatinya untuk memberikan air mineral. Mereka tahu Ily sedang ketakutan sekarang. Zack yang sedang makan, hanya menoleh sebentar lalu lanjut mengunyah lagi.


"Tuan kenapa masih makan di sini?" seru Ily.


"Suka suka gua dong!" jawab Zack cuek.


"Makan bisa dilanjut nanti lagi, tuan! Itu sahabat tuan sedang dalam masalah serius!" Ily mendekati Zack.


"Jangan berlebihan, Om Erick tadi ramah kok dengan Reza!" Zack menyangkal.


"Bukan! Tapi Tuan Dave....Tuan Dave pulang!" seru Ily.


"Apa? Ini bukan masalah serius lagi, tapi bahaya!" Zack langsung beranjak dari duduknya.


Zack meminum soft drink yang ia ambil dari kulkas tadi. Ia bergegas menuju ruang tengah. Tapi saat sampai pembatas dapur, Zack kembali lagi.


"Ada apa lagi, tuan?" tanya Ily.


"Kuenya tinggal satu potong, sayang kalau ditinggal!" Zack mengambil potongan kue terakhir itu lalu pergi.


Zack berjalan cepat menuju ruang tengah. Ia berjalan sambil menikmati kue tadi. Dari kejauhan Zack mendengar suara Dave yang marah-marah, Zack semakin mempercepat langkahnya. Dave terlihat sangat marah, Zack bisa melihat dengan jelas Dave mencengkeram krah jaket levis yang dikenakan Reza. Ia memilih untuk tidak terlalu mendekat.


"Kenapa diam saja?" teriak Dave pada Reza.


Reza hanya menatap Dave. Dari mata Dave, Reza bisa melihat amarah Dave. Dave semakin kencang mencengkeram krah jaket Reza. Awalnya ia datang kemari untuk menemui Silvi dan meminta bantuan Erick untuk merayu Silvi. Tapi sepertinya takdir berkehendak lain. Ia dipertemukan dengan Dave, itu artinya ini kesempatan untuk Reza menjelaskan dan menyakinkan Dave.


"Duduk Dave, tenangkan diri lo! Gua akan jelasin semuanya!" ucap Reza.


"Jelasin apa? Lo pikir gua akan dengerin? Gua tahu betul sebrengsek apa lo itu!" Dave menatap Reza.


Erick beranjak dari duduknya, ia menghampiri Dave. Melepaskan cengkeraman tangan Dave. Erick menepuk bahu Dave untuk meredakan emosi putranya itu.


"Reza benar! Kamu duduk dulu, kita bicarakan semua ini baik-baik!" ucap Erick berusaha menenangkan Dave.


"Ohh... Jadi papa memihak b******n ini?" seru Dave.


Reza menarik napas dalam. Ia berusaha mengontrol emosinya. Jangan sampai emosinya memuncak karena ucapan Dave yang menghinanya. Bagaimanapun juga Dave adalah kakak dari orang yang ia cintai.


"Papa tidak memihak siapapun," jawab Erick.


Dave memalingkan wajahnya. Dave tepat menatap Zack yang berdiri agak berjarak dari mereka. Jika Zack ada di sini, berarti Zack juga Ikut andil atas kedatangan Reza. Dave menghampiri Zack.


"Lo yang bawa dia kemari?" tanya Dave.

__ADS_1


Zack gelagapan, ia yang masih sibuk mengunyah kuenya tadi langsung menelan habis semuanya. Zack hanya menjawab Dave dengan anggukan.


"Lo lupa, b******n ini tidak boleh menginjakkan kakinya di mansionku lagi?" teriak Dave pada Zack.


"Sorry Dave, gua hanya ingin membantu Reza. Gua juga ingin persahabatan kita seperti dulu lagi..." lirih Zack.


"Persahabatan? Cuihh..."


Dave merogoh saku belakang celananya. Ia mencari benda kesayangannya, tentu saja pisau kesayangannya. Erick yang sudah tahu gelagat Dave, langsung menghampiri putranya itu.


"Tenangkan dirimu dulu, Dave!" Erick menarik lengan Dave.


Erick mendudukkan Dave dengan paksa di sofa. Saat Dave hendak bangun, Erick menahan putranya.


"Reza, bicaralah!" perintah Erick. Reza mengangguk yakin.


"Dave, gua tahu lo benci banget sama gua! Lo bisa mukul gua sepuas hati lo! Tapi beri gua kesempatan untuk membuktikan keseriusan gua! Kita nggak bisa memilih dengan siapa kita akan jatuh cinta. Gua mencintai Silvi dengan tulus. Mungkin dulu gua suka main-main dengan wanita. Tapi asal lo tahu, semenjak gua jatuh cinta dengan adik lo, hati gua udah mati rasa untuk wanita lain!" ucap Reza dengan sungguh-sungguh.


"Lo pikir gua percaya? Gua masih inget, Za! Bagaimana dengan yang lo lakuin untuk Aryn, semua perlakuan lo sama dia. Gua inget semua. Lo berubahpun itu karena lo suka sama Aryn, kan? Siapa yang bisa menjamin kalau lo sekarang beneran cinta sama Silvi bukan Aryn lagi? Nggak ada, Za! Gua kenal lo itu udah lama, gua tahu semuanya tentang hidup lo!" sahut Dave.


"Oh, jadi lo masih ragu? Saat Aryn resmi menjadi istri lo, di saat itu juga gua kubur perasaan gua! Kalaupun waktu itu gua bantu Aryn kabur, itu bukan karena gua mau memisahkan kalian! Tapi gua hanya bersikap sebagai seorang pria saja, gua bantu dia hanya karena kasihan tidak lebih. Perasaan gua sekarang cuma buat Silvi," lirih Reza.


Dave terdiam, ucapan Reza masuk ke hatinya. Bagaimanapun juga, ia bersahabat dengan Reza sudah sangat lama. Dari caranya berbicarapun Dave sudah tahu Reza sedang berbohong atau serius. Untuk masalah Aryn, Dave percaya Reza sudah tidak menyukai Aryn lagi. Tapi sifat Reza di masa lalu masih mengganggu pikirannya. Silvi adik perempuan satu-satunya, ia tidak bisa percaya begitu saja pada mantan casanova.


Erick sudah tidak terkejut lagi, ia tahu dulu Reza sempat suka pada Aryn. Silvi yang mengatakannya. Sementara Zack, ia terkejut bukan main. Rupanya selain masa lalu Reza sebagai casanova, ternyata Reza dulu juga menyukai Aryn istri sahabatnya sendiri. Zack jadi paham mengapa dulu Dave sangat marah sampai tidak ingin melihat Reza lagi setelah tahu Silvi menyukai Reza. Sebagai kakak, Dave pasti ingin melindungi adiknya.


"Benar itu, kamu masih kurang bukti? Lihatlah sekarang, Reza rela datang jauh-jauh untuk meluruskan kesalahpahamannya dengan Silvi. Terbukti kan dia serius?" sahut Erick.


"Lo menjalin hubungan dengan Silvi di belakang gua?" Dave menatap Reza.


"Iya," jawab Reza singkat, padat, dan jelas.


Bugh,


Reza mendapat bogem mentah dari Dave dan mendarat keras di pipi kanannya. Ia meringis menahan sakit.


Bugh,


Satu bogem mentah Reza terima lagi. Kali ini mendarat tepat di pipi kanannya lagi. Lebih keras, hingga membuat sudut bibirnya sobek. Reza meringis kesakitan, ia mengelap sudut bibirnya. Ada darah keluar dari sudut bibirnya.


"Darah..." gumam Reza.


"Lo itu...." Dave mencengkeram krah jaket Reza dengan kuat sampai memaksanya berdiri.


Kali ini emosi Reza memuncak, ia menatap Dave dengan tatapan tajam. Ia berusaha menarik tangan Dave yang mencengkeram krah jaketnya. Erick dan Zack langsung mendekat. Zack berusaha menarik Reza agar menjauh. Sementara Erick, ia menarik Dave.


"Berani lo sama gua?" teriak Dave.

__ADS_1


"Kenapa gua harus takut? Gua hanya memperjuangkan cinta gua," ucap Reza dengan lantang.


"Dave, tenang! Kalau dengan emosi masalah ini akan semakin rumit!" Erick menepuk bahu Dave.


Tidak lama kemudian, Glen sampai. Glen sayup-sayup mendengar suara orang yang berdebat. Ia segera masuk ke dalam.


"Bos?" seru Glen, napasnya ngos-ngosan.


Reza hanya menoleh. Glen merasa terkejut, ada darah di sudut bibir Reza. Glen bergegas menghampiri Reza. Kedua mata Reza menatap tajam Dave, lalu ia menampilkan senyum devilnya.


"Bos, relax bos! Jangan sampai kumat hari ini apalagi di sini!" Glen berbisik di telinga Reza.


Reza memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam. Ia bersusah payah mengontrol emosinya. Tangannya bergerak meraba saku celananya. Ada pisau kecil yang selalu dibawa Reza kemanapun. Yang terbayang olehnya sekarang adalah darah segar yang mengucur dari tubuh Dave. Fantasi liar muncul di pikirannya, bahkan ia bisa melihat darah sekarang.


"Bayangkan wajah Nona Silvi, bos! Relax..." Glen menahan tangan Reza yang hendak merogoh saku celananya.


Reza terdiam, kali ini wajah Silvi yang muncul di pikirannya. Perlahan tapi pasti Reza mulai tenang. Glen menghela napas lega. Semoga tidak ada pertumpahan darah.


"Dave, berikan sekali saja kesempatan untuk Reza!" seru Zack.


"Sifatnya di masa lalu memang bisa dirubah. Tapi bagaimana dengan sifat manjanya yang sudah mendarah daging? Papa mungkin tidak tahu, Reza ini anak manja. Hidupnya diawasi dan disponsori maminya. Apakah pria manja ini bisa membahagiakan Silvi?" sahut Dave.


"Gua emang anak mami yang manja, Dave! Gua akui itu. Tapi karena lo usir gua hari itu, gua bersedia meneruskan perusahaan keluarga! Gua yang lo bilang anak manja ini mampu kok mengelola perusahaan! Gua juga punya usaha yang gua bangun sendiri di luar perusahaan! Lo juga tahu sendiri walaupun perusahaan keluarga gua lebih besar dari perusahaan lo, tapi dulu gua lebih memilih mandiri dan bergabung dengan usaha lo! Apakah itu kurang?" Reza berbicara tanpa menatap Dave.


"Kamu dengar itu, Dave?" seru Erick.


Dave menatap Reza, ucapan Reza semuanya benar. Dave memejamkan matanya. Otaknya memutar kembali memori di masa lalu. Dave teringat Silvi dulu sampai menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk melindungi Reza. Silvi sangat mencintai Reza. Tapi sebagai kakak, ia masih mencemaskan adiknya. Haruskah ia memberikan kesempatan untuk Reza? Dave terlihat gelisah, ia menimbang-nimbang keputusannya.


"Ayolah, Tuan Dave! Kasih kesempatan untuk bos saya! Kasihan dia, dia masih harus merayu Nona Silvi yang sedang ngambek loh!" celetuk Glen.


"DIAM!!" seru Erick, Dave, dan Reza bersamaan.


Nyali Glen langsung menciut, ia menutup mulutnya rapat-rapat.


"Berikan kesempatan, Dave! Silvi tidak pernah mengatakan apapun padamu karena ia takut padamu. Tapi Silvi selalu bercerita pada papa, papa tahu betul bagaimana perasaan adikmu saat ini!" seru Erick.


Dave menatap Reza cukup lama, "BUKTIKAN!" seru Dave dengan penuh penekanan di setiap abjadnya.


Tanpa mendengar apapun dari Reza, Dave langsung melangkah pergi menuju kamarnya. Tujuannya pulang ke mansion tadi untuk mengambil berkas rahasia yang tertinggal. Baik Reza, Erick, Glen, dan Zack masih terdiam sampai Dave kembali dari kamarnya. Saat hendak melewati ruang tengah, Dave menatap semua orang. Tatapan matanya berakhir pada Reza.


"Tapi jika sekali saja Silvi menangis, mati lo ditangan gua sendiri!" seru Dave sebelum pergi kembali ke kantor.


Semua orang masih terdiam sampai Dave benar-benar pergi dari mansion itu. Mereka seperti masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Dave.


"Yuhuuuu! Akhirnya bos!" Glen bersorak.


.........................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2