Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KENA TERUS


__ADS_3

"Jalannya lihat ke depan, nanti nabrak lagi!" seru Zack.


Zack dan Mei baru saja tiba di depan apartemen Mei. Mei bergegas turun mengabaikan ucapan Zack. Hari ini gara-gara Zack dahinya benjol sangat besar.


"Nggak usah sok peduli, aku begini juga gara-gara kau!" sahut Mei dengan sengit.


"Oh iya, gara-gara senyum manisku?" Zack menggoda.


"Justru bukan karena manis tapi creepy," sahut Mei.


"Yang benar? Kau sendiri yang mengatakannya, aku punya rekamannya di ponselku!" Zack menunjukkan ponselnya.


"Bohong!" seru Mei.


"Nggak percaya? Ya sudah..." Zack terkekeh.


"Tau ah!" Mei kesal.


"Kompres dahimu dengan air hangat, besok akan membaik!" seru Zack.


"Kompres secara teratur, kompres dengan kain yang lembut agar dahimu tidak semakin sakit nanti!" lanjut Zack.


Mei menghentikan langkahnya, ternyata dibalik sikap Zack yang selalu mencari masalah dengannya, Zack juga perhatian dengannya.


"Sudah, jangan tersipu malu begitu! Nanti nabrak lagi, wlekk!" Zack menjulurkan lidahnya mengejek Mei.


"Dasarr!!" Mei melangkah masuk ke gedung apartemen dengan kesal.


Apartemen Mei yang baru tidak satu gedung dengan apartemen Zack lagi seperti dulu. Sebenarnya Mei kemarin ingin memilih yang satu gedung, tapi Zack yang sengaja tidak ingin satu gedung dengannya. Jadi yasudahlah!


Mei merasa sangat sial hari ini. Pak Dosen tampan tadi sudah melihat kondisinya, dia pasti sangat ilfeel dengan Mei sekarang. Wajah Mei tadi pasti terlihat sangat buruk di hadapan Pak Zain ganteng. Gara-gara benjolan ini ia juga harus kembali pulang meninggalkan mata kuliah penting hari ini.


Zack melihat Mei berjalan masuk ke gedung apartemen dengan menghentakkan kakinya dengan keras. Persis seperti anak kecil yang sedang marah. Zack hanya bisa tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Cewek antik, semua yang dia lakukan selalu antik!" gumam Zack.


Setelah memastikan Mei sampai di apartemennya dengan aman dan selamat, Zack bergegas pergi. Ia akan pergi ke kantor, ia sudah terlambat. Dave pasti akan memarahinya. Tapi Zack harus bersyukur, sekarang Ken diminta Dave untuk bekerja kembali sebagai sekretarisnya. Dengan begitu pekerjaan Zack akan berkurang. Semenjak Ken dipindah tugas waktu itu dialah yang harus menjadi orang kepercayaan Dave.


 ----------------------------------


Reza dan Glen sampai di apartemen. Reza tengah duduk santai di sofa setelah melakukan aktifitas yang lumayan ekstrim pagi ini. Sekarang ia hanya tinggal menunggu laporan dari anak buahnya. Sebenarnya Reza masih memikirkan tentang kemunculan Bryan yang tiba-tiba membantunya. Feelingnya mengatakan, Bryan bukan orang yang baik.


Tapi biarlah hasil penyelidikan anak buahnya yang menentukan baik buruknya Bryan. Siapa tahu nanti ia dapat kabar bagus. Dapat kabar tentang pria itu sekaligus tentang Bryan. Pasti akan sangat menyenangkan jika mendapat dua laporan sekaligus. Sementara Glen, ia datang dari dapur dengan kedua tangannya memegang air minum dingin dan sepotong kue coklat sisa kemarin.


"Enak?" tanya Reza.


"Iya, bos! Apalagi habis kerja berat tadi, lapar!" jawab Glen.


"Yang masuk ke rumah itu aku, yang kerja berat aku! Kau hanya duduk diam mengawasi dari dalam mobil!" Reza mendengus.

__ADS_1


"Mengawasi dari mobil juga butuh tenaga, bos! Saya harus melihat ke sekeliling, satu detik saja saya lengah kita semua bisa mati tadi!" Glen lanjut mengunyah makanan.


"Lalu pergi kemana sarapan pagi menjelang siang tadi? Baru dua jam sudah lapar? Kalau rakus ya sudah akui saja rakus!" seru Reza.


"Ini sudah siang, bos! Waktunya makan siang," jawab Glen enteng.


"Seharusnya namamu itu bukan Glen, tapi Gentong!!" Reza meninggalkan Glen sendirian di ruang tamu.


"Bos...." rengek Glen.


"GENTONG!!!" teriak Reza dari dalam kamarnya.


"Bos jangan begitu! Lebih baik bos minum obat dulu!" sahut Glen.


"Aku sudah minum obatku, Gentong!" Reza terkekeh.


"Bos, mana ada saya Gentong! Perut saya saja six pack begini!" teriak Glen.


"Jangan menyembunyikan fakta, ya! Kemarin aku melihatmu saat kau selesai mandi! Baby bump-mu kelihatan!" Reza tertawa dengan keras.


"Jadi bos mengintip saya?" tanya Glen.


Plak,


"Aduh...." pekik Glen.


Baru saja sepatu Reza melayang dan mendarat dengan kasar di wajahnya. Wajah Glen sampai merah karenanya.


"Baiklah, bos! Okay okay..." Glen mengalah.


"Ambilkan sepatuku!" seru Reza.


"Baik, bos!" Glen mengambilkan sepatu Reza.


Reza bergegas masuk ke kamarnya. Ia masih punya banyak waktu sampai Silvi pulang sekolah. Lebih baik ia tidur, akhir-akhir ini ia sering insomnia. Matanya saja sudah seperti panda.


Glen duduk sendiri di ruang tamu. Wajahnya masih terasa panas akibat lemparan sepatu bosnya tadi. Ia mengambil ipad miliknya. Kepalanya langsung berdenyut karena melihat banyaknya email masuk. Email itu berisi laporan perusahaan.


Glen membuka email itu satu per satu, membaca semua laporan dengan teliti. Untungnya ada orang kepercayaan Edgar yang mampu menghandle perusahaan sementara. Menurut Glen, Reza sangat beruntung. Edgar, papa Reza tidak banyak menuntut putranya. Saat Bosnya itu berpamitan pada papanya untuk mengurus masalah di negara ini, papanya langsung mengutus orang kepercayaan untuk menghandle perusahaan. Tapi Edgar tetap memberi batas waktu agar Reza kembali ke Paris segera.


Saat Glen baru saja menyelesaikan penelitian laporan, ada satu email baru yang masuk. Rupanya email dari anak buah yang disuruh Reza tadi. Subjek yang dilampirkan tertulis jika isi email ini data mengenai Bryan. Glen tidak berani membuka, ia memutuskan untuk memanggil Reza saja.


"Bos..." Glen memanggil-manggil Reza dari pintu depan.


"Bos!" Glen memanggil lagi.


Hening, tidak ada jawaban dari dalam. Mungkin Reza sudah tidur. Baiklah, Glen akan menunjukkannya nanti saja jika bosnya keluar kamar. Tapi baru saja Glen balik badan, terdengar suara pintu kamar Reza terbuka. Reflek Glen langsung menoleh, bagus jika bosnya sudah bangun.


"Aaaaa...." Glen berteriak.

__ADS_1


Glen melihat seseorang dengan wajah hitam berdiri di hadapannya. Siapa gerangan makhluk ini?


"Diam kau, Gentong!" seru Reza.


"Katakan siapa kau? Dimana bosku?" teriak Glen.


Plak,


"Auuww..." pekik Glen.


Sebuah sandal menampar pipi Glen dengan lumayan keras, rasanya panas. Yang biasa menamparnya adalah bosnya, jadi makhluk hitam ini bosnya.


"Ini aku!" seru Reza.


"Aduh, sakit bos!" Glen mengelus pipinya yang ditampar sandal.


"Rasakan!"


"Bos terlihat mengerikan dengan masker berwarna hitam itu!" ucap Glen.


"Silvi yang memberikan ini, aku sedang mencobanya! Katakan, kenapa kau berteriak di depan kamarku?" sahut Reza.


"Ini bos!" Glen menyerahkan ipadnya.


Reza membuka email yang dimaksud Glen. Dahinya mengkerut, ia menatap Glen.


"Ada apa bos?" tanya Glen.


"Bryan itu memang penduduk perumahan itu, pegawai kantor biasa," jawab Reza.


"Lalu bos, dia bisa dipercaya?" tanya Glen.


"Tidak ada yang tahu," jawab Reza singkat.


Reza masuk kembali ke dalam kamarnya meninggalkan Glen di luar kamar. Glen bergegas masuk menyusul Reza karena ipad miliknya masih dibawa.


Blam,


Brukkk...


Pintu itu sudah ditutup sebelum Glen masuk. Glen jatuh terjengkang ke lantai. Kepalanya pusing sekali. Dua kali terkena tamparan sepatu dan sandal, kini wajahnya dihantam pintu kayu yang keras.


"Aduh..." keluh Glen.


"Semoga wajahku masih tampan, utuh, dan sehat sentosa! ," Glen meraba wajahnya.


............................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Mohon dukungannya ya, dukungan kalian semangat untuk author!

__ADS_1


Stay healthy!


 


__ADS_2