
Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!
.............
Bruk,
Samuel terjatuh di jok mobil. Ia memejamkan matanya, yang terlintas di otaknya sekarang hanya momen-momen indah bersama keluarga kecilnya. Gambaran wajah istri dan putri kecilnya memenuhi otaknya.
Plak,
"Bangun!" seru Reza.
Samuel langsung membelalakkan kedua matanya. Apa yang terjadi? Apakah ia benar-benar sudah mati? Tapi ia masih di dalam mobil. Ia kebingungan. Samuel meraba seluruh tubuhnya, masih utuh. Ia juga merasakan perih di pipinya yang ditampar tadi. Jika ia merasa perih, berarti dia belum mati.
"Reza!!!" seru Samuel gembira saat melihat Reza di depan kaca mobil.
Samuel bergegas keluar dari mobil. Semua orang yang menyerapnya sudah terkapar di aspal. Ia enggan menatap mereka, ada sedikit rasa takut dalam benaknya. Samuel menatap Reza, ia seperti sedang berhadapan dengan malaikat penolong.
"Lo yang mukul gua?" seru Samuel.
"Iya..." jawab Reza.
"Astaga.....Gua kira lo tadi penjaga neraka, Za! Gua kira, gua sudah mati huhuhu!" Samuel menangis meraung-raung di pelukan Reza. Ia memeluk Reza dengan sangat erat.
"Enak aja penjaga neraka, tampang ganteng gini juga!" protes Reza.
"Terus apa? Malaikat maut?" Samuel meledek.
"Serem semua..." Reza melengos.
"Lo sendiri?" Samuel celingukan melihat sekeliling.
"Kalau cuma 5 orang mah, kecil!" ucap Reza sombong.
Tadi Dave dan Zack akan ikut membantu Samuel, tapi Reza menolak. Di saat seperti ini musuh bisa saja sengaja melakukan serangan di luar agar mereka semua keluar dari mansion. Dan akhirnya orang-orang di mansion lah yang terancam. Jadi Reza memutuskan untuk pergi sendiri. Lagipula kalau hanya lima atau tujuh orang Reza masih sanggup melawan.
"Yeahh..." Samuel memutar bola matanya malas.
"Gua tadi juga mau melawan sebenarnya, tapi keduluan lo!" imbuh Samuel.
"Really? Dilihat dari ekspresi ketakutan lo, gua nggak yakin!" Reza meledek.
"Cih..." Samuel mendengus kesal.
__ADS_1
"Yaudah, gua percaya! Lo pulang sendiri kalau gitu, silahkan!" Reza berjalan kembali ke mobilnya meninggalkan Samuel sendirian.
"Reza, Reza... Anterin gua! Mobil gua kempes bannya, kena tembak tadi!" Samuel menyusul Reza.
"Yeah...Selalu saja ada alasan," jawab Reza.
"Kita jadi pensiun enggak sih?" celetuk Samuel .
"Kita? Lo aja kali, gua sudah ditendang dari geng! Gua bantu kalian itu hanya karena kalian sahabat gua," jawab Reza santai.
"Astaga...So sweet banget!" sahut Samuel.
"Gua pengen cepat pensiun, nggak mau mati sia-sia! Anak dan istri butuh gua!" imbuh Samuel, ia menatap lurus ke luar kaca mobil.
"Yakin bisa pensiun? Percaya sama gua, nanti pensiun dari gengnya Dave, lo direkrut mertua lo!" Reza terkekeh.
"Iya ya....." jawab Samuel, nadanya menunjukkan kepasrahan.
Keduanya meninggalkan tempat kejadian. Reza mengantarkan Samuel sampai di depan pintu rumahnya. Tempat kejadian tadi sudah dibereskan oleh anak buah Reza. Glen tidak ikut, karena ia takut katanya.
"Thank you Babang Reza!" Samuel masuk ke rumahnya.
"Bye Mr. Alay!" jawab Reza dengan tatapan sebal.
Sekarang Reza kembali ke mansion Dave. Selama di perjalanan, Reza memikirkan siapa dalang dibalik serangkaian serangan ini. Tapi, kemudian ia ingat tujuan lainnya datang ke negara ini. Ada urusan yang harus ia selesaikan. Mumpung sedang di luar, Reza akan mengurus urusannya.
Dari kejauhan Reza melihat sebuah mobil jeep hitam datang dan masuk ke rumah yang menjadi target Reza. Reza memicingkan matanya, sosok yang ia cari turun dari mobil itu. Seorang pria setengah tua dengan perut buncit. Di dalam gerbang terlihat banyak penjaga yang menjaga rumah itu. Yang membuat Reza semakin geram dengan orang itu, dua orang penjaga mengeluarkan dua gadis muda dari mobil jeep tadi secara paksa. Saat dibawa menghadap orang itu, kedua gadis ditampar dengan keras karena memberontak.
"Sialan!" gumam Reza.
Ingin rasanya Reza langsung terjun menghajar orang itu. Beraninya berbuat kasar dengan wanita. Tapi Reza sadar posisi dan sadar kekuatan. Penjaga di sana ada banyak sedangkan Reza hanya sendirian. Ia menyesal kenapa tidak membawa seorangpun anak buah bersamanya. Reza kembali mengamati rumah itu.
Pintu gerbang rumah itu langsung ditutup saat kedua gadis itu tersungkur di tanah. Akhirnya hanya teropong yang bisa Reza andalkan sekarang. Reza menggunakan teropongnya. Pria berperut buncit masuk melalui pintu depan. Sementara kedua gadis muda tadi dibawa ke pintu lain, seperti garasi. Fix, ada kegiatan tidak benar di rumah itu. Ia menggunakan ponselnya untuk memotret rumah dan mobil yang ada di halamannya. Siapa tahu nanti dibutuhkan.
Reza juga memperhatikan baik-baik kondisi rumah itu. Menghitung kira-kira jumlah orang yang berjaga. Lantas ia meninggalkan rumah itu. Untuk hari ini cukup sampai di sini. Ia juga sudah menelpon anak buahnya untuk meneruskan mengamati rumah ini. Sekarang saatnya ia kembali ke mansion Dave. Semua orang pasti sedang mencarinya.Apalagi Silvi, gadis kecilnya itu sudah menelponnya puluhan kali. Reza mengangkat telepon dari Silvi, sebelum dia marah.
"Kak Reza ada dimana sih?"
Reza menjauhkan ponselnya dari telinga. Astaga! Suara Silvi keras sekali, padahal lewat telepon tapi terdengar keras sekali. Tidak terbayang jika diteriaki langsung.
"Iya iya, tidak usah teriak Silvi! Aku tidak tuli...Ini aku mau pulang ini!" jawab Reza.
"Aku tanya Kak Reza ada dimana?"
__ADS_1
"Di jalan," Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jalan mana? Sudah bertemu Babang Samuel belum? Kenapa sampai jam segini belum pulang?"
"Aku main dulu sebentar hehehe..." Reza mencari alasan.
"Cepat pulang!"
Tut,
"Hallo...Silvi? Hallo..." seru Reza di telepon.
Sambungan teleponnya ternyata sudah diputuskan oleh Silvi. Kalau begini Reza harus segera pulang. Reza melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.
Reza sampai di mansion saat hari sudah gelap.Mansion pun sudah sepi, sepertinya semua orang sudah tidur di kamar masing-masing. Reza ragu, ia menemui Silvi dulu atau langsung ke kamarnya.
"Daripada dia marah terus," Reza akhirnya memutuskan untuk ke kamar Silvi dulu.
Reza berjalan pelan menuju kamar Silvi. Jangan tanya Reza bisa masuk ke kamar Silvi atau tidak. Jelas bisa, Reza tahu semua hal tentang Silvi termasuk password pintu kamar Silvi.
Ceklek,
Nampak Silvi sudah bergumul di bawah selimut tebal bergambar kartun kesukaannya. Baju tidur yang dikenakan juga bergambar tokoh yang sama. Hanya di lihat dari baju dan selimut saja terlihat jelas sifat kekanak-kanakkan Silvi. Reza mendekat ke ranjang Silvi. Ia mengelus pucuk kepala Silvi, rambut gadis kecilnya itu semrawutan kemana-mana.
"Aku sudah pulang, jangan khawatir!" bisik Reza di telinga Silvi.
"Hmmm.." Silvi merubah posisi tidurnya karena terusik oleh kehadiran Reza.
"Astaga sudah ada pulau di bantalmu," Reza terkekeh.
Karena Silvi merubah posisinya, Reza jadi bisa melihat bantal Silvi yang berpulau-pulau. Reza mengambil gambar Silvi dengan ponselnya.
"Inilah yang membuatku klepek-klepek denganmu..." Reza memasang foto tadi sebagai wallpaper di ponselnya.
Ia cukup lama menatap Silvi yang tertidur pulas. Reza mengecup pucuk kepala Silvi sekilas.
"Selamat tidur! Jangan lupa bangun pagi..." ucap Reza dengan lembut.
Reza meninggalkan kamar Silvi. Ia membuka pintu dari dalam kamar dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur Silvi. Begitu juga saat akan menutup, sangat hati-hati sekali. Baru saja Reza menutup pintu, bahunya ditepuk oleh seseorang.
Puk,
Reza menelan salivanya dengan bersusah payah. Jangan sampai Dave yang ada di belakangnya sekarang. Bisa habis dirinya karena keluar dari kamar Silvi tengah malam. Ia mengatur napasnya, bersiap membalik badan.
__ADS_1
...................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya! Love you all. Maafkan kalau author suka telat update. Bukan karena malas, tapi percayalah author sedang sibuk di dunia nyata hehehe...