Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
READY TO WAR


__ADS_3

Luka jahitan di perut Ken berangsur kering. Perawatan terbaik yang diberikan membuat proses pemulihan Ken kian cepat. Apalagi istri dan keempat sahabatnya senantiasa mendukung dan menemani.


Naina tidak pernah meninggalkan sisi Ken. Ada kalanya Ken merasa bersalah. Di saat perut Naina semakin besar karena tengah hamil tua, dirinya justru merepotkannya. Sementara itu keempat sahabatnya setiap hari bergiliran mengunjungi dan turut menjaga Ken.


Ken tidak menyangka keempat sahabatnya itu menjaganya dengan sepenuh hati. Seperti sore ini, giliran Dave dan Zack yang menjaga Ken. Kalau mereka ada di sana pasti perawatan Ken diambil alih. Naina mereka suruh istirahat dan melihat saja.


Hari ini Ken agak susah disuruh untuk makan. Alasannya bosan makan makanan hambar dan sehat setiap hari.


"Cukup, Dave!" Ken menahan tangan Dave yang akan menyuapi makanan lagi ke dalam mulutnya.


"Cukup lo bilang? Baru dua suapan!" Dave sewot.


"Makanannya hambar aku bosan," jawab Ken.


"Makannya sambil liat Naina aja, nanti jadi terasa manis, eeaak!" seloroh Zack.


Naina tertunduk malu.


"Ayo makan lagi!" ucap Dave.


Dave menyuapkan lagi sesendok makanan. Ken menatap campuran potongan sayur rebus dan ayam panggang rasa hambar itu dengan tatapan malas. Terpaksa ia membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu dengan cepat.


Ken tidak bisa mengelak kali ini, Dave menyuapi Ken sampai piringnya benar-benar bersih. Ia juga menyiapkan obat Ken. Sekarang mereka duduk bersama di ranjang sambil mengobrol santai. Naina duduk bersantai di sofa panjang, ia biarkan mereka bertiga mengobrol.


Gedubrak,


Obrolan mereka terhenti ketika ada suara yang terdengar.


"Gua mau cek dulu!" Dave beranjak dari ranjang.


Zack dan Ken mengangguk. Ken memanggil istrinya agar Naina mendekat. Naina terlihat sedang khawatir.


Brak,


Kali ini terdengar suara gedoran pintu dari daerah dapur.


"Gua keluar bentar," Zack berdiri.


"Ada yang aneh di luar, Naina kunci pintunya dari dalam setelah gua keluar!" lanjut Zack.


Naina mengekor di belakang Zack, begitu Zack keluar ia langsung mengunci pintu ruangan itu dengan rapat. Lalu ia kembali memeluk Ken di ranjang, Naina takut sesuatu terjadi pada suaminya lagi.


Sejauh ini tidak ada suara lagi. Dave berjalan ke ruang tengah. Lampu menyala terang karena di luar langit sudah gelap. Anehnya, tidak ada orang di sana.


"Bukankah mereka makan bersama di sini tadi," gumam Dave.


Saat dirinya dan Zack datang tadi ruang tengah ramai. Seperti biasa selalu ada anggota Red Blood yang berkumpul di markas ini. Bukan hanya karena itu kebiasaan mereka, tapi juga Ken diserang beberapa hari lalu jadi makin banyak anggota yang berkumpul bergantian.


Sekarang keadaan itu berbalik. Lampu menyala, tidak ada orang tapi makanan mereka masih ada di atas meja.


"CCTV," gumam Dave.


Langsung saja ia berlari ke ruang kontrol CCTV. Dave merasa ada yang tidak beres.


"Damn!" umpat Dave.


Ruang CCTV dalam keadaan kosong. Dua layar monitor hanya ada di sana sudah rusak parah, tidak bisa digunakan. Ruangan itu kacau, sangat kacau. Dave membuka salah satu lagi meja. Untungnya benda yang dicari Dave masih ada di sana.


Dave merasa geram. Musuh mereka kali ini mempermainkan mereka. Selama Ken dirawat selama itu pula mereka tidak melakukan pergerakan. Bahkan mereka menghilang tanpa jejak.


"Kita liat saja, akan aku keluarkan isi kepala mereka!"


Dave menyelipkan dua buah pistol ke bagian perutnya. Satu lagi, ia masukkan ke dalam saku celana belakang. Ia berlari keluar dari ruangan itu, kedua matanya memicing melihat ke sekitar dengan waspada.

__ADS_1


Rasa terkejut juga dirasakan Zack. Ia sedang berada di dapur sekarang. Tidak ada orang, hanya kekacauan yang ia lihat. Semua isi kulkas berserakan di lantai. Merasa akan ada hal buruk yang terjadi, Zack justru kembali ke kamar Ken lagi.


"Ken...Naina....Kalian dengar suara gua?" Zack menggedor pintu kamar Ken.


"Iya?" sahut Naina.


Naina berjalan cepat ke pintu, ia akan membukakan pintu untuk Zack.


"Jangan dibuka pintunya! Dengar...Sesuatu akan terjadi di sini..." ucap Zack.


"Apa maksudmu, Zack!" Ken yang menyahut.


"Pokoknya lo sama Naina tetap di dalam saja!" jawab Zack.


"Apa yang terjadi?" Naina cemas.


"Naina dengar....Geser sofa untuk menghalang pintu ini. Bila perlu geser juga meja dan kursi kayu itu! Jangan keluar, gua pergi dulu!" jawab Zack.


"Zack...Zack..." seru Naina.


Zack sudah pergi dari sana. Naina menatap Ken bingung. Ken turun dari ranjang perlahan. Ia tau apa yang terjadi. Inilah yang ia takutkan.


"Ayo kita halangi pintu itu, sayang!" Ken memegang ujung sofa.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Naina hampir menangis.


"Semua akan baik-baik saja, ada aku di sini!" Ken memeluk Naina.


Mereka berdua menggeser sofa dan meja untuk menghalangi pintu dengan perlahan karena Ken belum pulih total.


Zack berjalan perlahan, ia selalu melihat ke sekeliling. Kedua saku celananya telah diisi dengan senjata. Di cela antara perut dan celananya juga.


"Tuh kah," lirih Zack.


"Zack!" Dave menghampiri Zack.


"Dave, dapur kacau," sahut Zack.


"Hmm...Ruang CCTV juga kacau dan ini!" Dave menujuk meja di ruang tengah yang acak-acakan.


"Kita hanya menyuapi Ken dan mengobrol sebentar di dalam, mereka sudah memanfaatkan keadaan. Kemana anggota yang lain?" ucap Zack kesal.


"Kita akan tau jawabannya setelah memeriksa keluar markas," jawab Dave.


"Jangan keluar, mereka sengaja ingin kita keluar!"


"Terus? Lo mau mati dikepung di markas sendiri?" Dave menatap Zack tajam.


"Ya, enggak Dave!" Zack menunduk takut.


"Gua akan telpon Samuel, dia akan membantu dari luar!" ucap Dave.


Dave merogoh sakunya, mencari benda hitam berbentuk pipih miliknya. Ia menelpon Samuel.


"Ah ****!" umpat Dave.


"Kenapa? Nomornya nggak aktif?" sahut Zack.


"Pulsa gua abis," jawab Dave.


Zack melengos.


"Gua aja yang telpon! Keburu mereka masuk bunuh kita!" ucapnya.

__ADS_1


Dor...


Tuh kan baru saja Zack menyelesaikan perkataannya, di depan saja terdengar suara tembakan ke atas.


"Ayo cepat!" Dave berlarian duluan ke depan.


Dave tidak langsung keluar, ia melihat dari jendela. Zack berlarian menyusul, disamping itu tangannya sibuk menghubungi nomor Samuel beberapa kali. Tapi hasilnya sama saja.


"Samuel nggak bisa dihubungi, Dave!" ucap Zack.


Dave semakin emosi. Hanya tersisa dua orang, dirinya dan Zack. Di depan markas, seorang pria duduk di atas mobil Dave. Sepertinya pria itu yang tadi menembakkan peluru ke langit, karena tangannya masih menggenggam pistol dan mengarahkannya ke atas.


Bukan hanya karena pria itu menduduki mobilnya, Dave emosi juga karena tidak hanya pria itu saja di depan. Kedua mata Dave bisa menangkap orang-orang yang bersembunyi di balik pagar depan, tanaman, bahkan ada yang dari pagar samping. Mereka semua mengarahkan senjata ke arah markas.


"Fix, kita dikepung! Pantas saja mereka mendadak berhenti mengusik kita, rupanya mereka punya rencana besar!Tidak ada pilihan lagi, hubungi Reza!" ucap Dave.


"Nah gitu dong, Dave!" jawab Zack.


"Nggak usah bawel, cepat hubungi dia!" seru Dave.


Zack menelpon Reza.


"Sial! Nggak aktif juga!" Zack mengumpat.


"Dasar tidak berguna!" Dave turut mengumpat.


Samuel dan Reza sama-sama tidak bisa dihubungi saat situasi genting seperti ini. Kepercayaan Dave dengan Reza luntur kembali. Adik iparnya itu tidak bisa diandalkan.


"Sekarang bagaimana?" Zack bingung.


"Ikut gua!" seru Dave.


Zack mengekor di belakang Dave. Sebenarnya dia bingung, pasalnya Dave malah mengajaknya ke ruang belakang. Ruangan itu digunakan untuk menyimpan barang dan juga ada kotak listrik untuk seluruh markas. Tombol-tombol kotak itulah yang mengendalikan listrik di sana.


"Tutup pintunya!" seru Dave.


Blam,


Pintu ruangan itu ditutup oleh Zack dengan sedikit kasar.


"Kita sembunyi?" tanya Zack heran.


"Diamlah dan tetap waspada!" ucap Dave.


Klik,


Seketika semua lampu di markas padam. Dave yang mematikannya baru saja.


"Dave lo yakin?"


"Salah sendiri mereka menantang, ini markas kita! Setiap sudut markas ini gua tau meski dalam keadaan gelap, kita habisi mereka di sini!" jawab Dave dengan suara lirih.


"Okay, gua setuju ide lo!" Zack tersenyum simpul.


"Senjata lengkap?" tanya Dave.


"Hah?"


"Lo bawa senjata?" tanya Dave lagi.


"Di sini gelap Dave, gua nggak bisa denger!" jawab Zack.


.....................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2