Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KEMBALI SEPERTI BIASA


__ADS_3

Tap,


Tap,


Tap,


Reza masuk ke dalam mansion, ia kembali ke mansion sendirian. Anak buahnya berpisah di jalan. Pintu utama dibukakan oleh penjaga. Begitu Reza masuk, semua pasang mata langsung melihatnya. Reza sampai kebingungan.


"Kalian semua kenapa?" tanya Reza.


"Kak Reza!" seru Silvi.


"Kak Reza dari mana saja sih, kenapa susah dihubungi... Di chat tidak balas, ditelpon tidak angkat..." Silvi menatap ke arah Reza.


"Pergi sebentar tadi..." lirih Reza.


Silvi sejak tadi merasa cemas karena Reza tiba-tiba menghilang. Ia berjalan cepat menghampiri Reza. Silvi sudah merentangkan tangannya lebar-lebar.


"Kak...." Silvi hampir memeluk Reza.


Hump,


"Bosss..." Glen menyerobot Silvi, ia memeluk Reza dengan erat.


Reza melotot, ia langsung melepaskan pelukan Glen secara paksa. Ada apa dengan hari ini? Tadi ia mencium waria sekarang dipeluk Glen.


"Astaga! Minggir kau!" Reza melotot pada Glen.


Semua orang terkekeh melihat tingkah Glen dengan bosnya itu. Terlebih Dave, ia tertawa dengan suara yang paling kencang.


"Peluk saja, Glen! Peluk yang erattt!" ledek Dave.


"Sayang...." Aryn menyenggol suaminya.


"Jangan kasih kendor!" imbuh Zack.


Reza menghela napas kasar. Kalau Dave bukan calon kakak iparnya pasti sudah ia gunting bibir monyong Dave yang mengejeknya itu. Sementara Silvi, ia menjewer telinga Glen.


"Auw auw...Sakit nona!" pekik Glen.


"Rasakan.... Siapa kau ini, main peluk-peluk milikku?" ucap Silvi.


"Saya khawatir dengan bos, nona! Kalau bos kenapa-kenapa leher saya ini akan dipotong Nyonya Zela." jawab Glen.


Glen mengelus telinganya yang dijewer Silvi. Untung saja Silvi melepaskan jewerannya. Bahaya juga jika Silvi marah, sama kejamnya seperti bosnya.


"Kau dari mana, Za?" Erick buka suara.


"Tadi Reza cek apartemen, om! Malam ini Reza akan tinggal di apartemen," jawab Reza.


Reza tidak berbohong, karena setelah menyelesaikan urusan di bar tadi dirinya mampir ke apartemen lamanya. Mengecek kondisi apartemennya yang ia tinggal dulu. Kemarin Reza menyuruh orang untuk membereskan dan membersihkan isinya. Dan sekarang siap ditempati lagi.


"Kenapa? Kau tidak suka tinggal di sini? Om sarankan lebih baik kau tinggal di sini, situasi belum aman nak!" ucap Erick.


"Om tenang saja, Reza bisa mengatasi." Reza tersenyum.


"Kamu yakin, nak? Di sini saja lah, kenapa pindah sih?" seru Katy.


"Biarin ajalah, ma! Emang seharusnya dari kemarin begitu," seloroh Dave.


"Dave..." Erick menegur Dave.


"Kak..." Silvi juga menegur kakaknya.


"Sudah sudah...ucapan Dave memang benar, kok!" Reza tersenyum.


Silvi mendelik ke arah Reza. Silvi merasakan ada yang aneh dengan Reza. Padahal baru pagi tadi Reza mengatakan kepadanya kalau dia tidak akan pergi dari mansion sebelum masalahnya selesai. Tapi musuh belum tertangkap, Reza malah memilih pergi dari mansion. Ya walaupun perginya ke apartemen bukan kembali ke Paris, tapi Silvi yakin ada yang tidak beres.

__ADS_1


Reza bahkan tidak mengatakan apapun kepadanya sejak kemarin. Dan sekarang tiba-tiba saja mengatakan ingin pindah ke apartemen lamanya. Apakah Reza sakit hati dengan perlakuan kakaknya?


Sejak pertama kali Reza datang perlakuan Dave tidak baik. Sering sekali merendahkan Reza. Silvi terkadang merasa kasihan, tapi Reza yang mengalaminya saja santai saja. Lantas jika Reza keluar dari mansion apakah hal itu ada hubungannya dengan perlakuan Dave? Atau ada hal lain?


"Aku juga kembali ke apartemen ah!" seloroh Mei.


"Jangan Mei, bagaimana kalau musuh kembali ke apartemenmu dan Zack lagi?" Aryn langsung menyanggah ucapan Mei.


"Benar itu, kamu dan Zack tinggal di sini dulu sementara. Kalau situasi sudah aman dan kalian ingin keluar dari mansion ini, om sarankan kalian pindah apartemen. Cari apartemen baru, apartemen kalian yang lama sudah tidak bisa ditempati. Musuh tahu apartemen itu," Erick menambahi.


"Baiklah kalau kamu maksa..." Mei tersenyum.


Silvi menatap Reza, Ia sangat yakin ada yang tidak benar dengan Reza. Apa iya hanya gara-gara perlakuan Dave?


"Kenapa ke apartemen, kak?" tanya Silvi.


"Apartemen kakak sudah bersih, sayang kalau tidak dipakai." jawab Reza santai.


"Hmmm..." Silvi tidak rela Reza pindah ke apartemennya.


"Gara-gara Kak Dave ya, kak? Jangan dipikirin emang bibirnya lemes dia," bisik Silvi.


"Kamu ini....Jangan bicara seperti itu. Nanti kita tetap akan bertemu, aku akan antar jemput kamu ke sekolah, kok!" Reza menatap Silvi.


"Baiklah..." Silvi mengalah.


Malam itu juga Reza tidak lagi tinggal di mansion Dave. Dia dan Glen menempati apartemen Reza dulu. Mungkin semua orang mengira Reza pindah karena sakit hati dengan perlakuan Dave. Biarlah, biar mereka menganggapnya seperti itu. Lebih sedikit orang yang tahu maka akan lebih baik untuk semuanya.


 


Keesokan harinya,


Setelah dipertimbangkan matang-matang, Dave dan Erick memutuskan agar semua anggota keluarga kembali melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya saja keamanan memang lebih ditingkatkan. Mei dan Zack dalam proses mencari apartemen baru. Masalah yang terjadi belakangan ini tidak boleh membatasi mereka.


Semua orang telah siap. Aryn dan Mei sudah masuk ke dalam mobil, mobil yang mereka tumpangi perlahan meninggalkan halaman mansion. Frans yang mengantarkan mereka, ada juga pengawal yang akan menjaga mereka dari jauh. Disusul oleh Dave dan Zack, mereka akan ke kantor. Erick juga sudah siap dalam mobilnya. Usia tidak menghalangi Erick untuk menjalankan perusahaannya. Yang terakhir adalah Silvi, ia dijemput oleh Reza. Nantinya Reza yang akan mengantar Silvi sekaligus menjemputnya.


"Jadi sepi ya, Uti?" ucap Katy.


"Tidak... Pengawal dan pelayan di sini ada banyak! Uti kadang sampai bingung kalau mau manggil pelayan, tidak hapal nama mereka semua!" Uti terkekeh.


"Panggil Ily saja, Uti! Dia pemimpinnya," jawab Katy.


"Baiklah..."


Uti dan Katy kembali masuk ke dalam mansion. Mereka duduk bersama di ruang tengah. Menikmati teh dan cemilan sembari menonton acara gosip pagi. Katy sangat menikmati waktunya karena Desmon di kamarnya dijaga oleh Sonya. Davin hari ini tidak ingij bermain dengan Sonya, dia lebih memilih bermain bersama Glen. Glen ditinggal Reza di mansion ini. Katanya Reza setelah mengantar Silvi nanti ada urusan penting jadi Glen disuruh menunggu di mansion ini.


"Uncle...uncle..." terdengar Davin berteriak-teriak dengan heboh.


Katy dan Uti saling menatap sebentar. Suara itu terdengar dari halaman belakang. Sepersekian detik kemudian mereka kembali fokus ke televisi. Mereka berdua ingat jika Davin bermain dengan Glen pasti akan menjadi heboh seperti itu.


"Uncle ayo beldili lagiii..." seru Davin.


Glen menghela napas berat, dari sekian banyak tugas kenapa ia harus menjaga Davin lagi? Anak ini juga kenapa maunya hanya main sama dirinya? Glen berdiri dengan susah payah.


"Uncle ciap?" tanya Davin penuh semangat.


"Siapp..." sahut Glen dengan lemas.


"Halus cemangat, uncle..." protes Davin.


"Uncle siaaapppppppp!" seru Glen.


"Ciiaaatttt..." Davin berlari dengan kencang.


Brukkk,


Hahahahahahahaha.....

__ADS_1


Davin tertawa terpingkal saat dirinya dan Glen jatuh ke tanah. Davin berada di atas tubuh Glen. Entah sudah berapa kali mereka jatuh dalam permainan sumo-sumonan ini.


"Sakit Apin...." keluh Glen, kedua matanya sudah berkaca-kaca hampir menangis.


Glen hanya bisa pasrah mengikuti permainan Davin. Gara-gara diajak nonton film sumo oleh Reza, Davin mengajak Glen untuk bermain pagi ini. Jangan meremehkan Davin, walaupun masih kecil tapi tenaganya kuat. Davin akan mengambil ancang-ancang yang jauh dan berlari. Jika Glen tidak tumbang juga, Davin akan menggelitik perut Glen sampai Glen jatuh terguling ke tanah.


"Apin menang..." Davin mengangkat kedua tangannya ke udara.


Glen menepuk tangannya ke tanah berkali-kali seperti dalam pertandingan. Ia menyatakan kalah dari Davin. Lantas penjaga dan beberapa pelayan yang sengaja disuruh Davin untuk menonton bersorak.


"Apin Apin Apin.." mereka semua bersorak.


Apin tersenyum dan membungkukkan badannya kepada penonton. Sungguh drama yang luar biasa.


 


Di kampus,


Aryn dan Mei turun dari mobil, Frans melemparkan senyum untuk menyambut kedua nyonya mudanya.


"Terima kasih, Frans!" ucap Aryn, wajahnya terlihat ceria.


"Sama-sama, nona! Selamat belajar," Frans membungkuk hormat.


Baru saja Aryn dan Mei akan masuk ke kampus, sebuah motor sport berhenti tidak jauh dari mereka. Mei terlihat tidak senang, kedua matanya saja sudah memerah. Sudah pasti semua orang tahu siapa pengendara motor itu. Iya, dia adalah Zain, dosen tampan di kampus ini. Yang membuat Mei tidak suka adalah gadis yang duduk di belakang Zain. Siapa lagi kalau bukan Myra, mahasiswi baru yang kecentilan.


"Ini cewek benar-benar centil!" Mei kesal.


"Duh ada yang cembokur nih..." Aryn menggoda.


"Cemburu sama Myra? Jelas tidak, aku dan dia bagikan bumi dan pluto. Jauh bangettt!" sahut Mei.


"Aryn, Mei...Selamat pagi!" Myra menghampiri Aryn dan Mei.


Aryn dan Mei saling menatap. Aryn tersenyum manis pada Myra.


"Selamat pagi," ucap Aryn.


Zain menghampiri ketiga gadis itu, Mei tidak bisa mengalihkan pandangannya. Dosen tampan itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan saat sedang merapihkan rambut. Apalagi sekarang dia akan menghampiri mereka. Mei sedikit salah tingkah, ia merapihkan bajunya.


"Myra, saya duluan.." ternyata Zain hanya menghampiri Myra.


"Baik, Pak!" jawab Myra.


Sakit...Dada Mei terasa sakit. Zain hanya berpamitan pada Myra, Aryn dan Mei tidak dianggap ada kah? Siapa sebenarnya Myra itu? Selama ini Mei yang ngefans berat dengan Zain saja belum pernah sekalipun dibonceng dengan motor sport itu.


"Rumah kamu dekat dengan Pak Zain, ya?" Aryn penasaran.


"Tidak dekat, apartemen Pak Zain jauh. Kebetulan searah saja..." jawab Myra.


"Kenapa bisa berangkat bareng?" tanya Aryn.


"Tadi mobilku bannya kempes di perjalanan, tidak ada ban cadangan. Kebetulan Pak Zain lewat, Pak Zain mengajakku berangkat bareng. Daripada terlambat masuk kelas ya sudah aku mau saja," Myra tersenyum.


"Dasar centil," lirih Mei.


Mei berjalan duluan meninggalkan Aryn dan Myra. Ia merasa kesal. Aryn masih mengobrol dengan Myra.


"Kalau kamu mau, nanti pulangnya aku antar..." Aryn menawarkan tumpangan.


"Benarkah? Terima kasih banyak," Myra terlihat senang.


"Sama-sama, masuk yuk! Mei sudah masuk duluan itu..." Aryn mengajak Myra masuk ke kampus mereka.


............................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2