
"Hey!!"
Reza berhenti, tinggal satu langkah lagi ia akan sampai di gerbang rumah itu. Tapi ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Anak buah Reza yang berada tidak jauh di sana terkejut. Dia tidak tahu darimana pria itu muncul.
"Saya?" Reza menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan orang itu memanggil dirinya.
"Iya, kau! Tunggu!" jawab priaitu.
Seorang pria berjalan mendekat pada Reza, usianya sedikit lebih tua dari Reza. Penampilannya normal seperti orang biasa. Reza penasaran kenapa pria ini memanggilnya.
"Perkenalkan saya Bryan!" pria itu mengulurkan tangan.
"Reza," Reza menyambut tangan Bryan.
"Saya tinggal di ujung persimpangan jalan sana," ucap Bryan.
Reza mematung, apakah Bryan tahu gerak-geriknya? Apakah mungkin Bryan tahu jika ia akan menyelinap ke rumah di depannya ini? Reza hanya menjawab Bryan dengan anggukan canggung. Semoga saja Bryan tidak curiga.
"Senang bertemu denganmu, saya ada urusan!" Reza berpamitan hendak pergi kembali ke mobil.
"Senang bertemu denganmu juga. Ehem, kau tidak jadi?" jawab Bryan.
Kedua mata Bryan memberikan kode. Reza sedikit terperanjat.
"Kau..." ucap Reza.
"Iya, bisa kita bicara di mobilmu saja? Ajak anak buahmu yang berada di belakang pohon itu juga," tanya Bryan.
Bahkan Bryan tahu jika ada anak buahnya yang mengintai dari balik pohon sejak tadi. Mungkin Reza akan rugi jika menolak penawaran Bryan.
"Baiklah..." Reza mengajak Bryan ke mobilnya.
Anak buah Reza juga ikut mengekor di belakang mereka. Sebenarnya mereka semua masih bingung dan terkejut. Siapakah sebenarnya Bryan ini. Sesampainya di dalam mobil Bryan mulai berbicara.
"Apakah kalian berpikiran sama denganku?" tanya Bryan semakin membuat mereka bingung.
"Dia siapa sih, bos?" Glen menyenggol lengan Reza.
"Kita akan tahu," bisik Reza.
"Maksudnya?" Reza bertanya balik pada Bryan.
"Pria yang tinggal di rumah itu, maksudku tetanggaku...Dia sepertinya menyembunyikan sesuatu di dalam rumahnya." ucap Bryan.
"Jadi kau juga..." sahut Reza.
"Iya, benar. Pria itu orang baru di kawasan ini, baru sekitar satu bulan. Sejak pertama kali dia datang ke kawasan ini aku pernah melihat sesuatu yang ganjil. Waktu itu aku sedang mencari anjingku yang hilang di sekitar belakang rumah itu. Aku melihat ada beberapa pria yang sepertinya anak buah orang itu datang tengah malam. Dari dalam mobil yang dibawa ada seorang gadis dan dua orang anak kecil diseret masuk ke dalam. Sejak hari itulah, aku memata-matai rumah ini," Bryan menjelaskan.
"Benar-benar manusia biadab, sebenarnya aku dan anak buahku sudah sejak lama memantau, sejak pria ini tinggal di rumah lamanya. Kami mengintai karena pria ini membawa kabur uang perusahaanku dalam jumlah yang besar. Karenanya proyekku banyak yang terhambat dan perusahaanku kesulitan dana. Tapi hari itu aku juga melihat kejadian yang serupa dengan kejadian yang kau lihat," sahut Reza.
"Aku bisa membantumu," ucap Bryan.
Bryan menjelaskan secara singkat mengenai tetangganya itu. Pengamatannya selama ini membuatnya mengetahui banyak hal. Ia menjelaskan ada berapa orang di dalam rumah itu, jam berapa si pemilik rumah akan kembali, dan jam berapa biasanya anak buahnya datang dengan mobil minibus. Mereka membagi tugas sesuai arahan Bryan. Glen ditinggal sendiri di mobil.
"Sebentar," Bryan menahan Reza.
Bryan masuk ke rumah itu lebih dulu dengan cara lewat pagar belakang rumah yang rendah. Sementara Reza, ia disuruh menunggu di luar sebentar. Bryan pastinya sudah tahu jika ada anjing di rumah itu. Ia mengeluarkan sosis dari sakunya, memberikannya pada anjing dan mengikatkan rantai di leher anjing pada pagar. Rumah itu terlihat kosong dan tidak ada penjagaan. Semoga saja mereka menemukan sesuatu di dalam nanti.
Baru kemudian ia memanggil Reza. Keduanya tidak langsung masuk ke dalam rumah. Mereka pergi ke garasi rumah itu. Reza merasa beruntung karena bisa bertemu Bryan di waktu yang tepat. Anak buah Reza bertugas membuka pintu garasi yang dikunci.
"Kau dengar itu?" bisik Reza.
"Iya," jawab Bryan.
Ada suara dari arah dalam. Bisa saja dari dalam garasi itu atau ruangan lain.
"Cepatlah! Pria itu akan datang 15 menit lagi," Bryan menatap anak buah Reza yang masih berusaha membuka kunci.
__ADS_1
"Sebentar, ini sedang saya usahakan!"
"Tapi jangan rusak kuncinya, biar bisa ditutup lagi nanti!" sahut Reza.
"Benar itu," imbuh Bryan.
Anak buah Reza mendengus kesal. Pekerjaannya sangat sulit, haus membobol kunci tanpa merusaknya. Kalau kuncinya menggunakan kode atau sandi mudah untuk dia bobol tanpa merusak. Nah ini kunci biasa, semoga dengan pengalaman yang ia punya, ia bisa melakukan tugasnya dengan benar.
Setelah diotak-atik cukup lama, akhirnya sedikit lagi kunci itu akan terbuka. Anak buah Reza tampak terdiam sejenak, seperti sedang merapalkan doa.
Klik,
Ketiganya saling menatap, kuncinya sudah terbuka. Reza membuka pintu garasi itu. Anak buah Reza langsung masuk, ia mendapat bagian yang sulit lagi yaitu menyetel CCTV rumah itu. Bryan dan Reza berpencar agar lebih mempersingkat waktu. Bryan masuk ke rumah utama, Reza menyusuri garasi yang cukup luas itu.
Reza menyusuri setiap sudut garasi yang cukup luas itu dengan teliti. Saat kakinya menginjak lantai di tengah-tengah garasi terdengar bunyi 'Kretek'. Reza langsung mengetuk-ngetuk lantai itu. Ada yang aneh dengan lantainya.
"Seperti ada ruangan di bawah lantai ini, apakah suara yang aku dengar tadi berasal dari sini?" gumam Reza.
Reza meraba-raba lantai berusaha mencari celah agar bisa membukanya. Tapi lantai itu tidak bisa di buka, Reza berpikir pasti ada cara untuk membukanya. Bisa saja ada tombol rahasia seperti di film-film. Baru saja Reza berdiri, Bryan dan anak buahnya sudah kembali ke garasi itu lagi.
"Pria itu akan datang, tidak ada waktu lagi!" ucap Bryan.
"****! Padahal aku baru saja menemukan ada sesuatu di bawah lantai ini, dan suara tadi kemungkinan berasal dari sini!" umpat Reza.
"Di bawah sini?" Bryan menunjuk lantai yang ia injak.
"Iya, tapi aku belum tahu. Sepertinya ada cara rahasia untuk membukanya," jawab Reza.
"Berarti tinggal mengecek lantai ini, ya? Di dalam rumah aku tidak menemukan apapun!" sahut Bryan.
"Ayo bos kita keluar, hanya ada 30 detik lagi sebelum CCTV berkerja seperti semula!" seru anak buah Reza.
"Ayo keluar!" seru Bryan.
Akhirnya mereka bergegas keluar dari rumah itu. Bryan dan Reza berpisah di depan mobil Reza. Sementara Reza dan anak buahnya bergegas masuk ke dalam mobil.
"Kau terus pantau rumah ini!" Reza memerintah anak buahnya.
"Satu hal lagi, cari tahu siapa Bryan sebenarnya! Aku masih bingung kenapa dia tiba-tiba muncul dan membantuku," lanjut Reza.
"Siap, bos!"
Untuk hari ini sepertinya cukup, Reza memutuskan akan pulang ke apartemennya. Anak buahnya sudah turun dari mobilnya untuk melanjutkan tugas.
"Langsung ke apartemen ya, Glen!" seru Reza.
Hening,
Reza cepat-cepat menoleh, astaga sekretarisnya ini menguji kesabarannya lagi.
"GLENNN BANGUNNN!!!!" teriak Reza di telinga Glen.
"Aaaa...Siap bos, siap!" Glen langsung membuka matanya.
"Nyenyak tidurnya?" tanya Reza.
"Nyenyak bos, hehehe..." Glen menggosok kedua matanya.
"Masih ngantuk nggak?" ucap Reza dingin.
"Masih sih, bos! Sudah selesai ya, bos? Balik sekarang?" sahut Glen.
"Kalau masih mengantuk aku saja yang menyetir, nanti aku turunkan kau di penangkaran buaya pinggir kota, tidurlah dengan nyenyak dengan para buaya di sana!" Reza menatap tajam Glen.
"Ah tidak usah repot-repot, bos! Biar saya saja yang menyetir, ini sudah melek matanya!" Glen langsung menjalankan mobil.
Wajah Glen langsung terlihat segar bugar, rasa ngantuknya hilang. Ia tidak ingin tidur bersama buaya.
__ADS_1
Di sekolah Silvi,
Jam istirahat telah tiba. Seperti biasa, Silvi duduk sendirian di kantin. Ia sudah memesan makanan dan minuman tadi. Sembari menunggu pelayan kantin membawakannya, ia membaca novel miliknya.
Kantin lumayan ramai, perutnya sampai berbunyi karena lapar. Untungnya di saat terasa lapar, pesanannya sudah di antar. Silvi bisa mencium aroma lezat dari makanan itu.
"Terima kasih," ucap Silvi dengan sopan.
"Sama-sama!" jawab pelayan itu.
Silvi bergegas menarik nampan makanan lebih mendekat ke arahnya. Tapi kemudian ia terdiam, pelayan itu masih saja berdiri di hadapan mejanya. Silvi mendongakkan kepalanya.
"Maaf, sudah saya bayar tadi! Apakah kurang?" tanya Silvi.
"Emm..."
"Kau!" pekik Silvi.
"Bagaimana kabarmu?" seru Mike.
Ya! Orang yang dikira pelayan oleh Silvi tadi ternyata adalah Mike. Silvi sangat terkejut melihat wajah Mike lagi. Apalagi setelah ia tahu bagaimana perasaan dan perlakuan Mike kepadanya.
"Bukankah kau pindah sekolah?" tanya Silvi.
"Aku tidak bisa meninggalkan sekolah ini, apalagi sahabatku! Kau masih mau menjadi sahabatku, kan?" Mike tersenyum.
Silvi mengerinyitkan dahinya. Ada apa dengan Mike? Baru beberapa minggu lalu mengatakan cinta kepadanya, sekarang ia mengatakan dirinya adalah sahabat Silvi. Apakah Mike bisa dipercaya? Bisa saja ini hanya permainan Mike.
"Aku tidak percaya kepadamu," Silvi membawa makanannya pergi dari kantin.
Mike mengejar Silvi. Mengikuti Silvi yang berjalan ke taman. Silvi sama sekali tidak menanggapi Mike, saat Mike mengajaknya mengobrol, ia hanya diam dan fokus memakan makan siangnya.
Sampai makanan Silvi habis, Mike masih duduk di dekatnya. Silvi berdiri dan berjalan membuat bungkus makanan, Mike mengekor di belakangnya. Silvi ke kamar mandi, Mike juga mengekor sampai di depan pintu utama toilet wanita. Bahkan sekarang Silvi kembali ke kelasnya Mike masih mengekor. Dan duduk di bangku samping Silvi.
"Berhenti mengikutiku, kembalilah ke kelasmu!" ucap Silvi jutek.
"Aku akan ikut pelajaran di kelas ini," jawab Mike.
"Jangan ngada-ngada, kelasmu satu tingkat di atasku. Mana boleh kau bergabung di sini!" Silvi menatap Mike dengan tajam.
"Boleh saja," Mike masih bertahan di bangkunya.
"Aku telpon Kak Reza nih!" Silvi mengancam.
"Aku tidak takut, aku kan hanya memperbaiki persahabatan kita," jawab Mike santai.
"Pergi!" nada bicara Silvi meninggi.
"Enggak!" sahut Mike.
"Jangan ganggu aku lagi!" seru Silvi.
"Aku tidak akan mengganggu, jika kita menjadi sahabat baik lagi," Mike menatap Silvi.
"Tidak akan pernah!" sahut Silvi.
"Yaudah, aku akan mengikutimu terus!" jawab Mike.
"Okay okay, akan aku pertimbangkan, sekarang pergilah!" seru Silvi.
"Baiklah," Mike langsung berdiri dan meninggalkan kelas Silvi.
Silvi menghela napas, Mike menyebalkan sekali. Sebelumnya hidup Silvi sudah tenang karena Mike dikabarkan sudah pindah. Tapi hari ini, ketenangannya terusik. Mike kembali lagi, dan tiba-tiba meminta dirinya untuk menjadi sahabat lagi. Apalagi orang itu sangat nekat, mengikuti kemanapun Silvi pergi. Silvi merasa sangat risih dan terganggu.
"Bikin pusing!" keluh Silvi.
__ADS_1
....................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!