Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
KURANG BERPENGALAMAN


__ADS_3

"Kenapa kau masih di sini, sialan!" Zain marah pada pria itu.


"Maaf, bos! Saya tertangkap di bandara," jawab pria itu.


Reza tersenyum simpul.


"Kau hanyalah mantan dosen. Pekerjaan seperti ini tidak cocok untukmu. Pergerakanmu mudah kulacak, kau kurang berpengalaman Zain!" ucapnya.


"****!" Zain menatap nyalang Reza.


"Siapa yang akan memperkenalkan dia? Kau apa aku, Zain?" lanjut Reza.


"B******* kau!" umpat Zain.


Zain hendak menyerang Reza, tapi hal itu tidak akan mudah. Samuel dan Dave langsung mencekal tangannya.


Reza tersenyum puas. Semua ini sudah ia rencanakan matang jauh-jauh hari. Ia sengaja tidak memberitahu Zack, kalau tahu dari awal akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Meskipun takut darah, sahabatnya itu kalau marah jadi berani melukai orang.


Glen bisa ia andalkan untuk mengikuti Zain maupun Clara beberapa waktu terakhir ini. Alhasil ia juga bisa tahu rencana Zain menukar sampel DNA.


"Baiklah akan aku kenalkan kepada kalian semua, dia adalah orang yang disuruh Zain menukar sampel milik Zack dengan ayah kandung bayi Clara. Dia hendak kabur pagi buta tadi, untungnya Glen aku suruh menginap di bandara." ucap Reza.


"Terima kasih, Glen!" seru Zack pada Glen.


"Sama-sama, tuan!" Glen besar kepala.


Tenggorokan Clara tercekat, ternyata hasil DNA bisa cocok karena perbuatan Zain. Sebenarnya itu ide bagus, tapi kalau tidak ketahuan seperti ini.


Bug,


"Aargghh!" pria itu terduduk di tanah.


Perutnya dihantam oleh lutut milik Zack. Tidak cukup sampai di situ, Zack menghujani pria itu dengan tendangan.


Bug bug bug,


Zack membabi buta. Hal itu membuat Zain menelan ludah. Anak buahnya dihajar habis-habisan oleh adiknya. Jangan sampai setelah ini gilirannya.


"Stop, Zack! Nanti dia mati!" Samuel menahan Zack.


"Biar saja!" Zack memberontak.


"Ini tempat umum, kau bisa dipenjara bodoh! Lebih buruknya orang yang lewat akan mengambil video dirimu, kau akan dibuli masal oleh netizen! Akun centang birumu akan penuh komentar pedas!" Dave sewot, ia menjitak kepala Zack.


Baru Zack sedikit tenang. Iya benar mereka sekarang ada di jalan rumah sakit, tempat umum. Sekarang saja sudah ada beberapa orang yang melihat mereka. Zack merapihkan bajunya dan bersikap cool.


"Selama aku di rumah papa, kau sangat baik. Kau dengan cepat menjadi teman baikku di sana...Kau bahkan membuatkan tersenyum saat semua masalah ini menimpaku. Tapi ternyata kau juga yang menciptakan masalah ini untukku, kenapa kakak melakukan ini? Zack adikmu...Aku benar-benar kecewa!" Mei berdiri di hadapan Zain.


"Mei...Aku...." Zain tidak tahu harus melakukan apa.


"Dia mencintaimu, Mei! Dia melakukan ini karena dia menginginkanmu," justru Zack yang menjawab.


Mei terdiam.


"Ini salah! Kau tidak bisa mencintai istri dari adikmu sendiri. Persaudaraan kalian lebih penting daripada rasa cintamu," ucapnya.


Zain tertunduk lesu. Beberapa waktu terakhir saat ia tinggal serumah dengan Mei di rumah papanya, ia bisa melihat bagaimana Mei. Ia bisa melihat saat Mei sangat terpukul dengan masalah ini. Kesedihan Mei cukup menjawab bagaimana perasaan Mei untuk Zack.


Selama ini Zain hanya membohongi dirinya sendiri. Ia terus membuat dirinya percaya jika Mei masih sama dengan Mei yang tergila-gila kepadanya pada waktu di kampus dulu. Karena itulah ia bisa nekat merencanakan hal gila ini.

__ADS_1


"Aku mohon tinggalkan saja Zack, Mei! Kamu tahu betul dia belum menerima pernikahan kalian! Tinggalkan dia dan hiduplah bersamaku, aku jauh lebih mencintaimu..." Zain memohon pada Mei.


Mei menggeleng.


"Kau tidak mencintaiku, kau hanya terobsesi untuk memilikiku. Karena itulah kau menjebak adikmu sendiri dalam permainannmu dan membawa kesedihan untukku." ucapnya.


"Dengarkan aku dulu, Mei!" sahut Zain.


"Tidak ada omong kosong lagi, Zain!" seru Cavero.


"Kenapa, pa? Aku tahu papa akan memihak Zack kan, karena sejak dulu itulah yang terjadi!"


"Tentu saja papa akan memihak Zack, kelakuanmu sangat buruk Zain! Kau merusak pernikahan adikmu sendiri," Cavero menekan ucapannya di setiap katanya.


"Minta maaf sama Zack sekarang!" imbuh Emmy.


Zain mengalihkan pandangannya.


"Teruskan saja kelakuanmu itu, sekarang juga papa mau kau tinggalkan negara ini! Jangan pulang sebelum papa perintahkan, ini hukumanmu Zain!"


"Baiklah, dengan senang hati..." ucap Zain.


Samuel dan Dave melepaskan cekalan pada lengan Zain. Zain melenggang pergi dari tempat itu. Menyisakan kekecewaan dalam hati semua orang. Terutama Zack, tidak hanya kecewa. Ia marah dan juga dendam.


"Maafkan Zain ya, sayang!" Emmy memeluk Zack.


Zack hanya diam saja.


"Papa tahu perbuatan Zain kelewat batas, tapi papa mohon maafkan dia, Zack! Bagaimanapun juga dia tetap kakakmu, tidak ada namanya mantan kakak di dunia ini. Sebagai orang tuanya merasa bersalah dan minta maaf!" Cavero menghadap Zack.


"Iya, pa!" jawab Zack tidak tulus.


"Thanks, bro!" ucap Zack pada Reza.


"Sudah jadi tugasku membantu sahabat..."


"Kau memang sahabat paling jenius!" ucap Zack sambil melirik kearah Samuel dan Dave.


"Maksudnya apa?" sahut Dave dan Samuel serempak.


Reza tertawa.


Zack juga tertawa, kemudian pandangan matanya jatuh pada Mei. Ia menatap wajah Mei. Ia baru menyadari wajah Mei sekarang menjadi kusam tidak terawat. Bahkan kedua matanya sembab. Dia pasti banyak menangis beberapa hari terakhir ini.


"Mei..." Zack menghampiri Mei.


Mei hanya diam tapi tidak berpindah dari tempatnya berdiri.


"Semuanya sudah terbukti, Mei! Sekarang bagimana keputusanmu? Apakah kamu tetap ingin menjadi janda?" tanya Zack.


"Itu tergantung," jawab Mei.


"Tergantung apa? Menurutku lebih baik kita berikan kesempatan pada hubungan ini. Tidak perlu langsung menjadi suami istri pada umumnya, kita bisa menjadi sahabat terlebih dahulu. Jujur saja bukan hanya aku yang belum siap dengan pernikahan ini kan," ucap Zack dengan nada lembut.


"Baiklah kalau kau memaksa," jawab Mei singkat.


"Nggak ada yang maksa Mei, kalau mau bilang aja mau," Samuel sewot.


"Ya malulah kalau langsung bilang mau. Kemarin aku udah ngotot mau jadi janda," Mei menyengir.

__ADS_1


"Ya Tuhan, perasaan baru tadi Mei jadi bijak, kenapa engkau kembalikan sahabatku dalam keadaan seperti ini lagi..." ucap Aryn.


Mereka tertawa.


Cavero dan Emmy juga Ikut tertawa. Untuk sejenak kesedihan mereka tergantikan dengan tingkah putra dan sahabatnya.


Suasana yang mulai membaik sepertinya dimanfaatkan Clara untuk pergi diam-diam. Perlahan ia mundur menjauh dari semua orang. Ia berjalan sangat pelan sekali.


Bug,


"Awww..." pekik Clara.


"Mau kemana kau?" seru Silvi dari belakang Clara.


"Jangan menghalangiku," sahut Clara.


"No no no, kau tidak boleh pergi dari sini!" Silvi terkekeh.


Silvi memasang badannya di belakang Clara untuk menghalangi wanita itu. Tadi Silvi melihat gerak-gerik Clara yang akan pergi. Untung saja ia cepat tanggap.


"Heh jangan coba kabur ya!" Mei berkacak pinggang.


"Dia masih dibutuhkan jadi jangan biarkan dia kabur!" seru Reza.


"Tenang saja suamiku, sudah aku tangkap!" sahut Silvi.


"Good job, istriku! Hati-hati perhatikan langkahmu, sayang! Ada buah cinta kita dalam perutmu. Muuaaahhh..."


Semua orang buang muka, sebal. Terutama Dave, ia semakin tidak suka dengan Reza. Di saat seperti ini Reza masih saja mengumbar kemesraan.


"Sok manis," ucap Dave sewot.


Reza hanya melengos.


"Jangan begitu sayang," Aryn memepringkatkan Dave.


"Biar saja," jawabnya.


Sementara itu, Mei kini hanya berjarak setengah meter dengan Clara. Kekesalannya semakin memuncak, ini saat yang tepat untuk mengeluarkan kekesalannya.


"Gara-gara kau, aku siang malam menangis di kamar. Mataku jadi sembab, wajahku jadi jelek. Kalau ditampung mungkin kemarin sudah satu ember besar air mataku, kau harus ganti rugi. Asal kau tahu air mataku lebih berharga dari air mata putri duyung!" seru Mei.


Mereka tertawa.


"Pria ini apakah masih dibutuhkan juga, bos?" celetuk Glen.


Tangannya pegal sejak tadi mencekal tangan pria itu.


"Lepaskan saja, lagipula dia dipaksa Zain untuk melakukan ini." jawab Reza.


"Baik, bos!"


Lalu mereka meninggalkan rumah sakit itu. Masalah Zack sudah selesai, mereka bisa pulang dengan tenang. Mereka mengendarai mobil masing-masing bersama istri masing-masing pula. Kecuali Glen ya!


"Makan makan sendiri, minum minum sendiri, nyuci baju sendiri, naik mobil pun sendiri..." Glen bersedih.


....................


Jangan like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2