Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
HARUS DIPASTIKAN


__ADS_3

Satu persatu tamu mengucapkan selamat pada pengantin dan berangsur meninggalkan acara. Tangan Mei sampai pegal, tamu dari pihak Zack banyak sekali. Terutama rekan bisnis dan teman arisan orangtua Zack. Kalau dari pihak keluarga Mei, hanya saudara dekat Mei yang dibawa terbang ke sini.


"Akhirnya selesai," Mei merasa lega setelah tamu terakhir meninggalkan lokasi.


"Ini kuncinya, sayang!" Emmy menyerahkan sebuah kartu akses kamar hotel.


"Kartu akses apa itu, ma?" Zack penasaran.


"Kemarin mama sudah pesankan kamar hotel khusus pengantin baru. Sopirnya sudah menunggu di depan," Emmy mendorong Zack dan Mei agar segera ke mobil.


"Tapi ma," sahut Zack dan Mei serempak.


"Tidak ada tapi-tapian, turuti mama kalian!" Cavero membela istrinya.


"Tapi aku mau mengobrol dengan mamaku dulu," Mei menatap ke arah mama dan papanya.


"Ikutlah suamimu, sayang! Kita sudah banyak mengobrol seminggu ini. Lagipula mama dan papa pulangnya masih besok sore," ucap Fang Yin, Mama Mei menggunakan bahasanya.


"Bisa diulang lagi, ma?" Mei menyodorkan ponselnya.


"Emangnya mama kamu ngomong apa, sayang?" tanya Emmy.


"Baru aku terjemahkan pakai google translate, ma!" jawab Mei.


Cavero dan Emmy tertawa.


"Kamu lupa bahasamu sendiri?" Zack menepuk dahinya.


"Sedikit,"


Cavero dan Emmy tertawa, mantu mereka memang unik.


Mei akhirnya menurut pada mertuanya. Zack dan Mei digiring masuk ke dalam mobil. Sementara mama dan papa Mei ikut pulang orangtua Zack ke mansion mereka. Tapi Cavero berjalan paling belakang. Ia melihat Lim dari kejauhan.


"Thanks bantuannya, Lim!" Cavero menepuk bahu Lim.


"Sudah tugas saya, tuan!" Lim tersenyum ramah.


Suasana di dalam mobil yang ditumpangi Mei dan Zack terasa sepi. Sopir fokus ke jalanan, sedangkan Zack dan Mei sibuk dengan pikiran masing-masing. Jujur saja mereka berdua tidak tahan jika harus diam begini. Apalagi biasanya mereka mendebatkan hal kecil. Ada rasa canggung dalam hati mereka.


Zack dan Mei bisa dikatakan tidak pernah akur. Selalu saja ada hal kecil yang membuat peperangan mulut diantara mereka. Rasanya seperti mimpi, sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri yang sah. Keduanya sampai tidak sadar jika mobil yang mereka tumpangi telah sampai di tempat tujuan. Kalau sopir tidak memanggil mereka mungkin mereka masih tetap berdiam diri di dalam mobil itu.


"Terima kasih, pak!" ucap Zack pada sopir yang mengantarnya.


"Ayo!" Zack berjalan duluan.


Mei mengekor di belakang Zack. Daripada ia salah bicara mending ia diam saja. Zack sepertinya hapal hotel itu. Tanpa bertanya pada resepsionis Zack bisa langsung menemukan kamar sesuai nomor yang diberitahu mamanya tadi.


Kebiasaan check in sama ****** sampai hapal hotel, batin Mei.


Mei juga hanya diam mengekor di belakang Zack saat masuk ke dalam kamar mereka. Begitu masuk kamar, kedua mata Mei langsung melotot.


Bagaimana Mei tidak terkejut, kamar itu dihiasi dengan bunga mawar. Lantai yang Mei injak sekarang, bertebaran banyak kelopak mawar. Di meja, ada beberapa lilin menyala yang mengeluarkan aroma harum menenangkan. Ditambah lagi ranjang berlapis sprei putih yang di atasnya dibentuk gambar hati menggunakan kelopak mawar merah. Mei benar-benar terkejut sekaligus sangat suka dengan hiasannya.


"Mirip di film," gumam Mei yang masih bisa didengar Zack.


Zack hanya terkekeh,


Mei melepaskan sepatunya dengan santai. Zack melakukan hal yang sama. Zack juga melepaskan sepatunya, berikut jas yang ia pakai. Mei membuka almari, mertuanya tadi mengatakan di almari sudah disiapkan baju tidur untuk Mei.


Baju apa ini, batin Mei.

__ADS_1


Mei tidak berani mengeluarkan kain tipis minim itu. Tidak ada baju lain di almari itu. Tidak mungkin Mei menggunakan baju yang ia pakai lagi. Baju ini sudah bau keringat karena acara resepsi tadi melelahkan. Kalau Mei pakai kain tipis itu, pasti akan jadi ancaman besar. Tapi sekilas Mei melihat handuk kimono tergantung di paling belakang deretan baju tipis itu. Mei bisa menggunakannya. Setidaknya ini lebih aman. Mei bergegas masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan sepatah katapun pada Zack.


Zack tidak terlalu memperdulikan. Ia fokus bermain ponsel di sofa. Setelah Mei selesai mandi, ia juga akan mandi nantinya. Tapi saat pintu kamar mandi terbuka, Zack tidak bisa untuk tidak melihat ke kamar mandi. Aroma harum menyeruak di hidungnya.


Oh god, batin Zack.


Nampak Mei keluar dari dalam kamar mandi dengan balutan handuk kimono selutut. Rambut Mei tergerai basah. Tetesan air mengalir di leher putih mulusnya. Zack menelan ludah berkali-kali. Mei terlihat malu-malu, ia melangkah menuju laci dimana pengering rambut disimpan.


"Tahan, Zack! Tahan..." gumam Zack.


Saat ini Zack mencoba mengalihkan pandangannya. Ia melihat ke ponsel. Untuk beberapa menit Zack bisa sedikit teralihkan. Sementara Mei, ia telah selesai mengeringkan rambut. Jadi ia kembalikan alat pengeringnya. Kebetulan lacinya ada di bawah, Mei perlu sedikit membungkuk.


Zack tidak sengaja melihat ke arah Mei. Kedua mata Zack langsung melotot. Di hadapannya kini tersaji pemandangan indah dari sela-sela kimono Mei.


"Damn!" umpat Zack.


Jujur saja Zack sudah berkali-kali melihat wanita telanjang. Tapi baru melihat sedikit bagian tubuh dari Mei saja, dirinya sudah tegang. Jangankan bagian lain, melihat rambut Mei basah tadi sebenarnya ia juga sudah tegang. Sangat jauh berbeda ketika ia melihat wanita lain dulu.


Zack bergerak cepat, ia bangkit dari ranjang dan langsung mendekati Mei. Mei bisa mencium gelagat Zack. Mei sampai mundur beberapa langkah.


"Apakah kamu tidak mau memastikannya dulu?" Zack menaikkan sebelah alisnya.


"Apa?" Mei menatap Zack lekat.


"Aku tidak yakin jika malam itu aku menyentuhmu," Zack tersenyum smrik.


"Jadi maksudmu, kamu mau melakukannya padaku sekarang?" pekik Mei.


"Iya, kamu sudah jadi istriku. Jadi aku berhak atas tubuhmu sekarang. Sekalian aku mau memastikan apakah malam itu aku benar melakukannya atau tidak," Zack mendekati Mei.


"Diam di tempatmu, Zack!" Mei mundur ke belakang.


"Kenapa? Aku berhak atas dirimu!" Zack terkekeh.


Mei terus berjalan mundur karena Zack terus saja mendekatinya. Melihat wajah Zack sekarang, Mei justru semakin takut.


Set,


Zack memberikan serangan dadakan. Saat ini tali handuk Mei sudah terlepas. Mei jadi kalang kabut menutupi tubuhnya.


"Lihatlah, kamu bahkan sudah menyiapkan pakaian ini untuk menggodaku!" lirih Zack di dekat telinga Mei


Bulu kuduk Mei merinding disko karena ulahnya. Lidah Mei kelu tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Hanya ada pakaian ini di almari," jawab Mei sekenanya.


"Sudah kuduga..." Zack mundur satu langkah dari hadapan Mei.


Zack mengelap wajahnya kasar. Mamanya sengaja menyiapkan ini agar Zack melakukannya. Zack mengatur napasnya, ia tidak ingin terburu-buru. Apalagi perasaannya belum jelas.


"Apa?" Mei bingung.


"Papa dan mama yang merencanakan semua ini..." ucap Zack.


"Merencanakan apa?" Mei semakin bingung.


"Hotel ini disiapkan oleh mama. Sudah pasti pakaian itu juga disiapkan olehnya. Mereka ingin kita melakukannya," Zack duduk di sofa.


"Dengar, Zack! Aku tidak tahu malam itu kita benar melakukannya atau tidak. Kita memang sudah menikah, tapi aku tidak ingin melakukannya jika tanpa didasari cinta," ucap Mei sendu.


"Tenanglah....Aku juga tahu itu, apalagi pernikahan ini bukan keinginan kita. Kita butuh waktu untuk benar-benar menerima pernikahan ini," Zack mengambil bantal dari ranjang dan meletakkannya di sofa.

__ADS_1


Mei menghela napas lega, dirinya aman. Malam pertama itu berlalu dengan begitu saja, Zack tidur di sofa dan Mei sendirian di ranjang. Mei memang merasa lega sekarang. Tapi di samping itu, ia merasa sedikit kecewa.


Kenapa dadaku terasa sesak saat Zack mengatakannya tadi, batin Mei.


Tidak bisa dipungkiri, ucapan Zack barusan terngiang di kepalanya. Mei tahu Zack menikahi Mei karena permintaan orangtuanya. Jadi harusnya Mei tidak kaget lagi jika Zack belum menerima pernikahan ini. Tapi kenapa Mei merasa sedih dan kecewa?


----------------------- 


Di mansion,


Reza meluruskan kakinya, rasanya tubuhnya cepat lelah akhir-akhir ini. Ditambah lagi ia hanya makan makanan yang asam dan durian agar tidak mual. Lemas sekali rasanya.


"Sayang, aku buatkan susu coklat hangat!" Silvi datang ke kamarnya dengan membawa segelas susu hangat.


Hoeekk...


Reza langsung menutup mulutnya, rasanya seluruh isi perutnya mau keluar. Ia berlarian ke kamar mandi.


Hoeekk hooekkk,


Reza memuntahkan isi perutnya. Silvi tidak tega, ia masuk ke dalam. Dengan telaten Silvi memikit tengkuk Reza. Agar suaminya itu merasa lebih baik.


"Kak..." pekik Silvi.


Tubuh Reza terhuyung lemas bahkan hampir jatuh. Silvi memapah Reza kembali ke ranjang. Membaringkannya perlahan, Reza pasti lemas karena muntah banyak sekali. Terlebih Reza hanya makan makanan yang asam dan durian saja. Silvi berlarian keluar kamar, ia tidak tega melihat Reza seperti ini.


"Panggilkan Paman Kevin!" perintah Silvi pada penjaga yang berjaga di dekat lift.


Penjaga itu langsung mengambil ponselnya untuk menelpon Paman Kevin, dokter keluarga ini. Kebetulan Dave dan Aryn baru saja menidurkan Davin jadi mereka melihat Silvi yang panik.


"Ada apa Silvi? Siapa yang sakit?" seru Aryn.


"Kak Reza..." lirih Silvi.


"Kenapa lagi anak manja itu?" tanya Dave sinis.


"Kak Reza beberapa hari ini muntah terus kalau pagi-pagi. Makannya cuma yang durian dan yang asam-asam. Makanan lain pasti dimuntahkan. Kak Reza muntah lagi barusan, banyak banget. Gara-gara aku kasih susu coklat," Silvi terlihat sedih.


"Reza pasti baik-baik saja, kita tunggu Paman Kevin," Aryn menenangkan Silvi, menuntunnya perlahan ke kamarnya.


"Sekretaris suamimu itu dimana?" celetuk Dave.


"Tidak tahu," jawab Silvi.


Sementara itu,


Glen berjalan tergopoh-gopoh. Kepalanya terasa pusing sekali. Padahal ia baru minum dua gelas saja.


"Kenapa orang kaya suka buang uang? Minuman ini membuatku pusing seratus keliling...." Glen meracau.


Glen tidak tahu kemana kakinya melangkah. Samar-samar ia mendengar suara klakson mobil. Bukan imajinasi tapi Glen rupanya memang benar ada di pinggir jalan. Ia melihat sebuah mobil hitam terparkir tidak jauh darinya.


"Ini dia mobil bos," gumam Glen.


Tanpa pikir panjang, Glen langsung masuk ke dalam. Ia masuk dan langsung tidur tengkurap di jok belakang. Mobil itu tidak dikunci, lampu sennya berkedip jadi Glen bisa masuk.


Ngeeengg,


Selang beberapa detik ada suara pintu ditutup, mobil melesat jauh. Glen sudah tidak kuat membuka matanya. Ia terlelap di jok belakang mobil itu.


............................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2