
Silvi galau, dirinya sudah sampai kamarnya. Ia tidak berganti pakaian ataupun sekedar melepas sepatu. Ia langsung telungkup di ranjangnya. Pikirannya sangat kacau. Kepalanya di penuhi perkataan Mike tadi.
Tidak ada orang yang terlalu sibuk. Ini hanya tentang prioritas,
Silvi mengambil ponselnya. Tidak ada pesan ataupun panggilan dari Reza. Bahkan pesannya yang ia kirimkan sejak dua hari lalu masih belum dibaca. Hanya Glen yang membalas pesannya, tapi sekretaris Reza itu terus mengatakan jika bosnya sibuk.
"Tau ah pusing! Tidak usah kembali saja sekalian, pergi yang jauh!" Silvi melampiaskan kekesalannya.
Kekesalan dan kekecewaan dalam dirinya membuat Silvi lelah dan tertidur. Silvi tidur dengan masih menggunakan dress, sepatu, dan toganya.
Tok tok tok,
"Kakak!" Desmon berteriak di depan kamar Silvi.
Tidak ada sahutan dari kamar Silvi. Jelas saja karena pemilik kamar masih tertidur pulas.
"Kakak..Kakak kakak!" Desmon tetap memanggil Silvi.
Davin juga ada di sana. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada melihat om kecilnya berusaha memanggil Silvi. Davin dan Desmon selalu bersama, jarak usia mereka yang hanya 1 tahun membuat keduanya semakin tidak terpisahkan. Tapi mereka mempunyai sifat yang berbeda. Desmon seperti Erick, penyabar, penyanyang, dan sedikit cuek. Sementara Davin, ia sangat mirip dengan Dave. Keras kepala, tidak sabaran, dan berani. Hanya ada satu kesamaan mereka, yaitu sama-sama banyak tingkah.
Melihat pintu kamar auntynya masih tertutup rapat, Davin tidak tinggal diam. Ia melangkah mendekati om kecilnya. Tangan kecilnya menepuk bahu Desmon.
"Biar aku saja, uncle!" ucap Davin.
"Baiklah," Desmon memberikan ruang pada Davin.
Davin berdiri tepat di depan pintu Silvi. Ia sudah tidak sabaran karena sejak tadi Desmon mengetuk dan berteriak di depan kamar Silvi tapi Silvi tidak juga membuka pintu. Davin dan Desmon dikirim ke sini untuk memanggil Silvi. Semua orang sudah menunggu di bawah.
Brak brak brak,
"AUNTY BUKA PINTUNYAAA!" teriak Davin sambil menggebrak pintu Silvi.
"Apin...." Desmon mengelus dadanya.
"Biar aja uncle, biar aunty bangun!" jawab Davin.
"Tapi jangan keras-keras, kasihan pintunya!" sahut Desmon.
"Uncle, please! Pintu bukan makhluk hidup, mau digedor, dipotong, ditendang, tidak akan menangis..." Davin memijit pelipisnya, unclenya ini terlalu baik.
Di dalam kamarnya, Silvi langsung terduduk. Pintunya baru saja di gebrak ditambah teriakan dari Davin. Ia langsung berlari ke arah pintu dan membuka pintunya.
Ceklek,
"Nah bangun kan!" seru Davin.
"Kamu hebat, Apin!" Desmon mengacungkan jempolnya.
"Ada apa ini?" Silvi terlihat panik.
"Ayo turun, kak! Semua orang sudah menunggu kakak," ucap Desmon.
"Hanya karena itu Apin menggedor pintu dan berteriak sekeras itu?" seru Silvi.
"Makanya bangun aunty, lihat itu langit sudah gelap!" sahut Davin.
"Sudah malam?" Silvi terkejut.
"Iya kakakku yang cantik!" jawab Desmon.
"Semua orang menunggu aunty, kita akan pesta di dekat kolam." imbuh Davin.
"Yuk!" Silvi menggandeng Desmon dan Davin.
"Tunggu, kak!" Desmon menahan Silvi.
"Ada apa lagi? Bukankah semua orang sudah menunggu?" tanya Silvi.
"Kakak tidak mau mandi dulu?" Desmon berbalik nanya.
"Aunty seperti gelandangan," imbuh Davin.
"Kalian ini!" Silvi mencubit pipi Desmon dan Davin.
"Aku mandi sebentar, kalian tunggu di bawah saja! Bilang pada semua orang 10 menit lagi aku ke sana!" ucap Silvi.
"Siap grak!" jawab Desmon dan Davin kompak.
Silvi bergegas masuk kembali ke kamarnya. Ternyata ia tidur lama sekali, sejak tadi siang sampai malam. Nanti malam pasti ia tidak bisa tidur. Silvi mandi dan berganti pakaian. Ia memakai hoodie dan celana longgar. Rambutnya ia ikat sembarang dan wajahnya polos tanpa make up.
Saat ia sampai di kolam renang, semua orang sudah menunggu. Ada sebuah poster dengan tulisan 'Happy Graduation' di dinding dekat kolam. Saat Aryn wisuda dulu, mereka semua juga melakukan hal yang sama. Dave, Samuel, Erick, Ken, dan Zack sibuk membakar daging dan sosis. Para wanita sibuk bergosip di pinggir kolam. Sementara Davin dan Desmon bermain dengan dijaga oleh Uti dan Ily.
"Ini dia bintangnya..." seru Erick saat melihat Silvi.
__ADS_1
"Tadi Silvi ketiduran, pa!" jawab Silvi.
"Tidak apa, kamu pasti lelah! Ayo sini gabung, ada topik baru! Biarkan bapak-bapak yang bekerja!" seloroh Katy.
"Siappp!" Silvi ke tepi kolam.
"Kita nunggu matengnya aja!" seloroh Angel.
"Betul itu!" seru Aryn, Katy, dan Naina.
"Jadi gini ya rasanya menjadi istri yang dimanjakan," celetuk Mei.
"Makanya besok kalau kamu nikah, cari laki-laki yang cinta sama kamu! Tapi yang paling penting cari yang tanggung jawab dan berduit," sahut Angel.
"Belajar dari pengalaman ya, say?" Aryn terkekeh.
"Iya hehehe..." Angel tertawa.
Di kumpulan para pria, asap membumbung tinggi di atas kepala mereka. Tangan mereka membolak-balik daging dengan lincah. Mereka pasti sangat terbiasa dengan kegiatan itu.
"Kenapa kalian mau melakukan semua ini, sementara istri kalian enak-enak bergosip di sana?" Zack bertanya sambil terus membolak-balik sosis di hadapannya.
"Karena cinta!" jawab Erick, Dave, Samuel, dan Ken kompak.
Zack menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Semua sahabatnya bahkan Erick ternyata bucin pada istri mereka. Apalah daya Zack yang masih jomblo. Kalau sudah begini, Zack kadang ingin pergi ke club lagi. Tebar pesona dan punya banyak pacar lagi.
Di tengah keramaian dan kegembiraan malam ini, Silvi merasa kesepian. Silvi kembali teringat Reza lagi. Ia mengecek ponselnya untuk yang kesekian kali. Masih tidak ada kabar dari Reza.
"Silvi?" Aryn menepuk bahu Silvi.
"Eh iya, kak! Ada apa?" Silvi terkejut.
"Pasti kepikiran Reza, ya?" tanya Aryn.
"Kasihan banget anak mama. Muka ditekuk, bibir monyong, mata sembab karena mikirin pacar tercinta," ucap Katy.
Para pria menatap ke pinggir kolam. Mereka mendengar pembicaraan para wanita. Erick menatap Dave, mata kirinya berkedip memberikan isyarat. Tapi wajah Dave menunjukkan jika dirinya tidak mau melakukannya.
"Dave..." Erick menatap tajam Dave.
Dave pun mengangguk lemah, ia meletakan capitan besinya. Menghampiri Silvi yang sedang galau berat. Dave mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya.
"Ini ada titipan dari pacarmu itu," Dave memberikan amplop itu.
"Hmm," jawab Dave.
"Reza ganteng tapi jadul, zaman sekarang masih kirim surat!" seloroh Mei.
"Sssttt!" seru Katy, Aryn, Angel, dan Naina.
Mei langsung terdiam, mereka semua melihat Silvi yang sedang membuka amplop itu. Silvi tidak sabaran, ia langsung menyobek ujung amplopnya.
Hi sweetheart,
Saat kamu membaca surat ini kamu pasti sudah mendapatkan gelar sarjanamu. Aku sangat bangga kepadamu. Kamu lulusan terbaik, bukan? Aku akan mengujinya. Sekarang pergilah ke bawah pohon pinus yang ada di sudut kolam renang. Temukan lanjutan surat ini!
Silvi mengikuti petunjuk surat itu. Ia pergi ke pohon pinus yang ada di sudut area kolam. Ia celingukan mencari lanjutan suratnya. Batang pohonnya sampai ia raba. Saat hampir menyerah, Silvi menginjak sesuatu. Surat itu di sembunyikan di dekat pangkal pohon, sela-sela rumput.
Aku sangat sangat sangat mencintaimu, Silvi! Kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku dua hari ini sudah dihubungi, kan? Itu semua karena aku............... (Temukan lanjutannya ya! Gampang, kok! Pergilah ke halaman depan!)
Silvi semakin penasaran, ia berlarian ke halaman depan. Semua orang mengikutinya dari belakang. Mereka semua juga penasaran. Sesampainya di halaman depan Silvi bingung. Tidak ada apa-apa di sana. Silvi membaca surat itu lagi. Sampai 10 kali ia membacanya, tapi hanya itu petunjuknya.
Silvi meremas kertas itu, tapi kemudian ia merasakan kertas itu tidak hanya satu lembar. Ia buka dan masih ada lagi tulisan di sebaliknya.
Sabar dulu makanya....
Lanjutan suratnya bisa kamu temukan di bawah pot bunga dekat tiang depan mansion. Selamat mencari!
Silvi mendongak, melihat ke semua sisi tiang. Dan ia menemukan kita yang ditempel di sana. Silvi mencabut kertas itu, saat ia cabut ada sebuah tali yang menjuntai. Ia memutuskan untuk membaca suratnya terlebih dahulu.
Aku tidak bisa dihubungi karena aku sedang menuju kesana!
Ada surat lain, ia membalik kertasnya. Silvi tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya, ternyata Reza sedang dalam perjalanan. Ia membaca surat berikutnya.
Happy Graduation, sayang! Tunggu aku 10 menit lagi, aku akan segera memelukmu....
Oh iya, tarik talinya ya!
Silvi tersenyum senang, lantas ia tarik tali yang menjuntai di hadapannya.
"Wahhh..." pekik Mei yang berdiri di belakang Silvi.
Ribuan kelopak bunga mawar merah jatuh menghujani teras mansion. Silvi berputar-putar di bawahnya dengan tangannya yang merentang ke samping. Ia sangat senang hari ini. Tinggal menunggu 10 menit lagi Reza akan berdiri di hadapannya.
__ADS_1
Silvi menatap Erick dan Dave. Reza tidak mungkin bisa melakukan semua ini, pasti ada yang membantunya.
"Kenapa menatap papa seperti itu? Papa hanya membantu calon mantu," ucap Erick.
"Sudah kuduga...Pantas saja papa santai saat Kak Reza tidak datang tadi. Ternyata sudah direncanakan," jawab Silvi.
"Papa hanya membantu saja, ini semua murni ide Reza...Sebentar lagi dia datang!" Erick mengelus pucuk kepala Silvi.
"Terima kasih, papa!" Silvi memeluk Erick.
"Reza udah ganteng, kreatif juga!" seru Mei.
"Ingat ya kak, Kak Reza milikku! Awas aja!" Silvi menatap Mei tajam.
"Iya iya, " jawab Mei.
Silvi menunggu Reza dengan antusias. Kedua matanya terus menatap ke gerbang. Semua orang juga melakukan hal yang sama, kecuali Dave. Dave bersandar di dinding, wajahnya terlihat kesal.
5 menit,
10 menit,
Reza tidak kunjung datang, Silvi masih bersabar mungkin sedikit terlambat. Jalanan sedikit macet saat malam hari.
15 menit,
20 menit,
Silvi mondar-mandir di halaman. Ia menelpon Reza tapi nomornya tidak aktif. Ia juga menelpon Glen, sepuluh kali ia menelpon tapi Glen tidak mengangkatnya.
"Sabar sayang, sebentar lagi pasti datang!" Katy menenangkan Silvi.
"Iya, ma!" jawab Silvi.
30 menit,
40 menit,
"Kak Reza koo belum sampai," Silvi cemas.
"Sebentar papa coba suruh anak buah papa ke bandara," ucap Erick.
Dua anak buah Erick diperintahkan untuk ke bandara. Bisa saja Reza mengalami masalah, mobilnya macet mungkin.
"Tidak bisa dipegang ucapan pria itu!" Dave memperkeruh suasana.
"Kak tolong jangan membuat situasi menjadi semakin rumit, kalau tidak suka dengan Kak Reza yaudah diam saja!" protes Silvi.
Tiba-tiba ponsel Silbi berdering. Nama Glen terpampang di layar. Silvi langsung mengangkat panggilan itu. Semua orang diam seketika, mereka turut mendengarkan.
"Halo, Kak Glen! Kenapa belum sampai? Kakak dengan Kak Reza kan?" Silvi cemas sekali.
"Halo, nona! Emm...Nona...Bos..."
"Kak Reza kenapa?" seru Silvi.
"Saya di rumah sakit sekarang. Bos...."
"Kak Reza kenapa? Bicara yang benar dong! Jelaskan yang benar!" Silvi memaki Glen.
"Saat tiba di bandara, bos ngotot untuk ke mansion duluan katanya sudah tidak sabar. Bos menyetir mobil sendiri padahal semalam bos melembur di dalam pesawat. Saya menyusul setelah mengambil barang-barang naik taksi. Saya mendapatkan telepon dari polisi mobil bos menabrak truck dari arah belakang huhuhu..."
Glen menangis tersedu-sedu, ia tidak bisa meneruskan penjelasannya. Hal itu membuat Silvi semakin panik.
"Bagaimana keadaan Kak Reza? Di rumah sakit mana?" teriak Silvi tidak sabaran.
"Mobil bos rusak parah, bos tadi sampai terjepit huhuhu...Sekarang bos sedang di tangani dokter, di rumah sakit dekat bandara nona huhuhu....Bos...huhuhu...Darah semua nona, tubuh bos penuh darah! Cepat kemari nona huhuhu..."
Tut,
Silvi menangis sejadi-jadinya. Erick dan Katy lansung memenangkannya. Erick tidak menyangka kejutan Reza berujung kecelakaan seperti ini.
"Ayo kita ke rumah sakit, pa! Kak Reza..." teriak Silvi histeris.
Mereka semua bergegas ke rumah sakit. Hanya Uti bersama Davin dan Desmon yang tinggal di mansion.
"Kak Reza..." Silvi menangis histeris.
Katy menangis melihat putrinya histeris. Ia tahu apa yang dirasakan putrinya. Semoga saja Reza baik-baik saja.
...............
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1