
"Glen...Frans..." Reza menghampiri keduanya.
Baik Glen maupun Frans berdiri kikuk, mereka ketahuan sekarang. Jika saja tadi darah itu tidak mengalir sampai tangannya pasti tidak akan runyam masalahnya. Kenapa juga mereka berdua bisa sama-sama akting tidur dan juga takut darah.
"Emm....Anu bos..." Glen mencari alasan.
"Pura-pura?" Reza mendesak.
"Tidak...Kita tadi...pi pingsan, tuan! Iya pingsan, iya kan Glen?" Frans menyenggol lengan Glen.
"Ah iya, benar! Pingsan, bos!" sahut Glen.
"Bisa barengan gitu ya?" Silvi ikut berbicara.
"Ini hanya kebetulan saja," Frans menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau aku tahu kalian hanya pura-pura tadi aku biarkan saja kalian tergeletak di tengah sana, biar tertembak langsung jalur cepat ke akhirat!" seru Reza.
"Maaf, bos! Saya takut, bos! Swear!" Glen mengangkat dua jarinya.
"Saya juga takut, tuan!" imbuh Frans.
"Kalau takut tidak usah bekerja di sini, pulang saja minta kelon mama!" Reza marah.
Reza menghampiri Dave dan yang lainnya, mereka masih dalam pengaruh obat tidur. Anak buah Reza berdatangan. Beberapa orang membereskan tempat, sisanya membantu Reza memindahkan Dave dan anggota keluarga lain ke kamar masing-masing. Glen dan Frans juga ingin ikut membantu. Tapi Reza, Silvi, Joe, maupun yang lainnya cuek kepada mereka berdua. Mereka berdua dianggap seperti tidak ada di sana.
"Saya bantu, bos!" Glen hendak membantu Reza yang mengangkat tubuh Zack.
Reza diam, tidak merespon.
"Biar saya bantu, non!" Frans menawarkan bantuan pada Silvi yang akan mengangkat tubuh Katy.
Silvi juga diam, tidak ada respon.
"Aku bantu!" Frans menghampiri Joe.
Joe terdiam, dari dulu memang irit bicara tapi tidak sediam ini. Frans melihat Sonya, kekasihnya itu sedang membantu pelayan lain untuk bersih-bersih. Kekasihnya pasti akan menjawabnya.
"Aku bantu..." Frans memegang tangan Sonya.
Sonya menatap Frans sekilas, lalu mengalihkan pandangannya. Ia menggibaskan tangan Frans.
"Kenapa mereka tidak merespon kita?" Glen menepuk bahu Frans.
"Entahlah...." Frans frustasi.
Akhirnya Glen dan Frans hanya membantu untuk membersihkan saja. Sisanya mereka berdua hanya melihat, semua orang mengacuhkan mereka berdua.
Ruang tengah belum sepenuhnya bersih, masih ada beberapa mayat yang belum diangkut anak buah Reza. Salah satunya adalah mayat salah satu pelayan gadungan tadi. Yang mata kirinya tertusuk pisau milik Reza. Glen dan Frans penasaran mendekati mayat itu. Mereka penasaran karena mayat itu terlihat paling menonjol dari mayat pelayan gadungan yang lainnya.
Menonjol parasnya, dan bentuk tubuhnya hehehe. Mereka juga laki-laki biasa, kan? Meskipun begitu keduanya menghampiri mayat itu dengan mata yang ditutupi tangan mereka masing-masing karena takut.
"Sebenarnya cantik, tapi sayang jahat ya?" Glen mengintip dari sela-sela jarinya.
"Aku udah punya pacar, jadi aku hanya penasaran saja!" sahut Frans.
"Okay okay," Glen mengalah.
"Udah yuk, jijik!" Frans menarik Glen, mengajaknya menjauh.
Glen dan Frans pun menjauh dari mayat itu. Mereka sudah merasa mual dan jijik melihat darahnya. Mereka duduk berdua di sofa, mau menyusul Reza dan Silvi juga percuma. Mereka akan dicuekin lagi.
Glen mulai sibuk dengan ponselnya. Pekerjaannya sebagai sekretaris menumpuk. Orang kepercayaan Reza mengirimkan banyak file dan beberapa laporan. Glen merasa lega, tidak ada kasus uang yang hilang lagi. Glen memeriksa file satu persatu lalu meneruskannya kepada Reza.
Sementara Frans, karena jenuh akhirnya ia main ponsel juga. Menggeser-geser layar ponsel itu mencoba menghilangkan kejenuhan. Ia juga mengirim pesan singkat untuk Sonya. Baru saja mereka jadian masa sudah musuhan.
Saat sedang fokus mengecek file, Glen merasakan kakinya di senggol sesuatu. Awalnya ia tidak mempedulikannya, tapi kakinya disenggol lagi. Glen melirik Frans dengan tajam.
"Apa?" ucap Frans, ia tidak nyaman ditatap Glen seperti itu.
"Kenapa senggol-senggol?" tanya Glen.
"Kakiku dari tadi diam di sini!" jawab Frans.
__ADS_1
Glen menghela napas panjang. Ia melanjutkan kegiatannya lagi. Ia melirik lift, Reza dan yang lainnya masih belum turun juga. Selang sepersekian detik, kaki Glen disenggol lagi. Kali ini lebih keras dari tadi. Glen menyenggol balik.
Kaki Glen pun disenggol lagi, membuat Glen sangat kesal. Ia menghentakkan kakinya dengan keras tidak disangka kakinya menginjak sesuatu. Glen melirik Frans, jika ia menginjak kaki Frans tapi kenapa Frans tidak terusik. Dia tidak terlihat kesakitan.
"Nggak sakit?" tanya Glen.
"Apanya?" sahut Frans.
"Kaki mu! Padahal aku injak!" jawab Glen.
"Makin ngaco!" seru Frans.
Frans beranjak dari sofa, ia berjalan menjauh dari sofa. Untuk menunjukkan pada Glen. Glen sampai melongo melihatnya. Kalau bukan kaki Frans lalu apa yang ia injak sekarang? Dan siapa yang menyenggol kakinya dari tadi? Glen menelan ludahnya, ia mengatur napas. Ia melihat ke kakinya.
"Ada tangannnn!!" pekik Glen, ia meloncat ke arah Frans.
"Mana????" Frans celingukan.
"Ituuu!!" Glen menunjuk ke belakang sofa.
Dari balik sofa perlahan muncul kepala, lantas terlihat jelas wajah sosok itu. Pelayan gadungan yang tertancap pisau di mata kirinya. Frans dan Glen saling menatap. Dua-duanya sama takutnya.
"Mama.... Ada hantuuu...." pekik Frans.
Gedubrak,
Frans jatuh tersungkur ke lantai. Ia shock melihat mayat wanita itu bangun lagi. Sekarang hanya tersisa Glen sendirian.
"Aduh, dia pingsan!" keluh Glen.
Glen mencoba menyenggol-nyenggol kaki Frans. Berharap Frans sadar agar ia tidak sendirian. Tapi Frans tidak sedikitpun bergerak.
"Bukan hantu, kakinya napak tanah," sahut Glen, ia memberanikan diri mendekati wanita itu.
"B******* ka...ka lii..an!" seru wanita itu.
Glen memicingkan matanya, ia maju selangkah demi selangkah. Wanita jahat itu masih sempat menantang padahal matanya sudah ditikam pisau seperti itu. Entah dapat keberanian dari mana, Glen menyentuh pisau yang menancap di mata kiri wanita itu. Lantas ia menarik sedikit pisau itu lalu membenamkannya lagi.
"Arrgghhh!" Glen ikut berteriak dengan kencang, ini akibatnya jika sok berani.
Wanita itu berhenti berteriak, Glen juga ikutan berhenti. Glen menatap wanita itu lagi, wanita itu bersandar sepenuhnya pada sofa. Kehilangan banyak darah membuatnya tidak kuasa untuk menyangga tubuhnya sendiri. Dia masih hidup saja sudah sebuah keajaiban. Tiba-tiba tangan wanita itu bergerak, mendarat tepat di bahu Glen.
"Ampun, aku tadi bercanda!" ucap Glen.
Kaki Glen gemetaran, tangan wanita itu berlumuran darah yang hampir mengering semua. Glen tidak kuasa menggerakkan tubuhnya. Ia mengharapkan keberanian yang datang seperti tadi, tapi keberanian itu tidak kunjung datang.
Gedubrak,
Hingga akhirnya Glen tersungkur di lantai menyusul Frans. Yang awalnya sok berani akhirnya pingsan juga.
"Wah wah...Masih hidup kau? Hebat juga!!" seru Reza menggema di seluruh ruangan.
"Ujung-ujungnya mereka pingsan juga!" Reza melangkahi Glen dan Frans yang pingsan.
Reza menghampiri wanita itu. Ia merasa sangat senang mendapati wanita yang ia tikam tadi masih hidup dengan keadaan memprihatinkan. Reza memperhatikan sekeliling, beruntung tidak ada orang. Hanya ada anak buahnya yang sibuk membereskan mayat-mayat. Para pelayan juga sudah kembali ke paviliun, Reza memberikan waktu agar mereka menenangkan diri sejenak.
"Mau aku obati?" Reza tersenyum smrik.
Pluk,
Wanita itu menampik tangan Reza yang menyentuh dagunya. Reza hanya mengulas senyum. Orang model seperti inilah yang ia selalu ia cari. Dengan wanita ini ia akan mengetahui informasi terkait penyerangan sekaligus mendapat kesenangan. Jujur Reza tidak yakin wanita ini akan membantunya mendapat informasi. Tapi paling tidak Reza yakin wanita ini akan membantunya untuk mendapatkan kesenangan.
"Aku tidak menerima penolakan! Ayo cepat sebelum kau mati di sini!" Reza menyeret wanita itu ke belakang.
Ia akan membawanya ke markas kecil. Masih ada banyak waktu sampai semua orang yang terkena obat tidur bangun. Silvi juga tidak akan mencarinya karena dia sedang menunggu semua orang bangun.
"Bos, mereka bagaimana?" tanya salah satu anak buah Reza, membuat Reza menghentikan langkahnya.
Anak buah Reza itu berdiri di samping Glen dan Frans yang pingsan.
"Pindahkan mereka ke kebun!" perintah Reza.
------------------‐---------------
__ADS_1
Reza menyeret wanita tadi ke markas kecil. Ia memastikan tidak ada yang melihatnya, ya kecuali CCTV. Tapi itu sih gampang, Reza ahli dalam bidang itu.
Krieett...
Begitu pintu besi itu terbuka, bau pengap menyeruak hidung. Ruangan ini jelas jarang dipakai. Reza membaringkan wanita tadi di tempat biasa.
"Aku rindu tempat ini," Reza menyentuh setiap benda yang ada di sana.
Semuanya masih tersusun rapih seperti dulu. Tidak ada yang berubah. Reza mengambil perban, plester, gunting, dan cairan Nacl. Tanpa banyak bicara Reza memasang sabuk pengikat di tubuh wanita itu. Ia guyurkan cairan Nacl, lalu tanpa memberi aba-aba Reza mencabut pisaunya.
"Arrgghhh!" wanita itu berteriak kesakitan.
Pisaunya tidak menancap dalam, memang pisau yang Reza gunakan hanya pisau kecil tadi. Reza menutup mata wanita itu dengan perban lalu memberikan plester. Tekanan pada balutan perban membuat perdarahan berhenti.
"Gillaaaa kau!" teriak wanita itu.
"Tenanglah, aku hanya membantumu!" sahut Reza.
"Lepaskan aku badebah! Tidak ada gunanya kau membawaku, aku tidak akan mengatakan apapun!" seru wanita itu.
"Tenanglah...Aku hanya ingin bertanya, siapa namamu kau itu wanita yang cantik!" Reza tersenyum.
"Cuihh!" wanita itu malah meludahi Reza.
Reza hanya tersenyum, tidak menunjukkan kemarahan. Ia menekan mata wanita itu lebih keras.
"Sakit, bodoh!" teriak wanita itu.
"Aku bertanya baik-baik, siapa namamu? Kenapa kau meludahiku?" sahut Reza.
"Namaku Julia, puas kau!" jawab wanita itu.
"Good..." Reza melangkah menjauh, ia duduk di kursi.
Reza tidak mengatakan apapun setelahnya, ia mengunyah permen karetnya dalam diam. Si Julia terus memberontak, berteriak tidak jelas. Hingga membuat Reza jengah dengan suara cemprengnya.
"Bisa diam tidak? Aku sedang makan permen karet!" seru Reza.
"Bunuh saja aku!" sahut wanita itu.
"Tidak semudah itu,,," Reza tersenyum.
"Aku tidak akan mengatakan apapun!" seru wanita itu.
"Jangan ngeyel, nanti nyesel loh!" Reza mengambil salah satu pisau.
Wanita itu tidak gentar dengan keputusannya. Reza semakin tertantang, ia menukar pisaunya dengan pisau yang lebih besar. Rupanya nyali wanita itu masih besar. Reza menukar lagi, menjadi pisau yang paling besar ukurannya.
"A...aku...ti ti tidak ta takut!" ucap wanita itu berbata-bata.
"Baiklah Julia..." Reza menatap wanita itu.
Zaasshhh,
Reza hanya menggesekkan sedikit ujung pisau itu di paha wanita itu. Tapi darahnya langsung mengalir, tidak diragukan lagi ketajaman pisau itu. Di paha ada banyak syaraf yang bisa memicu rasa sakit yang luar biasa. wanita itu mengerang kesakitan sekarang.
"Arrgghhh!" Julia mengerang.
"Katakan saja!" ucap Reza.
"Okay okay!"
"Kami berempat agen terlatih yang dibayar untuk melenyapkan semua orang di mansion ini..." ucap wanita itu, tercekat karena menahan rasa sakit!
"Siapa yang membayar agen setangguh kalian?" tanya Reza.
"Dia adalah......."
...............
Emang ada-ada aja ya si Glen sama Frans!
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1