Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
LENGAH


__ADS_3

Mei masih saja menatap keluar kaca mobil. Sejak mereka bertiga keluar dari kelas, Mei tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya. Iya, bertiga! Ia tidak hanya bersama Aryn tapi juga Myra. Aryn lah yang menawarkan Myra untuk pulang bersama.


"Kamu setiap hari diantar sopir dan dikawal seperti ini, Ryn?" tanya Myra memecah ketegangan di mobil itu.


"Dipaksa suamiku.." jawab Aryn canggung.


"Oh..Kalau Mei bareng kamu tiap hari juga?" Myra terkekeh.


"Kepo.." jawab Mei sinis.


"Just kidding!" Myra tersenyum.


"Katanya kamu juga sudah punya baby, ya?" Myra menatap Aryn.


"Iya," jawab Aryn singkat.


"Pasti lucu banget ya, mommynya saja cantik!" Myra memuji.


"Main ke rumahku aja mau nggak? Nanti aku kenalin sama Davin, babyku!" tanya Aryn antusias.


"Apa??? Aryn kamu nggak ingat apa yang dibilang suamimu?" Mei terkejut.


Di kepala Mei, terngiang ucapan Dave. Mereka berdua harus berhati-hati. Tidak boleh terlambat pulang, tidak boleh mampir-mampir, dan tentu saja tidak boleh membawa sembarang orang ke mansion.


"Myra kan bukan sembarang orang, dia baik! Tenang saja..." bisik Aryn.


"Terserah kamu sajalah!" sahut Mei.


"Bagaimana mau kan?" tanya Aryn pada Myra.


"Jelas mau dong!" jawab Myra senang.


"Langsung pulang ya, Frans!" Aryn memerintah Frans.


Frans mengangguk, mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju mansion. Myra menatap ke luar kaca mobil, matanya tidak bisa lepas dari kebun buah yang luas. Apalagi saat gerbang tinggi bergerak secara otomatis saat mobil mereka mendekat. Wajah Myra menunjukkan kekaguman. Aryn menatap Myra yang tidak berhenti tersenyum kagum.


Sepertinya aku pernah melihat senyum itu, batin Aryn.


Mereka bertiga turun dari mobil, Aryn berjalan lebih dulu. Ia membukakan pintu dan menyambut Myra. Mei masih cemberut.


"Mei nggak capek apa cemberut terus? Nanti keriput loh!" seru Aryn.


"Tau ah!" Mei meninggalkan Aryn dan Myra.


"Silahkan duduk!" Aryn mempersilahkan Myra duduk di ruang tamu.


Lantas Aryn memanggil Ily untuk menyajikan minuman dan makanan ringan untuk tamunya. Mereka berdua mengobrol bersama sesekali mereka nampak tertawa. Karena Aryn sudah berjanji akan mengenalkan Davin, Aryn pergi ke kebun belakang. Ily mengatakan Davin ada di kebun belakang bersama Glen.


"Allooo..." Davin berlarian.


Davin sangat semangat saat mommynya mengatakan ada yang ingin berkenalan dengan dirinya. Bos kecil itu berlarian menghampiri Myra di ruang tamu.


"Say hi ke aunty Myra, sayang!" seru Aryn.


Myra menoleh, tadi ia berkeliling melihat foto-foto yang dipajang di almari tinggi. Di hadapannya sekarang ada seorang anak laki-laki tampan. Pipinya tembam tapi hidungnya mancung.


"Hi aunty!" ucap Davin.


Myra tersenyum, ia berlutut di depan Davin. Myra mencubit pelan pipi gembul milik Davin.


"Hi Davin! Kamu ganteng banget!" puji Myra.


"Iya dong, anaknya Daddy Dave!" Davin menunjukkan deretan giginya.


"Gemes deh," ucap Myra.


"Oh ada tamu," ucap Glen.


Glen sedikit sinis melihat Myra, ia sampai melihat Myra dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan teliti. Ia sudah mendengar saat Aryn menghampiri Davin tadi, gadis ini adalah teman baru Aryn.

__ADS_1


Davin sangat mudah akrab dengan semua orang. Buktinya sekarang saja ia sudah akrab dengan Myra. Mereka berdua tengah bermain ponselnya Myra. Sepertinya main video game.


"Glen tolong kamu awasin Davin ya, jangan sampai dia merepotkan Myra! Aku mau ganti baju sebentar," perintah Aryn.


"Siap!" jawab Glen.


Aryn pergi ke kamarnya, sementara Glen ia duduk di sofa yang agak jauh dari Myra dan Davin. Untung tugasnya hanya mengawasi. Lumayan dia bisa istirahat, badannya remuk setelah main sumo-sumonan tadi.


Di kamarnya, Aryn mengganti bajunya dengan cepat. Lantas ia bergegas keluar kamar. Tepat saat Aryn membuka pintu kamarnya,


"Aaaa..." teriak Aryn.


Tiba-tiba di depan pintu kamarnya ada wanita berwajah hitam semua. Aryn sampai menutup matanya. Ia hanya bisa mengintip dari sela-sela jari, setelah diperhatikan dengan benar ternyata itu Mei.


"Astaga Mei, kenapa berdiri di sini!" protes Aryn.


"Aku cuma mau tanya, gadis centil itu sudah pulang? Sakit telingaku, kamu teriak kencang banget!" seru Mei.


"Dia masih ada di bawah. Bentar, aku kasih tahu alasan aku teriak," jawab Aryn.


Aryn masuk lagi ke kamarnya, ia mengambil sebuah cermin. Lantas ia berikan cermin itu kepada Mei.


"Lihat sendiri!" Aryn menyodorkan cermin.


"Apasih," Mei mengarahkan cermin ke wajahnya.


"Aaaaaaa...." teriak Mei.


Mei melemparkan cermin itu pada Aryn. Untung saja Aryn bisa menangkapnya kalau tidak cermin itu pasti hancur di lantai. Aryn tidak bisa menahan tawanya, sahabatnya ini ketakutan saat melihat wajahnya sendiri.


"Kamu takut pada wajahmu sendiri..." Aryn terkekeh.


"Menakutkan sekali," sahut Mei.


"Lain kali, bersihkan maskermu dulu sebelum keluar kamar Mei!" seru Aryn.


"Iya iya," Mei menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau sudah selesai, cepatlah menyusul ke bawah! Ada Davin juga di bawah," ucap Aryn pada Mei sebelum masuk ke lift.


"Kamu meninggalkan Davin bersama gadis itu? Hati-hati Aryn, aku rasa dia bukan gadis baik..." lirih Mei.


"Glen mengawasi mereka. Tapi aku rasa Myra tidak seperti itu, wajahnya saja terlihat polos." Aryn tersenyum.


"Okay okay," Mei mengalah.


Aryn bergegas masuk ke lift. Ucapan Mei mengganggu pikirannya, ia jadi khawatir. Begitu lift terbuka, Aryn langsung berlarian ke ruang tamu. Aryn terkejut bukan main, di sana hanya tinggal Glen seorang.


"Glen!! Davin dimanaa?" seru Aryn panik.


"Tenang, nona! Davin dan Myra bermain di kebun belakang," Glen langsung menghampiri Aryn.


"Lalu kenapa kau masih di sini?" Aryn nampak marah.


"Saya ada telepon, nona! Lagipula ada penjaga juga," jawab Glen.


"Benar juga, kenapa aku terlalu khawatir? Di sini ada banyak penjaga," Aryn mengelus dadanya.


Aryn merasa lega, ternyata Myra tidak seperti yang dikatakan Mei. Myra adalah gadis baik. Dan dia sekarang sedang bermain dengan Davin di kebun belakang. Tidak ada yang perlu Aryn khawatirkan.


Brakk,


Tiba-tiba pintu depan dibuka dengan keras dari luar. Aryn dan Glen langsung berlari ke pintu depan. Beberapa penjaga mengikuti Glen dan Aryn.


"Reza?" pekik Aryn.


Ternyata Reza yang datang, napasnya ngos-ngosan. Wajahnya terlihat sangat cemas dan khawatir.


"Ada apa, bos?" tanya Glen.

__ADS_1


"Apakah temanmu itu ada disini?" seru Reza penuh emosi.


"Iya, benar!" jawab Aryn.


"Astaga! Bagaimana bisa kamu membawanya kemari Aryn? Dia itu..." pekik Reza tertahan.


"Apa maksudmu, Za? Dia temanku, teman sekelasku Mei juga mengenalnya? Sebenarnya ada apa?" seru Aryn.


"Nanti aku jelaskan, sekarang ada wanita itu?" Reza semakin cemas karena tidak melihat Myra di sekitarnya.


"Dia bermain dengan Davin di kebun belakang," jawab Aryn.


"Oh ****!" pekik Reza.


Reza langsung berlari ke halaman belakang. Glen dan Aryn saling menatap, lalu mereka berdua berlari menyusul Reza.


"Loh...Davin!!! Myraa!!!" Aryn berteriak memanggil-manggil keduanya.


Saat mereka tiba di sana, halaman belakang kosong. Hanya ada mainan Davin yang tergeletak di tanah. Reza berteriak memnaggil Joe dan mengumpulkan penjaga.


"Reza, ada apa ini? Dimana Davinku?" Aryn sudah menangis histeris.


Reza tidak menjawab, ia menghampiri Joe dan para penjaga. Kedua mata Reza menatap tajam mereka, seperti akan mengulitinya hidup-hidup.


"Katakan!" teriak Reza.


Tidak mengunggu lama, seorang penjaga maju satu langkah. Ia tidak berani menatap Reza.


"Maaf, tuan! Saya yang berjaga di halaman belakang, Tuan Davin tadi bermain bola dengan seorang gadis. Tapi kemudian gadis itu membawa Tuan Muda Davin ke kebun, katanya Nona Aryn sudah menunggu mereka di sana!" ucap penjaga itu dengan lantang.


Bug,


"Bodoh!" teriak Reza.


"Joe cepat cek CCTV rahasiaku!" Reza mendorong bahu Joe.


"Glen cepat kau telpon Dave!" Reza menatap Glen.


"Dan kalian semua, tutup semua gerbang dan pintu mansion ini, pastikan semuanya aman!" teriak Reza pada penjaga.


Aryn menghampiri Reza, pipinya basah akan air mata. Ia menuntut penjelasan dari Reza.


"Ada apa ini? Dimana Davin? Jawab, Za!" Aryn histeris.


"Davin dibawa wanita itu," jawab Reza lirih.


"Myra maksudmu? Bagaimana bisa?" teriak Aryn.


Hap,


"Aryn!" pekik Reza.


Reza menangkap tubuh Aryn yang lemas karena pingsan. Ia menggendong Aryn dan membaringkannya di kamar. Katy dan Uti menemani Aryn di kamarnya. Sementara Reza, ia langsung pergi.


"Kak?" seru Silvi.


Silvi hampir menabrak Reza yang keluar dari lift dengan tergesa-gesa.


"Iya?" jawab Reza.


"Ada apa ini?" tanya Silvi.


"Kita terlalu santai, Davin dibawa pergi!" jawab Reza.


"Holy ****!" umpat Silvi.


"Lalu sekarang bagaimana?" tanya Silvi.


"Kita tunggu kakakmu dulu,"

__ADS_1


.......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2