
Davin menarik Glen ke rumah barunya. Ia tidak sabar ingin menunjukkan hewan peliharaan barunya. Sementara Glen, detak jantungnya berdebar tidak karuan. Tidak hanya karena lelah ditarik Davin, tapi ia juga merasa gelisah sekaligus takut.
"Semoga tidak aneh-aneh," doa Glen dalam hati.
Kira-kira 20 langkah, mereka telah sampai di rumah baru keluarga Dave. Rumah Dave tepat di samping rumah bosnya, hanya dibatasi pagar. Kalau di pagarnya ada pintu tembusan pasti hanya butuh 5 langkah.
"Dekat kan, uncle?" seru Davin.
"Iya..." Glen tersenyum.
"Peliharaan baru Apin ada di teras samping,"
"Bisa ditaruh di sana?" tanya Glen.
Mengingat hewan peliharaan Davin selalu besar, jadi rasanya tidal mungkin hewan itu dibiarkan di teras.
"Bisa dong, uncle! Makanya ayo lihat dulu,"
"Okay okay, let's go!" seru Glen kemudian.
Davin menuntun Glen ke teras samping. Sesampainya di teras, Glen menyipitkan matanya. Karena Glen tidak melihat apapun, yang ia lihat hanya sebuah kotak kaca yang lumayan besar. Mungkin besarnya kira-kira 50×50 cm. Dinding kotak kaca itu dilapisi kertas karton yang digambari. Bisa ditebak digambar sendiri oleh Davin.
"Mana peliharaan barumu?" tanya Glen.
"Itu!" Davin menunjuk kotak kaca yang Glen lihat tadi.
"Kamu serius, Apin?"
"Serius dong," jawab Davin dengan yakin.
"Coba tunjukkan saja langsung,"
"Ya udah, sini!" seru Davin.
Glen mengekor di belakang Davin.
"Ini dia!" seru Davin gembira.
"Mana?" Glen celigukan melihat ke dalam kotak.
Yang Glen lihat adalah sebuah kotak dengan isi tanah atau entah apa, memang ada yang bergerak sih di dalam tanah itu.
"Kamu pelihara cacing ya?" pekik Glen.
"Bukanlah, uncle! Bentar ya, Davin akan tunjukkan!"
Davin berlari ke dalam rumah. Lalu kembali lagi dengan membawa sebuah apel merah yang besar.
"Jangan kedip!" ucapnya.
Lantas Davin masukkan apel itu ke dalam kotak. Glen menatapnya tajam. Tiba-tiba saja ada segerombolan hewan berbentuk ulat menyerbu apel itu. Dalam sekejap saja apelnya sudah habis. Glen tidal tahan, ia langsung memuntahkan isi perutnya ke bawah tanaman hias yang ada di dekatnya. Perutnya bergejolak melihat hewan itu.
"Itu apa Apin?" seru Glen.
"Manggot!" jawab Davin.
"Kamu sungguh menjadikannya hewan peliharaan?"
"Iya, Uncle Glen!" ucap Davin dengan tegas di setiap katanya.
"Hewan menjijikan seperti itu untuk apa dipelihara, melihatnya saja aku ingin...Hueekkk...." Glen muntah lagi.
Davin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Manggot ini pemusnah sampah organik uncle, selain itu juga bagus untuk makanan ikan. Walaupun menjijikan tapi banyak keunggulannya," ucapnya kemudian.
Glen sempat terpana beberapa saat. Pemikiran Davin dalam memilih hewan sangat diperhitungkan untuk jangka panjang. Tapi tetap saja manggot itu menjijikan.
"Ayo buang saja, Apin! Mamamu pasti belum tahu, kan?"
"Daddy sudah tahu, tapi mommy memang belum tahu. Aku takut mommy buang mereka," jawab Davin.
__ADS_1
"Buang saja, yuk!"
"Nggak mau!" Davin menolak.
Sekarang Davin justru mengambil beberapa ekor manggot dengan tangannya sendiri. Ia berikan manggot itu pada kaki Glen. Sontak saja Glen melompat panik.
"Jangan jahil, Apin! Uncle bilangin mommy beneran loh!" seru Glen.
Davin semakin menjadi, ia tidak berhenti mengejar Glen untuk menakutinya.
"Stop it, bos kecil!" Glen mulai kesal.
"No! Uncle harus janji tidak akan memberitahu mommy dulu!" seru Davin.
"Uncle harus katakan pada mommy Apin, soalnya uncle juga takut!"
Davin semakin menakuti Glen. Karena tidak kuat lagi dikerjai Davin, Glen malah berbuat nekat. Mumpung Davin sibuk memungut manggot yang jatuh dari tangannya, Glen mengangkat box yang penuh manggot itu. Akan ia buang jauh-jauh.
"Jangan uncle!" seru Davin.
"Ini menjijikan Apin, uncle akan buang!"
"No, uncle!"
Davin menarik baju Glen dengan kencang.
"Apin, jangan tarik itu!" pekik Glen.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dan,
Gedubrak,
Terjadilah hujan manggot lokal yang hanya menghujani Glen.
"Bos......Atau siapapun....Tolooonnngggg!!!!" teriak Glen.
Davin tertawa terpingkal.
Di kediaman Cavero,
Tak terasa Mei juga sudah satu minggu ini tinggal bersama mertuanya. Mungkin karena diperlakukan seperti anak sendiri Mei jadi nyaman tinggal dengan mereka.
"Sudah satu minggu Zack nakal itu dihukum, apakah kamu tidak rindu dia sayang?" tanya Emmy.
Saat ini Emmy dan Mei sedang menonton tutorial masak di laptop. Sejak insiden kue batu bata tempo hari, Emmy dan Mei jadi semangat untuk belajar memasak. Salah satu usaha mereka ya menonton tutorial masak. Praktiknya nanti belakangan.
"Rindu? Mei saja lupa dengan Zack," jawab Mei polos.
Emmy tertawa.
"Menantu laknat," gumamnya.
"Mama ngomong apa?" Mei tadi mendengar Emmy mengatakan sesuatu tapi tidak jelas.
"Itu...Mama pengen belajar masak bolu coklat," jawab Emmy.
Mei mengangguk.
"Ohh..." ucapnya kemudian.
Emmy tersenyum simpul. Menantunya sesuatu banget.
"Aku sarankan, kau tinggalkan saja Zack!"
Tiba-tiba terdengar suara Zain. Entah sejak kapan Zain sudah berdiri di belakang sofa yang diduduki Emmy dan Mei.
"Jangan mengatakan hal buruk, Zain!" ucap Emmy.
"Aku mengatakannya karena aku punya bukti, ma..." Zain merogoh saku celananya.
"Bukti?" Mei bingung.
__ADS_1
Zain mengeluarkan dua lembar foto dari saku celananya. Ia melemparnya ke atas laptop yang tengah digunakan Emmy dan Mei.
"Apa ini?" Emmy memungut foto itu.
Sepersekian detik kemudian, kedua matanya melotot. Lantas menatap Mei yang duduk di sampingnya. Ditatap seperti itu membuat Mei jadi penasaran. Ia ambil alih foto itu.
"Dasar!" pekik Mei.
Mei meremas dua foto itu, ia remas sampai jadi kecil. Lalu ia buang foto itu ke tempat sampah dengan kesal. Bagaimana tidak kesal, dalam foto itu terlihat jelas Zack masuk ke dalam sebuah apartemen seorang wanita. Di foto kedua, Zack membukakan pintu mobil untuk wanita itu.
Parahnya lagi, Mei pernah bertemu wanita itu. Wanita itu pernah datang ke kantor untuk menemui Zack. Wanita itu juga yang merayu Zack di dalam ruangan di jam bekerja.
"Clara...Awas kau!" ucap Mei penuh dendam.
"Oh jadi namanya Clara," sahut Emmy.
"Iya, ma! Wanita itu namanya Clara,"
"Mama akan minta penjelasan dari Zack," ucap Emmy kemudian.
"Tidak usah, ma! Semua ini sudah jelas tidak perlu diperjelas lagi. Biar Mei yang turun tangan langsung!" Mei mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi, sayang...."
"Serahkan saja sama Mei," seru Mei.
Mei bergegas pergi ke kamarnya. Sepertinya ia akan bersiap-siap. Emmy berlarian mengikuti menantunya. Ia tahu perasaan Mei, tapi jika permasalahan dihadapi dengan pertikaian maka jalan keluar tidak akan ditemukan.
Sementara Zain, ia tersenyum. Akhirnya kebusukan Zack terkuak di depan Mei. Sekarang Zain yakin, Mei menyesal menikahi pria seperti Zack. Sebentar lagi pasti pernikahan mereka akan kandas. Zain tidak peduli reaksi mama atau papanya. Kedua orang tuanya itu pasti akan membela Zack bagaimanapun juga, jadi biarlah.
Ceklek,
"Kamu mau kemana, sayang?"
Emmy langsung menghadang Mei di depan pintu kamarnya. Ada Zain juga yang menghadang. Kalau Cavero, ia tidak ada di rumah.
"Mei akan memata-matai sendiri Zack, aku akan langsung menggerebek di lokasi nanti," ucap Mei.
"Harus pakai pakaian seperti ini?" tanya Zain.
"Iya," jawab Mei yakin.
Zain melihat lagi penampilan Mei. Mei menggunakan celana jeans hitam, baju kaos hitam, jaket hitam, sepatu hitam, tapi hitam, sampai kacamata hitam dan lengkap dengan maker yang berwarna hitam juga.
"Aku akan memata-matai, mengintai, jadi harus memakai kostum yang tepat juga!" imbuhnya.
Emmy menahan tawanya.
"Ya sudah, hati-hati ya! Hajar anak nakal itu!" ucap Emmy kemudian.
"Siap, ma!" jawab Mei.
"Aku ikut, ya!" seru Zain.
"Bawa dia, sayang! Untuk menjagamu nanti," Emmy meyakinkan.
"Ya udah, kamu ikut! Tapi pakai baju sama sepertiku dulu,"
"Harus?" Zain malah bertanya.
"Ya harus, agar kita tidak menarik perhatian di sana nanti,"
"Bukannya memakai pakaian serba hitam seperti itu justru akan menarik perhatian?" sahut Zain.
Lagi dan lagi Emmy menahan tawanya.
"Ikuti aturanku atau jangan ikut!" Mei cemberut.
"Okayyy!" jawab Zain.
....................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!