
Keesokan harinya,
Alarm ponsel Zack berkali-kali berbunyi. Pemilik ponselnya masih terlelap dalam tidurnya. Justru Mei yang terbangun, suara ponsel Zack bising sekali.
"Zackk!" Mei memanggil Zack.
Zack tidak bergerak sedikitpun. Pria itu benar-benar lelap sampai tidak terbangun dengan gangguan suara Mei.
"Zack bangun, ponsel kamu bunyi itu!" teriak Mei.
"Hmm," Zack melenguh.
Zack hanya berganti posisi tidur. Ia tidak membuka matanya sedikitpun. Sedangkan ponselnya masih terus berbunyi. Mei jadi kesal sendiri.
"Zackk bangunnn!" teriak Mei.
Bug,
Teriakan Mei diikuti lemparan sebuah bantal. Bantal itu mendarat tepat di wajah Zack.
"Arrghh!" Zack membuang bantal itu ke lantai.
Dengan kedua mata yang masih lengket, Zack duduk. Ia merentangkan tangan dan kedua kakinya. Tangan yang satunya menggosok kedua matanya. Badannya terasa pegal, mungkin karena ia tidak terbiasa tidur meringkuk di sofa. Ia matikan alarm ponselnya. Zack semalaman tidur di sofa. Tidak terjadi apapun di antara mereka semalam.
"Aaaaaaa!" Zack histeris melihat Mei.
"Apaan sih?" Mei sewot.
Zack mengelus dadanya, jantungnya hampir copot melihat wanita dihadapannya itu.
"Wajahmu!" lirih Zack.
Wajah? What the hell, apa maksud pria itu? Mei mengambil ponselnya, ia membuka kamera.
"Astaga!" pekik Mei.
Pantas saja Zack terlihat ketakutan sampai wajahnya pucat. Rambut Mei acak-acakan. Sisa make up yang tidak tuntas dibersihkan semalam membaur dengan air liur Mei. Mei buru-buru berlari ke kamar mandi.
Muka mana muka?
Lagi dan lagi, harga diri Mei sebagai wanita jatuh di hadapan Zack. Selalu saja ada hal memalukan yang Mei tunjukkan pada Zack. Harusnya Mei membuat kesan baik di pagi pertama mereka sebagi pasangan suami istri. Tapi ia malah mempermalukan dirinya sendiri.
"Astaga, dia sekarang adalah istriku," Zack melihat cincin yang melingkar di jari manisnya.
Rasanya masih seperti mimpi Zack menikahi wanita unik dan antik seperti Mei. Zack membuka ponselnya untuk mengecek jadwal seminggu ini. Sekalian menunggu Mei keluar dari kamar mandi.
"****!" kedua mata Zack melotot melihat jadwalnya hari ini.
Baru kemarin ia menikah, acara pernikahan kemarin juga panjang dan melelahkan. Tapi ternyata pagi ini ada jadwal meeting dengan client penting, dari luar negeri. Padahal niatnya hari ini ia ingin istirahat. Mama dan papanya juga mengatakan begitu. Hal ini tidak mungkin terjadi jika,
"Meii!!!" Zack meneriaki Mei.
"Ada apa lagi?" sahut Mei.
"Kenapa kau tidak menjadwal ulang meeting pagi ini? Kau pikir aku robot? Tidak capek tidak tidur?" Zack marah.
"Meeting? Kenapa aku yang harus merubahnya?" jawab Mei sekenanya.
"Kau itu sekretarisku, bukan? Apakah sebelum pernikahan kau tidak mengecek ulang jadwalku? Dasar!!! Sekarang aku harus bagaimana, client ini sangat penting! Proyeknya bernilai tinggi!" Zack mengomel.
Ceklek,
Mei sudah selesai mandi. Ia memakai handuk kimononya lagi. Terpaksa, karena tidak ada pakaian lain di almari.
"Okay, aku minta maaf untuk itu! Jam berapa meetingnya?" tanya Mei.
"Jam 10," lirih Zack, kedua matanya tidak bisa lepas dari Mei.
Mei terlihat sangat menggoda dengan handuk kimono yang dipakai.
"Itu artinya 30 menit lagi, ayo masuk!" Mei mendorong Zack.
Zack diam saja saat didorong Mei masuk ke kamar mandi. Memang tidak ada solusi lain, terlambat jika menjadwal ulang. Client itu pasti sudah tiba di negara ini. Semua ini salah Mei. Harusnya dijadwal ulang.
Mei merasa bersalah, ia melalaikan tugasnya sebagai sekretaris karena persiapan pernikahan kemarin. Tidak ada solusi lain, Zack harus menemui client. Mei bergerak cepat, ia membuka almari. Seketika Mei menjadi panik.
__ADS_1
"Sial, tidak ada setelan jas di sini!" pekik Mei.
Sebelum Zack semakin marah, Mei langsung ambil tindakan. Ia menelpon mamanya. Mamanya menginap di rumah orang tua Zack. Jadi Mei bisa meminta mamanya mengirimkan jas Zack. Ia juga meminta dikirimi baju formal untuk ke kantor. Beserta sepatunya juga.
Tidak selesai di situ saja, Mei juga bergegas menelpon pegawai hotel. Ia mengorder menu sarapan untuk Zack. Zack keluar dari dalam kamar mandi dalam waktu singkat. Yang penting tubuhnya sudah bersih. Ia keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk dan kaos putih oblong.
"Jangan pakai itu lagi!" Mei mencegah Zack yang hendak memakai jas semalam.
"Lalu aku harus pakai apa?" Zack uring-uringan.
Tok tok tok,
Mei langsung membukakan pintu. Barang kiriman mamanya sudah sampai. Untung saja cepat datang. Jaraknya juga tidak terlalu jauh sebenarnya.
"Nih!" Mei memberikan setelan jas untuk Zack.
Zack memakai pakaiannya begitu saja. Karena sudah memakai handuk jadi menurutnya aman saja. Tapi meskipun begitu, Mei menunduk.
"Jangan lupa kau masih sekretarisku, sekalipun kita sudah menikah. Tidak ada yang berubah," ucap Zack.
"Ya, aku tahu itu!" jawab Mei ketus.
Semalam mereka sudah membuat perjanjian, bahwa semua akan berjalan seperti saat mereka belum menikah. Mei menyetujuinya karena pernikahan ini memang mendadak. Jujur ia juga belum menerima pernikahan ini sepenuhnya.
Tapi entah kenapa hatinya sakit mendengar perkataan barusan. Padahal seharusnya ia biasa saja, mereka sudah menyepakati hal itu bersama.
Tok tok tok,
Terdengar ketukan pintu lagi. Zack yang membukanya, Mei sedang berganti pakaian di kamar mandi. Ternyata pegawai hotel yang datang. Sarapan Zack sudah siap. Zack menyantap sarapannya. Sayangnya Mei tidak sempat sarapan, jam sudah mepet. Akhirnya mereka berdua langsung berangkat ke kantor karena Zack sudah uring-uringan. Mei sedikit kecewa, Zack tidak mempedulikan dirinya.
-------------------------
"Hooaammm....." Glen meregangkan kedua tangannya.
Rasanya semalam tidurnya nyenyak sekali. Hanya saja tubuhnya terasa pegal sekarang. Ia membuka kedua matanya lebar-lebar melihat sekelilingnya. Ia sadar akan suatu hal.
"Mobil?" lirih Glen.
Dirinya di dalam mobil? Glen menyentuh kepalanya. Glen merasa sedikit pusing, lantas ia mengingat kejadian semalam.
Lantas Glen melihat ada seorang gadis duduk di belakang kemudi. Gadis itu tengah terlelap. Ada bau alkohol yang menyengat. Gadis itu mungkin juga mabuk. Ia memperhatikan seluruh interior mobil, semuanya terlihat asing.
"Ini bukan mobil punya bos!" pekik Glen.
Glen melihat ke luar jendela. Gedung-gedung asing, jalanan asing, Glen sama sekali tidak tahu tempat ini.
"Tolooonnngggg! Saya diculik!!!!" Glen berteriak, ia berusaha membuka pintu mobil tapi tidak bisa.
"Toollooonnggg!"
"Bisa diem nggak?" terdengar suara serak membentak Glen.
Tak lain dan tak bukan suara itu berasal dari gadis yang duduk di hadapannya. Setelah puas bersenang-senang di bar semalam, gadis itu memutuskan untuk tidur di dalam mobil. Berbahaya jika menyetir dalam keadaan mabuk, sekalipun mobilnya mempunyai fitur auto pilot. Lagipula, ada pria asing di dalam mobilnya. Ia tidak bisa membawa pulang pria asing itu.
"Iya," nyali Glen menciut, ia langsung diam.
"Pagi-pagi berisik banget!" gadis itu mengomel.
"Makanya lepasin saya," lirih Glen.
"Lepasin?" gadis itu bingung.
"Kamu kenapa bawa saya ke sini? Pasti gara-gara saya mabuk semalam, kamu memanfaatkan kesempatan itu untuk menculik saya," Glen mengatakan isi pikirannya.
Bug,
"Awww," Glen memegang kepalanya.
Gadis itu baru saja menghantam kepala Glen menggunakan botol bekas minuman.
"Menculik? Hellloooooo.....Lo yang masuk ke dalam mobil gua! Masih untung nggak gua buang ke tengah jalan!" gadis itu protes.
"Iyakah?" Glen berpikir.
Bug,
__ADS_1
Gadis itu memukul kepala Glen lagi.
"Sudah ingat belum?" tanyanya.
"Aduh, sakit ini!" keluh Glen, ia memegangi kepalanya.
"Laki dipukul pake beginian langsung sakit!" gadis itu meledek.
"Emang beneran sakit kepala saya," jawab Glen.
Gadis itu mengalihkan pandangannya.
"Sekarang lo udah nggak mabuk, kan? So...Keluar sekarang!"
"Nggak bisa?" ucap Glen.
"Kenapa lagi???" gadis itu mulai kesal.
"Saya tidak tahu daerah ini!" Glen berkata jujur.
"Apa urusannya sama gua?"
"Anterin pulang gitu," Glen asal jawab.
"Lo itu laki!" gadis itu melihat Glen dengan sinis.
"Apakah laki-laki tidak bisa tersesat? Saya benar-benar tidak hapal daerah ini," jawab Glen.
"Tinggal buka maps apa susahnya,"
"Baterai ponsel saya habis," Glen memperlihatkan ponselnya yang mati.
"Nih pake ponsel gua! Di sini uber ada banyak, pesan sekalian!" gadis itu menyodorkan ponselnya.
"Masalahnya dompet saya tidak ada," jawab Glen.
"Rempong banget jadi laki," keluh gadis itu.
"Tolong bantu saya, besok-besok kalau kamu butuh bantuan saya, saya gantian bantu! Sumpah!" Glen memohon.
Gadis itu menghembuskan napas kasar. Jiwa kemanusiaannya yang menang kali ini. Sebenarnya ia mau menolong juga karena melihat sikap Glen yang berbeda dengan laki-laki yang ia temui selama ini. Glen selalu menggunakan kata 'saya', ia jadi merasa dihormati. Ia menyalakan mesin mobil, segera tancap gas. Sebelumnya Glen sudah disuruh pindah duduk ke sampingnya. Jadi sekarang Glen dan gadis itu duduk berdampingan.
"Nama saya Glen," ucap Glen memecah keheningan mobil.
"Elie," jawab gadis itu dengan ketus.
Glen tersenyum tipis.
"By the way, kamu semalam kenapa bisa sampai gedung itu?" tanya Glen.
"Gua ngikutin pacar gua," jawab Elie.
"Dia datang ke pernikahan Zack juga?" tanya Glen lagi.
"Ya, begitulah!" jawab Elie tanpa melihat Glen.
"Saya nggak lihat kamu di dalam gedung," Glen mencoba mengingat.
"Gua cuma ngikutin. Pacar gua datang sama selingkuhannya," wajah Elie muram lagi.
"Jadi itu alasannya kamu mabuk di bar semalam?" Glen menatap Elie.
"Hmm," Elie tidak menjawab dengan jelas.
Glen tidak meneruskan obrolan itu. Ia bisa melihat perubahan ekspresi gadis yang menolongnya itu. Mereka hanya diam-diaman untuk waktu yang lama.
"Elie," lirih Glen.
"Apa?" Elie jutek.
"Boleh mampir sarapan nggak? Saya laper nih," Glen menyengir.
"Udah ditolongin, masih aja...." Elie sewot.
..................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!