Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
MENDADAK


__ADS_3

Blam,


Reza menutup pintu mobilnya dengan tergesa-gesa. Ia langsung berlarian menuju unit apartemennya. Di dalam apartemen Glen sudah menunggu bosnya itu. Glen langsung menunjukkan ipadnya. Menunjukkan foto dan pesan yang dikirimkan anak buahnya.


"Sial, bagaimana bisa ini semua terjadi!" umpat Reza.


Jari jemari Reza menggeser layar ipad itu dengan penuh kemarahan. Masalah menjadi semakin rumit sekarang.


"Saya sudah curiga dengan Bryan sejak awal, bos!" sahut Glen.


"Aku bodoh sekali, percaya dengannya!" keluh Reza.


Dari laporan anak buah Reza yang mengintai lokasi target, rumah itu sekarang kosong. Sejak mobil itu keluar dari rumah itu pagi tadi, mereka tidak kembali sampai sekarang. Padahal sekarang hari sudah gelap, menurut informasi Bryan mereka akan kembali di siang hari. Kecuali jika Bryan orang mereka. Bryan pasti sudah membuat laporan jadi mereka tidak akan kembali ke rumah itu lagi.


"Bryan pasti terlibat dari pria itu, bos!" Glen menatap Reza.


"****! Lalu apakah Bryan masih di rumahnya?" Reza penasaran.


"Tidak, bos! Rumahnya juga sudah kosong!" jawab Glen menggebu-gebu.


"Sial, lagi-lagi aku kehilangan pria itu!" Reza kesal.


"Kau masih ingat kan plat nomor mobil pria itu? Lacak sampai ketemu. Dan tentang Bryan, file identitasnya masih ada di ipadmu! Malam ini kau kerja lembur! Kerahkan anak buah untuk mencari mereka juga!" Reza memerintah.


"Yang penting ada bonusnya, bos!" jawab Glen.


"Kerjakan dulu, baru minta bonus!" sahut Reza.


Reza berjalan ke kamarnya, ia merebahkan tubuhnya ke ranjang. Kedua matanya menatap langit-langit. Untuk kesekian kalinya ia kehilangan jejak lagi. Sebenarnya untuk nama pria yang ia cari Reza pun tidak tahu. Karena pria itu selalu mengganti identitas. Terakhir pagi tadi Ia mengecek identitasnya, namanya menjadi Denis. Sekarang pun, pria itu pasti sudah pergi jauh dan mengganti identitas lagi.


Reza mengecek ponselnya, ada banyak pesan masuk dari mami dan Silvi. Kedua wanita yang sangat ia cintai itu berlomba-lomba menanyakan kabar Reza. Reza tersenyum penuh arti, kedua wanita inilah yang menjadi obat kepenatannya. Ia membalas pesan-pesan mereka satu persatu. Hingga akhirnya ia jatuh tertidur.


Tok tok tok,


Baru sekitar 1 jam Reza memejamkan matanya. Gedoran pintu kamarnya membangunkan Reza dari tidurnya. Reza berjalan sempoyongan menuju pintu. Ia buka pintu itu dengan perlahan. Matanya masih terasa lengket.


"Bos..." Glen menyelonong masuk ke kamar Reza.


"Ada apa sih?" Reza menggosok-gosok matanya.


"Ponsel bos kemana? Ini lihat," Glen menunjukkan ipadnya.


Reza mengalihkan pandangannya pada ipad Glen. Kedua mata Reza melotot, lantas ia bergegas mengecek ponsel. Ada banyak panggilan tidak terjawab dan pesan masuk dari papinya. Glen melihat mimik wajah Reza yang berubah seketika. Pasti hal ini menambah beban pikiran bosnya itu.


"Are you okay, bos?" tanya Glen dengan lirih.


"Yeah....Balas pesannya katakan aku akan pulang secepatnya!" seru Reza.


"Bagaimana dengan pria itu dan Bryan? Apa sudah ada perkembangan?" lanjut Reza.


"Belum, bos!" jawab Glen.


Reza berjalan ke balkon kamarnya. Ia menatap indahnya pemandangan lampu kota dari balkonnya. Dalam beberapa jam saja, pikirannya menjadi sangat kacau. Pertama, targetnya berhasil lolos lagi. Kedua, papinya mendadak memintanya untuk kembali ke Paris dengan alasan waktu yang diberikan sudah habis. Reza memang harus kembali papinya sudah baik hati mengizinkannya tinggal selama 2 minggu di sini. Perusahaan yang ia pegang tidak bisa ditinggal begitu saja terlalu lama. Apalagi karena dana perusahaan yang dibawa pergi waktu itu membuat keuangan perusahaan masih belum aman.


"Kenapa papi mendadak sekali...Aku harus bilang bagaimana ke Silvi?" gumam Reza.


Reza tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Silvi. Tapi kepercayaan yang diberikan papinya untuk mengurus induk perusahaan tidak bisa ia kesampingkan. Dua minggu lamanya ia meninggalkan tugasnya memimpin perusahaan. Waktu yang tidak sebentar. Ia begitu menikmati hari-harinya di sini sampai ia lupa batas waktu yang diberikan papinya.


Masih pukul 1 pagi, Reza rasanya ingin pergi menemui Silvi. Tapi ia urungkan niatnya, jika ia datang tengah malam nanti justru akan membuat Silvi dalam masalah dengan kakaknya. Pilihan satu-satunya Reza akan menunggu sampai pagi. Ia masih setia duduk di kursi pinggir balkon sambil menikmati secangkir kopi. Masalah yang ia hadapi hari ini membuatnya untuk tetap terjaga.


Keesokan harinya,


Glen sudah bangun sejak pagi buta tadi. Ia membereskan semua barang-barang. Ia masih tidak percaya akan meninggalkan apartemen ini siang ini. Setelah membersihkan badan, ia bergegas ke kamar Reza untuk membangunkan bosnya. Bosnya itu pasti akan bertemu Silvi terlebih dahulu.


Saat tiba di depan kamar Reza, Glen menghela napas berat. Pintu kamar Reza terbuka sedikit. Glen langsung masuk bergitu saja. Terlihat tempat tidur Reza msih rapi, ranjang itu tidak ditempati semalam. Kalau sudah begini pasti bosnya tidak tidur semalaman.

__ADS_1


"Bos?" Glen menghampiri Reza yang masih di balkon.


"Hmm," jawab Reza singkat.


"Barang sudah siap, bos! Tiket juga sudah saya booking, sesuai permintaan bos!" ucap Glen lirih.


"Bagus, kau tunggu aku di bandara saja! Naik taksi ke sananya, aku mau bertemu dengan Silvi." Reza mengambil jaketnya.


"Bos, tunggu.. " seru Glen menahan Reza.


"Aku tahu, ini ongkos untuk taksi!" Reza mengeluarkan beberapa lembar uang.


Sekretarisnya itu totalitas jika bekerja. Untuk urusan menyangkut bosnya, dia tidak akan keluar uang. Reza yang harus membayarnya.


Glen senyum-senyum sendiri menerima uang itu. Lantas Reza bergegas pergi.


"Tunggu, bos!" seru Glen lagi.


"Apa lagi?" tanya Reza kesal.


"Uang makan, saya butuh sarapan bos!" Glen menunjukkan deretan giginya.


"Nih!" Reza memberikan uang lagi.


Wajah Reza terlihat kesal, ia bergegas pergi sebelum dipanggil dan dimintai uang oleh sekretaris matre itu.


"Bos!" teriak Glen, Reza sudah hampir membuka pintu utama apartemen.


"Aku gunting mulutmu, Glen!!!!" seru Reza.


"Sabar, bos! Sabar...Saya hanya mau tanya, ini yang terakhir saya janji bos!" jawab Glen.


"Cepat katakan!" seru Reza.


"Bos buru-buru sekali, apakah bos sudah mandi?" tanya Glen.


"Tapi kok..." Glen langsung membungkam mulutnya.


"Apa? Bau? Kau yang bau!" Reza kesal.


"Bukan begitu, bos! Bau dari mana, ya?" Glen mengendus.


"Bau apaa?" Reza benar-benar kesal.


Ia mengendus pakaiannya sendiri. Kalau benar baunya dari tubuhnya, ia tidak bisa menemui Silbi dengan keadaan seperti ini. Apalagi Reza akan pergi jauh.


"Kalau baunya dari saya nggak mungkin! Saya juga sudah mandi kok, sudah wangi! Coba cium deh bos kalau nggak percaya!" Glen menyodorkan kaosnya.


Dengan polosnya, Reza menurut saja. Reza mendekati Glen, hidungnya mengendus pakaian Glen. Posisi Reza semakin mendekat pada kaos Glen. Dan,


Cup,


"Glen!" kedua mata Reza melotot, baru saja Glen mencium keningnya.


"Jangan sedih lagi ya, bos!" Glen langsung berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintunya.


"Glen Gentongggg!" teriak Reza.


Reza menggedor pintu kamar Glen, ia mengomel panjang. Glen membela diri dengan alasan ingin bercanda dengan Reza saja. Tapi tetap saja Reza merasa telah ternodai.


"Pertama pipiku dicium banci, sekarang keningku dicium Glen! Arrgghhh...Kenapa hidupku dipenuhi kaum pria! Kalau yang nyium Silvi gitu, pasti enak!" Reza keluar dari apartemennya sambil mendumel.


---------------------


Reza turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Ia tidak melihat ke kiri dan ke kanan sampai-sampai.

__ADS_1


"Auuww!" Mei ditubruk oleh Reza.


"Hati-hati!" teriak Zack.


Hap,


Untung saja Mei jatuh tepat di pelukan Zack. Kedua mata Mei dan Zack bertemu. Dua-duanya saling mengagumi satu sama lain. Kali ini Zack bisa merasakan detak jantungnya yang tidak seperti biasanya. Tapi di saat yang bersamaan Zack menolak apa yang dirasakannya.


Ini tidak mungkin, batin Zack.


Di sisi lain, Mei tenggelam dalam tatapan mata Zack. Sudah sejak lama Mei memutuskan untuk membuang jauh-jauh perasaannya untuk Zack. Tapi tatapan mata ini, selalu saja mampu membuat Mei tenggelam di dalamnya.


Aduh, pokoknya aku tidak punya perasaan apapun untuk dia, sudah kubuang jauh! Ingat Mei, tujuanmu sekarang adalah Zain, batin Mei.


"Astaga! Minggir-minggir, kalian menghalangi jalanku!" Reza menerobos masuk.


Bruk,


"Arrgghhh..Aduh...." alhasil Mei dan Zack jatuh bersama ke lantai, mereka berdua meringis kesakitan.


"Tuh, kan! Aku sial lagi! Dahiku saja masih sakit ini, eh udah ketemu lagi dengan kau!!!" keluh Mei.


"Jangan menyalahkanku! Reza tadi yang mendorong!" Zack membela diri.


Zack melihat ke dahi Mei. Ternyata benar, di dahi Mei masih terlihat sedikit biru. Tapi sudah tidak benjol. Zack beniat membantu Mei untuk berdiri.


"Berdiri!" Zack mengulurkan tangan.


"Bisa sendiri!" Mei berdiri sendiri, menolak bantuan Zack.


"Hmm, terserah kau saja! Oh ya, aku mau mengingatkan nanti malam jangan lupa papa mengundangku untuk makan malam. Jadi kau harus ikut!" ucap Zack bagaikan petir di siang bolong.


"Aku? Kenapa gitu?" Mei menolak.


"Kau lupa? Kau itu sudah aku bayar waktu itu untuk menjadi pacar pura-pura. Itu masih berlaku sampai sekarang ya," Zack mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak mau!" teriak Mei.


"Awas kalau menolak, ingat ya! Gara-gara kau, aku kehilangan Monica! Kamu tidak mau video waktu kau mabuk itu aku sebarkan di kampusmu? Kau pasti akan viral!" Zack terkekeh.


Astaga! Mei lupa selain Zack sudah membayarnya waktu itu, Mei juga yang menyebabkan Zack kehilangan Monica. Ditambah lagi Zack punya aibnya. Yaitu saat Mei mabuk dan menangis meraung-raung menyatakan cinta pada Zack. Kalau sampai tersebar, reputasinya pasti akan rusak, apalagi di hadapan Pak Dosen Zain.


"Okay okay," Mei pasrah.


"Hahahaha..." Zack tertawa puas.


Akhirnya ia tidak pusing lagi memikirkan agenda makan malam bersama papanya nanti. Ia tidak perlu mencari wanita untuk berpura-pura menjadi pacarnya. Karena masih ada Mei. Lagipula waktu itu yang Zack ajak adalah Mei. Kalau ganti pacar di waktu yang singkat pasti papanya akan curiga.


Di ruang makan,


Reza langsung duduk di samping Silvi yang baru akan sarapan. Silvi menatap Reza, Reza terlihat aneh hari ini. Wajah Reza terlihat seperti kurang tidur, kedua matanya juga berkaca-kaca.


"Kak?" panggil Silvi.


"Silvi..." lirih Reza.


"Are you okay?" tanya Silvi.


"Hari ini, aku..." ucap Reza dipotong Dave.


"Sarapan dulu! Mengobrolnya bisa nanti!" seru Dave.


"Aku akan mengatakannya nanti, sarapanlah dulu! Makan yang banyak!" Reza mengusap pucuk kepala Silvi.


.........................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2