Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
AZAB


__ADS_3

Zain mengajak Mei ke sebuah taman. Mei ia suruh menunggu di sebuah bangku taman sementara dirinya membeli ice cream untuk mereka berdua.


Mata Mei masih sembab, tapi ia mencoba untuk santai. Ia menutup matanya. Menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Suasana taman di sore hari membuat siapapun akan merasa damai di sana. Ada banyak anak kecil bermain di sana.


"Lama sekali..." keluh Mei.


Sudah 10 menit Zain meninggalkannya sendiri di bangku itu untuk membeli ice cream katanya, tapi belum balik juga. Karena bosan, Mei berjalan-jalan di sekitar bangku itu. Sekedar untuk melihat tanaman di tepi jalur pejalan kaki.


"Aku capek, Zack!" terdengar suara seorang wanita.


Mei reflek menoleh.


"Mereka...." lirihnya.


Nampak Clara dan Zack juga ada di taman itu. Zack berjalan duluan meninggalkan Clara. Hingga Clara terlihat marah dan berhenti berjalan. Mei memperhatikan dari kejauhan.


"Zackkk!!" Clara memasang wajah lesu.


Zack menghentikan langkahnya.


"Ada apa? Kau sendiri kan yang mengajakku ke taman, sekarang apa lagi?" seru Zack tanpa melihat ke belakang.


"Capek, Zack! Aku merasa lemas!"


"Menyusahkan saja..." Zack menghampiri Clara.


"Gendong!" Clara mengulurkan kedua tangannya.


"Apa???"


"Gendong, g-e-n-d-o-n-g!" sahut Clara manja.


"Tidak mau, banyak orang di sini!"


"Ya sudah, aku tinggal bilang aja ke semua orang, kalau aku..."


"Okay, ayo!" Zack langsung menggendong Clara di punggungnya.


"Gitu dong!" Clara tersenyum senang.


Mei menggigit bibir bawahnya, ia menahan tangis.


"Mesra-mesraan di tempat umum," lirihnya.


"Mei!" Zain datang.


Zack menoleh ke sumber suara. Setelah melihat Mei juga ada di sana, kakinya terasa lemas. Perlahan ia menurunkan Clara dari gendongannya.


"Ini ice creamnya, Mei!" Zain menyerahkan sebuah ice cream dalam cup.


"Thanks," jawab Mei.


Kaki Zack bergerak dengan sendirinya. Ia menghampiri istri dan kakak iparnya. Sedangkan Clara mengekor di belakang.


"Kamu jalan sama Zain?" Zack menegur Mei.


"Kenapa? Masalah?" Mei sewot.


"Dia kakak iparmu, seharusnya tidak sedekat ini kan?" tanya Zack.


"Oh begitu! Terus wanita itu? Dia kan mantanmu seharusnya kamu tidak sedekat itu juga kan? Gendong-gendongan di tempat umum, bagaimana kalau di tempat tertutup." ucap Mei sinis.


Zack bungkam.


"Ayo Mei, kita pulang saja!" Zain mengajak Mei.


"Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang lain," Zack menatap kakaknya.


"Aku tidak ikut campur kok! Kamu mau pulang kan, Mei?"


"Iya, yuk pulang!" Mei berjalan duluan.

__ADS_1


"Lihat sendiri kan?" Zain tersenyum sinis.


Zack mengepalkan tangannya. Zain benar-benar menantangnya. Ucapan kakaknya hari itu sepertinya serius. Zack harus cepat menyelesaikan masalah ini.


"Ayo kita pergi juga!" Clara menarik tangan Zack.


Zack pasrah di gandeng Clara. Pikirannya kacau saat ini. Di saat Zack dan Clara berjalan menjauh, Clara menoleh ke belakang.


"Good job!" ucap Zack dengan perlahan sampai tidak ada suara yang terdengar hanya gerak mulut saja.


Clara tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Lantas Zain menyusul Mei. Ya! Sebelum ke taman tadi Ia mengirim pesan singkat pada Clara. Jadi Clara juga membawa Zack ke taman.


++++++++++++++


Di rumah Reza,


"Kau jangan curang Dave!" teriak Reza.


Setelah selesai makan siang mereka duduk bersama di ruang tengah. Silvi dan Aryn mengobrol bersama seputar kehamilan. Dave dan Reza adu main video game. Sementara Davin, ia sudah bermain dengan dengan Glen di dekat kolam renang.


"Kau saja yang tidak bisa main!" sahut Dave.


"Enak saja, rasakan ini!" Reza menyerang Dave.


Dave terlihat serius.


"Heh, kau itu gimana?" seru Dave kemudian.


Bruak,


Dave melemparkan stick gamenya ke sofa.


"I won!" teriak Reza girang.


Reza melonjak-lonjak kegirangan seperti anak kecil. Tak lupa ia mengejek Dave.


"Aku hanya sedang tidak fokus tadi," Dave mengelak.


Silvi dan Aryn tertawa.


"Jangan senang dulu kau, hari ini hari keberuntunganmu!"


"Sama saja. Aku yang menang, wlek!" Reza menjulurkan lidahnya.


Silvi dan Aryn tertawa lagi.


"Kalian ini seperti anak kecil saja," ucap Aryn kemudian.


"Dia yang seperti anak kecil, baru menang sekali kepalanya langsung besar!" Dave cemberut.


"Kamu juga seperti anak kecil sayang, kalah sekali langsung cemberut!" Aryn mencubit pipi suaminya dengan gemas.


Silvi tertawa.


"Monyong seperti dugong!" Reza meledek.


Plak,


"Aawww!" sebuah sandal jepit melayang ke kepala Reza.


"Makan tuh sandal jepit!" seru Dave kesal.


Lagi dan lagi, Aryn dan Silvi tertawa.


Reza mengelus kepalanya. Mimpi apa semalam bisa kena timpuk sandal jepit.


"Sial, mana sandalnya butut! Udah nggak mampu beli sandal, Dave?" seru Reza.


"Makin ngeselin ya, awas kau!" Dave merebut sandalnya.


Reza tertawa.

__ADS_1


"Aaa...Tolong!" tiba-tiba terdengar suara Davin dari kolam renang.


Semua orang menatap ke sumber suara. Apa yang terjadi di sana? Lalu nampak Apin berlari menghampiri mereka. Tubuhnya basah kuyup dari kepala sampai ujung kaki.


"Tolong Apin!" seru Davin.


"Ada apa sayang?" tanya Dave dan Aryn bersamaan.


Davin berhenti, napasnya tersengal. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu. Baru mengatakan apa yang terjadi.


"Ada apa, Apin? Coba katakan pelan-pelan, atau mau minum dulu?" sahut Silvi.


"Tidak usah, aunty..." jawab Davin.


Semua orang fokus menatap Davin. Mereka menunggu cerita Davin mengenai apa yang membuatnya berlarian dalam keadaan basah kuyup seperti itu.


"Uncle Glen...." ucap Davin.


"Uncle Glen kenapa?" tanya semua orang kompak.


Davin masih sempat melongo sejenak, kagum mereka semua bisa kompak.


"Cerita Davin, mommy penasaran!" Aryn mendesak.


"Iya, mommy!" jawab Davin.


"Jadi tadi, Davin dan Uncle bermain di dekat kolam. Kami main bola, biasa oper-operan bola. Dan seperti biasa juga Apin kerjain Uncle Glen. Apin sengaja tendang bolanya kuat-kuat, eh ternyata Uncle Glen smapai jatuh ke kolam." lanjut Davin.


"Kalau Glen yang kecebur kolam kenapa kamu yang basah, Apin?" tanya Dave.


"Itu dia masalahnya, Daddy! Uncle Glen marah, Apin dikejar dan diajak masuk ke kolam. Itu uncle masih ngejar juga!" seru Davin.


Davin langsung bersembunyi di belakang Dave. Glen tidak menyerah, ia tetap mengejar Davin.


"Berhenti, di situ!" teriak Dave.


"Mana Apin?" sahut Glen.


"Sudahlah Glen, masa sama anak kecil aja dendam!" Reza menegur Glen.


"Tidak bisa, bos! Mana Apin?" Glen masih berusaha mengejar Davin.


"Glen, sudahlah! Jangan kejar Davin lagi kasihan!" seru Aryn.


"Apakah Apin tidak cerita?" Glen justru bertanya.


"Sudah. Apin sudah cerita. Kau itu orang dewasa cuma tidak sengaja masuk kolam saja balas dendam!" Reza sewot.


Glen mengepalkan kedua tangannya. Benar dugaannya Davin tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak lengkap ceritanya," ucap Glen.


"Apa maksudmu? Sudahlah, masalah kecil jangan dibesar-besarkan!" sahut Reza.


"Masalah kecil? Bos...Kalau hanya saya yang masuk kolam tidak masalah. Tapi ponsel mahal saya yang baru, yang sama seperti punya bos ikut tercebur juga huuuaaaa....." setelah lama menahan air mata Glen pecah.


"Ponsel?" pekik Reza.


"Apin...." Aryn menatap anaknya.


"Apa benar itu, Davin? Kenapa tadi tidak mengatakannya, kami jadi berburuk sangka sama Glen kan." Dave menatap putranya.


Davin menyengir kuda.


"Aduh Apin lupa, tadi Apin terpesona melihat daddy sama yang lainnya kompak sepeti paduan suara natal! I am sorry...." ucapnya kemudian.


Dave menepuk dahinya sendiri.


"Ganti rugi dong, Tuan Dave! Ponsel saya huuaaa..." Glen sesenggukan.


Begitulah azab sok-sokan bergaya beli ponsel baru sama dengan bosnya.

__ADS_1


.....................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2