
Mobil Glen berhenti di depan pagar rumah Elie. Matahari sedang terik-teriknya, hari ini mulai masuk musim panas. Perut Glen kenyang, sesuai ekspektasinya Elie mengraktirnya makan siang. Sekarang gadis itu beranjak turun dari Mobil Glen. Glen juga turun dari mobilnya, ia akan pindah ke belakang kemudi.
"Thanks, walaupun lo ngeselin tapi lo berhasil bikin mantan gua kesel," ucap Elie.
"It's okay! Kalau butuh aku lagi, aku siap kok!" Glen tersenyum.
"Semoga nggak butuh lagi sih,"
"Glen tampan pulang dulu, ya!" seperti biasa Glen mengeluarkan jargon kebanggaannya.
"Mau pulang aja masih nyebelin," keluh Elie.
Glen terkikik.
"Langsung pulang ya? Tidak mampir dulu, Glen?" suara seseorang menahan Glen.
Glen tahu suara itu, ia balik badan menatap wanita cantik yang berdiri di depan pintu utama rumah Elie.
"Saya ingin mampir, tapi saya punya pekerjaan." jawab Glen canggung.
"Oh, ya sudah! Lain kali mampir ya, Glen!"
Glen tersenyum seraya mengangguk pelan. Sungguh kontras sekali perbedaan Elie dan wanita itu. Dia sangat lemah lembut dan ramah. Sementara Elie sangat cerewet dan bar-bar. Hari ini sudah dua kali ia dipukul Elie. Adik kakak memang terkadang mempunyai sifat dan perilaku yang jauh berbeda.
"Besok dia ada meeting di Dubai dengan raja minyak!" seloroh Elie terkikik.
Kaca mobil Glen sedikit diturunkan, dari sana ia melambaikan tangan. Mobilnya merayap perlahan meninggalkan Rumah Elie.
"Titip salam untuk Tuan Abdul!" teriak Elie.
Citt....
Mobil Glen berhenti, "Bosku namanya Tuan Reza bukan Abdul, siapa Abdul?" tanyanya.
"Raja minyak Dubai hahahaha...."
Elie memegang perutnya, tawanya sangat keras.
"Dasar!" Glen tancap gas.
Di sepanjang perjalanan Glen hanya mengingat dua hal. Pertama wajah cantik Kakak Elie, dan yang kedua suara tawa Elie dan kehebohannya. Ia banyak tersenyum. Sampai saat disalip kendaraan lain Glen tersenyum sampai mereka jauh meninggalkannya di depan.
"Aku bahagia hari ini," teriak Glen keluar mobil.
Tin tin tin
Aksinya direpon langsung oleh pengendara di belakangnya. Yang dilakukan Glen membahayakan Glen dan pengendara lain.
"Iya, silahkan duluan! Semoga harimu menyenangkan!"
Begitulah tanggapan Glen saat pengendara yang marah itu menyalipnya. Glen mengemudikan mobilnya menuju rumahnya. Setelah sampai rumah nanti ia akan menonton film, makan popcorn, hari ini ia akan memanjakan dirinya.
...***********...
Hari demi hari berlalu, tiba saatnya peresmian 'Red Resort & Resto'. Sahabat dan kerabat diundang agar turut serta dalam kebahagiaan hari ini. Papan besar bertuliskan 'Red Resort & Resto' dipasang di tepi jalan utama. Meskipun baru mau diresmikan, tapi banyak calon pengunjung yang hadir. Mereka dengan sabar menunggu acara peresmian itu dilaksanakan.
Dave, Reza, beserta anggota Red Bloods beberapa hari ini gencar melakukan promosi. Dari koran, majalah, sosial media, televisi, hingga papan iklan di jalan menjadi media promosi resort mereka. Itulah sebabnya banyak pengunjung yang hadir.
__ADS_1
Persis di depan resort, disediakan pita panjang berwarna merah yang kedua ujungnya dipegang oleh Zack dan Samuel. Sekarang Desmon, Davin, Kelyn, dan Arthur bersiap memotong pita itu. Sebenarnya yang akan memotong Davin, mereka hanya menyentuh sedikit gagang gunting sebagai simbolis mereka juga ikut memotong. Dalam hitungan ketiga, pita itu telah dipotong. Riuh tepuk tangan terdengar.
"Selamat datang Di Red Resort & Resto," seru Dave.
"Di hari peresmian ini, semua makanan disediakan gratis di restoran. Diskon 50% untuk pemesanan kamar di resort dan pelayanan lain." imbuh Reza.
Pengunjung menyambut pengumuman itu dengan suka cita. Mereka berbondong-bondong masuk.
"Kalian mulai menjalankan tugas hari ini!' seru Dave.
Reza dan yang lainnya mengangguk malas.
"Sia-sia gua pakai jas, ujung-ujungnya ngurusin kebun," keluh Zack.
"Pensiunan mafia jadi tukang kebun ckckck," jeritan Samuel yang senasib dengan Zack.
"Gua kira masa pensiun gua jadi orang yang lebih sukses, kolam renang menunggu! Gua duluan!" sahut Ken, ia memberikan Arthur pada Glen.
"Kok saya yang gendong Arthur? Saya juga harus jaga kolam," Glen protes.
"Lo yang momong Arthur, gua yang jaga..." Ken jalan duluan.
Glen mengekor di belakang.
"Ayo bubar, kerjakan tugas masing-masing!" Dave menatap Zack, Samuel, dan Reza yang masih di sana.
"Yeah....Kelyn, kamu ikut mommy ya sayang!" ucapnya seraya mengecup pipi putrinya. Kelyn mengangguk setuju.
Samuel berjalan malas-malasan, hari ini Kelyn bersama mommy-nya. Ia tidak mau mengajak Kelyn bersamanya ke kebun, bisa-bisa putri cantiknya itu akan mandi tanah. Zack berjalan di sebelahnya.
"Semangat ya, dad! Cuci piringnya..." Silvi tertawa.
Reza tersenyum kecut. Ia melepas jasnya dan menitipkannya pada Silvi istrinya. Ia menuju restoran, lebih tepatnya wastafel tempat cuci piring.
"Davin sama mommy dulu ya," Dave juga berpamitan pada jagoan kecilnya.
"No! Kalau sama mommy nanti ada si centil juga!" protes Davin.
"Siapa si centil?" Dave menatap Aryn.
Aryn mengangkat bahunya, ia tidak tahu.
"Elyn, dad!" Davin cemberut.
Mereka tertawa.
"Tidak apa-apa, Davin! Yang penting kamu ikuti ajaran daddy, kamu ingat?"
"Stay cool, dad!" Davin menjawab.
"Good job, son!" Dave tersenyum bangga.
Aryn memijit pelipisnya melihat tingkah ayah dan anak itu. Semoga nanti Davin tidak mewarisi sifat buruk daddy-nya. Cukup tengil dan sok cool-nya saja wkwk.
Dave bergegas menuju restoran. Hari ini hari pertamanya menjadi kasir. Tersisa para istri yang masih duduk-duduk santai di bangku depan resort.
"Bosen nih," Mei mengeluh.
__ADS_1
Setelah pemotongan pita tadi, mereka hanya duduk di sana sambil mengawasi Davin dan Kelyn yang bermain bola.
"Iya, mana Arthur diajak daddy," Naina juga mengeluh.
"Anak aku masih di dalam perut," Silvi ikut-ikutan.
Anger terkikik.
"Kalian makan aja gih," ucapnya.
"Belum laper," jawab Naina dan Silvi kompak.
"Kalau aku udah laper, dikit! Aku ke resto dulu yah?" sahut Mei.
"Terserah kamu aja, Mei!" Aryn tersenyum.
Mei bergegas menuju resto seorang diri. Tidak sabar mencicip menu di resto baru mereka.
"Terus kita ngapain, Ryn?" Naina menatap Aryn.
"Kalau aku kan jaga Davin, Angel juga!" jawab Aryn.
"Kalian berenang aja, atau berkuda, latihan memanah juga ada!" Angel terkikik.
"Aku sedang hamil," Silvi cemberut.
"Kalau hamil berenang nggak masalah, Sil! Yang penting ada yang mendampingi, justru berenang bisa melatih pernapasan, otot-ototmu juga bisa rileks gitu," sahut Angel.
"Kamu nggak tau aja, Kak Reza itu kelewat khawatir. Setiap ke kamar mandi aja di ngikut masuk, katanya takut kalau aku terpeleset di dalam. Satu bulan terakhir ini aja dia yang baru mau menunggu di depan minggu. Yeah tapi setiap 2 menit dia ketik pintu dan aku harus jawab gitu, kesel nggak sih..." Silvi menggerutu.
Angel tertawa.
"Aku nggak ragu sih, soalnya kemarin aku lihat sendiri turun tangga aja Silvi harus nunggu Reza. Tapi Dave dulu juga begitu sih, kamu mending masih dibolehin naik turun tangga, aku dulu harus pake lift. Jalan jauh pakai kursi roda, kadang aku protes aku hamil bukan lumpuh," Aryn terkikik.
"Damn! Ada-ada aja suami kalian. Samuel dulu perhatian juga, cuma ya masih wajar. Buatin susu hamil, mijit kaki...Kalau dia malah nemenin aku jalan-jalan tiap pagi keliling rumah. Aku yang bawa perut segede semangka masih kuat jalan sampai rumah, dia yang cuma bawa perut isi pizza tepar duluan hahaha...." Angel tertawa jika mengingat tingkah suaminya.
Mereka tertawa.
"Mirip sama daddy," sahut Naina.
"Setiap suami pasti mempunyai cara sendiri untuk menunjukan rasa cintanya moms!" seru Aryn.
"Setuju, kita harus bersyukur di luar sana ada banyak wanita yang mendambakan perhatian dari suami," Angel menyahut.
"Duh, emak-emak dipancing dikit langsung gossip ya, moms!" seloroh Silvi.
"Udah insting," sahut Aryn.
"Untung Mei nggak di sini," Angel menatap mereka.
"Kita susul Mei aja yuk, Davin sama Kelyn lapar abis main bola!" Aryn memanggil Davin dan Kelyn.
"Gas!" seru mereka.
......................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!
__ADS_1