Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
SUASANA TEGANG


__ADS_3

"Berhentilah kalau kau tidak kuat, Sam!" lirih Ken.


Saat ini langkah Samuel tertatih, mereka baru saja keluar dari hutan. Sudah dekat dengan gerbang samping.


"Kau diamlah! Kita sudah dekat," Samuel memarahi Ken.


"Aku benci Dave! Kenapa markas ini luas sekali, di tengah hutan pula!" lanjut Samuel.


Ken tertawa, tapi kemudian meringis. Perutnya terasa sakit karena tertawa. Setelah berjalan jauh akhirnya mereka tiba di gerbang samping. Samuel menurunkan Ken secara perlahan di depan gerbang. Sulit jika membuka gerbang sambil menggendong, Ken bisa jatuh.


"Aauuww..." Ken meringis kesakitan.


"Tahan sebentar, aku akan membuka gerbangnya!" ucap Samuel.


Ken mengangguk, ia membenarkan posisi duduknya.


"Dikunci!!!" pekik Samuel.


Gerbang samping itu terkunci rapat. Samuel memandangnya karena kesal. Ia semakin panik, Ken semakin pucat. Ia tidak berani melihat perut Ken, pasti darahnya sudah banyak keluar.


"CCTV," lirih Ken.


"Kenapa CCTV- nya?" Samuel tidak paham.


"A-arahkan wajah jelekmu itu ke CCTV, Sam!" jawab Ken lirih.


"Benar sekali, di saat kritis seperti ini kejeniusanmu masih top!" Samuel beranjak mendekati kamera pengawas yang ada di atas pagar dekat gerbang.


Samuel memanjat sedikit, lalu mendekatkan dirinya ke kamera. Bahkan Samuel melambai-lambaikan tangannya.


"Kemana semua orang? Apa gunanya dipasang CCTV kalau tidak dilihat? Pantas saja kau bisa celaka!" Samuel tidak berhenti mengumpat.


"Sabar..." lirih Ken.


"Kau juga sama! Tetaplah diam, simpan tenagamu. Apakah kau tidak kesakitan, darahmu itu banyak sekali yang keluar! Kau mau cepat mati terus istrimu jadi istri keduaku ha?" Samuel memarahi Ken sambil menunjuk perut Ken.


"Mulutmu, Sam! A-aku gunting nanti!" lirih Ken.


"Astaga darah!!!" pekik Samuel.


Bug,


"Sam!" pekik Ken.


Samuel terduduk lemas di samping Ken. Perutnya bahkan terasa bergejolak karena melihat banyaknya darah Ken.


"Sam, jangan pingsan! Ka-kalau kau pingsan aku bagaimana?" Ken khawatir.


Samuel bersandar di pagar. Kepalanya terasa semakin berputar. Pandangan matanya bahkan semakin buram.


Ceklek,


"Ken...Sam...."


Keberuntungan berpihak pada mereka, teman mereka yang juga menginap di markas menghampiri semua. Untung saja yang menjaga monitor CCTV melihat Samuel dari monitor. Tadi dia tertidur beberapa menit, karena itulah kejadian ini tidak diketahui anggota yang lain.


Gedebug,


Samuel akhirnya pingsan.


"Ayo cepat bawa mereka masuk! Dan kau, hubungi dokter! Kabari Bos Dave, Reza, dan Zack juga!" salah satu dari mereka mengomando yang lainnya.


Saat Ken dibawa masuk, ia juga jatuh pingsan. Darah yang keluar banyak, itu juga sudah sangat beruntung Ken sempat membalut lukanya sendiri dengan saputangan.


...+++++++++++...


"APAAA!!!!" pekik Dave.


Dave mematikan ponselnya detik itu juga. Reza dan Zack juga menelpon Dave, tapi ia acuhkan. Ia berjalan keluar dari kamar dengan cemas. Sampai hampir menabrak Aryn yang baru akan masuk ke kamar.

__ADS_1


"Maaf sayang," ucap Dave, untung Aryn tidak jatuh.


"Kamu kenapa?" tanya Aryn.


"Ken terluka," jawab Dave.


"Astaga!" Aryn terkejut.


"Kamu sama Davin jangan kemana-mana ya selama aku pergi," Dave memegang pundak Aryn.


Aryn mengangguk paham.


Aryn mengantar Dave sampai ke pintu depan. Reza, Glen, dan Silvi rupanya telah berdiri di depan pintu.


"Bagus kalian kesini, Silvi kamu dirumah saja dengan Aryn ya?" ucap Dave.


"Iya, kak! Tadi Kak Reza mengajakku kesini juga karena ingin mengatakan itu," jawab Silvi.


Dave menatap Reza sinis. Reza tidak mempedulikannya, Dave memang seperti itu kepadanya jadi mau diapakan lagi.


"Zack juga akan kemari, akan lebih aman istri kita bersama di sini selama kita pergi," ucap Reza kemudian.


"Baiklah," Dave menjawab dengan malas.


Mereka semua tetap berdiri di depan rumah Dave dengan cemas. Untung aja Zack datang cepat. Nampak wajah Zack juga sama khawatirnya dengan mereka.


"Ayoo!" seru Zack.


"Ingat ya...Kalian jangan kemana-mana dulu selama kami pergi. Kunci semua pintu dan jendela, kalau butuh sesuatu minta orangku untuk membelinya. Aku akan suruh dua orang berjaga di depan rumah, dan beberapa orang dari jauh. Davin juga jangan diizinkan bermain keluar dulu," ucap Dave.


Aryn, Silvi, dan Mei diam menyimak.


"Okay," jawab mereka serempak.


Dave bergegas menuju mobilnya, Zack mengikutinya. Mereka menggunakan satu mobil, mobil Dave. Reza juga bergegas ke garasi rumahnya yang hanya bersebelahan dengan garasi rumah Dave, dan dibatasi pagar tentunya. Glen mengekor di belakangnya.


Mereka berdua sudah ada di dekat mobil Reza.


"Masuk ke mobil, ikut bos!" jawab Glen.


"Kau tidak ikut, kau harus di rumah. Menjaga Silvi, Aryn, dan Mei..."


"Tapi bos..." Glen hendak protes.


"Mau aku potong gaji? Nanti nggak bisa nerusin cicilan rumah mewah..." Reza mengeluarkan jurus.


"Okay deh bos," jawab Glen lemas.


Para istri melambaikan tangan dari depan rumah, lalu mereka masuk lagi ke dalam rumah setelah mobil yang dinaiki suami mereka menghilang di belokan.


"Ayo masuk yuk," Aryn mengajak Silvi dan Mei masuk ke rumahnya.


Di saat itu juga Glen mengekor di belakang mereka. Sontak saja ketiganya menoleh, karena merasa ada yang mengikuti.


"Hai, Glen tampan di sini!" sapa Glen terkesan kaku dan membuat mual orang yang mendengarnya.


"Ngapain di sini?" seru Mei.


"Tidak ikut bosmu?" tanya Silvi.


"Saya disuruh menjaga kalian hehehe..." Glen menyengir.


"Hmm..." Mei memutar bola matanya malas.


"Yaudah, ayo masuk!" ucap Silvi.


Mereka berempat masuk ke dalam rumah Dave. Silvi dan Aryn tampak tidak keberatan ada Glen. Jika ada Glen berdiam diri di rumah tidak akan membosankan. Glen juga bisa disuruh apapun.


Keadaan sedikit berbeda dengan di markas. Dave, Reza, dan Zack yang baru sampai itu langsung saja masuk ke dalam. Ketiganya khawatir.

__ADS_1


"Bos..." para anggota Red Blood yang ada di sana menyapa Dave.


Dave hanya mengangguk. Salah satu dari mereka menunjukkan dimana Ken dirawat. Ken dirawat di salah satu kamar. Sudah ada dokter dan perawat yang sibuk merawat Ken. Di sisi tempat tidur disediakan tempat menggantung infus dan kantung darah.


Di sana juga ada tabung oksigen. Ken tadi tidak di bawa ke rumah sakit dengan alasan keamanan. Mereka tinggal menghubungi dokter dari rumah sakit milik Dave. Jaraknya dekat dari markas jadi Ken dirawat dengan segera, peralatan juga dibawakan lengkap.


"Samuel kenapa?" Reza terkejut melihat Samuel juga tergeletak di samping Ken.


"Hanya pingsan, tuan!" jawab salah satu suster.


"Dia takut darah, sama sepertiku," sahut Zack.


Zack sekarang hanya menunggu di luar kamar. Sebelum luka Ken tuntas dibersihkan Zack tidak akan masuk ke dalam. Dave dan Reza memahami itu.


"Apakah istrinya sudah diberitahu?" seru Reza.


"Dia sedang dijemput," jawab salah satu anggota.


"Okay," jawab Reza, menurutnya juga sebaiknya begitu.


Istri dari sahabatnya itu wajib tahu, walaupun dia sedang hamil. Akan lebih bahaya jika tidak diberitahu dan malah diberitahu orang lain.


"Siapa yang menjaga CCTV pagi ini?" tanya Reza dengan nada dingin.


"Saya," seseorang melangkah maju.


"Ikut aku keluar!" seru Reza.


Reza keluar dari kamar itu, diikuti anggota yang mengaku menjaga CCTV pagi ini. Dave tetap tinggal di kamar, dia memang tidak suka Reza tapi ia percaya pemikiran Reza.


Reza membawa pria tadi ke dekat kolam. Di sana tidak ada orang. Reza berhadap-hadapan dengan dia.


"Aku lupa namamu," ucap Reza.


"Saya Ricky," jawab pria itu.


Di Red Blood, baik Reza, Zack, Samuel, maupun Ken memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari anggota lain. Mereka disegani layaknya Dave.


"Ricky...Kau mengatakan kau yang jaga CCTV pagi ini, kan?" tanya Reza.


"Iya benar, tuan..."


"Lalu kemana kau? Apakah di CCTV ridak terlihat apa yang terjadi dengan Ken sampai dia terluka?" Reza mencekik leher Ricky.


Uhuk uhuk....


Ricky kesulitan bernapas, tangan Reza mencekik lehernya dengan kuat.


"Saya ketiduran, maaf..." Ricky terbata-bata.


"Kalian bergilir kan menjaganya, kau tidak menghandle urusan itu sehari semalam nonstop. Kalau mendapat giliran penting, pikul tanggung jawabmu dengan benar!" Reza membentak.


"Baik, sekali lagi saya minta maaf..."


Bug,


Ricky meringis, lehernya dilepaskan tapi kemudian disusul bogeman mentah di bagian bawah tulang rusuknya. Dia tidak bisa bangun, tergeletak di lantai.


"Za...!" Zack mendekat.


Zack menahan Reza, Reza hendak memukul Ricky lagi.


"Tenang," Zack menepuk pundak Reza.


Reza diam saja, dia berjalan cuek kembali ke kamar perawatan Ken.


......................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!

__ADS_1


__ADS_2