
"Rezaaa!!!" Samuel menutup kedua matanya, tidak sanggup melihat kejadian naas itu.
Reza memejamkan kedua matanya. Inikah akhir hidupnya?
Satu detik,
Dua detik,
Tidak ada rasa sakit yang Reza rasakan.
"Mikeee!!!!" teriak Andreas.
Reza menoleh, pistol Mike masih mengacung ke arahnya.
Bug,
Seketika pistol yang dipegang Mike terjatuh ke lantai. Diikuti Mike yang juga tergeletak tak berdaya. Andreas menatap nanar putranya. Tangannya meronta melepaskan ikatan. Keputusasaan terlihat dari kedua mata pria paruh baya itu. Dengan sisa tenaganya, Andreas merangkak perlahan. Menghampiri Mike yang melotot kesakitan.
Reza terdiam, Mike yang tertembak bukan dirinya. Ia melihat ke sekelilingnya.
"Ken..." lirih Reza.
Ken berdiri tak jauh dari sana. Tangan kanannya masih memegang pisau, sedangkan tangan kirinya memegang perutnya. Ia berjalan tertatih menghampiri Reza.
"Hampir saja," lirih Ken.
"Thanks, bro!" ucap Reza.
Samuel mendengar percakapan mereka berdua. Lantas ia buka kedua matanya. Reza berdiri di hadapannya dengan keadaan baik-baik saja. Justru Mike yang terkapar.
"Syukurlah!" Samuel memeluk Reza.
"Lo datang di saat yang tepat, Ken! Tapi lo baik-baik aja, kan? Luka lo belum kering..." ucap Samuel pada Ken.
"Gua nggak bisa diam diri di ruangan itu sementara kalian berjuang mati-matian mempertahankan markas," jawab Ken.
Samuel mengangguk.
"Sekarang mau diapain pria tua bangka itu, Za?" tanya Ken.
Reza menatap Andreas yang meraung di depan mayat Mike. Mike tertembak tepat di bagaian dadanya.
"Kita lihat nanti saja!" jawabnya.
Samuel turut menatap Mike yang menghembuskan napas dengan keadaan mata yang masih melotot. Seketika perutnya terasa bergejolak. Darah Mike kemana-mana. Saat ia memalingkan wajah, ia masih juga melihat mayat lain.
__ADS_1
"Aarrghh..." Samuel menutup wajahnya.
"Lo susul Dave dan Zack ke rumah sakit aja, Sam! Biar kita yang urus markas! Oh ya, sebelum ke rumah sakit lo jemput Aryn dan Mei, antar istri gua ke rumah Reza kasihan Silvi nanti sendirian," Ken menepuk bahu Samuel.
"Okay! Gua pergi ya!" Samuel langsung berlari menuju kamar Ken untuk membawa Naina pergi dari sana.
Tersisa Reza dan Ken yang masih menatap Andreas dari dekat. Anggota Red Blood yang lain disuruh Reza untuk segers membersihkan markas.
"Mike bangun Mike!!!!" Andreas berbaring di sebelah Mike.
Tangan dan kakinya masih diikat. Reza berjalan mendekat, ia buka ikatan di tangan dan kaki Andreas. Setelah dilepaskan Andreas memeluk tubuh Mike dengan erat. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Mike....Jangan tinggalkan papa! Maafkan papa, tidak seharusnya papa menggunakanmu untuk membalas dendam...Tidak seharusnya papa membawamu ke dunia gelap, papa sudah sangat jauh darimu hanya karena dendam yang papa miliki huhuhu......" Andreas menciumi wajah putranya.
"Kenapa lo lepasin, Za?" Ken menyenggol lengan Reza.
"Biarin aja!" sahut Reza.
Ken mengangguk.
"Kau!" Andreas menatap Reza.
Andreas berdiri, ia menatap Reza. Kedua matanya penuh air mata. Ayah mana yang tidak hancur melihat darah dagingnya meregang nyawa di depan matanya sendiri.
Andreas menarik tangan Reza. Ia meletakkan tangan Reza di lehernya sendiri. Tangan Andreas mencengkeram tangan Reza, ia ingin Reza mencekik lehernya sampai dia pergi selamanya menyusul putranya.
Reza menggibaskan tangannya. Tapi Andreas tidak membiarkannya.
"Kenapa kau menolak?? Ayo bunuh aku sekarang! Habisi akuuu!!! Putraku mati karena ulahku....Kau dengar aku Reza Alberto?" Andreas menggucang bahu Reza.
"Jangan pernah kau memerintah seorang Alberto!" sahut Reza.
"Bunuh akuuu!!!" teriak Andreas.
Reza membuang muka.
"Ayo tembak aku! Gunakan pistolmu!" kini Andreas beralih memohon pada Ken.
Ken diam saja. Andreas meraih tangan Ken, ia menempelkan pistol yang dipegang Ken ke dahinya.
"Tembak aku seperti kau menembak Mike!!" teriak Andreas.
"Lepaskan!" Ken menggibaskan tangannya. Ia memukuli dirinya sendiri.
Andreas terjatuh, ia menangis tersedu-sedu. Lalu ia menghambur ke tubuh Mike. Ia ciumi wajah Mike berulang kali. Ia peluk tubuh Mike yang mulai terasa dingin. Bahkan ia tempelkan telinganya ke dada putranya. Berharap detak jantung putranya kembali lagi.
__ADS_1
"Mike ayo bangun! Lantainya dingin, kita pulang sekarang! Kau capek pindah-pindah rumah, kan? Kau bilang ingin tinggal bersama papa saja, kan? Malam ini juga papa izinkan kamu ke rumah papa, kalau perlu kita tidur di ranjang yang sama..." Andreas tersedu.
Ia usap pipi putranya. Cipratan darah di wajah tampan putranya telah hilang.
"Papa akan mengulang kebiasaan kita saat kau masih kecil. Papa akan membacakan buku dongeng untukmu, tapi jangan marah kalau papa ganti nama rajanya jadi nama papa ya," Andreas tertawa sendiri.
Reza dan Ken saling menatap.
"Ayo bangun, nak! Lantai ini dingin, oh iya...Kamu pakai jaket papa saja ya?" Andreas mengelus kepala Mike.
Andreas dengan cepat melepas jaket tebal yang ia kenakan. Ia selimutkan jaket itu ke tubuh Mike. Tidak hanya itu, Andreas mengangkat Mike layaknya mengangkat anak bayi. Fisik Andreas yang terbilang sudah tua ternyata masih mampu mengangkat tubuh Mike. Andreas memangku tubuh Mike, seperti bayi.
"Kamu pasti kedinginan, Mike!" ucap Andreas.
Tanpa sengaja Andreas melihat tangannya yang berlumuran darah. Darah itu tentu berasal dari tubuh Mike yang tertembak. Napas Andreas tercekat.
"Darah...Kamu berdarah banyak sekali, nak!" Andreas menangis lagi, kali ini lebih keras.
Lantas Andreas memeluk Mike dengan erat. Ia ciumi pucuk kepala Mike lama. Sepersekian detik kemudian Andreas tertawa, ia merebahkan kembali Mike ke lantai secara perlahan.
"Aku sangat payah," Andreas tertawa dengan keras.
Pria paruh baya itu memukul kepalanya sendiri, lalu tertawa lagi. Ken jadi bergidik ngeri melihatnya. Ada rasa kasihan untuk pria itu.
"Putraku pergi selamanya!" Andreas kini menangis.
Ia menarik jaketnya yang menyelimuti Mike. Jaket itu jadi menutupi kepala Mike sekarang. Cukup lama Andreas hanya duduk diam menatap putranya. Baru kemudian ia menyembunyikan wajahnya di sela-sela kakinya.
"Aku seorang ayah yang bodoh, tidak bergunaaaaa!!!!! Pantas saja semua orang meninggalkanku huhuhu...." tangis Andrea berubah jadi tawa lagi.
Siapapun yang menyaksikan kejadian ini, pasti ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Andreas. Kejiwaan pria itu terguncang.
"Kita apakan pria tua itu?" tanya Ken.
Kedua mata Reza menatap lurus ke depan. Kedua telinganya mendengar jelas Andreas yang tiba-tiba menangis dan tertawa lagi.
"Kita tidak perlu melakukan apa-apa! Dia kehilangan akal karena kesedihan yang mendalam. Dia sudah cukup menderita." jawab Reza.
"Gua akan suruh anggota lain untuk mengurus mayat Mike sampai prosesi terakhirnya, akan ada yang mengawasi Andreas juga di sana!" Ken beranjak pergi.
Reza mengangguk, ia mengawasi Andreas dari jauh. Reza jauh lebih bisa mengendalikan emosi setelah menikah dengan Silvi. Tidak heran sekarang jalan berpikirnya juga berbeda.
Jika Reza yang dulu menghadapi Andreas sekarang, pasti Reza versi dulu sudah mencincang habis ******** Andreas.
"Tidak ada hukuman yang lebih berat dari ini!" lirih Reza.
__ADS_1
.................
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!