
"Brengs*k! Siapa yang mengirim kecoa mainan sebanyak ini?" teriak Clara marah.
Clara sampai naik ke atas sofa, ia paling takut dengan kecoa. Walaupun mainan sekalipun kalau jumlahnya sebanyak ini orang yang tidak takut pun pasti jadi geli sendiri.
Clara mengambil ponselnya, ia menelpon kekasihnya. Tapi tidak kunjung diangkat. Akhirnya ia menelpon adiknya.
"Halo, ada apa?"
"Ada orang yang mengirim ratusan kecoa mainan ke apartemenku, bereskan semua ini!" ucap Clara.
"Hanya mainan, kan? Bereskan sendiri!"
"Aku takut dengan kecoa. Aku itu kakakmu, menurutlah sedikit!" sahut Clara.
"Kau memang kakakku, tapi cuma kakak tiriku."
"Aku sudah banyak membantumu. Sudah cepatlah kemari!" seru Clara.
Tut,
Sambungan telepon diputuskan sepihak oleh Clara. Adik tirinya itu memang kadang tidak tau diri. Sudah banyak dibantu tapi tidak pernah ingin balas membantu.
"Awas saja kalau tidak datang," gumam Clara.
Tanpa sengaja Clara melihat ke jendela balkon dekat ruang tengah. Ada tulisan menggunakan darah di sana.
Sekarang baru kecoa mainan yang kukirim. Lain kali akan aku kirimkan potongan kepala adikmu!!!!
Seperti itulah isi tulisan di jendela. Clara jadi semakin takut, sekaligus marah. Sudah jelas ini pasti ulah musuh adiknya.
"Pembuat masalah," keluh Clara.
Clara bertahan di atas sofa. Lumayan lama, kakinya mulai kesemutan. Apalagi ia sedang hamil. Ketika terdengar suara pintu dibuka dari luar, ia bisa lebih tenang. Adiknya sudah datang, untung dia diberi akses masuk oleh Clara.
"Kecoa mainan sebanyak ini! Wah wah...Benar-benar kurang kerjaan yang ngirim,"
"Jangan banyak bicara, ini semua juga gara-gara kau!" Clara menatap adik tirinya dengan tajam.
"Aku?" pria itu menunjuk dirinya sendiri.
"Ini pasti ulah dari salah satu musuhmu. Kau suka mengganggu orang dan mencari musuh. Di jendela juga ada ancaman, dia akan membawa potongan kepalamu. Kemarin kau meneror Reza Albert kan? Jangan-jangan ini semua dari dia.Sekarang lihatlah, aku yang kena imbasnya!" jawab Clara.
"Kau kemarin ikut senang saat aku meneror Reza Albert,"
"Iya aku senang, tapi aku tidak menyangka jika dia menyerangku seperti ini." Clara kesal.
"Ini adalah hal yang biasa,"
"Kau enak, tidak sembarang orang bisa tau informasimu, tempat tinggalmu. Sedangkan aku, mudah ditemukan seperti ini! Hidupku tidak tenang, dari dulu selalu diusik. Musuh papa, musuhmu..." keluh Clara.
"Siapa suruh membangkang dari papa?"
__ADS_1
"Heleh...Wajar kau diperhatikan, kau anak kandungnya." protes Clara.
Pria itu hanya cuek.
"Cerewet," ucapnya.
Pria itu menyingkirkan tumpukan kecoa mainan, memasukkanmya ke dalam trash bag yang besar. Mulutnya tidak berhenti mengomel. Untuk urusan kecoa mainan seperti ini dirinya juga yang harus turun tangan.
"Kakak tiri yang merepotkan," lirihnya.
"Kau bilang apa?" Clara menyahut dengan cepat.
"Kau merepotkan," jawab pria itu.
Clara melengos.
"Cih," pria itu membersihkan tulisan darah yang ada di jendela.
Dia seperti tidak cemas sedikitpun melihat tulisan dari darah itu. Wajahnya cuek saat membersihkannya. Lumayan lama membersihkannya, karena darahnya sudah mengering.
Membersihkan kecoa mainan itu membutuhkan waktu yang lama. Karena jumlahnya juga banyak. Dua anak buah adik tiri Clara juga dikerahkan untuk membereskan. Lima trash bag besar penuh oleh kecoa itu. Itupun selesai pukul 9 malam.
"Sudah beres, berhentilah menggangguku. Anggap kita impas!"
"Okay, kita impas." jawab Clara.
Pria itu meninggalkan apartemen Clara dengan dua orang anak buah yang naik mobil sendiri. Tapi arah mereka berbeda. Saat mobil pria itu agak jauh, ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang.
Jam yang sama, di rumah Reza.
Reza menemani Silvi menonton kdrama kesukaannya. Ia dengan setia duduk di sebelah Silvi meskipun dia sendiri tidak suka sama sekali dengan kdrama. Ia hanya sibuk mengupas jeruk dan memotongkan apel untuk cemilan Silvi.
"Ganteng banget..." ucap Silvi sambil mengelus perutnya.
"Biasa aja, masih gentengan aku," protes Reza.
Silvi hanya diam saja.
Drrtt drrttt...
Reza melihat ponselnya yang ia letakkan di atas meja, ada panggilan masuk dari Glen. Ia mengangkatnya.
"Apa?" ucap Reza.
"Orang saya sedang mengikuti target, bos! Saya baru paham rencana, bos !"
"Bagus kalau gitu, akhirnya dia keluar dari kandang. Pastikan orangmu tidak kehilangan jejak." Reza tersenyum.
"Siap, bos! Saya juga sudah kerahkan orang untuk mengikuti anak buahnya. Soalnya mereka beda arah, bos !"
"Okay," jawab Reza.
__ADS_1
Tut,
Reza bisa tersenyum lebar, satu dari rencananya berjalan lancar. Silvi menatap Reza sampai tidak berkedip.
"Kakak kenapa? Ada kabar apa? Siapa yang keluar kandang?" tanya Silvi.
"Orang yang menyebabkan kekacauan di keluarga kita, orang suruhan Glen sedang mengikuti." jawab Reza sambil tersenyum.
"Sungguh? Darimana kakak tau dia orangnya?" Silvi penasaran.
Silvi tidak menyangka suaminya sangatlah tidak terduga. Sedikit bicaranya tapi tiba-tiba sudah bisa tau saja orangnya. Dan bahkan sedang mengikutinya sekarang.
"CCTV yang aku pasang, menangkap mobil yang digunakan orang misterius yang meninggalkan ular di depan. Aku menyuruh Glen mengikuti tapi mereka menjebak dan mengelabuhi. Secara tidak sengaja orang Glen yang masih memantau Clara, malah melihat Clara bertemu adik iparnya. Mereka membicarakan masalah teror di yang terjadi pada kita." Reza bercerita.
"Terus terus?" Silvi semakin penasaran.
"Aku sudah tau semua informasi Clara. Tapi adik iparnya yang menjadi dalang utama. Masalahnya aku tidak bisa tau sedikitpun tentang dia. Hanya sebatas nama aku taunya, informasi lain tidak bisa aku dapat, apalagi tempat tinggalnya. Sudah aku pancing-pancing sejak lama, tidak ada hasil. Ya sudah aku pakai Clara, kakak tirinya. Aku kirim kecoa mainan ke apartemennya, lima karung. Sekalian aku ancam pake tulisan darah. Pasti takut tuh! Aku suruh orang bikin pacarnya teler, mau nggak mau dia minta tolong adiknya kan, sayang? Keluar deh si biang kerok dari kandangnya," jawab Reza.
"Wah...Terbaik pokoknya!" Silvi memuji.
Reza mengacak rambut Silvi.
++++++++++
Sementara itu,
Adik tiri Clara tidak sadar ada sebuah mobil yang mengikutinya. Kondisi jalan yang masih ramai membuat mobil yang mengikuti tersamarkan.
Di dalam mobilnya ia lebih banyak mengomel. Tentu karena kakak tirinya yang merepotkannya. Punggungnya terasa pegal memunguti kecoa mainan tadi.
"Kalau benar ulah Reza, awas saja dia!" keluhnya.
Mobilnya melambat saat mulai memasuki kawasan apartemen. Ada banyak apartemen di sekeliling kawasan itu. Mobilnya belok di salah satu gedung apartemen yang terbilang mewah.
Blam,
Ia turun dari mobil, mobilnya sengaja diparkir di luar saja. Jam segini akan sulit parkir di dalam basement. Kakinya berjalan cepat menuju lift dan naik ke lantai 10. Badannya sudah letih sekali.
Di bawah pohon yang lumayan rindang, ada sebuah mobil yang terparkir di sana. Mobil itu sama dengan mobil yang mengikuti adik tiri Clara tadi.
"Lapor Bos Glen, saya sedang berada di depan tempat tinggal target. Lokasinya sudah saya kirimkan pada bos." seorang pria berbicara di telpon.
".................."
"Siap, bos!"
Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam jaket, lalu turun dari mobil. Tujuannya adalah masuk ke dalam apartemen. Ada tugas yang harus dilakukan lagi.
10 menit kemudian pria tadi sudah kembali ke mobil. Ia harus segera mengabari bosnya alias Glen. Ia mengirimkan pesan singkat pada bosnya. Untuk selanjutnya dirinya masih harus tinggal di lokasi karena ia mendapat perintah.
...................
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!