Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
DIIKUTI


__ADS_3

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga semuanya sehat selalu ya!


.............


"Silahkan, princess!" Reza membukakan pintu mobil untuk Silvi.


"Ah terima kasih, pangeranku..." jawab Silvi malu-malu.


Kali ini Reza yang mengantar Silvi ke sekolah. Keduanya saling menatap di depan mobil. Tidak peduli banyak pasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan sinis. Seorang pria berumur berduaan dengan gadis sekolah menengah.


"Aku masuk dulu, ya kak!" Silvi berpamitan.


"Iya, jangan nakal ya! Ini uang sakumu," Reza menyerahkan beberapa lembar uang pada Silvi.


"Terima kasih," Silvi mengambil uang itu lalu mencium tangan Reza.


"Aduh...Jangan membuatku merasa tua! Kalau kamu cium tanganku seperti ini aku merasa aku baru saja memberikan uang saku untuk anakku," Reza terkekeh.


"Kak Reza tidak pernah melihat Kak Aryn mencium tangan Kak Dave sebelum pergi, ya? Ini tradisi suami istri ala Kak Aryn," ucap Silvi.


"Jadi ini latihan?" Reza menyenggol bahu Silvi.


"Iya latihan dulu," Silvi tersipu malu.


"Kamu ini," Reza menyenggol bahu Silvi lagi.


"Udah ah, aku pergi dulu!" ucap Silvi.


"Awas, jangan nakal!" seru Reza saat Silvi berjalan menuju ke dalam gerbang sekolah.


Silvi menoleh, ia tersenyum dengan menunjukkan kedua jempolnya. Reza masih di sana sampai Silvi benar masuk ke dalam sekolah. Reza merasa sangat senang hari ini, sampai Silvi menghilang di balik gerbang ia masih diam di tempatnya.


Di balik sebuah pohon yang cukup rindang, ada sepasang mata yang mengawasi keduanya. Pria itu memakai hoodie hitam dengan penutup kepala juga. Tangannya memukul pohon itu dengan keras saat melihat kedekatan Reza dan Silvi.


"Bos!" seseorang menepuk bahu Reza.


"Apa?" jawab Reza tanpa menoleh. Ia tahu orang itu pasti Glen.


"Sudah 10 menit bos berdiri diam di sini, Nona Silvi pun sudah tidak kelihatan!" ucap Glen.


"Berisik!" Reza berbalik akan masuk ke mobil.


"Bos lihat deh pohon itu!" Glen menunjuk pohon yang tidak jauh dari mereka.


"Kenapa?" Reza menaikkan sebelah alisnya.


"Kemarin tidur di situ, dikira mayat!" Glen terkekeh.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Reza.


"Saya, bos!" sahut Glen.


"Yang nanya," Reza balik badan, akan masuk ke mobil.


Glen menghela napas panjang. Ia mengelus dadanya sendiri. Harus kuat jiwa dan raga kalau bekerja dengan Reza.


"Untung hatiku buatan tuhan, kalau buatan pabrik pasti sudah remuk diginiin sama bos tiap hari!" gumam Glen dalam hatinya.


"Bos yang nyetir?" seru Glen saat Reza masuk ke mobil.


"Iya, cepat masuk atau kutinggal!" teriak Reza.


Berangkat tadi Reza juga yang menyetir, bahkan Glen disuruh duduk di belakang tadi. Soalnya Silvi yang duduk di jok samping Reza. Sekarang pun Reza yang menyetir lagi.


"Sekretaris rasa bos," gumam Glen dalam hatinya.


Mereka berdua menuju ke mansion Dave. Mobil yang mereka naiki sekarang adalah mobil Silvi. Jadi mereka akan mengembalikan mobilnya dulu baru pulang ke apartemen Zack.


Awalnya mereka santai saja, mengobrol ringan selama perjalanan. Tapi di saat mereka memasuki kawasan yang sepi, Reza menyadari ada mobil sedan mengikuti mobil mereka. Reza sengaja mengurangi kecepatan mobil, untuk memastikan apakah mobil di belakang benar mengikuti. Ternyata mobil itu juga turut mengurangi kecepatan mobilnya. Reza menambah lagi kecepatannya. Mobil di belakang juga menambah kecepatan. Glen penasaran, ia melihat kaca spion.


"Mobil itu mengikuti kita, bos!" ucap Glen.


"Aku tahu," jawab Reza singkat.


Reza memicingkan matanya. Ada pertigaan di depan. Reza membelokkan mobilnya ke kanan, jalur yang berbeda dengan jalur ke mansion Dave. Mobil di belakangnya masih mengikuti. Di depan mobil mereka ada sebuah truk besar yang melaju. Reza menyalipnya dengan kecepatan tinggi. Mobil yang mengikutinya juga menyalip truck. Begitu sampai di depan truk itu, Reza banting stir ke kiri.


Mobil berwarna putih itu melaju dengan kencang. Pastilah sopirnya tidak tahu Reza akan menepi ke kiri. Reza memanfaatkan kesempatan itu untuk memutar arah. Ia kembali ke jalur menuju mansion Dave. Glen menghela napas lega. Mobil itu tidak terlihat di belakang mereka lagi.


Mereka berdua tenang untuk beberapa saat. Tapi tidak untuk sekarang. Dari arah berlawanan muncul mobil yang tadi mengejar mereka. Mobil itu melaju dengan kencang dari kejauhan. Sengaja melaju ke sebelah kanan dan kiri, memenuhi jalan. Untung jalanan itu tidak ramai. Reza tetap melaju di jalurnya, sebelah kanan. Semakin dekat jaraknya, mobil itu malah mengambil jalur yang sama dengan Reza.


"Ini orang maunya apa, sih! Mau mati kok ngajak-ngajak!" keluh Reza.


"Kalau dia masuk surga sih nggak apa-apa, bos!" sahut Glen.


Reza tersenyum smrik. Mobil itu semakin dekat jaraknya dengan mobil Reza. Dan tidak pindah ke jalurnya yang seharusnya. Kedua mobil akan bertabrakan dalam hitungan detik. Reza menambah kecepatan. Glen menutup kedua matanya.


"Rasakan ini!" ucap Reza.


Ciittt,


Reza membanting stir ke kiri dan langsung mengerem. Telat satu detik saja, tabrakan tidak bisa dihindari. Di sekitar mobil Reza, sampai terbentuk asap. Reza mengecek mobil tadi.


Brakk,


Mobil berwarna putih itu menabrak pembatas jalan, meluncur kencang dan akhirnya menabrak pohon yang besar.

__ADS_1


Duuaarrr,


Mobil itu meledak. Reza dan Glen langsung menunduk. Api membumbung tinggi ke langit. Reza melihat sekeliling. Tidak ada mobil yang mencurigakan. Tidak ada juga orang di sekitar sana. Sebelum polisi datang, Reza bergegas melajukan mobilnya meninggalkan tempat kejadian.


"Tadi siapa ya, bos?" seru Glen.


"Nggak tau, kenapa tadi nggak kau tanyai?" sahut Reza.


"Bisa jadi ini bocil yang suka Nona Silvi, bos!" Glen menatap Reza.


"Jangan asal nuduh," Reza sebenarnya memikirkan hal yang sama.


"Bisa aja kan, bos? Dia pasti cemburu dengan bos!" jawab Glen.


"Hmmm," Reza menatap lurus ke depan.


Keduanya diam sampai mereka tiba di mansion Dave. Mereka tidak mampir, langsung pulang ke apartemen Zack. Karena mobil Silvi sudah dikembalikan, mereka naik taksi online. Di dalam taksi, baik Glen maupun Reza masih memikirkan kejadian tadi. Pengendara mobil itu mempertaruhkan nyawanya untuk mencelakakan mereka. Pasti bukan sembarang orang yang memerintahnya.


Reza melihat ke luar jendela, ia melihat ada pengendara motor mengikuti taksi mereka dari kejauhan. Saat taksi itu belok, motor juga Ikut belok. Hanya saja jaraknya jauh. Reza menyenggol bahu Glen.


"Lihat di belakang," ucap Reza.


Glen tidak menjawab. Ia langsung melihat ke arah belakang. Ia bisa melihat motor yang dilihat Reza. Seorang pria bertubuh besar berpakaian serba hitam menaiki motor sport warna biru tua. Ada perasaan takut di dalam hatinya. Mereka diikuti lagi. Glen merasa panik, tapi Reza malah terlihat santai.


"Bos kita diikuti lagi," Glen menatap Reza.


"Iya aku tahu," jawab Reza.


"Bagaimana ini, bos? Apa yang harus kita lakukan?" Glen terlihat panik.


"Dia hanya mengikuti, tidak menyerang. Jadi biarkan saja!" ucap Reza.


"Tapi nanti dia akan tahu dimana kita tinggal, bos! Bagaimana kalau kita diserang pas tidur?" Glen semakin panik.


"Biarkan saja kalau dia berani," Reza terkekeh.


"Astaga, bos! Rumah saya belum lunas," seru Glen.


Glen tidak bisa tenang selama perjalanan. Dia selalu melihat ke belakang, motor itu masih mengikuti. Hingga sampai di depan gedung apartemen mobil itu masih mengikuti. Glen dan Reza turun dari taksi. Reza berjalan ke gedung apartemen dengan santai. Karena takut, Glen berlarian menyusul Reza.


"Bos tunggu bos!" seru Glen.


"Tidak usah gandeng tanganku juga, dong!" Reza menggibaskan tangan Glen.


"Bos..." Glen merengek.


Glen tidak ingin jauh dari Reza. Ia berinisiatif memegang ujung baju Reza. Dari masuk ke lift sampai keluar lift, Glen tidak melepaskan ujung baju Reza. Saat melewati jendela, Reza menengok keluar. Motor itu sudah pergi.

__ADS_1


..........................


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2