Psikopat Semakin Bucin

Psikopat Semakin Bucin
TEROR LAGI


__ADS_3

Mei menunggu Zack di meja makan. Ia memandangi sisa makanan yang ada di sana. Padahal Mei hanya masak sup ayam saja. Bagaimana bisa Zack sampai sakit perut?


"Kamu baik-baik saja, Zack?" Mei melihat Zack berjalan mendekat ke meja makan.


"Sedikit," jawab Zack.


"Kenapa jalanmu seperti itu?" Mei heran.


Zack berjalan dengan langkah yang lebar ke samping.


"Pantatku panas," jawab Zack.


Mei mau tertawa tapi ia tahan. Jahat sekali jika ia mentertawakan penderitaan suami sendiri. Zack perlahan duduk di kursi sebelah Mei.


"Minum!" Mei memberikan dua gelas air mineral.


"Iya,"


Minum banyak air mineral sangat dianjurkan saat sedang mengalami kasus seperti Zack. Mei merasa bersalah karena makanannya Zack jadi sampai begini.


"Maafkan aku," ucap Mei.


"Kenapa?" Zack malah bertanya.


"Gara-gara masakanku kan kamu begini,"


"Yeah, tidak masalah. Aku tau kamu tidak ahli dalam memasak." sahut Zack.


Mei jadi penasaran bagaimana rasa sup ayam buatannya. Tadi ia hanya menemani Zack makan saja, karena terlalu antusia. Baru sekarang ia menyendok sup itu.


"Hueekkk..." Mei langsung memuntahkan sup itu.


"Sup apa ini!!! Rasanya terlalu asin, terlalu banyak jahe, penyedap rasanya juga terlalu banyak...Huueeekkk...Nggak bisa dimakan," ucap Mei.


Zack tertawa.


"Kamu yang bilang sendiri loh," ucapnya kemudian.


"Nggak salah kalau kamu sampai diare, kamu makan satu mangkok sampai habis gitu. Heran aku...." seloroh Mei.


"Kasihan kamu kalau nggak aku makan, udah capek-capek masak,"


Mei jadi salah tingkah.


"Aku ambilkan obat dulu," ia beranjak dari kursi.


Tidak lama kemudian ia sudah kembali dengan membawakan obat untuk Zack. Zack minum obat itu sambil tersenyum menatap Mei.


"Untuk makan siang dan makan malam nanti kamu pesan saja ke restoran biasa," ucap Zack.


"Boleh?"


"Boleh lah," jawab Zack.


"Untuk besok, lusa, dan sampai kamu mahir memasak, pesan saja!" lanjut Zack.


"Bukannya itu boros?" tanya Mei.


"Lebih boros kalau setiap hari aku makan masakanmu, bisa-bisa hartaku habis untuk berobat," Zack terkekeh.


Mei tertawa malu.


"Baiklah," jawab Mei.


"Aku berangkat dulu," Zack beranjak dari kursinya.


Mei mengantar Zack sampai ke pintu apartemen.


"Hati-hati," ucap Mei.


"Eits, kamu sepertinya lupa peraturan kita!" Zack menatap Mei.


"Peraturan yang mana?"


"Peraturan nomor 2, berpelukan sebelum aku pergi kerja," ucap Zack.


"Ah iya, hampir lupa!" Mei menghambur ke pelukan Zack.


Baru kemudian Zack meninggalkan apartemen.


"Hati-hati ya..." seru Mei.


Tuuuuuutttttt...


Bukan jawaban dari Zack yang Mei dapat, tapi dari suara menurutnya lagi.


"Astaga," Mei menutup pintu.


Mei senyum-senyum sendiri di balik pintu. Ia jadi ingat pelukan tadi. Zack dan dirinya memang sengaja membuat peraturan untuk mereka berdua. Terdengar aneh tapi mereka ingin memulai hubungan ini dengan sesuatu yang baru. Dengan peraturan itu juga mereka akan terbiasa.

__ADS_1


Ting,


Notifikasi ponsel membuyarkan lamunan Mei. Ternyata dari Aryn.


"Makin kesini dong Mei, jangan mentang-mentang sudah jadi istri lupa sahabat ya kamu,"


Seperti itulah pesan dari Aryn. Mei membalasnya dengan antusias. Sudah lama juga ia tidak main ke rumah Aryn. Bahkan sejak Aryn pindah ia belum pernah sekalipun berkunjung. Benar-benar sahabat durhaka.


"Otw,"


Balasan yang singkat, padat, dan penuh makna telah Mei kirimkan. Tapi sebenarnya ia tidak langsung meluncur, ia mandi dan dandan sebentar. Baru tancap gas.


Mei mengemudikan mobilnya mengikuti petunjuk GPS, Aryn mengirim lokasi rumah barunya tadi. Mei tiba di rumah Aryn setelah 20 menit menyusuri jalan.


"Welcome...." ternyata Aryn menyambut di depan pintu pagar.


Aryn takut Mei kesasar jadi ia menunggu di luar pagar. Semua rumah di perumahan ini mempunyai model yang sama.


"Astaga, ditungguin di depan pagar," Mei turun dari mobilnya.


"Biar nggak salah rumah, dong!" jawab Aryn.


"Jangan meremehkan seorang Mei," Mei menepuk dadanya.


"Sudahlah, ayo masuk! Lama aku menunggu di sini katanya langsung otw," Aryn menarik Mei masuk ke rumahnya.


"Dandan dikit biar nggak kucel, mau main ke rumah nyonya besar!"


Aryn tertawa.


"Sayang....." tiba-tiba Dave muncul dan langsung memeluk Aryn dari belakang.


Dave tidak sadar ada Mei di sana. Pria berwajah tegas dan kejam itu sedang menempel manja di punggung Aryn.


"Sayang ada Mei," ucap Aryn kesal.


Dave langsung berdiri tegak.


"Oh iya, aku mau mengganti lampu itu tadi!" Dave menunjuk lampu di di dekat kolam renang dan langsung kabur.


Mei tertawa.


"Ini alasan aku manggil kamu, Dave nempel terus! Untung Davin udah berangkat sekolah," ucap Aryn.


"Harusnya seneng dong, Ryn!" Mei menabok bahu Aryn.


"Iya sih, Dave itu sebenarnya pengen punya anak lagi. Anak perempuan katanya," ucap Aryn.


Selama mereka mengobrol, beberapa kali Dave mondar-mandir dengan kesal.


"Kenapa kamu nggak pulang-pulang sih, Mei?" tanya Dave dengan kesal.


Mei hanya melengos.


+++++++++++


Di rumah Reza,


Jika Aryn sudah asyik mengobrol dengan Mei, berbeda dengan Silvi yang tinggal bersebelahan dengan rumahnya. Silvi baru saja bangun. Ia menoleh ke samping, sebelahnya sudah kosong. Reza pasti sudah berangkat ke kantor.


Semalam ia sering terbangun, karena semalam ada yang mengetuk pintu depan beberapa kali. Untung saja Reza juga bangun menemaninya yang ketakutan.


"Mungkin hanya anak tetangga yang iseng,"


Begitulah kalimat Reza yang membuatnya tenang semalam. Kalau sekarang ia biasa saja, tidak takut lagi. Sudah siang, kalau ada apa-apa nanti ia lari saja ke rumah kakaknya.


Silvi menggosok gigi dan mencuci mukanya, perutnya terasa lapar.


"Mau sarapan apa, ya?" gumam Silvi saat menuruni anak tangga.


Silvi masuk ke dapur, ia mengambil oatmeal, susu, dan blueberry. Menu sarapan yang sangat disukai Silvi.



Silvi menikmati sarapannya sambil mendengarkan musik. Ia sempat membuka ponsel, ada pesan dari Reza.


"Good morning, sayang! Aku sudah sampai di kantor, maaf aku tidak membangunkanmu. Nanti pulang kerja kamu mau dibawakan apa?"


Silvi membalas sambil senyum-senyum sendiri,


"Aku lagi nggak pengen apa-apa, kak. Nanti kalau ada yang pengen aku makan aku telpon,"


Suaminya sangat perhatian kepadanya. Beginilah percakapan Silvi dan Reza setiap pagi. Reza akan menanyakan Silvi ingin dibawakan apa. Saat Reza akan pulang kerja pun ia menanyakan hal yang sama.


Setelah membalas pesan Reza, Silvi menghabiskan sarapannya. Peralatan makan yang ia pakai langsung ia cuci. Pelan tapi pasti, Silvi membereskan rumah. Ia awali dengan menyalakan robot vacum cleaner yang berbentuk bundar. Robot itu akan menyapu seluruh lantai.


"Cuci baju sekalian ah," ucap Silvi.


Silvi mengambil keranjang pakaian kotor di lantai atas. Ia turun lagi ke lantai bawah. Silvi sempatkan untuk duduk sebentar setelah naik turun anak tangga. Baru ia masukkan pakaian kotor ke mesin cuci.

__ADS_1


"Sekarang tinggal masukan deterjen dan pelembut, lalu nyalakan mesin," ucap Silvi.


Beres, tinggal tunggu sampai mesin cucinya selesai menyelesaikan tugasnya. Sesimpel itu pekerjaannya setiap pagi. Semuanya serba dibantu mesin. Jika mau membersihkan kolam renang, ada mesin pembersih kolam renang juga. Mau memotong rumput dekat kolam renang, ada alatnya sendiri juga. Untuk apa asisten rumah tangga, kalau tubuh tidak gerak nanti juga sakit. Begitulah pendapat Silvi.


Untuk pekerjaan yang berat, seperti membersihkan kamar mandi, nanti akan dilakukan Reza. Bahkan terkadang Reza yang menyetrika pakaian. Kalau urusan dapur, di sana juga ada mesin cuci piring. Silvi dan Reza seperti tim. Mereka melakukan pekerjaan rumah bersama-sama.


Sekarang pekerjaan Silvi sudah selesai, rumah sudah bersih dan rapi, Silvi duduk santai di ruang tengah. Ia menonton televisi. Sebenarnya di kamar juga ada, tapi Silvi lebih suka di sini. Kalau di kamar yang ada malah tidur.


*Suara telepon rumah berdering*


"Tumben ada yang telpon ke telepon rumah," gumam Silvi.


Silvi meraih gagang telepon, karena letaknya hanya di meja sebelahnya.


"Halo?" ucap Silvi.


Tidak ada jawaban.


"Halo...Ada yang bisa saya bantu?" ucap Silvi lagi.


Lagi lagi tidak ada jawaban.


Tut,


Silvi tutup telpon itu.


"Paling salah sambung," Silvi lanjut menonton televisi.


*Suara telepon berdering*


"Halo?" ucap Silvi sesaat setelah meraih gagang telepon.


Tidak ada jawaban.


"Siapa ini?" seru Silvi.


Hening,


Silvi meletakkan kembali gagang telepon itu dengan kesal. Dua kali ia mengangkat telepon itu tidak ada jawaban sama sekali.


*Suara telepon berdering*


Silvi mengacuhkan.


*Suara telepon berdering*


Telepon itu terus berdering sampai puluhan kali. Lama-kelamaan Silvi yang awalnya acuh jadi mulai takut.


Tok tok tok,


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari jendela dekat dapur.


"Apa lagi ini, kita ke rumah uncle ya nak!" Silvi mengelus perutnya.


Ia mengambil ponsel dan langsung berlari kerumah Dave. Yang ia khawatirkan hanya bayi yang sedang ia kandung. Silvi yakin teror ini dilakukan oleh orang yang melakukan teror-teror yang kemarin.


"Kak..." Silvi menggedor pintu rumah Dave.


"Kak Dave...Kak Aryn...Buka pintunya, kak!" teriak Silvi.


Aryn dan Mei yang mendengar teriakan Silvi langsung berlari ke pintu depan. Dave juga menyusul.


Ceklek,


"Ada apa Silvi?" Aryn tampak cemas.


"Sebelum Kak Reza pulang kerja aku di sini dulu ya, kak?" tanya Silvi.


"Kenapa?" tanya Aryn dan Dave bersamaan.


"Abis nonton film horor jadi takut hehehe..." jawab Silvi.


Silvi sengaja menyembunyikan perihal teror itu.


"Yaudah ayo masuk," Dave terkekeh, adiknya masih sama saja.


"Silvi ke sini nggak bawa mobil?" Mei malah celingukan di luar.


"Ngapain pake mobil, rumahku cuma di sebelah," Silvi masuk ke dalam rumah Dave.


"Kalian tetanggaan?" Mei terkejut.


Krik krik...


Semua orang sudah masuk, Mei di luar sendirian.


"Kebiasaan," keluh Mei.


....................

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan tinggalkan komentar sesuka kalian ya!


__ADS_2