Salah Khitbah

Salah Khitbah
100. SK 2 : KEJUTAN??? (1)


__ADS_3

Seperti malam-malam kemarin, Zahwa akan tidur dengan memeluk kemeja Akhtar. Bau khas tubuh Akhtar yang menempel pada kemeja itu menjadi obat rindunya pada sang suami.


Sudah 1 minggu Akhtar tidak bisa di hubungi. Selama itu juga Zahwa merasa hari-harinya tidak seceria saat Akhtar bersamanya. Tetapi untung lah ia memiliki mertua seperti Umi, yang mengerti dan menyayangi dirinya.


Setiap hari mereka selalu menghabiskan waktu senggang dengan mencoba resep masakan baru. Setelah itu memakannya sendiri. Jika masaknya lebih, Umi akan meminta salah satu santri untuk mengantarkannya ke kantor para Ustadz wa Ustadzah dan membagikannya di sana.


Sudah banyak makanan yang mereka buat dan ya..itu sangat menyenangkan bisa menghilangkan rasa bosan pada Zahwa. Karena Akhtar melarang nya untuk mengajar dan pergi keluar, jadilah ia hanya berdiam diri di rumah.


"Jika saja aku boleh mengajar seperti dulu, mungkin aku tidak akan merasa bosan dengan bermain bersama anak-anak didik ku" begitulah pikirnya.


***


Sudah terhitung 2 minggu setelah kepergian Kiyai Kholid untuk selamanya. Tapi entah mengapa Akhtar belum juga pulang, membuat banyak pikiran negatif bermunculan di kepalanya.


Malam ini ia tidur dengan perasaan gelisah. Entah apa yang akan terjadi besok.


Buya sedang berada di kamar ingin membuka sebuah kitab di hadapannya. Tetapi tangannya terhenti saat ponsel nya berdering.


Alis mata nya terangkat melihat nama yang tertera di layar ponsel. Setelah itu Buya menggeser icon hijau.


Buya mendengarkan setiap keluh kesah yang di sampaikan seseorang di sebrang sana. Buya juga bicara banyak dengannya membuat orang yang mendengarkan menjadi khawatir dan merasa bersalah.


Buya memberikan solusi untuk masalah yang sedang mereka bicarakan. Dan dengan cepat orang itu menyetujuinya. Membuat Buya bernafas lega.


***


Keesokan paginya..


Seperti biasanya ia akan membantu Umi beres-beres dan memasak. Setelah itu ia akan ikut Umi untuk mengisi pengajian ibu-ibu disini.


Mereka berangkat pukul 11 pagi, dan selesai pukul 3 sore. Umi masih berada di sana karena di ajak berbincang oleh ibu-ibu pengajian.


Zahwa berpamitan terlebih dahulu karena ia tidak terlalu suka berkumpul-kumpul membicarakan hal yang tidak ada faedahnya.


Dan Umi juga sebenarnya sama. Tapi ya.. untuk menghargai saja, tidak enak jika menolak ajakan ibu-ibu itu.


30 menit kemudian, Umi pulang ke rumah.


Zahwa turun ke bawah dan melihat Umi sedang duduk dan bertelponan dengan seorang wanita. Lama Umi berbincang..sampai-sampai Zahwa merasa dianggap tidak ada.


Zahwa hanya bisa menunduk dan meremas kedua tangannya di atas lututnya. Setelah beberapa saat Umi sudah selesai menelpon dan Umi pamitan ke kamar.


Berselang 15 menit, pintu depan di ketuk.

__ADS_1


Tok..tok..tok...


"Assalamu'alaikum..." Ucap suara yang tidak di kenal Zahwa dari luar.


Tok..tok..tok..


"Iya. Sebentar.." Zahwa berjalan membuka pintu.


Tok..tok..tok..


Baru setengah pintu terbuka, wajahnya berseri melihat suami nya ada di hadapannya. Ia sampai menutup mulutnya tidak percaya. Ia memperlebar pintu nya dan seketika senyumnya redup melihat seorang wanita berada di samping suaminya.


Mereka berdiri saangat..dekat. Membuat mata Zahwa beralih menatap tangan wanita itu yang melingkari lengan Akhtar, Suaminya .


Pipinya memanas, matanya mulai mengembun, dadanya sesak. Rasanya sangat sulit bernafas saat ini. Sungguh ia tidak mengerti siapa wanita ini. Dan beraninya dia menggandeng tangan pria yang jelas sudah beristri. Dan itu? Apa? Mengapa Akhtar diam saja? Mengapa dia biasa saja?


Ohh tidak..jangan bilang ini sejalan dengan apa yang sedang dia pikirkan.


"Nak..siapa yang da-" suara Umi menyadarkannya dari lamunannya.


"I-ini Umi-"


"Aahhh...kalian sudah datang?? Ayo..ayoo masuk...nak..kenapa tidak di bawa masuk" Belum selesai Zahwa berbicara. Umi sudah memotongnya.


Raut wajah wanita paruh baya ini sungguh sangat berbinar melihat kedatangan mereka berdua.


"Nak...bawakan minum ya.. mereka pasti capek" pinta Umi


Menahan air mata yang akan lolos dari wadahnya, Zahwa mengangguk lalu berlalu ke dapur .


Ia menyandarkan badannya ke tembok. Seketika itu juga air mata itu jatuh dengan rasa sesak di dadanya.


Ia memukuli dadanya berharap sesaknya akan berkurang. Ia menutup mulutnya menahan isakan yang akan keluar.


'Ya Allah..apa ini?? Apakah karena tidak bisa bersamaku lebih dari 2 bulan. Suamiku tidak dapat menahan dan mencari wanita lain di sana? Apa salah ku? Mengapa ini terjadi pada ku..??bukan kami yang menginginkan terpisah seperti ini, tetapi mengapa jadi begini Ya Allah...'


"Hiks..hiks..."


'Tidak...tidak...'


"Hiks..hiks.."


'tidak..'

__ADS_1


"Hiks..hiks.."


'tidak.'


"Hiks..TIIDAKKKKK!!!!!!!"


"Nak..nak..bangun nak...sayang..bangun.."


"HAHH..."


"Ya Allah..ternyata hanya mimpi.." gumam Zahwa


Umi mengelap keringat di kening Zahwa.


"Ada apa nak? Kamu mimpi buruk? Apa yang terjadi? Kamu tidak apa-apa kan?" Cecar Umi


Zahwa menggeleng, lalu menerima gelas yang Umi sodorkan.


Glekk...glekk..glek...


Air satu gelas akhirnya habis.


"Hufttt..."


"Maaf Umi. Mary tidak apa-apa, Umi jangan Khawatir. Mungkin tadi Mary lupa baca doa"


"Benarkah? Baiklah..setelah ini baca doa ya. Umi keluar dulu. Benar kan, baik-baik saja?"


"Iya Umi.." Umi membalasnya dengan senyuman lalu beranjak keluar.


"Hufftt...Astaghfirullah...aku lebih mengikuti rasa was-was yang datangnya dari syaiton dari pada menenangkan diri" ucap Zahwa lalu ia turun untuk berwudhu. Lalu tidur setelah sebelumnya sudah membaca doa.


***


Jiwa yang tenang dan hati yang teguh adalah senjata orang-orang shaleh dari sejak dahulu dalam menghadapi kondisi sulit yang mereka temui dalam kehidupan mereka.


Doa penenang hati bisa dibaca terdapat dalam Quran Surat Taha ayat 2. Doa kuatkan hati ini juga dipanjatkan oleh Nabi Musa


Arab: قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ ۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ وَيَسِّرْ لِيْٓ اَمْرِيْ ۙ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ ۙ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ ۖ


Latin; qāla rabbisyraḥ lī ṣadrī wa yassir lī amrī waḥlul 'uqdatam mil lisānī yafqahụ qaulī


Artinya: Dia (Musa) berkata, 'Ya Tuhanku, lapangkan lah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku.

__ADS_1


🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈🌈


Jangan lupa tinggalin jejak yaa


__ADS_2