Salah Khitbah

Salah Khitbah
124. SK 2 : CALON MANTU, EH?


__ADS_3

"Trus.. kenapa Kakak ga nikah" tanya Zahra lagi penasaran.


" Kamu kapan siap nya?"


Deg..deg..deg..deg..deg..deg..


Pandangan keduanya bertemu, jantung yang tadi berdetak normal kini melaju dengan cepat, mengalahkan detakan detik jarum jam.


Blusshh... Zahra memalingkan wajahnya saat merasa pipinya memanas.


"Ya Allah.. tolongin Zahra..huhuhuu.. tatapannya Zahra ga kuat..huwaaa" batin Zahra berdendang


" Eh, Kak. Apaan sih, aku itu nanyanya Kakak kapan nikah. Kenapa nanyanya aku kapan siap. Emangnya aku mau ngapain coba"


"Saya ulangi, kamu kapan siap menjadi istri saya"


DEG!!


"Kak.. aku udah pura-pura ga peka, kenapa Kakak perjelas lagi.. jantung Zahra ga kuat.. huhuhu" keluh Zahra polos


Ustadz Fakhri tertawa kecil. "Lupakan"


"Baiklah, sepertinya hujannya sudah reda. Sekali lagi terimakasih telah menolong Qyla. Kami harus kembali ke rumah sakit. Saya sudah membayar makanannya, jadi- "


"Maaf kak, memotong. Siapa yang sakit?"


" Emm..em..itu Ibu saya sedang di rawat si rumah sakit, saya buru-buru. Saya permisi"


"Kak tunggu, terus Zahra gimana? Boleh Zahra ikut ke rumah sakit? "


"Mau ngapain?"


" Mau lihat Ibu Kakak lah, emang apa lagi?"


Ustadz Fakhri berfikir sejenak, kemudian " Baiklah ayo"


"Yess"


Mereka keluar dari tempat makan tersebut dan memberhentikan taxi yang lewat. Karna mobil Ustadz Fakhri masih di parkiran Rumah sakit, dan sepertinya Qyla akan kelelahan jika diajak jalan ke rumah sakit, oleh karena itulah Ustadz Fakhri memberhentikan Taxi yang akan mengantar mereka ke rumah sakit.


Zahra duduk di dekat jendela begitupun dengan Ustadz Fakhri, dan.. Qyla berada di tengah-tengah mereka.


Pak supir selalu memperhatikan penumpangnya kali ini lewat kaca spion. Ingin sekali ia mengajak mereka berbincang karena ia perhatikan sedari tadi penumpangnya hanya diam seperti suami istri yang sedang bertengkar.


"Mbak.. mbak nya udah punya pacar blom?"


"Hah? Bapak nanya sama aku ?" Tanya Zahra memastikan


"Loh, sama siapa lagi to Mbak. Kan cuma mbak yang perempuan disini. Ga mungkin kan saya bertanya sama adek nya itu yang di tengah, ihihihig"


Zahra mengelengkan kepalanya


"Iya iya pak, hehee. Gak ah pak, saya ga lunya pacar atau apapun itu"


"Loh kenapa mbak? Mbak nya cantik loh"


"Karena saya ga mau pak. Aduhhh.. tapi.. makasih pak pujiannya, mata bapak bisa di katakan sehat seratus persen"


" ahahaha, bisa aja mbak nya"


"Iya dong pak.."

__ADS_1


"Oh iya mbak, mbak ga mau pacaran kan, kalau jadi mantu saya aja mau gak mbak? Saya punya anak lajang di rumah, dia mah udah mapan mbak, sebenarnya dia udah nyuruh bapak ga usah kerja, tapi karena bapak udah cinta sama kerjaan bapak jadi sopir taxi jadi bapak ga mau berhenti, baik tau mbak orang nya. Gimana? Mau ga mbak? Tampang nya beuh... Kasep pisan mbak. Guantengg poll.. sebelas dua belaslah itu sama mas yang di samping nya. Mau ga mbak? Biar saya kasih nomer nya ya.. buat kenalan dulu kan."


"Ahahaha.. si bapak mah bisa aja" perkataan pak supir sangat menggelitik hatinya,


. Dimana seorang ayah mempromosikam anaknya seperti mempromosikan pakaian dalam di jajaran pasar obral. Ahahaha


"Loh? Bapak serius loh mbak"


Zahra tertawa sambil sesekali melirik Ustadz Fakhri. Upss.. itu wajah nya kenapa jadi dingin begitu??


"Pak, fokus nyerit saja ya. Bapak bicaranya ngelantur aja sama istri saya" ucap Ustadz Fakhri tiba-tiba membuat kedua orang itu terkesiap


"Hah? Istri? Mbak.. mas di sampingnya itu suaminya?" Tanya Pak supir tersebut menghiraukan Ustadz Fakhri


"Suami?? Pak.. dia itu-"


"Kurang jelas ya pak. Saya itu suami nya dan dia itu Istri saya" ucapnya tegas . "Dimasa depan, aamiin" lanjut nya dalam hati


Zahra melotot, Ustadz Fakhri memberikan tatapan tajam nya membuat Zahra mengalihkan pandangannya ke depan dan bersikap biasa saja


Dug.dug..dug.. "lagi-lagi jantung Zahra di buat dangdutan sama Ustadz Fakhri " batinnya menempelkam tangannya ke dadanya


"Oh.. istrinya toh.. yo maaf mas,saya tidak tau . Ahahaha semoga pernikahannya samawa ya mbak.. mas.. pasangan sampai jannah ya.. amiin"


"Aamiin" sahut Ustadz Fakhri dibelakang


***


"Ih.. Kak.. ngomong apa sih ke pak supir taxi tadi?" Tanya Zahra saat mereka sudah berjalan masuk ke rumah sakit


"Tidak ada" jawab Ustadz Fakhri menggandeng tangan Qyla


"Beneran"


Zahra mematung


"Kalau kamu memang mau" lanjut Ustadz Fakhri berjalan meninggalkan Zahra yang masih bersiri tegap


Zahra mengerjapkan matanya berkali-kali, kembali mengontrol perasaan yang kian menjadi. Sudah ia tekad kam dalam hati untuk tidak jatih lebih dalam mengikuti perasaannya, tapi apa tiba ia bertemu dengan orang ya langsung, ehh malah oleng.


Zahra menjadi pendiam sejak itu, ia hanya berdiri kalem sesekali tersenyum, hingga sampai di depan ruang rawat ibu dari Ustdaz Fakhri.


Ceklek~


"Assalamu'alaikum..." Ustadz Fakhri memberi salam sambil masuk mendorong pintu agar terbuka lebar hingga Zahra ikut serta masuk ke dalam.


" Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"


"Bibi..." Qyla berlari menghampiri pengasuh nya dan langsung minta di tidur kan. Karena ia memang sudah lelah.


Ustadz Fakhri mendekati ranjang pasien, dan mencium punggung tangan ibu nya.


"Udah pulang nak?"


"Sudah bu"


" Oh iya nak, ini siapa? Mantu ibu?"


"Eh.. bu-bukan tante, saya Zahra dulu pernah di selamatkan oleh Kak Fakhri" ucap Zahra memperkenalkan dirinya bukan sebagai siapa-siapanya Ustadz Fakhri karena ia memang bingung dia itu siapanya Ustadz Fakhri


"Yah.. kirain calon mantunya ibu" ucap ibu dengan raut wajah sedih

__ADS_1


"Doain aja bu, semoga cepet dateng jodoh nya" sahut Ustadz Fakgri menenangkan ibu nya


"Aamiin. Selalu Ibu do'akan nak"


"Ibu udah makam belum?"


"Sudah, di suapi sama Bibi tadi"


"Emm baiklah.." Ustadz Fakhri pindah ke sofa membiarkam Zahra dan Ibunya berbincang sebentar


"Kamu cantik sekali nak" puji Ibu


" Ehehe.. terimakasih bu.. Ibu memang ga salah nilai"


"Hahhaa" Ustadz Fakhri tersenyum tipis melihat Zahra membuat Ibunya tertawa


" Kamu masih sekolah atau gimana?"


"Zahra mah udah tamat bu, dan alhamdulillah.. kesibukannya saat ini jadi guru privat. Emm guru TK juga sihh.. hehe"


"MasyaaAllah.. udah ada kerjaan toh. Emm kalau anak ibu mah sekarang kerja di konveksi peninggalan Ayah nya"


"Hah? Konveksi? Kak Fakhri udah resign dari Pesantren Al-Anshor??"


"Loh, kamu tau nak??"


" Iya bu, soalnya Kak Fakhri juga dulu gurunya Kakaknya Zahra, Kak Zahwa"


"Zahwa? Kaya ibu pernah denger? Zahwa...??" Tampak si ibu menatap langit-langit untuk mengingatnya


"Ah.. ibu lupa. Ri..." panggil si Ibu


"Iya bu" sahut Ustadz Fakhri yang sedang menyusun pakaian Qyla untuk di bawa pulang.


"Kaya nya ibu pernah dengar kamu cerita tentamg wanita yang kamu sukai. Kalau engga salah, namanya Zahwa kan? Iya kan nak? Ibu ga salah kan?"


Deg!


Ustadz Fakhri menatap Zahra yang juga sedang menatapnya. Tak lama Zahra kembali memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gurat kesal.


" I-iya bu"


Nyess..!!!


Dada Zahra naik turun kekecewaan terlihat jelas di matanya. Otaknya mulai overthinking terhadap Ustadz Fakhri.


" M-ungkin Zahwa yang lain bu.. kan yang nama Zahwa banyak bu" ucap Zahra


"Hem.. iya ya. Nak.. mungkin saja"


***


Jejaknya jangan lupa Dinda...πŸ‘€πŸ€­


Mohon maaf semuanyaa telah membuat kalian kecewa karena Author yang menghilang. Dan tidak up juga tidak merespon, atau sekedar like komen kalian πŸ™πŸ» maaf karena memang Author sibuk😣


Dan hari selasa besok adalah pengumuman, Author minta doanya, supaya nama dan proposal Author tercantum di deretan nama-nama proposal yang lulus. Author lagi dag dig dug nii, karena seminggu ngerjainnya serr nungguin lulus proposalnya..πŸ˜£πŸ™πŸ» author minta bantu doa ya... Semoga proposal Author lulus.. biar Ajthor bisa tenang dan bisa bagi waktu ke sini lagiπŸ™πŸ»


Alhamdulillah seperti yang Aithor bilang kemaren Author sehat kok, kenapa ga kelihatan dan jarang nongol.. ya karena alasan di atas. πŸ™πŸ»


Cukup sekian. Author harap kalian banyak yang ninggalin jejak.. biar Author ga tega buat ngegantung kalian.πŸ™πŸ»πŸ€­πŸ™ˆ Mohon doa nya yaaπŸ™ˆπŸŒΉ

__ADS_1


__ADS_2