Salah Khitbah

Salah Khitbah
134. SK 2 : MENGGAPAI RIDHO ALLAH SWT


__ADS_3

"hiks..hikss...hiks..."


"Loh, Zahra!? Anti kenapa??"


"Hiks..hiks... Huff huhhh..." Zahra mengatur pernafasannya dan mencoba menghentikan isakan tangisnya


"Ra? Kenapa hm? Tadi baik-baik aja loh" tanya Naya lembut


Zahra menggeleng, dan tertawa. Kening Naya berkerut " Sebenarnya ada apa dengannya?"


"Aku tidak apa-apa kok, cuma kangen keluarga aja hehehe" jawab Zahra sesantai mungkin. Ia tidak ingin jika dirinya menjadi beban pikiran untuk teman nya yang sangat perasa ini.


"Beneran?"


"Iya Nay.."


"Emm baiklah, kalau ada apa-apa jangan diam sendiri ya.. bagi sama aku, mungkin kau bisa lega setelah mengeluarkannya"


"Iya Nay.. iya.."


"Baiklah, aku mau nyuci ke sungai. Kamu mau ikut?"


"Emm.. engga deh. Besok aja aku nyucinya. Aku mau nyari.. nyari bakso aci aja deh. Laper"


"Ish.. dasar tukang makan"


"Hehehe kan enak Nay"


"Baiklah, aku pergi dulu ya.. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumussalam"


Zahra mengintip dari jendela, setelah memastikan Naya sudah pergi, kemudian ia juga keluar kamar.


Kaki nya terus berjalan, tapi matanya mencari. Mencari apa? Aci? Bukan!


Itu hanya alasannya saja pada Naya.


"Ah itu" gumamnya setelah menemukan apa yang ia cari


Dengan sedikit berlari ia menghampiri seorang wanita yang tidak terlalu muda juga tidak terlalu tua yang duduk sendiri di pondok tunggal.


"Assalamu'alaikum Ustadzah.." ucapnya lembut dengan badan sedikit membungkuk


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Putri tak kalah lembut


"Apa ana boleh duduk di sini?" Tanya nya terlebih dahulu


"Tafadhdholiy.. la ba'sa"


Zahra tersenyum sambil mengangguk lalu mendudukkan pantatnya di pinggir pondok


"Ada apa dik?" Tanya Ustadzah Putri


"Em...mm....a-a-"


"Yang tenang ukht, jangan gugup. Tarik nafas dulu" ucap Ustadzah Putri mengusap bahu Zahra lembut.


"Huuffttt"


"Nah, bismillah dulu. Baru katakan" Zahra mengangguk


"Bismillahirrahmaanirrahiim" baca Zahra lirih


"Begini Ustadzah, materi yang Ustadzah sampaikan tadi, sangat pas dengan apa yang ana rasakan saat ini. Tapi, setelah mendengar perkataan Ustadzah Putri tadi pula. A-ana merasa berdosa. Apakah Allah akan menerima Hijrah ana?"


Tes! Air mata Zahra luruh begitu saja.

__ADS_1


Ustadzah Putri meraih tangan Zahra dan menggenggamnya. Matanya menatap manik Zahra serius


"Ukhty... Ketika niat kita salah, yang kita lakukan adalah beristighfar memohon ampun pada Allah SWT. Ana sering menjumpai kasus yang seperti ini, tak banyak juga yang terlambat menyadari kesalahannya. Tapi Alhamdulilah.. bersyukurlah anti cepat menyadari kesalahan anti"


"Setiap manusia memang tempatnya khilaf dan salah, namun tergantung kitanya yang memilih ingin pasrah selalu menjadi orang yang salah atau ingin memperbaiki diri. InsyaaAllah.. angi istiqomah dan Hijrah anti membawa keberkahan untuk anti sendiri. Aamiin"


" Apa yang harus ana lakukan sekarang Ustadzah? "


"Sebagai seorang Muslimah yang pertama kita lakukan adalah bertaubat kepada Allah, mohon ampun, dan mulailah meluruskan niat. Lupakanlah niat awal anti ingin berhijrah dan kembalikan pada yang seharusnya, Lillah. Karena Allah SWT. InsyaaAllah.. jika niat kita sudah benar, Allah akan membersamai kita mempermudah proses Hijrah kita. Kuncinya hanya satu. Lillah"


Zahra merasa sangat mendapat pencerahan setelah mendengar langsung apa yang harus ia lakukan, kini ia sudah bertekad me-restart ulang niatnya masuk ke Ponpes ini.


"Syukron katsiiran wa jazakillahi khyar Ustadzah. Semoga menjadi Amal jariyah. Syukron karena sudah mengingatkan ana"


"Afwan waiyyaki Shalihah, aamiin. Semua yang benar hanya dari Allah semata, ana hanya perantara saja" jawab Ustadzah Putri tersenyum


***


"Queen.. sudah siap??" Ucap Akhtar dari kamar sebelah


"Sudah Bib" sahut Zahwa menghampiri sang Suami


" Yasudah, yuk, kita berangkat, Umi dan Buya sudah menunggu di bawah" ucap Akhtar menggandeng pinggang Zahwa


"Ayuk"


Kini mereka semua akan pergi ke rumah keluarga Syeena, karena lebih dekat dengan Bandara. Dan mereka akan makan juga persiapan keberangkatan Umrah dari sana.


"Sudah siap nak?" Tanya Umi


"Sudah Mi"


"Koper sudah di bagasi Zi?" Tanya Buya


"Sudah Abi, tadi di bantu sama pak supir" Buya Firman mengangguk


Mobil di bawa oleh supir dan Buya di sampingnya. Akhtar duduk diantara kedua wanita yang dicintainya sambil menggenggam erat kedua tangan itu.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam. Akhirnya mereka sudah berada di kediaman keluarga Syeena.


"Aaa.. Onty-Onty.. " ucap Humairah girang menunjuk-nunjuk Zahwa yang baru turun dari mobil.


Kini rumah Syeena sudah di persiapkan sedemikian rupa, untuk pengajian dan perpisahan sebelum berangkat.


Setelah semuanya berkumpul, acara pun dimulai dengan kata sambutan dari Ayah Ali dan pengajian yang di bawakan oleh Akhtar setelah itu do'a yang dipimpin oleh Buya. Dan terakhir, acara makan-makan sebagai pengisi perut setelah dilaksanakannya acara doa bersama memohon keselamatan dan keberkahan sebelum Zahwa, Akhtar dan kedua orang tua masing-masing berangkat Umroh.


1 jam kemudian, mereka pun kembali berangkat ke bandara, dimana semua rombongan sudah berada di sana. Dan sekitar setengah jam lagi pesawat akan terbang meninggalkan tanah air untuk sementara dan menuju tanah suci.


***


Setelah mengantarkan orang tua mereka ke bandara, Azzam dan Helwa beserta Humairah kembali pulang ke rumah mereka sendiri. Dan kunci rumah Syeena ia bawa bersamanya ke kota sebelah.


Saat di perjalanan tiba-tiba kepala Helwa pusing dan rasanya melihat jalan berbelok ia ingin muntah, tiba-tiba saja seluruh air liurnya naik ke atas dan membuatnya mual.


"hoek.. hmmpt"


"eh.. Sayang.. kamu kenapa??" tanya Azzam panik, sedari tadi ia sudah mencurigai gerak-gerik Helwa yang duduk tak nyaman


"stoph" lirih Helwa


Setelah mobil berhenti, Helwa segera keluar dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


"aakhh.. sayang sekali makanan enak yang tadi aku makan keluar semua" batin Helwa ingin mengangis


Setelah merasa baikan, ia menerima air yang di sodorkan Azzam dan meminumnya. ia hanya diam saja saat Azzam membaringkannya dan memijat tengkuknya juga mengelus perut ratanya.


Azzam meyakini Helwa pasti masuk angin, tidak pernah selama menikah Helwa mabuk perjalanan.

__ADS_1


"emm... Mma.. Umma.. " tiba-tiba Humairah menangis dari bangku tengah


" Ma... Umma.. hiks.."


"eh... iya nak... anak Abi bangun? AC nya mati nak? sabar ya... Abi boboin Umma dulu ya sayang..." sahut Azzam membujuk Humairah sambil terus mengurus Helwa agar lebih mendingan.


"Bi.. Abi.. hiks.. "


"iya.. nak.. sabar ya Hally ( cantik )"


" hu'um Abbi" ucap Humairah mengangguk lalu menghapus sisa air matanya dengan kedua tangan endutnya


Setelah selesai Azzam menutup pintu Helwa dan membuka pintu belakang, lalu membawa Humairah ke gendongannya setelah sebelumnya ia mengaitkan tas keperluan dan snack Humairah di ketiaknya.


Blam!


Kini ia sudah duduk di kursi kemudinya. Azzam mengusap peluh di dahinya dan menghembuskan nafas nya pelan.


Memposisikan diri senyaman mungkin, perlahan ia memindahkan Humairah duduk di pahanya.


"Sayang.. jangan nakal ya.. duduk manis aja ya.. biar kita selamat sampe rumah, Mairah mau cepat-cepqt bobo di kasur kan?" Dengan gemas ia mengangguk


"MasyaaAllah.. anak pinter. kita jalan ya.. Bismillah sayang.."


ddrutudrutututu... setelah men-stater mobil. Perlahan mobil kembali berjalan. Humairah meletakkan tangannya di atas tangan sang Abi yang sedang mengemudi. Sesekali ia tertawa saat suara klakson di bunyikan oleh Azzam. Membuat Azzam ikut tertawa karena ketularan ngakak khas Humairah.


Begini lah bapak satu ini, rela mengemudi sambil mengurus sang putri dari pada harus membangunkan istrinya yang sedang tidak enak badan.


MasyaaAllah sungguh idaman sekali engkau wahai Azzam


***


OFF kan sejenak


kesibukan kita.


Ajaklah keluarga jalan jalan cari suasana baru membangun kebersamaan.


OFF kan sejenak


saat kita benarยฒ sibuk di pekerjaan, sibuk jualan, dan lainnya.


Coba luangkan waktu untuk bertegur sapa dgn sanak saudara dan tetangga.


OFF kan sejenak


saat kita banyak masalah, termasuk banyak beban


Coba luangkan waktu minimal beberapa jam untuk muhasabah di masjid atau musholla.


OFF kan sejenak


dari main Handphone. Yang selama ini Tiada hari tanpa HP.


Coba sesekali tanpa HP. Rasakan sensasinya...


OFF kan sejenak


membenci, mendengki, ujub, takabur, dan sombong...


Rasakan sensasinya.....


Tetap semangat, tetap jaga kesehatan, tingkatkan iman, imun diri dan prokes ketat. Semoga bahagia selalu kita dapatkan dan hidup merdeka bisa kita rasakan


Aamiin


Jangan lupa tinggalin jejaknya... kalau bikin Author puas bakal up setiap hari. Karena ini sebentar lagi akan end. Dan.. Author juga minta do'a nya untuk kesembuhan Mama Author ๐Ÿ™๐Ÿป Semoga kita selalu dalam lindungan Allah dan dijauhkan dari segala marabahaya aamiin ya Rabb ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿคฒ๐Ÿป

__ADS_1


๐Ÿ’Ž


__ADS_2