Salah Khitbah

Salah Khitbah
155. SK : KERJA KERAS


__ADS_3

1 bulan berlalu


Keadaan masih sama, tidak ada yang berubah. Akhtar masih setia dengan tidurnya, dan Zahwa yang selalu menemaninya. Tapi, sedikit hal yg berbeda. Setelah dua minggu pasca operasi yang dilakukan Akhtar, Zahwa mengambil alih seluruh pekerjaan suaminya.


Begitu banyak pekerjaan yang terbengkalai, sejak kecelakaan itu. Ribuan nyawa dan nasib banyak orang bergantung pada pekerjaan mereka yang di pimpin oleh Akhtar sendiri. Bahkan Panti Asuhan juga Ma'had yang di dirikan Akhtar mulai terombang ambing. Semua orang larut dalam kesedihan. Tapi kini tidak dengan Zahwa. Wanita kuat ini, rela membagi waktu dan tenaganya untuk mengerjakan seluruh pekerjaan suaminya.


Pak Bathur selalu siap sedia melayaninya, begitu juga dengan Ibu Geza yang setiap harinya mengurusi Zahwa dan bayinya.


Pagi hari ia akan pergi ke rumah sakit untuk menemui Akhtar, setelah selesai sholat Dhuha ia akan pergi ke Ma'had untuk mengurus segala pekerjaan di sana. Setelah itu ia pergi ke kantor Akhtar, memeriksa segala berkas yang terbengkalai selama di tinggal oleh Akhtar dan mengambil alih pimpinan rapat mengenai status perusahaan Akhtar.


Di peralihan Zhuhur menjelang Ashar, Zahwa akan pamit ke panti asuhan untuk menemui anak-anak, mengecek segala urusannya keuangan, dapur, administrasi sampai bagian badan donasi.


Hingga waktu magrib Zahwa lalu pulang ke rumah, mengistirahatkan badan yang sudah lelah seharian. Setelah selesai sholat Isya, Zahwa akan duduk bersandar di kepala ranjang dengan meluruskan kakinya.


Tangannya terus memijat kaki yang semakin membengkak . Tanpa sadar air matanya menetes, satu tangannya menepuk pelan dada yang terasa sesak.


Dalam hati ia bergumam, bagaimana jika semua pengorbanan yang ia lakukan selama ini justru tidak dapat di saksikan oleh Suaminya. Di hati kecilnya ada rasa takut tidak bisa melihat mata indah Akhtar lagi untuk selamanya. Pikirannya pun melayang, membayangkan anaknya tidak akan mengenal ayahnya.


Terlalu jauh fikirannya berkelana, membuat Zahwa langsung tersadar. Bibirnya beristighfar, tangannya menghapus air mata di pipinya.


Kring...kring... Fokusnya teralihkan kepada ponsel yang tertulis "Bunda WaWa" di sana.


Setelah menenangkan dirinya, Zahwa mengangkat telponnya. Seperti biasa Bunda Fatimah akan menanyakan kabarnya, lalu menemaninya hingga ia tertidur.


***

__ADS_1


Keesokan harinya


Pagi pagi sekali, sebelum Zahwa berangkat ke rumah sakit, Zahwa mendapat telpon ada rapat mendadak yang harus segera di laksanakan di perusahaan. Cukup mengejutkan karena ini masih terlalu pagi untuk rapat.


Namun setelah mendengar pembahasan yang akan di bicarakan, Zahwa langsung bersiap-siap berangkat ke kantor.


Tiga puluh menit kemudian, Zahwa tiba di parkiran kantor. Di lobby Pak Bathur sudah berdiri menunggu kehadirannya. Zahwa merapihkan penampilannya sebelum keluar dari mobil. Dengan membawa perut yang besar, Zahwa berjalan cepat masuk ke ruang rapat.


Duduk di meja pimpinan rapat sedikit membuat Zahwa tremor, bahkan selalu hampir tidak bisa berkata-kata. jika ia sudah gugup begini, ia akan mendapatkan tendangan kecil di perutnya.


"aakhhhww" ringis Zahwa pelan


huufftt.... seakan mendapat dorongan dan semangat Zahwa akan merasa percaya diri dan berwibawa selama rapat berlangsung.


"Maaf Nona, tapi jika begini terus bagaimana nasib para mitra kerja kita?" ungkap salah seorang kepala cabang


"Iya, sama pak. Saya juga sudah memikirkan itu, tapi untuk sekarang kita harus bersabar karena keadaan kita sangat sempit. hanya suami saya yang mengetahui kemana arah perusahaan ini berjalan, karena beliau yang mendirikannya"


"Bersabar, bersabar, bersabar, dan bersabar. Kami sudah cukup sabar Nona. Tapi tidak tau, bagaimana dengan yang lain. Jika tidak ada ujungnya, mereka atau bahkan kita semua akan kehilangan pekerjaan. Menunggu Tuan Akhtar sadar sama dengan mengunggu hal yang sia-sia" ucapnya menaikkan nada suaranya


Deg!


"Tenanglah tuan, saya diam di sini bukan berarti saya tidak memikirkan apa yang anda katakan. Saya paham, jangan terus memberi desakan tetapi anda sedikit pun sama sekali tidak memberi jalan keluar" seketika pria itu langsung tertunduk malu mendapat tatapan merendah dari orang-orang


Zahwa mengatur nafasnya, lalu lanjut berbicara. "Maaf, jika kata kata saya terlalu kasar. Tuan-Tuan bersabarlah, saya sedang mencari cara untuk menyelesaikan masalah kita ini" Zahwa diam sejenak lalu malnjutkan "Saya ingin seluruh laporan dari setiap cabang sudah terkumpul esok hari. Mohon kerja samanya"

__ADS_1


Rapat di tutup semua anggota keluar dari ruangan. Zahwa memangku kepalanya. Cukup pusing memikirkan hal ini, yang sama sekali tidak pernah ia kerjakan.


Zahwa keluar dari ruang rapat, dan kembali ke ruangan sementaranya. Ya, sementara, karena dia yakin bahwa Akhtar akan kembali ke ruangan ini.


Sesampainya di sana, Zahwa berdiskusi dengan Pak Bathur mengenai seluruh pemasukan dari perusahaan ini.


Dengan jelas dan terperinci beliau menjelaskan secara transparan real apa adanya mengenai seluruh yang ia ketahui.


"Pada intinya, Tuan Akhtar mendirikan perusahaan ini, bersih menggunakan uangnya. Jarang ada investor yang mau bekerjasama karena mereka tidak setuju dengan prinsip perusahaan ini, yang nantinya tidak akan balik modal alias di sumbangkan ke sektor lain. Dan sebagian hasilnya di keluarkan untuk membeli usaha para tunawisma yang sekarang sudah bisa membangun rumah sendiri dengan menjual karya tangan mereka sendiri. Dan nantinya karya mereka itu di beli lalu di jual lagi oleh perusahaan"


"Tuan Akhtar memiliki misi untuk mengajak orang orang berbagi dan membantu sesama yang benar-benar membutuhkan, jadi bisa di bilang, lima puluh persen pemasukan di perusahaan ini bersih dari kantong tuan Akhtar sendiri"


Zahwa terpaku mendengar apa yang di sampaikan oleh pak Bathur. Tak menyangka begitu dermawan nya suaminya terhadap yang membutuhkan. Kini, Zahwa mengerti apa yang harus dilakukannya.


...


Setelah seluruh laporan terkumpul, tiga hai tiga malam Zahwa mempelajari semuanya. Hingga dalam waktu seminggu ia sudah bisa membaca di sektor mana yang akan ia putar untuk memulihkan perusahaan.


Seminggu berlalu. Dalam waktu tujuh hari lebih cukup bagi Zahwa, untuk menyelesaikan masalah yang mendaji beban pikirannya beberapa waktu lalu.


Hati lega ia sudah bisa kembali fokus merawat Akhtar seperti dulu, hanya saja di beberapa waktu ia bagi untuk mengerjakan pekerjaan. Dan saat ini Zahwa sudah bisa tertidur nyenyak walaupun kurang.


Seperti sekarang, Zahwa sedang terlelap di kamarnya. Badannya lelah setelah seharian beraktivitas. Siapapun yang menatap wajah teduhnya pasti akan ikut teiris hatinya melihat wanita ini. Tanpa di katakan pun semua orang sudah mengetahui tanggungannya. Tapi inilah jalan takdir Zahwa, inilah ujian perjalanan Cinta Zahwa. Mau tidak mau ia harus bisa melewatinya hingga sampai pada epilog kisah mereka.


TBC

__ADS_1


__ADS_2