
S E L A M A T M E M B A C A
***
Bandara Soekarno-Hatta
Seorang pria bertubuh tegap berjalan keluar menyeret kopernya dan mencari taksi untuknya pulang.
Tidak ada yang tau tentang kembalinya ia ke Indonesia.
Ciiitt...
Sebuah taksi berhenti di depannya.
"Jalan ...blablabla.."
"Oke mas" ucap sang sopir taksi
Taksi mulai berjalan membelah jalanan ramai. Di bawah panas teriknya matahari. Ia gusar, kepalanya pusing memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan nanti.
Pasti semuanya akan kacau. Tidak ada mungkin akan baik-baik saja. Ia menyandarkan punggungnya belakang ia memijat pangkal hidungnya. Matanya terpejam, dadanya sesak.
Mengapa sebegini nya taqdir mempermainkan ku.
Selamat berfikir Kang...
***
Beralih ke Zahwa
Saat ini ia sedang berada di pesawat. Matanya tidak bisa terpejam barang hanya 15 menit. Padahal tadi malam ia sangatlah kesulitan tidak bisa tidur.
Lengkungan hitam menghiasi wajah ayu nya. Namun matanya masih saja enggan terpejam. Dan memilih melihat keluar jendela kecil di sampingnya.
Tak lama kemudian, pesawat mendarat. Setelah berbagai rangkaian prosedur lainnya. Ia segera berjalan keluar di ikuti Azzam, Helwa serta Humaira dari belakang.
Ia memanggil sebuah taksi, dan berhenti di depannya. Ia segera mendekat ke taksi tersebut tak melihat kebelakang. Azzam yang melihat itu langsung berlari kepada Zahwa.
"Pak...ke Pesantren Al-Anshor ya...jalan xxx...Di d- - " ucapannya terpotong saat Azzam sudah menarik tangannya.
"Apa-apan sih Wa. Kita ke rumah sekarang" ucap Azzam.
"Kan kemaren Wawa juga udah bilang kalau mau ke Pesantren langsung. Libur nya udah habis" ucap Zahwa menatap gerah pada Azzam
"Wa...jangan begini. Apa yang akan di pikirkan dan Bunda dan Ayah nanti. Abang jawab apa pada mereka"
"Ya seperti yang Wawa bilang tadi aja"
"Wawa...kita pulang ke rumah. Nanti Abang yang akan izin sama Buya langsung kalau alasan mu hanya karena jatah libur mu habis"
" Ya ga bisa gitu dong"
"Bisa! Apakah kau tidak memikirkan Ayah dan Bunda yang merindukanmu?"
Zahwa terdiam, setelah itu ia tersenyum kecut
"Mereka tidak rindu, buktinya semuanya diam saja"
"Wawa..." Suara Azzam melembut. Zahwa adalah orang lembut namun karena suasana hatinya lagi tidak baik makanya ia sedikit berbeda.
"Ayok lah dek...masalah itu kita bicarakan nanti. Kita bertemu Ayah sama Bunda dulu" ucap Helwa akhirnya angkat bicara
Sejenak ia berpikir. Tak lama ia mengangguk. Membuat Azzam dan Helwa lega. Walau dalam hari mereka juga sebenarnya ada perasaan was-was.
"Tapi, Wawa tetap ingin naik taksi"
Azzam mengangguk pasrah.
Supir mengangkut barang Zahwa ke dalam.
"Pak..jadinya ke perumahan blablabla..jalan xxxx ya"
"Iya mbak" ucap supir tersebut
Zahwa masuk ke dalam taksi dan perlahan berjalan meninggalkan bandara.
Tak lama mobil keluarga Syeena pun datang menjemput Azzam juga Helwa.
__ADS_1
Di dalam taksi Zahwa hanya diam melamun. Suasana sepi hanya deru mobil yang terdengar.
Entah angin apa, hatinya menciut nyeri ketika mendengarkan sebuah lagu yang baru saja di putar oleh pak Supir.
...----------------...
Mungkin kau bukan cinta sejatiku
Mungkin kau bukan belahan jiwaku
Yang diturunkan Tuhan 'tuk menjadi
Pendamping hidupku
Mungkin kau bukan cinta sejatiku
Mungkin kau bukan belahan jiwaku
Yang diturunkan Tuhan 'tuk menjadi
Pendamping hidupku
Memang berat bagiku
Berpisah denganmu
Tapi harus kurelakan
Cinta tak bisa dipaksakan
Song : Disaat Aku Pergi~Lagu Dadali
"Ya Allah...sakit rasanya. Mengapa pas sekali. Apakah memang benar. Dia bukan cintaku yang sesungguhnya???" batin Zahwa sendu
Sungguh keterlaluan, ternyata Pak Supir kecanduan akan lagu itu. Selama perjalanan lagu itu ia putar berkali-kali. Membuat Zahwa menjadi tersudut, seakan seluruh dunia memang menentang apa yang dia dan Fatih harapkan.
Pak supir..pak supir...adong-adong sajo (ada ada saja ~batak)
***
Zahwa sudah sampai begitu juga dengan Azzam.
Mereka di sambut hangat oleh Bunda Fatimah.
Sesampainya di sana, Ayah Ali langsung menggendong cucunya. Dan memeluk putra putri nya.
"Ayah..Wawa rindu.." bisik Zahwa di pelukan Ayah Ali
"Ehhehe...rindu ya? Makanya libur itu pulang ke sini" ucapan Ayah Ali lagi-lagi menyindir taqdir nya.
Andai-andai pun kini menguasai.
"Andai kemarin aku pulang kesini pasti, ini tidak akan terjadi"
"Andai..bla..bla.bla.."
Sudah lah semua sudah terjadi.
Zahwa tidak melihat Zahra di sana. Kata Bunda ia sedang pergi keluar bersama teman-temannya.
Setelah itu Zahwa naik ke kamarnya. Hal itu menimbulkan pertanyaan di benak Ayah dan Bunda.
"Ada apa dengannya?"
Setelah bersih-bersih ternyata rasa kantuk nya semakin menjadi. Saat ingin naik ke atas ranjang nya Azzam datang untuk memastikan keadaannya.
"Wawa baik-baik saja.. jangan khawatir.. saat ini Zahwa sedang tidak ingin di ganggu. Wawa mau istirahat" potong Zahwa langsung sebelum Azzam mengeluarkan suaranya
"Baiklah..selamat beristirahat Wa" Azzam kembali menutup pintu Zahwa hanya bisa menghela nafas pelan.
Tak butuh waktu lama. Begitu Zahwa merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Alam mimpi sudah menenggelamkannya.
Sedangkan Azzam pergi mencari Bunda Fatimah.
Ia melihat pintu kamar Bunda Fatimah terbuka sedikit.
__ADS_1
"Bund.."
"Bunda.."
"Iya..Bunda di dalam Zam..masuk saja" ucap Bunda dari dalam
"Ada apa Zam?" Tanya Bunda Fatimah setelah melihat Azzam masuk dan menutup pintunya dan memberikan sediiikit celah.
"Bunda..ada yang ingin Azzam katakan"
"Ya..ada apa? Katakanlah"
"Bismillah" ucap Azzam dalam hati
"Bunda..Zahwa..." Azzam menjelaskan pada Bunda Fatimah mulai dari ia yang tak sengaja menemukan surat Zahwa dan membacanya. Mengetahui seorang pria telah mengakui perasaannya pada adiknya. Perasaan Zahwa, penantian Zahwa, hingga pada keadaan Zahwa yang pingsan saat di telpon oleh Zahra dan keadaan Zahwa yang berubah. Semua Azzam katakan pada Bunda Fatimah.
Hatinya nyeri mendengarkan itu semua. Air matanya mengalir
"Astaghfirullah...kenapa Wawa tidak bilang apa-apa?" Suara Bunda Fatimah bergetar ia dapat merasakan sakitnya menjadi Zahwa saat ini.
"Azzam juga bilang begitu Bunda..tapi Zahwa.. aarrgghhh" Azzam mengacak-acak rambutnya.
"Dan Zahra... Dia sudah menerima Khitbahan itu dan sebentar lagi adalah lamaran resmi dan akan di langsungkan pernikahan. Dia juga mencintai Fatih, bahkan ia sangat bahagia saat ini" ucap Bunda Fatimah
"Bunda..di samping kebahagiaan Zahra. Ada seseoramg yang terluka" batin Azzam
"Bunda..bagaimana pun ini harus kita beritahu pada Zahra. Zahwa dan Fatih sama-sama saling mencintai Bunda.." ucap Azzam hati-hati. Karena ia tau Bunda Fatimah sangat menyayangi Zahra
"Ya Allah..kok jadi begini?? "
"Kita harus bicara sama dia, kasihan Wawa Bunda.."
Bunda Fatimah mengangguk
"Ya benar. Nanti kita akan bicara agar dia mele- - " ucap Bunda Fatinah terpotong karena
tiba..tiba...
BRAAKK..... Pintu terbuka
Menampakkan Zahra dengan wajah kesalnya.
"Tidakkk....aku tidak ingin melepaskannya. Aku mencintainya.." sanggahnya cepat
"Zahra...mengertilah..kita bicaraka- - "
"Cukup Abang! Abang hanya peduli pada Kak Wawa. Stoopp!!!" Ucap Zahra memotong ucapan Azzam
"Zahra..."
"Apakah kalian lupa kalau yang di Khitbah itu aku bukan DIAAA..." Ujar Zahra dengan suara lantang
"Tapi Zahra..semua ini salah...kalian Salah Khitbah"
"TIDAKK...!!!! KALIAN YANG SALAH..TIDAK ADA YANG SALAH...aku yang di khitbah bukan Kak Wawa...BUKANN..."
"AKU tidak akan melepaskannya. Aku ingin tetap menikah dengannya. Jangan kalian halangi aku. Aku lah yang di KHITBAH. Bukan DIAAA"
"Ini SALAH KHITBAH Zahra..."
"TIDAAKK!!!!"
Lanjut Ga???
.
.
.
Yuk biar ana semangat nulisnya, tau dong harus ngapain.
like
komen
kembang and kopi nyaa yaa 💓💓
__ADS_1
Tabarakallah💙